Yakushi Kabuto...

Dia adalah seorang mahasiswa kedokteran dengan kepintaran yang tiada tandingannya. Nilai-nilainya selalu di atas rata-rata dan merupakan salah satu dari beberapa anak kesayangan para dosen yang ada di Universitas Konoha.

Kabuto selalu menempati peringkat pertama di Universitasnya. Untuk tambahan, Universitas Konoha sendiri adalah yang terbaik di kotanya bahkan di negaranya!

Dalam dua tahun berturut-turut, belum ada yang berhasil mengalahkan prestasinya yang gemilang. Dengan nama baiknya tersebut sudah banyak rumah sakit yang mengajukan permintaan atau undangan padanya agar menjadi dokter di tempat mereka.

Fuh, sangat hebat bukan?

Dan tentu saja, itu didapatnya bukan tanpa usaha.

Yakushi Kabuto, selain dikenal sebagai mahasiswa—yang kemungkinan besar—terpintar di seluruh penjuru kota Konoha, dikenal juga sebagai kutu buku alias freak. Kacamata bulat yang dikenakannya menjadi bukti nyata bagaimana kehidupannya sehari-hari. Saat makan, minum, di apartemen, bahkan di waktu istirahat... bukan Kabuto namanya jika tidak ada minimal satu buku tebal di tangannya. Aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang menjaga jarak dengannya dan tidak ada satu pun yang berani mendekatinya atau mengajaknya berbicara.

Bagaimana? Sudah dapat bagaimana gambaran seorang Yakushi Kabuto?

Hanya saja, belum ada yang tahu—

—bahwa Kabuto yang pendiam, gila belajar, misterius, dan selalu sendirian itu...

...memiliki satu rahasia besar yang tidak bisa dianggap remeh.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Genres : Romance/Family

Warning : AU, semi-OOC

Main Pair : KabuSaku

.

.

.

ABSOLUTE

.

.

.

Seminggu sebelumnya...

"Cih, sudah kuduga, aku selalu salah di bagian ini." Geram laki-laki yang memiliki rambut berwarna abu-abu itu seraya menghela napasnya. Dia melepaskan kacamatanya sesaat untuk memijit otot-otot matanya yang lelah. Hari memang sudah menjelang tengah malam, tapi kalau pemuda berumur dua puluh tahun itu belum mengerjakan seluruh soalnya dengan benar, maka...

...kata 'tidur' dihilangkan dari kamusnya.

Kabuto memukul mejanya sendiri dengan kasar, "Aaaargh! Ternyata memang harus mengulang lagi, kenapa soal matematika ini begitu merepotkan?" tanyanya entah pada siapa—mengingat dia tinggal sendirian di apartemen kecil dan cukup bobrok ini. Dengan tangkas, Kabuto mengambil penghapus di sampingnya dan menghapus semua coretan yang tadi susah payah dia buat lalu menulis lagi dari awal.

Suasana kembali hening, hanya suara detik jarum jam dan gesekan ujung pensil yang terdengar di ruangan berbentuk persegi panjang ini. Kasur empuk di belakang posisinya yang sedang duduk di atas lantai sungguh menggoda. Kabuto berkali-kali menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya sementara tangannya masih terus menulis soal dan cara-cara penyelesaiannya di atas kertas dengan telaten.

Tik.

Tik.

Tik.

Mahasiswa berkacamata itu menatap kertas di hadapannya dengan tatapan seakan siap merobek-robek bahkan membakar kertas tersebut. Sudah dua sampai tiga kali dia mengulang-ngulang soal yang sama dan tetap saja salah. Kabuto mendecih lagi lalu menoleh pada jam dinding di sampingnya, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam dan dia sudah harus bangun jam lima pagi nanti.

Aw, great.

"Mungkin cuci muka bisa menyegarkan pikiran..." gumamnya sambil menarik tubuhnya untuk berdiri. Kabuto hanya mengenakan kaos dalam putih dan celana sports pendek berwarna biru, tentu saja itu bukan masalah. Toh, dia tinggal sendiri. Pemuda itu berjalan menuju kamar mandi kecilnya di ujung, dalam perjalanannya tak ayal dia menguap lebar dan sesekali mengucek matanya sendiri.

