"Lain kali...jangan melakukan apa pun untuk melindungiku. Jangan melakukan apa pun yang membahayakanmu. Apa kamu tidak mengerti kekhawatiranku!? Jika terjadi hal buruk menimpamu karena pengalihan isu ini, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!! Kamu dengar!?" Chan berteriak keras sekali di setiap akhir kalimat. Bukan karena marah, tapi rasa khawatirnya begitu besar pada Beki.
Beki terdiam sesaat, dia menunduk sejak tadi, sejak Chan membentaknya begitu keras. Lalu matanya mulai berkaca-kaca, memberanikan diri menatap nanar pada Chan.
"Lalu aku harus bagaimana? Katakan, aku harus bagaimana melihatmu depresi setiap saat. Aku harus bagaimana?" balas Beki. Suaranya terdengar begitu putus asa.
"Apa yang sebenarnya kamu mau? Tidak bisakah kita saling melindungi satu sama lain? Apa kamu pikir aku baik-baik saja melihatmu merasa begitu tertekan? Mengapa kamu begitu egois pada dirimu sendiri? Chan-"
Kalimat Beki terhenti oleh gerakan Chan yang memeluknya tiba-tiba.
"Chan, aku hanya ingin kita baik-baik saja. Berhenti berteriak padaku dan jangan marah. Aku merasa terdesak setiap kali kamu mengabaikanku." sambungnya.
Begitu kalimatnya selesai mata Beki sudah basah. Dia memang selalu cengeng jika sudah menyangkut Chan.
