• ೋஜ•✧๑?๑✧•ஜೋ •
AN ANGEL
• ೋஜ•✧๑?๑✧•ஜೋ •
┊┊?
┊ !
?
Awal musim semi di bulan April, aku yakin cinta datang dengan hembusan angina musim semi yang hangat. Ketika aku sadar bahwa semua perhatianku hanya tertuju padanya, maka di situ aku akan selalu menatapnya dengan intens. Potret nyata yang terpahat sempurna, seolah langsung dipahat oleh tangan malaikat. Menyedot nalarku untuk ikiut larut ke dalam pandangannya. Padahal, yang ia lakukan hanya lah memandangi setumpuk buku tebal sepanjang hari, tapi bagaimana hal itu bisa menjadi hal yang sangat indah? Bibirnya ranum seperti kelopak bunga mawar di pagi hari, hidung bangirnya yang terlihat menggemaskan, dan yang paling ku suka adalah belah kelopak matanya yang seperti belati; tajam nan eksotis dibingkai kacamata emas dengan seuntai kalung ke lehernya. Sudah lama aku mengetahuinya, dan sudah lama pula aku jatuh ke dalam pesonanya. Yoo Kihyun, itu namanya. Sosok pria mungil nan sempurna yang telah menghilangkan akal sehatku.
Yang dia lakukan setiap hari adalah datang ke kampus, memperhatikan dosen, lalu pergi ke perpustakaan untuk meminum beberapa cangkir ilmu pengetahuan di sana lalu pulang ke apartemennya menjelang malam. Iya, dia adalah seorang jenius, dan juga kutu buku. Hobinya adalah membaca, dan perpustakaan adalah rumah keduanya. Oh, bahkan jika dia mau, dia bisa saja membaca isi pikiran kalian. Dan jika kalian mau bertemu dengannya selain di kelas, pergi lah ke perpustakaan kampus dan temui Kihyun di pojok bangku ke tiga dari belakang. Kau tanya aku kenapa bisa hapal dengan kegiatannya? Jawabannya adalah karena aku menyukainya. Jawaban yang tidak masuk akal, begitu pula eksistensi seorang Yoo Kihyun. Bagaimana sosok sempurna seperti Kihyun bisa terlahir di dunia? Apakah Tuhan benar-benar sedang mengutus salah satu malaikatnya turun ke bumi?
Tapi, aku sadar diri. Aku hanya lah pria buruk yang tidak patut mendapatkan sosok sempurna seperti Yoo Kihyun. Dia itu malaikat yang jatuh dari surga, dan aku? Hah, hanya lah seonggok pria dengan masa depan yang abu-abu.. Masa depan Yoo Kihyun itu secerah sinar mentari pagi, sedangkan aku? Datang ke kampus untuk mengikuti lecture saja hanya seminggu sekali. Itu pun separuh kelas aku ikuti dengan tidur siang.
Aku sadar sejak awal aku menyukainya adalah sesuatu yang salah. Dimulai ketika penerimaan mahasiswa baru, yang mana aku sadar bahwa lingkaran pertemananku ada di antara anak-anak terkenal yang punya hobi menghamburkan uang hanya untuk bersenang-senang. Sedangkan Kihyun? Aku belum pernah melihat sosok mungil itu ditemani oleh seorang teman atau semacamnya. Aku pikir dia seperti seorang anti sosial, yang mana semakin membuat diriku penasaran.
Tiada hari tanpa Kihyun lewati dengan membaca buku, maka untuk itu aku sering diam-diam menguntit pria mungil itu hanya demi mengetahui jenis buku apa yang biasa ia baca. Benar-benar butuh perjuangan yang keras untuk mengetahui hal itu karena sosok Yoo Kihyun benar-benar tertutup. Tidak ada satu pun orang yang bisa aku jadikan sebagai informan. Seolah dirinya tersegel dengan dunia luar, aku yakin pasti karena Yoo Kihyun itu sangat rapuh seperti sayap seekor kupu-kupu.
Yoo Kihyun itu hampir tidak pernah membicarakan hal-hal yang tidak penting. Hanya sekilas suaranya yang halus bisa terdengar ketika menanyakan materi di depan kelas. Bahkan ketika aku membelikannya sebuah buku kesukaan dan dia menemukannya di dalam loker, Kihyun hanya berjengit kecil dan tersenyum. Hatiku otomatis menyalakan alarm kembang api. Mulai dari situ aku mulai menguntit Kihyun tentang buku-buku kesukannya. Hobi baru ku adalah membelikan Kihyun buku dan menaruhnya di dalam lokernya.
Kian hari aku semakin ketagihan dengan senyum kecil yang ia berikan saat menerima buku pemberianku. Walau aku sendiri hanya bisa bersembunyi di balik lokerku setiap kali Kihyun melakukan hal itu. Walau rasanya aku mau muntah setiap datang ke perpustakaan hanya demi mengetahui buku bacaan favorit Kihyun, aku rela melakukannya demi senyuman kecil itu. Tidak ada yang lebih masuk akal bagiku dari pada Kihyun yang mengulas senyum dalam keheningan.