Begitu sampai di dalam kamar mandi, Kabuto segera melangkah menuju wastafel lalu membuka kran airnya. Kedua tangannya mengumpulkan air sebanyak-banyaknya kemudian dia siramkan ke wajahnya sendiri. Setelahnya, dia mematikan kran air lalu menatap pantulan wajahnya pada cermin yang ada di hadapannya.

"Ukh, mataku me—"

BRAK!

"Hah?" tersentak kaget, Kabuto segera berdiri tegak dan memasang telinganya baik-baik, "Suara pintu terbuka? Ma-Masa' sih..." dengan terburu-buru, pemuda bermata hitam itu segera membuka pintu kamar mandinya dan terkejut melihat apa yang terjadi.

Sesuai dugaannya, pintu menuju luar apartemennya terbuka membiarkan angin malam yang dingin menyusup masuk membuat tubuh mahasiswa tersebut menggigil. Namun sebelum dia menutup pintunya, Kabuto menoleh ke kanan kiri, mencoba mencari kemungkinan keberadaan seseorang yang membuka pintu apartemennya itu. Tapi, tidak ada satu pun barangnya yang hilang atau pun rusak. Keberadaan seseorang pun tidak terlihat.

Kabuto menghela napas, "...Sepertinya aku memang lupa menutup pintu. Angin... pasti angin." Gumamnya lagi. Kabuto segera menutup pintu apartemennya dengan dua kali penguncian lalu melempar kuncinya ke atas meja bulat tempat dia tadi menulis soal. Laki-laki yang baru memotong rambutnya kemarin itu pun akhirnya duduk kembali lalu menekuni soal-soal yang sempat terlupakan.

SREK

"Ng?" menangkap ada suara yang seperti bergerak di sekitarnya, membuat Kabuto menghentikan acara menulisnya. Kabuto menegakkan kepalanya dan menoleh ke kanan kiri lagi. Tak beberapa lama, dia menaikkan bahunya, "Hanya perasaan..."

NGIK

Lagi. Namun kali ini, Kabuto tidak mempedulikannya sampai menghentikan kembali acara menulisnya. Dia harus fokus. Atau soal menyebalkan ini tidak akan pernah selesai. Pemuda itu mengetukkan ujung pensilnya ke atas meja seraya menyangga kepalanya, mencoba berpikir jernih untuk penyelesaian masalah yang ada di depan matanya.

SREK

SREK

KRAK

DHUG

DHUG

Empat sudut siku-siku mulai muncul di ujung dahi Kabuto. Laki-laki itu menggertakkan giginya kesal namun tangannya masih enggan berhenti untuk menulis. Sabar Kabuto, sabar... ayo, sebentar lagi sele—

JDUG

"A-Adaaw!"

"Yak, cukup. Siapapun yang di sana, cepat keluar sekarang juga!" berang Kabuto yang akhirnya tidak dapat menahan kesabarannya. Dia banting pensilnya dengan kasar, bersamaan dengan itu dia sendiri berdiri seraya menoleh-noleh mencari asal suara tadi, "Aku hitung sampai tiga. Kalau kau tidak juga menunjukkan batang hidungmu, aku akan langsung mencari di seisi kamar ini lalu kutendang kau keluar tanpa ampun! Satu, dua—"

"Ah iya iyaaaa! Maafkan aku!"

Kabuto terus menatap lemari berukuran sedang yang terletak di samping tempat tidurnya. Sesuai dugaannya, pintu lemari tersebut terbuka dengan kasar hingga beberapa baju keluar dari sana. Namun, bukan itu yang membuat sang mahasiswa cerdas terkejut, melainkan seorang gadis yang jatuh keluar dari dalam lemari dengan tidak elitnya dan mendarat tepat di dekat kakinya. Gadis yang sepertinya cukup pendek itu mengaduh kesakitan seraya mencoba bangkit dari posisinya yang telungkup.

