Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Han Eun Soo
Oh sehun
Han Ji soo
GS/CHANBAEK/MARRIAGE LIFE/ROMANCE/ANGST/HURT/BDSM/RATE M
Don't Like -Don't Read
Bias jingga sinar matahari telah sepenuhnya raib saat sebuah Jaguar black jet membelah jalanan. Menerobos angin malam yang telah melebur bersama titik hujan.
Dingin menyelimuti setiap jengkal sudut perkotaan Seoul. Dingin memang mampu menusuk kulitnya,namun tak pernah mampu meredam gejolak dan gemuruh hebat dalam dadanya.
Park Chanyeol. Pria tampan dibalik kemudi itu mulai terlihat gusar,sesekali ujung matanya melirik ke arah Gold Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Chanyeol menginjak pedal gasnya dalam-dalam sesaat setelah sebaris pesan berstatus emergency sampai padanya. Berpacu dengan waktu agar bisa melesat dan segera tiba pada tujuannya.
Chanyeol berjalan dengan langkah lebar menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat lengang. Rumah sakit kelas jetset dengan fasilitas mewah dan tenaga medis unggulan itu, tak pernah absen di sambanginya sejak dua tahun terakhir. Tepatnya setelah dokter memvonis istrinya menderita gagal ginjal.
Penyakit yang menggerogoti istrinya kini telah memasuki stadium akhir,menyisakan sebuah harapan hidup yang kian tipis. Menyisakan angka persentasi kesembuhan yang kian mengecil. Walaupun telah mendapat perawatan terbaik, Chanyeol akhirnya menyadari,tidak semua bisa dibeli dengan uang. Uang,wewenang dan kekuasaan tak lagi berarti apa-apa saat dirinya di hadapkan dengan situasi seperti ini.
"Silahkan masuk,Chanyeol-sshi" Sebuah sapaan hangat menyambut kedatangan Chanyeol.
Tak ada jawaban. Hanya ada derap langkah yang terdengar merdu mengikis jarak. Chanyeol menempatkan dirinya di depan dokter Oh. Menanti sebuah kabar yang diyakininya bukanlah sebuah kabar baik.
"Bagaimana dengan hasil test-nya?"
Dokter Oh menyodorkan secaril kertas berisi hasil test yang baru saja di lakukannya. Namun Chanyeol tak sedikitpun meliriknya. Karena yang dia butuhkan saat ini hanyalah sebuah keajaiban. Bukan deretan huruf berisi omong kosong yang tergores di atas secarik kertas.
"Berdasarkan hasil test yang dilakukan,sampai saat ini belum ada ginjal yang cocok untuk istri anda"
"Setelah semua anggota keluargaku bahkan teman-temanku kau sebut tidak cocok,kemana lagi aku harus mencarinya,huh?"
"Kita harus segera menemukan donor untuk istri anda,karena kondisi tubuhnya semakin melemah,kami bahkan tidak bisa memprediksi sampai kapan istri anda mampu bertahan..."
"Kau bukan tuhan yang bisa memprediksi kematian seseorang,Oh Sehun! Dan asal kau tau,aku tidak akan mati walau hidup hanya dengan satu ginjal...ambil saja ginjalku dan selamatkan nyawa istriku sekarang!"
Chanyeol meninggi. Pikirannya terlalu buntu dan putus asa. Tuhan seolah mematahkan segala usaha yang dia lakukan untuk kesembuhan istrinya.
Sehun meraih tangan bergetar Chanyeol. Kali ini dia sedang tidak berperan menjadi seorang dokter,namun sebagai seorang sahabat. Sahabat yang mengerti kekalutan yang sedang dialami Chanyeol.
"Tidak semudah itu,Chan...Bersabarlah sedikit lagi...Aku berjanji akan membantumu untuk segera menemukan donor untuk istrimu..."
"Sampai kapan aku harus melihat istriku kesakitan,huh? Sampai kapan? Kau ingin aku bersabar? Kau lupa kalau aku sudah cukup bersabar selama dua tahun ini?"
"Aku janji akan segera mendapatkannya untukmu,bersabarlah sedikit lagi..."
Chanyeol berlalu. Telinganya telah terlalu jengah mendengarkan janji-janji palsu dari sahabatnya. Janji-janji palsu yang dulu sempat ia percaya namun ternyata hanya sebuah omong kosong tanpa bukti. Menguap bersama rasa optimisnya yang kian menciut.
...
Chanyeol mengusak rambutnya kasar. Tak lagi peduli jika dirinya kini terlihat berantakan dan menyedihkan. Simpul dasi yang membelit lehernya, kini mengendur dengan beberapa kancing kemeja yang telah terbuka. Memperlihatkan sebuah dada bidang yang terengah menahan gejolak emosi.
Matanya terpejam erat. Pelupuk matanya kini dibayangi tentang kemungkinan fatal yang akan terjadi istrinya,jika dirinya akhirnya gagal mendpatkan donor. Sungguh bukan akhir seperti ini yang dia harapkan. Selalu ada sesak yang menyayat dalam dada, saat dirinya merasa, malaikat maut seolah tak henti untuk mengintai dann bersiap merampas miliknya.
Segala upaya telah Chanyeol coba lakukan,namun semua hanya berakhir nihil. Entah takdir sedang mengajarinya untuk bersabar,atau sedang memaksanya untuk gelap mata dan menempuh cara menjijikan.
"Chanyeol-Sshi?"
