.

.

.

Accident

.

CHAPTER 1 : Nomor yang tidak disengaja.

.

KTH + JJK

.

T+

.

Romance, Drama, Humor

.

Writter by Stepstephiie ©2017

.

.

PRESENT

.

.

Jungkook mengetuk-ngetukan ujung sepatu pantopelnya beberapa kali ke lantai, sesekali bola matanya melirik jengah ke arah jam tangan merk rolex yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.

"Sepuluh menit lagi orang itu tidak datang, aku benar-benar akan pergi dari sini." Sungutnya kesal. Tangan kanannya meraih ponsel pintar miliknya yang sedari tadi di campakannya diatas meja. Jari lentiknya dengan lincah menari-nari diatas layarponselnya dan segera menempelkan ponsel ke arah telinganya- menelpon seseorang.

"Berapa lama lagi aku harus menunggunya huh?" Tanya Jungkook dengan segera begitu nada panggilan menunggu tergantikan oleh sapaan dari seseorang yang dia hubungi saat ini.

"Dia sedang menuju ketempatmu, sabarlah sedikit."

"Jika kau berkata seperti itu tiga puluh menit yang lalu maka aku akan melakukannya. tapi saat ini, aku sudah melewatkan tiga puluh menitku yang berharga hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak berguna? Dasar gila!" Bentak Jungkook begitu saja meluapkan kekesalannya.

"Ya tuhan. Aku ini Kakekmu berkatalah lebih sopan kepadaku bocah!" Jungkook memutar bola matanya merasa jengah memdengar ucapan dari seseorang yang mengaku sebagai kakeknya.

"Jika saja kau tidak berniat menjodohkanku maka aku tidak akan bersikap seperti ini padamu." Balas Jungkook. Sosok disebrang sana hanya mampu menghembuskan napas lelahnya menghadapi sikap cucu satu-satunya itu.

"Aku melalukan itu demi kebaikanmu Jungkook."

"Alasan klasik. Intinya aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Jika dalam waktu sepeluh menit- dan sekarang sudah berlalu lima menit dia tidak datang, maka aku akan meninggalkan tempat ini dan membuatmu malu kakek tua." Ucap Jungkook dan segera memutuskan sambungan telponnya begitu saja.

"Sialan! Demi kebaikanku? Omong kosong macam apa yang kakek tua itu ucapkan huh." Sungut Jungkook kesal dan menenggang habis minuman yang sedari tadi di pesannya.

"Jika bukan karena dia yang mengancam akan mencoret namaku dari daftar warisannya, aku tidak akan sudi melakukan ini." Satu hal yang harus diketahui dari seorang Jeon Jungkook. Dia mencintai uang, mencintai uang melebihi apapun, maka dari itu dia rela menunggu seseorang- sesuatu yang tidak pernah dilakukannya- hanya demi mendapatkan warisan dari kakeknya.

"Aku bisa gila jika harus berurusan dengan kakek tua itu, dan sialan! Kenapa orang itu lama sekali." Ucap Jungkook geram.

"Maaf aku terlambat." Ucap seseorang tiba-tiba dan dengan tidak sopannya duduk tepat dihadapan Jungkook tanpa permisi.

"Aku Park Haera, kau Jeon Jungkook kan?" Ucap seorang wanita cantik yang saat ini duduk dihadapan Jungkook dan mengulurkan tangannya menunggu sambutan dari tangan Jungkook.

"Jika kau sudah tahu kenapa harus bertanya, bukankah itu tidak berguna sama sekali." Ejek Jungkook tanpa membalas uluran tangan wanita itu.

Merasa bahwa Jungkook tidak akan menerima uluran tangannya, wanita bernama Park Haera itu menarik kembali tangannya dan menatap Jungkook yang duduk dihadapannya. "Well, aku hanya memastikan bahwa yang kini dihadapanku ini adalah Jeon Jungkook seorang idol yang sedang di minati saat ini." Ucap wanita itu balas mengejek ucapan Jungkook. Jungkook tidak menjawab dan lebih memilih memainkan ponselnya daripada berbicara dengan wanita dihadapannya.

