GINTAMA

1 PLUS 1 is 3 Love is Countless (is BACK!)

HijiGin

Hijikata Toushiro x Sakata Gintoki

RATED : T

WARN : MPREG, SHOUNEN AI, OOC.

SPECIAL TO : HIJIKATA RINKI! Thanks buat hadiah-hadiahnya yak! Tolong AGAPE dibikin TAMBAH NGENES!

Hello, Yla here! Sebelumnya mohon maaf karena saya menghapus cerita-cerita saya, dikarekan suatu dan banyak hal. Saya hiatus nulis kemarin karena sibuk dengan skripsi, and here i am baby, we're back to bussiness!

Ini fict saya yang saya recycle, dan sepertinya tidak banyak yang berubah, hanya tambahan dan pengurangan adegan cerita. Kosakata masih gitu-gitu aja. Pragarap kagak ada yang berubah, ah tapi BODO AMAT.

Lululu yang pada mau ngeflame, ga terima dengan imajinasi MPREG, ga terima pairing Seme x GinUke i just give friendly message ;

I DONT GIVE A ..!.. TO MAKE YOU HAPPY WITH MY STORY. IF YOU DIDN'T LIKE THIS PAIR, THEN JUST LOOK AT YOUR BROWSER WINDOWS, AND IN UPPER RIGHT CORNER, THERE YOU CAN SEE X BUTTON, AND CLICK THAT SHIT TO SAVE YOUR DJEMBUT BEFORE IS ON FIRE.

.

.

1st Month (March)

"Jadi Yorozuya sedang dalam keadaan tidak sehat ya?"

/"Ya. Maaf Kondou-san, seharusnya hari ini aku bisa masuk kerja dan lagi ada tugas masalah penyelidikan penyelundupan senjata ilegal di Teluk Edo kemarin aku tidak bisa melanjutkannya hari ini."/ Suara Hijikata Toushiro terdengar seperti menyesal di telinga Kondou Isao.

Di Markas Shinsengumi, masih dengan sambungan pribadi ponselnya, pria yang menjabat sebagai Ketua Polisi Shinsengumi hanya memaklumi kejujuran yang telah diucapkan oleh bawahannya yang setia itu. "Ya mau bagaimana lagi. Kau tidak bisa mengabaikan tugasmu sebagai suami kepada Yorozuya. Tidak apa-apa. Aku akan mengurusnya semua. Lagipula Toshi juga sudah bekerja keras kemarin, sisanya serahkan padaku."

Pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua Shinsengumi itu merasa beruntung bisa memiliki pimpinan macam Gorila berspesies manusia yang sangat pengertian pada situasinya sekarang. /"Terima kasih Kondou-san."/

"Baiklah. Jangan khawatirkan Shinsengumi, rawatlah Yorozuya dengan baik ya. Kalau sempat aku akan mengunjunginya nanti. Sampai jumpa, Toshi!"

TUUUT

Laki-laki yang sudah memakai kemeja, dan vest Shinsengumi itu mentup ponsel flip miliknya dan menaruhnya di atas meja ruang tamu.

"HOEEEGGHH!"

Begitu suara yang tidak mengenakkan itu kembali terdengar, membuat dia bergegas lagi ke toilet. Dia segera membuka pintu toilet yang terbuat dari kayu itu.

"Gintoki!" Seru Hijikata pada Gintoki yang dalam posisi membungkuk ke toilet duduk. "Gintoki, sepertinya kita harus ke dokter. Sudah semalaman kau tidak tidur dan mual-mual seperti ini."

Wajah pucat dari pria berambut perak bergelombang menoleh ke arah Hijikata yang berdiri di ambang pintu dengan wajah khawatir. "Sudahlah, Hijikata-kun. Palingan aku masuk angin saja." Tukas Sakata Gintoki, sambil memegang perutnya yang masih terasa kurang enak.

Setelah membersihkan mulutnya dan berkumur dengan penyegar mulut, Gintoki dituntun oleh laki-laki yang selisih tingginya sepuluh senti di atasnya. Dengan perlahan Hijikata mendudukkannya di atas sofa ruang tengah Kantor Yorozuya.

