Apa yang Kau Sembunyikan?

Nami dan Luffy adalah pasangan suami-istri yang baru menikah. Setelah menikah, mereka memiliki rahasia masing-masing yang kelihatannya belum ingin mereka bagi. Namun suatu kejadian memaksa mereka mengungkapkannya.

Disclaimer: bukan milik saya

Rating: T/15+

Pairing: NamiLuffy

Genre: Drama, Hurt/Comfort

AU

Nami membuka matanya. Gelap. Itulah hal pertama yang diketahuinya. Ia melihat tempat tidurnya dan menyadari bahwa ia sendirian. Nami menatap tumpukan bantal yang disusun di sebelahnya dengan tatapan sendu. Berniat ingin mengetahui jam berapakah ini dan berapa lama waktu yang telah lewat sejak ia terbaring di kasur, Nami meraih jam weker di sampingnya. Saat ia menatap jam wekernya, Nami baru menyadar seberapa gelap ruangan itu. Ia pun menyalakan lampu duduk yang ada di dekatnya, baru ia bisa melihat jarum yang bergerak di weker itu. Jarum jam panjang menunjuk ke arah angka 12 dan jarum pendek menunjuk ke angka 11.

'Kenapa aku selalu terbangun tepat di jam seperti ini?', batin Nami sambil menatap jam wekernya. Ia hanya bisa menghela napas dengan tatap sedih. Ia menaruh lagi wekernya dan menggantikannya dengan kalender duduk dan sebuah spidol merah. Nami segera mencoret angka 25 yang ada di kalender dan setelah ia melakukannya, ia melihat kembali deretan coretan merah yang hampir memenuhi seluruh tanggal di bulan Maret. Nami menaruh kalendernya dan langsung meringkuk di kasurnya kembali. Ia merapatkan selimut untuk menghangatkan badannya dan berusaha memejamkan matanya, walaupun itu agaknya sulit sebab ia sudah mengalami malam seperti ini selama berminggu-minggu.

'Bip….Bip…'

Dering nada SMS dari telepon genggam Nami berbunyi, memaksanya untuk bangun lagi. Nami meraih telepon genggamnya dan menekan tombol Yes.

'Maaf, aku pulang terlambat. Jangan menungguku lagi. Makan dan tidurlah. Aku tidak ingin kau sakit.'

Nami hanya menghela napasnya.

"Sampai kapan aku harus terus begini? Ada hal yang ingin aku katakan kepadanya", kata Nami dengan nada kecewa. Ia memutuskan bahwa malam ini ia tidak ingin memusingkan masalah ini lagi dan melanjutkan tidurnya lagi di kasurnya. Sendirian.

Keesokan harinya…..

Nami membuka matanya dan merasakan ia ada di dalam pelukan yang hangat. Ia mengangkat wajahnya dan menemukan sesosok pria yang tengah tertidur pulas, sedang memeluknya erat. Jika kejadian ini terjadi setidaknya tiga bulan yang lalu, mungkin ia akan tersenyum bahagia dan memilih untuk berlama-lama tidur di pelukan pria di sampingnya. Namun tidak untuk kali ini. Kali ini Nami memilih untuk melepaskan kedua tangan yang tengah melingkar di pundaknya dan secara pelan-pelan turun dari tempat tidur. Nami pun segera ke ruangan lain dan beberapa menit kemudia tercium bau harum yang membuat pria yang tengah tertidur pulas di tempat tidur tadi bangun.

Nami sedang membalik telur dadarnya ketika ia mendengar langkah kaki menuju dapur, tempat ia memasak.

"Kau sudah bangun?" tanya Nami datar tanpa melihat membalikkan badannya, tetap sibuk menggoreng telurnya.

"Hmm…" jawab pria tersebut sambil menguap lebar. Pria itupun segera duduk di meja makan di sebelah tempat Nami memasak.

"Kau pulang jam berapa?" tanya Nami sambil mengangkat telur dadarnya dan meletakkannya di piring. Ia kemudian membawakan sarapan yang telah ia buat kepada pria tersebut.

"Mungkin sekitar jam 1", jawab pria itu singkat dengan wajah yang kusut dan kelelahan. Lagi-lagi ia menguap.

"Apa pekerjaanmu begitu berat sampai kau harus lembur setiap hari?"

Pria itu hanya mengangguk-angguk sambil terus berusaha membuka matanya yang kelihatan belum bisa diajak kompromi. Nami merasa dilema. Ia ingin membicarakan sesuatu yang penting, sesuatu yang beberapa minggu ini ia rahasiakan. Tapi ia melihat situasinya tidak mendukung.

'Tidak dengan kondisinya yang seperti ini', batin Nami.

"Maafkan aku kalau harus selalu menyusahkanmu. Tapi hari ini aku juga harus lembur. Jangan menung….."

