Pernah dengar ungkapan klise yang mengatakan bahwa setiap orang adalah tokoh utama bagi kisahnya sendiri?
Yah, aku tak akan menyangkal hal itu. karena itu memang benar.
Tapi, tidak semua film itu bagus, kan?
Maksudku, tak semua film yang menayangkan protagonis yang akan menang, bukan? Ada beberapa film bergenre thriller yang mengakhiri filmnya dengan kematian protagonis utamanya.
~o0o~
Aku memakai sarung tanganku setelah memastikan maskerku terpasang dengan tepat.
"Kali ini pria?"
Partnerku mengangguk. Cih. Dasar orang pelit suara.
Bau amis menguak di kedua lubang hidungku yang besar-besar. Memenuhi kedua rongganya.
Namun ini sudah terlalu biasa bagiku. Tak lagi menggoyah langkahku.
"Ah, siapa sih yang kerja sebelum kita? Ini kotor banget!"
Kulihat Guanlin―partnerku, mengoceh tak jelas. Ia memang pelit bicara. Namun ia bisa menjadi yang paling cerewet jika ada sesuatu yang tidak sreg dalam hatinya.
Pandanganku tersorot pada potongan anggota tubuh yang baru saja ditendang oleh Guanlin. Kukira hanya perasaanku saja. Ternyata memang 'kamar' ini yang bertambah amis dan eneg.
Yah, siapapun yang mendapat jatah kerja tadi benar-benar keterlaluan. Siluet potongan tubuh yang tergantung bergoyang tertiup angin. Kenapa orang itu tidak membersihkan dulu, huh?
Ah, sudah semua terbaca, bukan? Aku bicara soal pekerjaan yang kulakoni.
Pekerjaan yang terlihat begitu kotor di mataku beberapa tahun yang lalu. Pekerjaan yang sungguh hina.
Kami bekerja di bawah pengawasan para penjual tubuh manusia.
Yah, memang tak berperi kemanusiaan. Tapi bayangkan saja. Aku bisa kaya hanya dengan menjual ginjal, jantung, dan sebagainya. Benar-benar pekerjaan yang menguntungkan.
Dan untuk semua itu, ada harga yang harus kubayar telak. Masa laluku. Peri kemanusiaanku. Rasa simpatiku. Rasa bersalahku. Belas kasihanku. Semua harus kuserahkan pada pekerjaan kotor ini.
"Menurutmu bagaimana korban kali ini, hyung? Bagaimana bisa ia tertangkap?" Guanlin membuyarkan lamunanku.
"Hm? Seperti biasa. Mungkin ia lengah."
"Hemh. Jawaban yang membosankan." Guanlin memamerkan seringaiannya. "Kudengar korbannya masih hidup, lho.."
"Bukankah menyenangkan?" jawabku dengan pandangan lurus.
Kami tiba di depan sebuah tirai. Dibalik tirai itu terbaringlah seorang pria muda tanpa seutas benang pun. Dan masih memegang sebuah nyawa.
Sebuah hembusan napas lolos dari mulutku.
Tidak. Ini terlalu menakutkan. Memang aku sudah memberikan rasa simpatiku pada iblis yang menarikku pada semua ini. Namun aku tak pernah berkata sudah memberikan semuanya.
Aku tak bisa mengabaikan setiap mata yang meminta pertolongan padaku. Yang memohon untuk diberikan hidup.
Tapi tak ada waktu untuk menebus semua dosaku. Aku sudah telanjur rusak. Dan semua ini salah kedua orang tuaku.
Aku tak akan pernah melupakan bagaimana mereka tega mengunciku di kamar mandi dan membakar isi rumah beserta aku yang terkunci di dalam kamar mandi.
Untunglah aku masih diberikan kesempatan untuk hidup. Teman baik, sekaligus penyelamatku. Ia menyelamatkanku dari kebakaran maut itu.
Siapa sangka ia akan menerobos si jago merah yang lapar itu? Ia masuk lewat pintu belakang dan mendobrak pintu kamar mandi. Dan harga yang dibayar olehnya adalah pundaknya. Ia membiarkan pundaknya dilahap oleh si jago merah dalam insiden mengerikan itu.
Ia adalah penyelamatku dan satu-satunya tempatku untuk pulang. Orang yang sangat aku sayangi.
Namun siapa sangka? Ia hilang tanpa jejak begitu saja. Sehari tepat sebelum hari spesialku. Hari ulang tahunku.
Sejak itu aku tak bisa lagi melihat cahaya. Hidupku begitu gelap.
Sampai pemikiran itu muncul.
'Daripada harus membunuh orang sebagai pelepas stress dan berakhir di penjara, kenapa aku tidak bekerja saja dalam organisasi yang memberi perlindungan bagiku?'
"Lagi-lagi kau melamun, hyung! Tak ada waktu untuk itu! Mau kau atau aku yang menyibak tirai ini?"
Aku memandang datar pada Guanlin. Tanpa bicara, aku menyibak tirai itu.
Brak!
"Jinyoung hyung? Kau tidak apa-apa?"
Aku tak mengerti mengapa tanganku begitu lemas. Sampai koper di tanganku terjatuh begitu saja. Menghamburkan keluar segala jenis pisau dan peralatan lain yang berada di dalamnya.
Lagi-lagi pori-poriku membesar saat mata rusa itu menatap masuk ke dalam mataku.
Enyahlah.
Enyahlah pikiran anehku! Itu tidak mungkin dia, 'kan?
Tring tring tring~
Ugh. Ringtone hp yang menyebalkan. Guanlin benar-benar tak bisa membaca suasana.
Namun, setidaknya ringtone itu sudah menyelamatkan akal sehatku yang mulai merambat ke segala arah.
"Hyung. Kuharap kita cepat meyelesaikan ini. Kita ada pekerjaan lain." Suara Guanlin entah mengapa mengiris indera pendengaranku.
Aku mulai memunguti pisau-pisauku yang berhamburan. Mencoba menetralkan detak jantungku yang semakin liar.
Aku menghembuskan napasku perlahan dan berusaha menghindari kontak mata dengan korbanku kali ini. Mata rusa yang sedang memohon kehidupan. Mata yang sebenarnya paling kutakuti sekaligus kukagumi di dalam hidupku.
Kusibak selimut yang menutupi tubuh lemahnya.
Korneaku membesar. Jantungku serasa berusaha keras melepaskan diri dari tempatnya. Napasku memanas.
Luka bakar.
Mulut itu terbuka. Meluncurkan sebuah kata. Suara yang masuk ke dalam indera pendengaranku seolah membuka kenangan lama.
"Jinyoungie..."
BHAY. APA INI. ENTAH INI AKAN JADI ONESHOTS MENGGANTUNG ATAU BERLANJUT. PADA TAU 'KAN ITU SIAPA YG JADI KORBAN? TAULAH. HEUHEUHEU.