"Aduh, sakit..." rintihnya lagi sementara tangan kanannya memegang kepalanya, tangan kirinya mengambil beberapa baju Kabuto yang berantakan di sekitarnya. Gerakan tangannya terhenti begitu melihat kaki si pemilik apartemen di sampingnya. Gadis berambut soft pink tersebut langsung mendongakkan kepalanya, menatap wajah laki-laki yang saat ini sedang melipat kedua tangannya di depan dada.

Green emerald dan black pearl bertemu.

Sesaat, Kabuto sempat berpikir gadis di bawahnya ini cukup cantik. Tapi tentu saja untuk seorang penggila belajar seperti dia, modal kecantikan saja tidak cukup membuat hatinya luluh. Terlebih, saat gadis manis itu tertawa kikuk dan menggaruk belakang kepalanya.

"Hehe, err... halo?"

"BUKAN HALO, BODOH!" teriakan amarah Kabuto yang sangat tidak diduga membuat gadis yang hanya memakai baju terusan berwarna putih dengan lengan sesiku itu langsung tersentak dan menarik tubuhnya mundur hingga punggungnya menabrak pintu lemari di belakangnya.

Ekspresi wajahnya sangat menunjukkan betapa takutnya dia dengan laki-laki di depannya. Melihat ekspresi seperti itu entah kenapa membuat Kabuto tak tega juga. Akhirnya laki-laki berambut abu-abu itu menghela napas, dari wajahnya terlihat sekali kalau Kabuto mencoba sabar saat ini, "Huff, baiklah... siapa kau dan mau apa kau di sini, hah?"

Melihat volume bicara Kabuto yang menurun, membuat getaran pada tubuh gadis itu hilang. Perempuan yang belum diketahui namanya itu menatap Kabuto dari bawah sampai ke atas berulang kali. Memastikan dengan nada bagaimana dia harus menjawab pertanyaan pemuda di depannya. Gadis beriris hijau emerald tersebut menelan ludah lalu berdiri dari posisinya. Sekarang Kabuto tahu bahwa tinggi gadis itu hanya selehernya.

"Haruno Sakura," jawabnya dengan datar namun terdengar sedikit nada kehati-hatian di sana. Kabuto mengangkat sebelah alisnya, "itu namaku. Kau boleh memanggilku Sakura jika kau mau." Lanjutnya lagi masih dengan cara bicara yang sama.

Pemuda berumur dua puluh tahun itu kembali mengernyitkan alisnya, "Sakura, hm..." kewaspadaan gadis itu mulai berkurang sedikit demi sedikit, "lalu? Tujuanmu menyelinap masuk ke dalam apartemenku apa?"

Sakura menoleh ke kanan kiri, seolah memperhatikan sekelilingnya, "Kau tinggal sendiri?" ucapnya, malah balik bertanya. Mendengar itu, Kabuto sedikit heran namun dia tetap menganggukkan kepalanya sebagai respon. Mendadak, Sakura langsung memasang wajah penuh harap dengan kedua tangan saling mengait di depan dadanya.

"KUMOHON! IZINKAN AKU TINGGAL DI SINI!"

.

.

.

.

.

.

...Ah lihat, empat kerutan siku-siku di dahi Kabuto menebal.

"Kau ini..." kedua tangan Kabuto yang mengepal kini terlihat bergetar, "...gila, ya?" tanyanya dengan nada menekan.

Mendengar pertanyaan itu, membuat Sakura berkacak pinggang, "Hah? Tentu saja tidak! Aku serius dengan permohonanku tadi! Ayolah kumohoooon! Aku akan mencuci piringmu, bajumu, membersihkan rumahmu! Semuanya! Tolonglaaaah!" kali ini Sakura memasang pose memohonnya tepat di depan Kabuto yang tengah menahan amarahnya.