"Aku tahu", belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, kalimatnya sudah terpotong oleh Nami. Pria itu agak terkejut dengan reaksi Nami dan Nami menyadari hal itu. Ia segera mengalihkan perhatian.

"Jangan terlalu sering lembur. Nanti kau bisa sakit", kata Nami sambil tersenyum. Senyum yang agak dipaksakan. Pria itu pun mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah. Kau juga jangan terus menungguku. Setiap hari aku harus mengangkatmu dari sofa. Bagus tadi malam kau sudah tidur duluan. Aku selalu mengkhawatirkanmu kalau-kalau kau menungguku sampai larut malam."

Nami mengangguk pelan.

Satu jam kemudian pria itupun telah berpakaian rapi dan saat itu Nami tengah merapikan jaketnya.

"Terima kasih Nami. Aku berangkat dulu ya", kata pria itu sambil mengelus kepala Nami dengan lembut. Nami tersenyum dan mengangguk. Ia pun lalu mengecup pelan bibir pria itu. Ini kebiasaan setiap pagi yang biasa mereka berdua lakukan sebelum si pria ini pergi kerja. Kebiasaan mereka berdua sepertinya membuat tetangga mereka agak cemburu melihatnya.

"Wah, wah. Pasangan baru memang selalu mesra ya?" seru seorang pria berambut merah yang tengah menyiram tanaman. Nami hanya tersipu malu mendengarnya.

"Hei Makino, apa kau mau menciumku setiap pagi seperti mereka? Kita kan juga suami-istri, malah sudah lebih lama menikah daripada mereka", tawar pria berambut merah itu kepada istrinya yang tengah merawat tanaman.

"Kita ini bukan pengantin baru lagi. Kita juga sudah punya anak. Apa kau tidak malu jika anakmu melihatnya?" protes Makino.

"Kalau malu, nanti malam saja bagaimana?" goda suaminya. Makino istrinya malah mendengus dan meneruskan merawat tanamannya. Suaminya hanya tertawa saja.

"Hei Luffy. Bagaimana denganmu?" seru pria berambut merah itu kepada pria yang tengah memeluk Nami.

"Ha? Apanya Shanks?" tanya Luffy polos.

"Tentu saja nanti malam dengan istrimu. Hahaha…" goda Shanks. Muka Nami jadi memerah mendengar hal itu. Memang bukan hal tabu sih, tapi kalau ada orang lain yang menanyakan hal itu di depannya, tentu saja ia akan malu. Lagipula ia dan Luffy baru empat bulan menikah.

"Shanks, sudahlah. Jangan ganggu mereka. Mereka pengantin baru", protes Makino.

"Hah, baiklah. Maafkan atas ketidaksopananku. Kadang-kadang mulutku ini memang agak kurang ajar", kata Shanks sambil tertawa.

"Tidak apa-apa Shanks," jawab Luffy sambil tersenyum lebar. Luffy pun menatap Nami yang kelihatan agak kikuk dengan situasi tadi.

"Hei, jangan terlalu memikirkan hal itu. Kau tahu kan Shanks tetangga kita. Dia memang suka begitu. Tapi dia orang yang baik. Ia , istrinya dan anakknya Aisa."

"Ya tetap saja itu memalukan", kata Nami agak tersipu. Luffy hanya tertawa kecil mendengar perkataan istrinya.

"Aku pergi ya?" Luffy melepaskan pelukannya dan secara tiba-tiba mencium Nami. Nami agak terkejut. Biasanya ia yang mencium Luffy sebelum suami pergi bekerja. Karena terlalu mendadak, Nami tidak bisa memutuskan kapan ia akan mengakhiri ciuman Luffy dan akhirnya ia ikut terbawa, sampai…

"Hei Makino. Lihat. Apa kau mau kalah begitu saja dengan mereka?" protes Shanks yang baru saja melihat kejadian yang menarik di depan matanya.

"Kau pikir ini kontes?" kata Makino ketus dan segera masuk ke dalam rumah dengan muka yang cemberut.

Nami segera melepaskan ciuman Luffy dengan terpaksa karena ia tidak ingin semakin malu di depan tetangganya. Seandainya mereka di dalam rumah, mungkin Luffy akan telat berangkat kerja hari ini. Luffy menatapnya dengan tatapan mesra.

"Sebaiknya kali ini aku harus benar-benar pergi."

Nami mengangguk sambil tersenyum. Ia melambaikan tangannya ke arah Luffy yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya. Nami mendesah pelan dengan tatapan bersalah ke arah Luffy. Ada hal yang selama beberapa minggu ini ingin ia sampaikan kepada Luffy, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya dengan situasi rumah tangganya yang seperti ini. Nami pun memutuskan untuk segera masuk ke rumah, bersiap-siap untuk bekerja.

"Kring….Kring….."

