Another Side

Presented by BaeGummy

Disclaimer : Naruto Masashi Kisimoto

Rate : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, Alur berantakan , Dll

If you don't like? So, don't read! Happy Reading all

please RnR.

Plakk!

Sebuah tamparan telak mengenai sisi wajahnya, surainya bergoyang mengikuti tolehan wajahnya yang mengimbangi kerasnya tamparan pria itu. Hyuuga Hinata meringis pelan, merasakan pipinya memanas.

"aku bilang jangan pernah datang menemuinya!" pria dengan surai kuning itu menghardik gadis dihadapannya

"a-aku hanya ingin melihat keadaan Sakura-san"

"untuk apa?! Mencelakakanya lagi?!" pemuda itu menaikan kembali suaranya, suaranya bahkan memenuhi lorong yang menghubungan ruangannya dengan tangga darurat gedung ini.

"... aku tidak pernah mencelakakan Sakura-san" gadis itu bergumam

"simpan saja alsanmu itu" pria itu berkata sinis "sekarang lebih baik kau pulang, aku tidak ingin melihatmu! Dan jangan pernah datang menemui Sakura!" setelah menumpahkan kekesalannya pria itu berlalu pergi. Menyisakan sigadis yang diam mematung.

.

Hinata memegang sisi kiri wajahnya, panas tamparan Naruto masih dapat dirasakannya. Ia mengusap bagian itu beberapa kali berharap rasa sakitnya akan berkurang namun nihil. Setetes air matanya jatuh dan secepat turunnya Hinata segera menghapus butiran kristal itu.

Ia berjalan melewati tangga darurat, bukannya tidak ada lift di gedung 27 lantai ini, hanya saja Hinata ingin menenagkan dirinya. Berfikir mungkin.

.

Uzumaki Naruto sebenarnya adalah pria yang baik. dan Hinata menikahi pria itu 8 bulan yang lalu Hinata mencintai Naruto tentu saja, dan ia juga yakin Naruto memiliki perasaan yang sama. Atau setidaknya Naruto tengah berusaha untuk memiliki perasaan yang sama dengannya. Hingga kejadian naas itu datang, saat dimana dirinya mengalami kecelakaan yang melibatkan sahabat pria itu, mungkin lebih tepat dengan sebutan gadis yang dicintai suaminya Haruno Sakura.

Mobil yang dikendarai Hinata menabrak pembatas jalan dan terpental hingga memasuki jurang yang terdapat disisi jalan. Hinata berhasil keluar dari mobil itu beberapa saat sebelum mobil itu meledak. Ia mendapat beberapa luka yang cukup parah sedangkan Sakura koma hingga hari ini.

Dan Naruto menyalahkan Hinata atas kejadian itu.

.

Hinata duduk di salah satu anak tangga. Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai menumpahkan isi hatinya. Ya, iya harus melakukannya menumpahkan semua bebannya hingga saat kembali kerumah nanti ia tak akan membuat kaa-sannya khawatir. Kushina adalah mertua terbaik yang pernah Hinata lihat, ia menyayangi Hinata dengan sepenuh hati, membela gadis itu sesering Naruto memarahinya. Well, Naruto selalu marah pada setiap tindakan Hinata. Apapun itu.

Dan Kushina bagaikan ibu peri yang tuhan kirim untuk menjaga gadis rapuh sepertinya. Semejak paman minato meinggal Naruto bertindak sebagai kepala keluarga. Ia mengambil alih semua tugas ayahnya dan menjalankannya, menjaga ibunya dan menikahi gadis yang menyatakan cinta padanya. ya hanya Hinata yang mengungkapkan cintanya pada pria itu sedangkan Naruto mungkin bukannya rasa cinta yang tumbuh dari kebersamaan mereka melainkan rasa benci.

Hinata bukanlah wanita yang kuat, kerap kali ia ingin menyerah dan meninta cerai dari suaminya itu. Tapi Kushina selalu melarangnya, wanita paruh baya itu terlalu menyanginya. Dan mengecewakan orang yang menyayanginya asalah hal terakhir yang ingin Hinata lakukan.

.

Naruto memasuki ruang kerjanya, menduduki kursi singgasananya dan merenung. Sesekali ia memijat pangkal hidungnya, tak habis pikir dengan tingkah gadis yang ia nikahi 8 bulan lalu. Kenapa gadis itu sangat membenci Sakura? Naruto paham jika mungkin Hinata cemburu dengan kedekatannya dengan Sakura, terlebih gadis itu tau jika Sakura adalah cinta pertama Naruto. tapi dengan mencelakakan Sakura menurut Naruto itu benar-benar diluar batas.

Naruto mengangkat tangannya, melihat telapaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa sesal saat mengingat tangannya telah menampar Hinata. Ia mengepalkan tangannya kuat. Memejamkan mata dan mencoba mengahapus rasa sesalnya, gadis itu pantas mendapatkannya. Setelah menyebabkan kecelakaan pada Sakura sekarang apa lagi? Mencoba membunuh gadis musm semi itu.