"Tidak, tidak, tidak, TIDAAAK!" balas Kabuto tak kalah keras. Namun gadis itu tak menyerah juga, dia balas memohon dengan suara yang lebih keras lagi membuat Kabuto semakin kesal, "Sudah kuputuskan tidak ya tidak! Cepat keluar sekarang juga!" bentak mahasiswa tersebut seraya menarik tangan Sakura menuju pintu keluarnya.

"Uwaaaaa jangan! Kumohon! Ayolah kumohon, wahai tuan tampan!" mendengar pujian seperti itu entah kenapa membuat pitam Kabuto malah semakin menaik. Tarikannya pada tangan Sakura semakin menguat.

Laki-laki itu menggertakkan giginya, "Namaku Kabuto dan aku tidak mengizinkanmu tinggal di apartemenku! Ke. Lu. Aaaaar!" tangan Kabuto yang satunya pun tidak tinggal diam, sekarang kedua tangannya sukses menarik Sakura. Dengan hukum alam yang menyatakan tenaga laki-laki lebih kuat dari perempuan, membuat hasil saling tarik-menarik itu terlihat jelas.

Menyadari sebentar lagi kekuatannya tak akan berguna, Sakura langsung berteriak, "Tu-Tunggu! Tunggu Kabuto-san! Aku anak orang kaya! Jika kau mengusirku keluar, aku akan melapor pada ayahku dan menjebloskanmu ke dalam penjara atas pengotoran nama baik!" cerocos Sakura pada akhirnya. Tapi sepertinya percuma, Kabuto masih menariknya bahkan semakin kuat, "AKU SERIUS!"

Sepertinya kali ini berhasil. Mendengar teriakan Sakura yang semakin keras membuat Kabuto menghentikan tarikannya. Laki-laki itu menatap Sakura semakin kesal sementara gadis tersebut mulai menyeringai angkuh, "Tak hanya itu, jika kau masih tidak mengizinkanku tinggal di sini, aku akan teriak sekencang-kencangnya sehingga membangunkan penghuni apartemen yang lain lalu akan kukatakan kau melakukan pelecehan seksual padaku, Kabuto-san!" lanjutnya dengan nada bicara yang sangat arogan.

Ukh, kalau perempuan ini adalah laki-laki, bukan tidak mungkin Kabuto akan mencelupkan kepalanya ke dalam bak mandi. Mau sampai mati pun dia tidak peduli. Untuk sekedar informasi, Yakushi Kabuto sangat mengerikan jika kesabarannya sudah sangat habis. Tapi untunglah setidaknya dia masih tahu batasan. Mungkin tidak akan sampai mati, paling hanya pingsan dalam beberapa waktu ke depan.

Lupakan, sekarang kembali ke kejadian nyata. Seringai angkuh gadis itu masih belum hilang. Sebenarnya Kabuto sudah menduga, dari cara bicara, berperilaku, bahkan saat tersenyum, gadis itu tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa dia adalah anak dari orang kaya. Tipikal gadis manja yang sudah terbiasa bergantung pada orang tuanya. Menyadari itu justru membuat Kabuto semakin kesal. Pasalnya dia terlahir dari keluarga yang cukup sederhana dengan ekonomi yang sesekali bisa saja merosot tiap tahunnya. Karena itulah, mahasiswa itu sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil.

Rasanya Kabuto ingin sekali cepat-cepat menendang gadis ini keluar dari rumahnya. Namun, mengingat bagaimana nanti dia teriak hingga membangunkan para penghuni lain...

...tch, merepotkan.

Kabuto menarik napas panjang lalu membuangnya pelan. Tangannya melepas tangan Sakura, "Kalau kau memang anak orang kaya, lalu kenapa kau ingin sekali tinggal di apartemen kecil seperti ini?" tanya laki-laki itu seraya melipat kembali kedua tangannya di depan dada.

Sakura mendengus dan membuang mukanya. Raut kekesalan sangat tampak di wajahnya, "Huh, jangan kira aku mau tinggal di apartemen kumuh seperti ini! Aku juga terpaksa tahu, habis cuma apartemenmu yang kuncinya terbuka," jawabannya membuat dahi Kabuto berdenyut menahan amukan, "aku sedang kabur dari rumah." Katanya diakhiri dengan helaan napas panjang.