Ingin rasanya aku membagi perasaan ini pada Kihyun. Tapi pikiranku berkata bahwa itu mustahil jika Kihyun mau menerimaku, apalagi membalas perasaanku. Untuk itu aku hanya perlu diam dan menikmati cinta ini dalam diam. Oh, sesekali juga aku mengirimkan surat bersama dengan buku yang ku beli. tetap ku masukkan ke dalam lokernya. Aku tahu bahwa tingkat kecerdasanku tidak terlalu tinggi untuk membuat sepucuk surat yang menyentuh. Untuk itu aku sering minta bantuan kepada Hyunwoo, temanku dari fakultas sastra untuk membuat sepucuk surat ringan yang menyentuh, ku harap Kihyun bisa senang membacanya.
Entah sudah berapa banyak buku dan surat kaleng yang aku berikan pada pemuda mungil itu. Rasanya agak menyedihkan mengingat fakta bahwa mungkin saja aku hanya lah pihak yang mecintai di sini. Tapi di sisi lain aku senang karena Kihyun lebih sering tersenyum akhir-akhir ini.. Aku benar-benar kecanduan dengan senyumannya. Dia seperti pil ekstasi bagiku.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada cinta di satu pihak, tapi tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada melihat senyum kecil seorang Yoo Kihyun karena pemberianku. Ironis memang. Membayangkan bahwa aku bisa saja memilikinya merupakan sebuah mimpi, bahkan aku tidak sadar bahwa sekarang kelas sudah kosong. Tidak sepenuhnya kosong, sih. Masih ada seseorang, lebih tepatnya Yoo Kihyun yang duduk di barisan depan dan membaca buku yang ku berikan. Aku bisa melihat kepalanya sedikit memiring ketika halamannya dibalik, dan itu otomatis membuat hatiku menghangat. Ah, lebih baik aku tidak menganggunnya. Lagi pula, aku tidak seharusnya tertidur di kelas hingga petang seperti ini.
Ingin rasanya aku menyapa pria manis itu, sekadar mengucapkan halo dan bertukar nama mungkin akan lebih baik. Tapi, aku terlalu pengecut dan lebih memilih menyandang tas lalu berjalan ke luar.
"Shin Wonho.."
Deg...
Apakah?
"Terima kasih banyak atas semua pemberianmu."
Aku benar-benar tidak percaya. Aku bahkan masih dia membelakanginya sambil memegang gagang pintu. Seketika tubuhku mengalami gejolak euforia.
"Aku tahu seharusnya pria sejati seperti dirimu lebih menunjukan sikap halusnya dari pada membuang waktu dengan bicara omong kosong."
Dia masih bicara. Pertama kali dalam seumur hidup, aku mendengar Yoo Kihyun mengatakan hal sepanjang itu, terlebih untuk diriku. Dengan segenap keberanian aku pun berbalik. Tatapan intens dan senyuman lembut Kihyun pun menyambutku.
"Terima kasih banyak juga untuk semua surat dan semangat yang kau berikan untuk ku."
"Aku senang kau menyukainya, Kihyun."
"Wonho, boleh kah aku bertanya sesuatu?"
Aku mengangguk mantap.
"Sejak kapan kau mulai menyukaiku?"
Awalnya ragu, tapi aku yakinkan bahwa aku ini seorang pria sejati.
"Aku menyukaimu dari awal kita bertemu di acara penerimaan mahasiswa baru. Waktu jam kosong, Kau duduk sendirian di taman belakang dengan buku yang tidak lepas dari pandanganmu. Dari situ aku merasa kau berbeda dengan kebanyakan orang di sini. Kau itu manis, tertutup, dan aku penasaran padamu. Awalnya hanya penasaran, tapi lama-lamaa ku jatuh ke dalam pesonamu."
Tidak pernah aku bayangkan bisa mengungkapkan hal ini langsung di depan Kihyun, terlebih sekarang dia berdiri dari bangkunya dan berjalan ke arahku. Tanpa perintah, Kihyun menggenggam kedua tanganku.
Cup~
Tandai hari ini sebagai hari paling manis yang aku jalani, terlebih ketika aku mendapatkan ciuman singkat tepat di bibir, siapa lagi pelakunya kalau bukan Kihyun? Aku sendiri sangat kaget, namun dia sedikit berjinjit lalu berbisik di telingaku.
"Aku juga telah jatuh ke dalam pesona seorang pria lembut yang tidak mengusik waktuku hanya untuk omong kosong murahan. Aku menghargai usahamu, Shin Wonho. Untuk itu first kiss ini ku berikan hanya untukmu."
Dan itu menbuat latar belakang kembang api imajiner kembali menyala di dalam hatiku. Kali ini ditambah dengan gulali kapas dan bunga-bunga di musim semi. Rasanya benar-benar menakjubkan!
"Mau pergi kencan denganku malam ini?" setelah pehatianku tersedot kembali ke dunia nyata, aku pun mengangguk mantap.
"Oh, iya harusnya kau memberitahu hyunwoo untuk mengubah tulisan yang ada di surat itu. Lain kali kalau mau, tulis dengan tanganmu sendiri dan Hyunwoo yang mengejanya untukmu."
Yoo Kihyun, tetap lah bersinar seperti cerahnya bunga matahari.
Hari ini, masih sama dengan hari-hari sebelumnya, aku masih menyukaimu di dalam diam.
Yoo Kihyun, aku yakin Tuhan tidak akan salah mengutus seorang malaikat seperti dirimu. Untuk itu, mungkin saja suatu hari aku bisa menjadi penjaga malaikatnya.
Yoo Kihyun, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku di sini dan aku akan selalu mencintaimu.
–tertanda, yang mencitaimu dalam keheningan.
.FIN.