Sebuah sapaan membuat Chanyeol mengakhiri lamunan panjangnya. Chanyeol mendongak,netranya mendapati seorang wanita yang tengah memandangnya dengan tatapan hangat. Menyungging seulas senyum manis di wajah meronanya.
"Nuguseyo?"
"Baekhyun. Byun Baekhyun. Teman kuliahmu dulu. Kau ingat?"
Chanyeol menyambut jabat tangan yang terulur dengan alis berkerut. Otaknya dipaksa untuk memutar sebuah kepingan tentang kenangan beberapa tahun lalu. Namun sial baginya,tak sedikitpun memory tentang gadis itu yang berhasil ia temukan.
Sepasang iris cokelatnya menatap curiga pada gadis mungil di depannya. Gadis berbalut rok pendek sepanjang lutut, dipadukan dengan kemeja hijau yang terlihat berharmoni senada dengan kulit putihnya. Atensinya juga tertuju pada surai hitam panjang yang terurai membingkai wajah cantiknya. Wajah cantik dengan rona merah di pipi mochinya. Bukankah terlihat terlalu bugar untuk ukuran seorang pasien di rumah sakit?
"Apa yang kau lakukan disini?"
Baekhyun tak menjawab. Dirinya justru menjatuhkan tubuhnya di sisian kosong sebelah Chanyeol. Pria jangkung yang eksistensinya tak pernah luput dari pandangan matanya. Baekhyun bukanlah seorang sasaeng. Hanya saja, ada sebuah perasaan berbunga dihatinya, saat bisa mengekori,atau sekedar melihat Chanyeol dari jarak jauh.
"Yang kulakukan disini? Aku kesini untuk menjual ginjalku. Apakah kau berniat membelinya?"
"Aku tak mengerti apa yang kau maksud,nona..."
"Nona? Kenapa kau kaku sekali,Park Chanyeol? Cukup panggil Baekhyun...Tidakkah permintaanku terdengar berlebihan?"
"Baiklah...Aku tak mengerti apa yang kau maksud,Baek..." Ada sebuah kecanggungan saat lidah kelunya akhirnya menyebut sebuah nama yang terasa begitu asing baginya. Tak hanya itu,kini juga ada sebuah tanda tanya aneh yang memenuhi pikirannya. Gadis yang baru ditemuinya 5menit lalu,seolah benar-benar pernah ada pada kepingan kenangan di masa lalunya. Namun lagi-lagi otaknya gagal menemukan jawaban atas pertanyaanya sendiri.
"Chanyeol-ah...aku tau kau sedang mencari donor ginjal untuk istrimu. Tidakkah kau berminat untuk membeli ginjalku?"
"Kau bercanda?"
"Anniya...Aku tidak sedang bercanda,Chanyeol... Aku sudah melakukan serangkaian test...Dokter bilang ginjalku sehat dan cocok untuk istrimu. Aku rasa kau tak punya alasan untuk menolaknya"
Sebuah pernyataan yang sukses membuat Chanyeol mematung seketika dan merasakan sebuah konsleting pada otaknya. Otaknya terlalu buntu untuk sekedar membedakan,mana yang hanya sebuah omongkosong,dan mana yang sesungguhnya adalah jawaban atas doanya selama ini.
Chanyeol bergegas meraih tasnya. Dengan sebuah pena dalam genggaman,Chanyeol terlihat menuliskan sejumlah nominal angka diatas secarik cek. Nominal dengan jumlah yang tidak sedikit dan bahkan mampu untuk membeli sebuah apartemen mewah di kawasan elite.
"Apakah cukup? Aku bisa menambahkannya jika menurutmu ini kurang...Berapapun yang kau minta akan ku berikan,asal itu bisa menyelamatkan nyawa istriku..."
Baekhyun menerima selembar cek dari Chanyeol. Sepasang iris cokelatnya kini menatap nanar pada deretan angka yang tertera. Sebuah nominal yang sudah pasti tidak akan mampu dia kumpulkan,walaupun harus bekerja seumur hidup.
"Sayangnya,aku tidak akan menukar ginjalku dengan uang,Park Chanyeol..."Tangannya mungilnya meraih tangan lebar Chanyeol, kemudian meletakan selembar cek tersebut dalam genggamannya. Sebuah perbedaan ukuran yang telihat begitu kontras, namun tak mengurangi rasa hangat yang kini menjalar di hati keduanya.
"Lalu?"
"Menikahlah denganku,maka semua akan ku anggap lunas..."
Chanyeol mematung untuk kedua kalinya. Kali ini otaknya tidak hanya terasa konslet,namun telah meledak hebat. Dunianya berhenti seketika saat sebuah pemintaan konyol itu menyentuh indra pendengarannya.
Menikah? Dengan gadis asing yang baru kenalnya sepuluh menit lalu? Omong kosong macam apa ini? Kenapa semesta seolah gemar membuat hidupnya terasa rumit dan nyaris gila?
"Segera hubungi aku,sebelum aku berubah pikiran..."
Baekhyun menyelipkan secarik kartu nama pada Chanyeol sebelum akhirnya berlalu. Berlalu dengan langka pendek yang kian menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan. Menyisakan Chanyeol yang kini terjebak pada pilihan yang membuatnya frustasi.
"Haruskah aku menyelamatkan nyawanya dengan cara menyakiti hatinya seperti ini?"
TBC
A/N :
- Story ini bakal menye-menye kaya sinetron,so don't like - don't read yes.
- Chapnya pendek? Iya pendek,soalnya kan cuma prolog, just wait and see,semoga Chap depan bisa lebih panjang lagi.
- Salam Chanbaek is Real.