Gadis itu melanjutkan penjelasannya kembali. Tangan kanannya mengelus pergelangan tangan kirinya yang tadi ditarik Kabuto dengan kuat, "Tousan memarahiku karena nilaiku turun kemarin. Beliau bilang aku keseringan hang out dengan teman-temanku—well, ada benarnya sih. Tapi kan tousan tidak perlu memarahiku sampai seperti itu! Ah, pokoknya menyebalkan sekali! Makanya aku kabur saja!" jelasnya menggebu-gebu sementara Kabuto hanya menghela napas dan memutar kedua bola matanya dengan bosan.

Dasar orang kaya.

"Cuma karena itu? Kalau begitu sih, kau cukup minta maaf saja beres! Kau dimanja orang tuamu kan? Harusnya bukan masalah!" balas Kabuto tak kalah keras.

Sakura langsung menggeleng dengan cepat, "Tidak! Tousan sudah menyakiti hatiku! Aku tidak akan pulang sampai tousan berjanji tidak akan memarahiku lagi!"

"Haah? Kau yang salah di sini, bodoh! Harusnya kau yang minta maaf pada orang tuamu!"

"Nggak nggaaaak! Pokoknya aku tinggal di sini dulu, Kabuto-san!" kali ini gadis manis itu berjalan dengan congkak dan duduk di tepi kasur Kabuto dengan kaki yang dilipat, "Perintahku adalah absolut!" lanjutnya dengan nada yang seolah tidak bisa dibantah.

Gertakan gigi Kabuto terdengar semakin keras. Ukh, sabar... sabar Kabuto... Demi Kami-sama! Rasanya mahasiswa kedokteran itu ingin mengutuk orang tua yang terlalu memanjakan anak gadisnya hingga begitu menyebalkan seperti ini.

Namun, sebuah ide lewat di kepala Kabuto.

"Hm, tapi aku adalah laki-laki, Sakura," dengan ekspresi yang sedikit menakutkan, pemuda itu mendekati Sakura, "bukan tidak mungkin jika aku akan menyerangmu, terlebih kita hanya berdua di kamarku ini."

Gadis kaya itu menatap malas Kabuto yang menatapnya dengan seringai licik, "Oh? Tapi aku yakin tipikal laki-laki berkacamata bulat sepertimu lebih mementingkan pelajaranmu daripada tubuh gadis ini." Balas Sakura tak lupa dengan seringainya yang tak kalah licik. Mendengar itu membuat Kabuto semakin kesal. Setidaknya sampai dia teringat akan sesuatu...

Eh?

Pelajaran?

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Kabuto langsung memutar tubuhnya dan buru-buru duduk di depan meja bulatnya. Sakura memperhatikan ketika laki-laki itu meraih pensil di dekatnya dan segera menulis-nulis pada kertas yang tadi sempat terabaikan. Dengan panik Kabuto melirik jam dinding.

Jam tiga malam.

Siaaaaaaaal!

Sakura pun turun dari tepi kasur, "Aku pinjam bajumu yaaa." Ucapnya seraya berjalan menuju lemari Kabuto dengan santai. Tidak mendapat respon tetap tidak menghentikan niat gadis manis itu. Sakura berjongkok, mencari baju yang kemungkinan cocok dengannya. Walau dia yakin, semua baju Kabuto pasti akan kebesaran di tubuhnya yang cukup kecil.

Setelah mendapat baju yang disukainya, gadis itu melangkah dengan riang menuju kamar mandi dan berganti. Sementara Kabuto di tengah ruangan masih terkunci dengan soal-soal yang memuakkan tersebut. Sesekali terdengar erangan kekesalan dan suara rambutnya yang digaruk hingga berantakan. Terus dan terus Kabuto berkutat dengan soal itu sampai akhirnya...

