Sayangku,

Tidak ada yang menampik bahwa hubungan dua insan bisa berjalan sebegitu mudahnya. Ada dua isi kepala yang disatukan, ada dua pendapat yang sering kali berselisih, ada dua emosi yang kadang meledak bersamaan.

Tapi, aku menyebut ini sebuah proses, dimana aku mengenalmu dan kamu juga mengenalku.

Kita adalah dua manusia yang begitu keras kepala. Kamu pendiam tapi mematikan, sedangkan aku cerewet dan tak mudah mengalah.

Tapi, toh, nyatanya kita bisa berjalan sampai sejauh ini.

Hal yang selalu kuimpikan sedari dulu telah kau wujudkan, kau berdiri di altar, menungguku yang sedang berjalan diiringi pamanku selaku wali, beliau tersenyum dan menyerahkan tanganku, kau membalasnya dengan anggukan, sedikit tersenyum dan mengambil alih genggaman itu.

Kita mengucap sumpah atas nama Tuhan, disaksikan puluhan orang yang ikut menitikkan air mata ketika bibirmu mengecup lembut bibirku.

Pertanda aku telah sah menjadi bagian dari hidupmu, begitu juga sebaliknya.

Semua orang memanggilmu Neji. Hyuuga Neji. Seorang lelaki dengan bola mata sewarna bulan dan rambut secokelat pupil mataku. Aku mengenalmu bertahun yang lalu, di saat kita masih tak mengenal apa itu cinta.

Kau tidak pernah mempermasalahkan statusku sebagai anak yang tak jelas asal usulnya. Karena bagimu, semua anak terlahir atas kehendak Yang Maha Menciptakan. Aku juga begitu, ketika mengetahui bahwa kau adalah bagian dari 'bunke' keluarga Hyuuga.

Kita tidak pernah bercerita tentang keluarga kita, karena bagimu, keluarga adalah aku, kamu, dan anak kita nantinya.

Tiga bulan yang lalu, mungkin menjadi momen yang tidak akan pernah aku lupakan selamanya.

Kau.

Dengan segalanya kau miliki, memintaku untuk mendampingimu, berada di sisimu hingga nadi kita berhenti berdetak.

"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, Tenten. Tapi, hatiku memilihmu, aku ingin kau jadi ibu dari anak-anak kita nanti."

Sederhana sekali.

Aku hanya mengangguk dan memelukmu, aku kehilangan seluruh perbendaharaan kata yang pernah kubaca, aku tidak bisa membalasnya kecuali dengan sebuah pelukan lega.

Aku bersyukur, kau memilihku sebagai rumah.

Tempat yang akan tetap menjadi tujuanmu kembali, sejauh apapun kau pergi.

Aku bersyukur, kau membuatku menjadi dermaga tempatmu bersandar dan melabuhkan jangkar.

Aku bersyukur, kau memilihku di antara sekian banyak perempuan yang lebih pantas untuk mendampingimu.

Terima kasih, Neji. Terima kasih telah menjadikanku bagian terpenting dalam hidupmu.

e.

Aku menatap dua orang laki-laki yang telah menjadi orang yang paling berarti dalam hidup.

Mereka sedang tidur bersama, Neji mendekap erat Ryuu-anak kami yang baru berusia tiga bulan dengan tangan kirinya, salju pertama telah turun di luar, kakiku melangkah ke arah jendela, menatap jalanan Hongkong yang padat, akhir tahun ini begitu ramai, banyak pelancong dari luar yang memilih untuk bertahun baru di Negeri ini.

"Tenten?"

Suara serak itu membuatku menoleh, "Kau sudah bangun?" Aku menarik tirai jendela tapi tidak membuka daunnya, takut dingin di luar sana membangunkan putra kecil kami sebelum menghampiri Neji yang telah duduk di kursi bar.

"Kopi seperti biasa?"

"Ya."

Neji mengucapkan terima kasih setelah aku menaruh kopi dan kudapan di depannya,

"Hari ini kau akan ke kantor?" tanyaku dengan tangan bertumpu di bawah dagu.

"Tidak. Aku telah menyelesaikan semua pekerjaanku kemarin, hari ini khusus untukmu dan Ryuu."

Jawaban itu membuatku tertawa kecil. Neji tetaplah Neji, yang selalu mengutamakan keluarga, terutama ketika dia dipercaya untuk menjadi bagian dari kantor cabang Hyuuga Architecture yang berada di Hongkong.

Suara tangisan membuat atensi kami teralih, aku buru-buru menghampiri anak kami yang mungkin telah terbangun.

Tidak memerhatikan lagi tatapan Neji yang menyiratkan cinta yang teramat dalam.

Fin!

Happy wedding anniversary, Ayah dan Ibu! ❤