"Jadi kau ingin pernikahan yang seperti apa?" Jungkook mendecah kesal dan menatap tajam wanita yang ada dihadapannya begitu mendengar ucapan yang keluar dari wanita itu.

"Siapa yang akan menikah huh?"

"Tentu saja kau dan aku, kau pikir untuk apa aku membuang waktuku jika bukan untuk membahas pernikahan kita."

Rahang Jungkook semakin mengeras saat mendengar ucapan wanita itu. Membuang waktunya? Sialan! Perlukah Jungkook lemparkan buku jadwalnya agar wanita sialan itu tahu bahwa Jungkook bahkan tidak mempunyai waktu hanya untuk menunggu wanita sialan itu.

"Kau pikir aku mau menikah denganmu? Kau nikahi saja kakekku, dia kan yang menawarkan perjodohan bodoh ini jadi kau harusnya meminta tanggung jawab dari si tua itu." Ucap Jungkook sengit. Kali ini wanita itulah yang menatap tajam Jungkook.

"Aku tidak menyangka bahwa kau itu seorang idol yang seperti ini. Bagaimana jika para paparazzi tahu bahwa sifat kau yang sebenarnya itu seperti ini?"

"Kau mau mencoba mengancamku? Lakukan saja sesukamu, aku tidak perduli. Lagipula para paparazzi juga sudah tahu bagaimana kelakuanku selama ini."

Jungkook tidak berbohong tentang ini, Jungkook bukanlah idol bermuka dua yang manis didepan dan busuk dibelakang, tidak! Jungkook tidak seperti itu. Dia benar-benar menunjukan sifat aslinya dimanapun bahkan didepan paparazzi sekalipun. Bagi Jungkook, dia tidak akan berbuat kasar jika orang-orang disekitarnya tidak kurang ajar didepannya, seperti wanita ini.

"Benarkah? Kalau begitu aku harus mencari cara lain untuk mengancammu dan membuatmu mau menikah denganku."

"Hey! kau ini wanita, kau tidak punya harga diri mengemis seperti ini padaku?"

"Aku tidak perduli. Sudah kukatakan aku hanya ingin menikah denganmu." Tangan Jungkook mengepal menahan rasa jengkelnya melihat kelakukan wanita dihadapannya ini.

"Kau itu bukan ingin menikahiku, tapi kau ingin menikahi popularitasku. Benar begitu Park Haera-ssi?" wanita didepan Jungkook sedikit terkejut begitu mendengar ucapan Jungkook dan beberapa saat kemudian sudut bibir tertarik ke atas membuat sebuah seringai.

"Ternyata kau pintar juga, tapi aku tidak perduli dengan ucapanmu dan terserah apa yang kau katakan aku akan tetap menikahimu." Wanita brengsek!

Jungkook bisa saja menampar wanita ini sekarang, tapi itu melukai harga dirinya dan tentu saja semakin membuang-buang waktunya.

"Terserah kau ingin bicara apa, akupun juga tidak akan perduli dengan apapun yang kau katakan. Dan sepertinya aku benar-benar harus pergi karena bicara denganmu benar-benar membuang waktuku." Jungkook segera beranjak dari tempat duduknya dan berniat pergi dari tempat itu sebelum wanita bernama Park Haera itu menahan tangannya.

"Kau ingin kemana? Kita harus membicarakan soal pernikahan kita."

"Siapa yang ingin menikah dengan siapa sialan!" Jungkook membentak wanita cantik yang sialnya begitu menjengkelkan bagi Jungkook.

"tentu saja kau." Jungkook mendesis dan menyentakkan tangan wanita itu dengan kasar.