"SELESAI!" teriaknya diiringi dengan suara pensil yang Kabuto lemparkan ke atas meja. Pemuda itu menghela napas puas dan segera merebahkan tubuhnya karena lelah. Mungkin dia akan tertidur dalam posisi seperti itu jika tidak ada langkah kecil yang mendekatinya.

Sakura sudah mengenakan kemeja putih Kabuto yang kebesaran, sehingga saat dia mengenakan itu tidak ada bedanya saat sebelumnya dia memakai baju terusan. Kemeja putih itu bahkan menutupi pahanya hingga pas di atas lutut. Gadis bermahkota soft pink tersebut mengambil kertas di atas meja bulat yang tadi, "Hee... jadi ini ya pelajaran anak kuliah?" tanyanya entah pada siapa.

Kabuto mendengus pelan, "Siapa yang membolehkanmu meminjam bajuku?" namun sebelum Sakura sempat menjawab, Kabuto kembali memotongnya, "Yah sudahlah, iya itu pelajaranku. Lebih tepatnya pelajaran untuk jurusan kedokteran. Memangnya kau belum kuliah?" tanya Kabuto balik.

Gadis bermarga Haruno itu menggeleng, "Belum, aku masih kelas dua SMA. Ngomong-ngomong umurmu berapa?" tanya Sakura lagi kali ini sambil meletakkan kertas Kabuto kembali.

"Dua puluh." Jawab Kabuto singkat, "Sudahlah, aku mau tidur. Jangan ganggu aku." Tegasnya.

"Wah, berarti kita beda empat tahun. Eh tunggu, kau tidur di bawah?"

Mahasiswa itu menghela napas lalu membuka sebelah matanya, "Memangnya kau mau tidur di bawah? Aku berani taruhan kau bakal merengek tidak mau dengan berbagai alasan dan pada akhirnya kau akan minta tidur di atas kasur." Balas Kabuto sinis. Mendengar itu, wajah Sakura langsung memerah antara marah dan malu. Dia meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.

"A-aku tidak mere—"

"Iya iya. Sudahlah... biarkan aku tidur..." tak butuh waktu lama hingga Kabuto terlelap dalam tidurnya. Hal ini membuat Sakura sedikit terkejut, dia belum pernah melihat orang yang tidur begitu cepat setelah dia berbicara. Terlebih lagi, pemuda itu tidur dengan sangat nyenyak. Ternyata dia memang sangat lelah.

Sakura terdiam memandang Kabuto yang hanyut dalam bunga tidurnya. Gadis berumur enam belas tahun itu berjongkok di samping tubuh Kabuto memperhatikan laki-laki itu lebih dekat. Wajah damainya, deru napasnya yang teratur... diam-diam Sakura tersenyum kecil melihat itu.

"Mungkin dia orang baik."

Dan kehidupan baru Yakushi Kabuto pun dimulai...

.

.

.

.

.

#

Seminggu setelahnya (sekarang)...

"Aku sudah bilang berkali-kali, tuan pintar! Jangan mengerjakan skripsi sambil makan!" dengan kesal, Sakura memukul meja bulat di bawahnya, "Kabuto-san! Nanti kuahnya tumpah ke kertas skripsimu! Aku tidak menanggung ya jika kau frustasi karena harus mengulang skripsimu lagi dari awal!" berang gadis itu lebih keras dari sebelumnya.

Kabuto memijit pelipisnya lalu menghela napas pelan, "Kau ini berisik sekali..." desahnya. Sejak Sakura tinggal di sini, entah kenapa rasa lelah Kabuto bertambah dua kali lipat. Walau harus dia akui, kamarnya jadi lebih bersih dari sebelum gadis itu tinggal di apartemennya.

Ada pertanyaan besar di kepala Kabuto. Bagaimana gadis kaya yang biasa dimanjakan itu bisa pintar membersihkan kamarnya seperti ini? Atau bagaimana dia bisa memasak selihai ini? Untuk beberapa alasan, Kabuto masih tidak mau percaya jika memang pada dasarnya gadis itu pintar bersih-bersih dan memasak.