"Ini sudah kubuatkan teh hangat untukmu, minumlah." Hijikata menyodorkan segelas teh hangat buatannya kepada Gintoki.

Walaupun tubuhnya masih terasa lemas, dia tidak bisa menolak kebaikan dari Hijikata. Dia pun menuruti apa yang Hijikata perintahkan padanya. "Terima kasih, Hijikata-kun."

Teh hangat itu diteguknya. Melewati kerongkongan dan mengalir sampai ke perut. Membuatnya sedikit lebih baik sepertinya. Dia meletakkan lagi gelas yang masih ada sisa teh minumnya di meja ruang tamu.

"Bagaimana? Apakah ada sesuatu yang ingin kau makan, Gintoki? Bubur ayam? Soto? Bakso? Mie Ayam? Ind*mie?" Tidak berhenti sampai teh hangat saja, Hijikata mencurahkan perhatiannya kepada pria dengan kimono tidurnya itu dengan menawarkan makanan penghangat untuk perut.

Sebenarnya dia ingin makan semua apa yang disebutkan oleh Hijikata. Tapi perutnya menolak untuk diisi dengan makanan lezat yang sangat hobi dia santap tersebut. Dia menggeleng. "Aku sedang tidak ingin makan apa-apa, Hijikata-kun. Ngomong-ngomong sekarang sudah jam delapan, Hijikata-kun harus segera pergi ke Markas Shinsengumi. Kalau tidak nanti terlambat loh. " Gintoki berusaha berdiri untuk menyiapkan rutinitas harian Hijikata sebelum pergi bekerja. Yaitu memakaikan jas Shinsengumi ke tubuh lelaki yang berprofesi sebagai pegawai pemerintahan saat ini.

Ada yang aneh dengan Gintoki. Belum Gintoki berdiri, tangan Hijikata menahannya agar tetap duduk di sana.

"Hari ini aku sudah izin ke Kondou-san. Aku akan menemanimu hari ini ke dokter."

"Ta-tapi...!"

Menatap tegas kepada Gintoki, sepertinya Hijikata ingin kalau keinginannya harus dituruti. "Kita akan pergi ke dokter. Ini sudah hari yang keempat kau selalu tidak bisa tidur di malam hari, mual, dan muntah-muntah. Aku juga tahu kau sering pusing. Kemarin kau hampir ambruk saat memasak di dapur."

Iris marun itu melebar. "Kau tahu?"

"Bagaimana aku tidak tahu? Kau adalah istriku 'kan? Jika ada sesuatu yang aneh dengan orang yang paling aku sayangi, aku pasti segera memperhatikan perubahan itu." Pria dengan selisih usia sepuluh tahun dari Gintoki itu tersenyum lembut, dan meletakkan telapak tangannya di wajah si perak.

Di Rumah Sakit Oedo

"He?"

"Jadi selamat, Hijikata-san. Saat ini Sakata-san sedang mengandung. Umur kandungannya sudah menginjak tiga minggu lebih lima hari." Dokter paruh baya itu menyampaikan kabar gembira kepada pasangan Hijikata yang sama-sama melongo dengan apa yang mereka dengar.

Alis perak Gintoki naik ke atas, rahang Hijikata melorot ke bawah.

Mencerna kata-kata si dokter yang menjelaskan keadaan Gintoki sekarang yang sedang mengandung. Secepat kilat Hijikata merogoh ponselnya. Lalu dia mencari aplikasi browser dan berselancar di dunia maya.

Jari jempol itu cekatan menulis "Sinonim Kata Mengandung"

Tidak lama dari hasil pencariannya dia menemukan persamaan makna kata yang dia cari.

Mengandung ; hamil.

Mengandung ; bunting.

Mengandung ; berbadan dua.

Satu menit kemudian dia kembali ke kenyataan berada di depan dokter yang memeriksa Gintoki. "Eng.. Dokter, ngga salah periksa? Mengandung itu kan..."

"Ha-hamil 'kan?" Gintoki melanjutkan keterkejutan suaminya.

"Ya, hamil. Dalam perut Sakata-san sekarang ada bayinya, Hijikata-san." Entah kenapa si dokter mulai sebal dengan reaksi tidak biasa dari pasangan suami-istri ini.