Pernah terbesit dalam benaknya untuk menceraikan Hinata, tapi ia sadar kaa-sannya sangat menyayangi gadis itu. Bahkan mungkin melebihi dirinya. Dan Naruto sendiri, walaupun ia berusaha menyangkal tapi sosok Hinata memang memiliki tempat sendiri dihatinya.

.

Ruangan yang dikhususkan untuk ruang kerja sekertarisnya Nara Shikamaru telah beralih fungsi menjadi kamar rawat Sakura Haruno. Ya Naruto meminta khusus kepada dokter untuk dapat merawat Sakura disebelah kantornya sedangkan Shikamaru terpaksa harus menempati ruangan di ujung koridor. Pemuda Nara itu tidak keberatan mengingat ia juga cukup dekat dengan si gadis musim semi, dan dengan keadaan Sakura saat ini Shikamaru sepenuhnya dapat mengerti perasaan Naruto.

Tapi satu hal yang tidak dapat Shikamaru setujui adalah perilaku Naruto pada Hinata. Naruto menyalahkan Hinata karna kecelakaan itu adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. Karna bagaimana pun Hinata juga menjadi korban atas peristiwa naas itu.

Shikamaru melenggang masuk keruang kerja Naruto. ini sudah menjadi kebiasaanya tidak mengetk pintu. Terlalu malas.

"bos" Shikamaru memulai pembicaraan

Naruto hanya menoleh dan memberikan pandangan bertanya.

"kau ada rapat jam 4 nanti" seklai hagi Naruto tidak berbicara, hanya mengangguk tanda mengerti

"... Naruto kau tau" Shikamaru duduk di salah satu sofa di ruangan besar itu "beberapa karyawan melihat apa yang kau lakukan pada istrimu ditangga darurat tadi"

"lalu?" Naruto mengeluarkan nada sengitnya

"hal itu akan memperburuk reputasimu"

"aku tidak akan memulainya jika dia tidak membuatku kesal"

"soal Sakura lagi..?"

"hn"

"Naruto aku tau ini bukan urusanku, tapi bagaimana pun juga tindakanmu sudah sangat berlebihan pada istrimu"

"jika kau tau itu bukan urusanmu... harusnya kau diam saja Shikamaru"

"Hinata adalah adik neji, dan kau berjanji dimakannya untuk menjaga Hinata Naruto"

"..."

"aku berkata sebagai sahabatmu, bagaimanapun juga Hinata adalah gadis yang kau minta untuk menjadi pendamping hidupmu"

"..." Naruto menatap sahabat sekaligus tangan kanannya itu "aku ingin sendiri shika" setelah berdiam lama hanya itu kata yang keluar dari bibirnya

Shikamaru menghela nafas pendek lalu membungkuk hrmat dan berjalan keluar dari ruang kerja Naruto.

.

18.00

Rapat yang sangat melelahkan. Naruto berniat untuk pulang dan sebelum itu ia harus menemui Sakura terlebih dahulu. Setidaknya memastikan jika gadis itu baik baik saja.

Srekk! Pintu geser itu terbuka, menampilkan seorang suster berambut hitam pendek yang tengah memeriksa cairan infus yang tergantung di sisi tempat tidur Sakura.

"Naruto-sama" shinuze membungkuk hormat dan dibalas Naruto dengan anggukan singkat

"bagaimana keadannya hari ini?"

"cukup baik, mungkin karna pengaruh tanaman itu" Shizune menunjuk sebuat pot berukuran sedang yang di tumbuhi tanaman hijau

"aku tidak pernah membawanya"

"ah, tadi Hinata-san yang membawakannya" Shizune menjelaskan

"Hinata...?"

"ya, setau saya tanaman itu memang bagus untuk mensterilkan udara. Aku tidak tau Hinata-san mengerti tentang hal itu" setelah mencatat beberapa hal Shizune pamit meninggalkan ruangan itu

Sapphire Naruto belum beranjak dari tanaman yang katanya dibawakan Hinata. 'jadi dia datang untuk itu' ucap Naruto dalam hati.

Setelah mengerjap beberapa kali, Naruto beranjak menghampiri ranjang Sakura dan mendudukan diri disisi ranjang gadis itu.

"saki..." ia selalu memulai dengan sapaannya "bagaimana keadaanmu saat ini?" hening...

"cepatlah sadar, kau tidak rindu padaku?" Naruto meulai monolognya

"musim telah berganti ini sudah musim semi kesukaanmu" ia menggengam tangan Sakura "kau bilang ingin melihat bungan Sakura bersamaku kan?"

Dan 1 jam dihabiskan Naruto diruangan itu. Bercerita pada Sakura, banyak hal yang diceritakannya mulai dari kesehariannya, hingga perasaanya. Naruto melirik aroginya yang telah menunjukan pukul 19.20 malam. Ia harus pulang kaa-sannya pasti cemas jika ia terlambat.

"saki... cepatlah bangun, kaa-san juga sangat merindukanmu" dan dengan sebuah kecupan ringan didahi si gadis Naruto meninggalkan kamar rawat itu.

.

Jika saja... jika Naruto tinggal lebih lama ia akan melihat jari telunjuk yang tadi ia genggam bergerak perlahan, seolah merespon salam yang diucapkan pria disampingnya.

.

.

.

TBC / DELETE ?