Ah, masih misteri.

"Kabuto-san! Kau lupa kemejamu!"

"Kabuto-san! Sikat gigi dulu sebelum tidur!"

"Kabuto-san! Bereskan kertas skripsimu! Jangan biarkan berantakan seperti ini!"

"Kabuto-san!"

"Kabuto-san!"

Haah, mendengar suaranya saja rasanya ada batu besar yang sengaja ditempatkan di punggung mahasiswa cerdas tersebut. Untuk dirinya yang memang selalu terpaku pada buku dan alat tulis, pengalamannya dalam mengatur perempuan bisa dibilang nol. Belum lagi jika sikap gadis kaya yang sombong dan seenaknya itu lagi kambuh. Huff, Kabuto belum pernah berurusan dengan perempuan selain ibunya sendiri.

"Kabuto-saaaan!" teriakan panjang Sakura akhirnya berhasil juga menarik Kabuto kembali ke alam sadar. Pemuda berkacamata itu menghela napasnya lagi untuk yang ke sekian kalinya.

"Iya iya." Tidak ada cara lain selain menurut saja di saat-saat seperti ini. Dia meletakkan skripsinya di bawah meja membuatnya fokus pada makanan yang ada di depannya, "Itadakimasu." Ucap Kabuto sebelum mengambil mangkuk berisi nasi yang baru didapatnya dari Sakura.

Melihat itu tentu saja membuat senyum kemenangan tertera jelas di wajah gadis SMA itu, "Hihi, nah gitu dong! Nanti setelah ini jika kau mau kembali belajar lagi, aku tidak akan mengganggumu. Itadakimasu!" sahutnya seraya mengambil sumpit.

Kabuto mengunyah makanan di dalam mulutnya lalu menelannya sebelum berkata, "Huh, kau selalu berkata seperti itu, tapi pada akhirnya kau tetap akan menghentikan acara belajarku di tengah jalan dengan omelan-omelan yang tidak perlu."

"Tentu saja! Salahmu sendiri belajar dari jam enam sore sampai jam dua belas malam. Kau itu gila belajar sekali sih! Aku saja tidak pernah tahan belajar selama satu jam." Gerutu Sakura sementara pipinya mengembung karena banyak makanan yang berkumpul di sana.

Kedua pupil Kabuto berputar bosan, "Telan dulu makananmu baru bicara." Sahutnya sarkastik membuat Sakura susah payah menelan makanannya hingga terbatuk-batuk.

"Uhuk uhuk. Air, aiiir!" erang Sakura seraya mengibaskan tangannya di udara. Kabuto pun memberi segelas air yang berada di dekatnya dan langsung disambar Sakura. Gadis itu meminum air di dalamnya hingga habis.

Kabuto memperhatikan Sakura yang masih memukul-mukul dadanya sendiri karena tersedak. Dalam diam, laki-laki itu menghela napas pelan. Dua detik setelahnya, Kabuto kembali melanjutkan makannya begitu pula Sakura. Suasana sempat hening, hanya suara sumpit yang bersentuhan dengan mangkuk yang terdengar atau kunyahan dua insan itu pada makanan mereka masing-masing. Tak butuh waktu lama sampai mereka selesai makan secara bersamaan.

"Haaah kenyangnyaa," ucap Sakura dengan sedikit keras. Gadis bermahkota soft pink tersebut mulai bergerak untuk membereskan piring dan mangkuk yang berada di atas meja, "silahkan jika kau mau kembali mengerjakan skripsi, Kabuto-san." Lanjutnya dengan senyum mengembang di wajahnya.

"...Hei." Panggilan Kabuto yang sedikit terdengar serius membuat Sakura menghentikan gerakannya dan mendongakkan kepalanya. Gadis beriris hijau emerald tersebut sedikit bingung melihat tatapan serius Kabuto padanya, "Kau... ehem, jadi... kapan kau akan pulang?" tanyanya pelan.