"Dengar, aku benar-benar tidak punya waktu hanya untuk meladeni ucapan gilamu, saat ini kekasihku sedang menungguku dan aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi hanya untuk mengurusi orang tidak berguna sepertimu." Untuk kali ini biarkan Jungkook berbohong, dia benar-benar ingin lepas dari wanita berbisa ini dan kebohongan dia memiliki kekasih adalah salah satu alasan yang tepat.

"Alasan klasik. Cari alasan lain biar aku mempercayaimu, kau pikir aku bodoh dapat mempercayaimu begitu saja huh? Jika memang kekasihmu sedang berada disini, suruh dia masuk maka aku akan melepaskanmu dan membatalkan perjodohan ini."

Sialan! Sialan! Sialan!

Sudah berapa kali hari ini jungkook mengumpat hanya karena wanita ini, dan sekarang dia harus mencari cara agar bisa lepas dari wanita ini dengan kebohongan yang telah dia buat. Dengan perasaan kesal yang memuncang mata Jungkook memandang keseliling Café tempat dia menunggu wanita sialan itu.

'Telpon kekasihmu, itupun jika kau benar-benar punya kekasih, Jeon Jungkook sang idol arogan." Jungkook menggeram, Tangannya merogoh ponselnya yang berada disaku celananya dan mendial nomor seseorang dengan acak.

"Hallo." Suara berat seseorang menjawab telpon Jungkook disebrang sana.

"Kau dimana?" Tanya Jungkook.

"huh? Maaf, kau siapa?"

"Jawab saja, kau dimana sekarang!" Bentak Jungkook.

"Aku baru saja memarkirkan mobilku di café cojje dan sekarang jawab pertanyaanku kau siapa?" Gotcha!

Jungkook segera mengedarkan pandangannya ke arah parkiran luar, senyumnya semakin mengembang saat melihat seorang pria berusia dewasa yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Pria yang harus jungkook akui lebih tampan darinya itu sedang menempelkan ponselnya ditelinganya dengan kening yang mengerut serta tangan kirinya yang sibuk menggenggam tangan seorang anak laki-laki yang Jungkook perkirakan baru berumur lima tahun.

Jungkook yakin nomor asal yang dia telpon itu adalah milik laki-laki itu dan dengan kepercayaan diri yang tinggi Jungkook melangkah dengan angkuh mendekat kearah laki-laki itu.

"Hello! Kau masih berada disana? Tolong jawab pertanyaanku siapa kau?" sosok disebrang telpon Jungkook kembali berbicara menyadarkan Jungkook bahwa dia belum memutus telpon tersebut.

"Aku Jungkook, kau?"

"Jungkook? Aku tidak pernah mengenalmu, maaf sepertinya kau salah sambung."

"Jawab saja, siapa namamu?"

"Kim Taehyung. puas?" dan setelahnya Jungkook mematikan telpon itu secara sepihak dan mempercepat langkah kakinya ke arah laki-laki itu.

"Taehyung Ahjussi~" Sosok yang dipanggil Taehyung itu terlonjak kaget saat seseorang dengan tiba-tiba memeluknya.

"Ka-Kau siapa?"

.

.

.

T.B.C

Hallo, hallo aku bawa FF baru nih. Hehehehe

Maafkan ya aku nambah utang mulu, abis aku greget pengen nulis ff kaya gini. Sebenernya pengen baca ff kaya gini tapi aku belum nemuin jadi aku buat sendiri aja /pundung/

FF ini akan terbebas dari genre hurt maupun angst. Pokoknya tidak ada unsur baper yang memakai orang ketiga, atau jungkooknya disakitin, atau taehyung selingkuh, No, BIG NO!

FF ini Cuma selingan dari FF ku yang aneh-aneh itu, bisa dibilang ff ini ff santai lah. So semoga kalian suka ya, temanya sih pasaran tapi aku akan buat ini ga pasaran ko. Jadi tunggu kelanjutannya ya sayang-sayangnya aku.