Syaraf-syaraf di kepala Hijikata tiba-tiba tertarik ke pusat otak untuk dipaksa bekerja menjawab pertanyaan yang paling susah menurut dia setelah pertanyaan, 'Apa jawaban yang bakal gua dapat kalau gua nembak Gintoki? A. Diterima, , ' . " Ini bijimana ceritanya Gintoki bisa hamil? Emang sih biasanya kalo gua ena-ena ama dia biasanya dikeluarin di dalem, tapi kan dia ngga punya 'itu'?! Apa pengaruh pas ena-ena dia sering minum bibit unggul gua lewat mulutnya terus dia jadi hamil?! Apa nyipok bibir Gintoki bisa bikin dia hamil?! Jangan-jangan nyentuh kulitnya aja bibit gua bisa auto transfer bibit ke badannya gitu ya?!"

Tidak lama asap hitam mengepul dari kepala Hijikata dan terjadi ledakan yang tidak disangka-sangka.

DUARR!

"Hi-Hijikata-kun!"

"Hijikata-san!"

Kediaman Yorozuya

Duduk di sofa butut berwarna biru, Gintoki mengusap-usap perutnya. Sesekali dia pandangi perut yang berlapis kimono corak gelombang biru putih favoritnya itu. Tidak ada yang menyangka sebelumnya bahwa seorang laki-laki sepertinya bisa hamil. Hamil yang secara harfiah, yaitu mengandung jabang bayi di dalam perutnya.

Perasaan kaget, mustahil, takjub, bangga, bahagia, semuanya bercampur jadi satu. Mungkin ini perasaan yang dimiliki saat seorang wanita yang mengetahui bahwa dirinya tengah berbadan dua.

Setelah selesai mandi dan keramas untuk meluruskan lagi rambut lurus kebanggaanya yang tadi sempat berubah jadi afro pasca kebakaran di dalam sistem otaknya, Hijikata keluar dari kamar mandi berbalut kimono handuk. Dia mengusap-usap kepalanya meyakinkan tidak ada lagi rambut keriting yang tersisa akibat kebakaran kecil yang sempat membuat heboh Rumah Sakit Oedo tadi.

Ada pemandangan lain yang dia lihat saat berada di ruang tengah.

Biasanya dia melihat Gintoki heboh saat menonton televisi siaran prakiraan cuaca, kini dia diam dan tidak seberapa lagi memperhatikan peramal cantik idola Gintoki terdahulu, Ketsuno Ana. Si perak malah asyik dengan perutnya sendiri.

Pria dengan marga Hijikata itu menghampiri pria yang berstatus sebagai Nyonya Hijikata di sofa ruang tamu Yorozuya. Selama menikah, Gintoki enggan untuk meninggalkan rumah sewa ini. Dia sudah nyaman berada bersama dengan orang-orang yang tinggal di Kabuki-Chou. Dia juga tidak ingin meninggalkan baba karena Gintoki masih menepati janjinya kepada almarhum suami Otose aka Ayano untuk melindungi nyawa wanita berusia senja itu sampai kapanpun. Selain itu, walaupun sering cekcok masalah uang sewa bayaran kos namun keduanya saling menyayangi satu sama lain.

Tapi bukan sayang yang itu loh ya...

Mohon jangan salah paham. Akibatnya bisa fatal.

Seperti...

Suatu hari tiba-tiba Hijikata menghampiri Gintoki dan ingin kekasihnya itu bisa menjelaskan sesuatu padanya.

"Gintoki! Kudengar kau dekat dengan Ayano! Siapa Ayano itu?!" Hijikata terkesan cemburu dan tidak sabar mengenai penjelasan yang harus Gintoki jawab.

Gintoki keheranan dengan Hijikata yang mendadak posesif kepadanya. "Eh?"

Dia tidak terima kalau ada orang lain juga harus bersaing dengannya untuk mendapatkan Gintoki. Sudah cukup mati-matian dulu memendam rasa pada kekasihnya, sekarang tidak akan dia lepaskan Gintoki dengan mudah kepada orang lain. "Apa dia perempuan yang harus bersaing denganku untuk mendapatkanmu? Seberapa kuat dia?! Berani sekali bersaing denganku, Wakil Komandan Shinsengumi, Oni no Fukucho!" Tantang Hijikata congkak.