Sesuai dugaan mahasiswa tersebut, Sakura langsung berwajah murung. Dia menundukkan kepalanya sementara tangannya yang memegang mangkuk terlihat mencengkram mangkuk tersebut dengan erat, "...Aku tidak mau pulang."

Gadis itu masih enggan menatap balik Kabuto. Pemuda tersebut terdiam sebelum bertanya lagi, "Kau yakin orang tuamu tidak khawatir?" entah kenapa Kabuto sebenarnya tidak mau mengatakannya. Namun, ini untuk kebaikan gadis yang seharusnya masih sekolah itu dan tentu saja masih harus di bawah pengawasan orang tua, "Sudah seminggu. Aku yakin mereka juga pasti—"

"Aku tahu!" kali ini Sakura mendongakkan kepalanya dengan cepat dan membalas tatapan Kabuto membuat laki-laki itu sedikit terkejut, "Aku tahu mereka pasti mengkhawatirkanku tapi..." Sakura memeluk piring dan mangkuk di tangannya dengan erat.

"...aku tidak mau pulang."

"Sakura," Kabuto tidak habis pikir. Kenapa gadis ini begitu keras kepala? Umurnya saja masih di bawah tujuh belas tahun, bukan umur yang bisa dibebaskan semudah itu, "dengarkan aku! Harusnya kau bersyukur aku belum mencari orang tuamu. Aku ingin agar kau sendiri yang berinisiatif pulang dan minta maaf pada mereka. Ingat! Kau bukan anak kecil lagi!" lanjut Kabuto lagi. Berusaha menurunkan volume suaranya yang nyaris mengeras.

"Pokoknya aku tidak mau pulang!" bahkan Sakura sudah mulai membentak. Gadis itu dengan kesal berdiri hingga menimbulkan suara gaduh pada lantai di bawahnya. Dia menatap Kabuto dengan sangar sementara mahasiswa kutu buku itu masih terpaku dengan posisinya yang masih duduk, "Aku sudah pernah bilang pada Kabuto-san kan? Perintah dan keinginanku adalah absolut! Tidak bisa diganggu gugat!" dan gadis bermarga Haruno itu pun langsung membalikkan tubuhnya.

Melihat Sakura yang berjalan cepat menjauhinya untuk meletakkan piring-piring kotor itu di dapur membuat Kabuto menarik napas pelan. Pemuda itu meminum air di dalam gelasnya hingga habis. Setelah itu, dia meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja bulat di depannya. Kabuto menatap punggung Sakura dari jauh lalu menghela napas pelan. Tangannya bergerak untuk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Mungkin cara bicaraku terlalu keras..."

Sayangnya karena berpikir terlalu banyak, Kabuto tidak menyadari saat gadis itu menggigit bibir bawahnya keras untuk menahan air matanya agar tidak keluar.

.

.

.

There is no pure love with a reason

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Maaaaaf, mood ngelanjutin fic multichapter-nya masih hilaaaaaaang D: dan entah kenapa muncul ide ini. Maaf juga kalau alurnya kecepetan zzz kayaknya next chapter bakal diulang sedikit kehidupan mereka.

Sebenarnya udah lama aku pingin bikin fic KabuSaku lagi sejak ficku yang My Effort Rabbit, cuman idenya kepake terus buat pair SasuSaku wakakakak #plak Sekarang akhirnya aku nemu ide yang pas juga untuk salah satu pair kesayanganku ini ehehe semoga suka ya xD ngomong-ngomong Kabuto di sini yang udah potong rambut ya, bukan pas rambut panjang lagi :3

Karena gak enak juga udah sering ditagih, setelah ini aku usahain update yang Review and Art. Harap sabar menunggu 8D #jdug tapi bukan tidak mungkin aku bakal bikin beberapa fic oneshot sebelum itu ahaha #woy Fic ini juga hanya terdiri dari dua chapter. Jadi, tenang sajaa~ kalau ada yang mau nagih fic ini, kuusahain cepet update deh setelah RAA :))

Yak, mind to review please? Thanks before :D