"Te-tenang Hijikata-kun. Aku tahu kau kuat, tapi kalau kau berhadapan dengannya maka kau"

"EHEM-EHEM!"

Suara berdeham serak seseorang mengejutkan keduanya. Sepasang kekasih itu membalik badan ke belakang. Menemukan Otose dengan rokok dijepit di bagian ujung kanan bibirnya.

Entah kenapa, rasanya Hijikata melihat Otose seperti mamak-mamak jagoan yang main film Kungflu Hustle yang punya jurus maut Auman Macan setelah makan Bismuat (AN: Parodi Biskuat), Semua Jadi Macan.

"Yo. Gue Ayano. Apa ada yang mau saingan ama gua?"

Menelan ludah. Lalu tidak membuang waktu, Hijikata bersujud di depan kaki Ayano aka Otose aka CALON MAMA MERTUA.

"Ampuni hamba, Paduka Ratu! Tolong jangan coret nama hamba dari bursa calon suami yayang Gintoki! Kalau mau coret, coret aja tulisannya TIDAK DI ACC. Mohon kekhilafan hamba dimaafkan!"

Semenjak hari itu, Hijikata memperlakukan Mama Mertua dengan penuh hormat...

Karena dari pihak Gintoki tidak meminta macam-macam sebagai hadiah hantarannya, maka apa sulitnya bagi pihak Hijikata untuk mengabulkan permohonan sederhana Gintoki untuk tinggal di rumah sewa yang berada di lantai dua Snack Otose? Padahal jauh-jauh hari sebelum melamar kekasihnya, Hijikata sudah mempersiapkan uang yang cukup banyak untuk dibelikan sebuah rumah atau apartemen mewah untuk dijadikan tempat tinggal mereka berdua sebagai mas kawinnya.

Namun Gintoki menolak semua kemewahan itu, karena dia mencintai Kabuki-Chou tentunya.

"Kau tidak tidur?" Tanya Hijikata sambil melipat kaki di hadapan Gintoki.

Jelas si perak tidak bisa tidur karena dia masih memikirkan calon bayi yang saat ini berada di dalam perutnya sekarang. "Setelah aku tahu ini bukan penyakit, aku malah tambah tidak bisa tidur." Gintoki tertawa kecil. "Pasti dia tidak ingin tidur di dalam sana karena dia ingin memberi tahu kita kalau kita berdua bakal jadi Papa dan Mama."

Dia melihat ekspresi Gintoki yang sangat berbahagia dengan kabar baik yang tidak pernah dia duga sebelumnya. "Terima kasih, Gintoki."

"Hijikata-kun?"

Hijikata mengangkat tubuhnya sedikit, lalu memeluk bagian perut Gintoki. Walaupun belum ada rupa dari janin, melainkan hanya segumpalan darah yang hidup di dalam perut lelaki yang kini mengandung benih cintanya, dia yakin calon penerus nama Hijikata ada di dalam sana.

Hijikata mencium perut Gintoki yang datar. "Terima kasih telah menjadi ibu untuk anakku..."

Tidak bisa dihindari, wajah manis pria berambut perak itu merona merah. Gintoki pun mengulurkan tangannya untuk merangkul Hijikata dalam pelukannya. Mencium wangi rambut hitam suaminya yang akan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya saat ini. "Tidak. Akulah yang berterima kasih, Hijikata-kun. Aku tidak bisa mengatakan betapa berterima kasihnya aku karena kau menerimaku menjadi istrimu. Kau menerima semua yang ada di dalam hidupku. Dan sekarang kau mengizinkan aku untuk mengandung anakmu, anak kita berdua."

"Hey, Gintoki. Apa menurutmu cinta itu aneh?" Hijikata melonggarkan pelukannya dari perut istrinya.

"Ya?" Si perak itu memiringkan kepalanya.

Hijikata tertawa sambil mendekatkan kepalanya untuk bisa beradu dengan lembut kepada Gintoki. "Karena hanya dicinta, satu ditambah satu sama dengan tiga. Kau, aku, dan bayi kita!"

.

.

.

To Be Countinued