Saat ia masuk ke dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara telepon. Nami segera mengangkatnya.

"Halo…."

"Halo. Apa ini rumah Nami dan Luffy?" terdengar suara seorang perempuan di seberang sana.

"Iya, siapa ini?"

"Ini Nami ya?"

"Iya. Ini siapa?" tanya Nami lagi.

"Nami, lama tidak mendengar suaramu. Ini Vivi!"

"Vivi? Nevertari Vivi?" tanya Nami tidak percaya.

"Iya ini aku? Bagaimana kabarmu? Dasar kau ini. Sudah jadi penganti baru, kau lupa pada sahabatmu ya?"

"Ah, maaf Vivi aku lupa menghubungi sejak kami berdua menikah."

"Tidak apa-apa. Aku mengerti."

"Hei, bagaimana dengan Kohza. Apa dia sudah melamarmu?"

"Huh, pria itu memang payah. Untuk urusan politik ia memang peka. Tapi untuk urusan pernikahan, ia memang tidak peka. Bahkan setelah kami menghadiri pernikahan kalian, tidak ada perkembangan apapun. Menyebalkan. Aku iri padamu Nami. Kau dan Luffy baru berkencan enam bulan, dia sudah melamarmu. Sedangkan aku dan Kohza sudah saling kenal sejak kecil. Masak dia tidak mengerti aku. Mungkin karena terlalu lama kami berpacaran, ia sudah merasa kalau aku ini istrinya", curhat Vivi panjang-lebar. Nami hanya tertawa kecil mendengar sahabatnya yang uring-uringan di pesawat telepon.

"Ya ampun, aku sampai lupa tujuanku sebenarnya!" seru Vivi tiba-tiba.

"Ha? Memangnya ada apa Vivi?"

"Oh ya. Nanti malam kalian berdua ada acara tidak? Aku ingin mengajak kalian pergi."

"Mmm…Nanti malam Luffy lembur."

"Ooo…Mmm…Kalau kau bagaimana Nami? Nanti malam tidak ada acara kan?"

Nami terdiam sesaat, menimang tawaran Vivi. Ia memang tidak ada rencana apapun malam nanti, selain duduk sendirian di sofa sambil menonton DVD sambil makan popcorn dengan hati yang kesepian. Ia merasa tawara Vivi cukup menggiurkan. Paling tidak ia akan punya teman mengobrol nanti malam.

"Hei, bagaimana Nami?"

"Memangnya kita mau kemana?"

"Kohza mendapatkan empat tiket pertandingan balap mobil. Tapi ia sendiri malah tidak bisa ikut karena ada Rapat Dewan nanti malam. Daripada tiketnya terbuang percuma, di menyuruhku mengajak sahabt-sahabtku untuk menonton. Jadi tadi aku sudah menghubungi Robin. Ia setuju untuk ikut menonton. Sekarang bagaimana denganmu?"

"Ummm…Baiklah aku ikut."

"Baguslah. Aku akan menghubungi Conis. Jadi kita berempat nanti malam bisa bersenang-senang", kata Vivi sambil tertawa kecil.

"Baiklah. Terima kasih ya Vivi kau sudah mengajakku."

"Ya sama-sama. Oke, nanti akan ku jemput jam 7 ya?"

"Hmm. Iya."

Nami pun menutup telepon dan wajahnya pun kembali cerah.

Akhirnya pada jam 7.30 mereka berempat pun telah sampai di sirkuit dan segera mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka melihat-lihat keadaan sekelilingnya. Sirkuit sangat padat dipenuhi oleh para pecinta balap mobil. Banyak orang yang memakai berbagai macam kostum yang aneh-aneh untuk mendukung seperti seorang pria yang memakai kostum tengkorak.

"Sudahlah Brook, duduklah dengan tenang pertandingan akan dimulai. Dan apa maksudmu memakai kostum aneh seperti itu. Ini bukan hari Hallowen tahu?" teriak seorang pria berambut pirang yang tengah merokok ke arah pria berkostum tengkorak.

"Kostum ini akan menarik perhatian para gadis di sini, terutama gadis yang selalu memegang payung di pinggir sirkuit itu. Hai gadis-gadis cantik. Bolehkan aku melihat celana dalam kalian?" seru Brook sambil melambaikan tangan ke arah Umbrella Girl.

"Duduklah Brook. Jangan mempermalukan dirimu. Kau harus menunjukkan bahwa pria itu juga punya harga diri."

"Begitukah Sanji?" tanya Brook dengan heran. Sanji mengangguk-angguk dengan yakin, membuat Brook akhirnya mau duduk dengan tenang. Tiba-tiba…

"Hai para gadis yang sedang memakai payung di bawah sana. Apakah kalian tidak ingin memayungiku? Melihat kalian yang cantik seperti bidadari membuat hatiku kehujanan….!" teriak Sanji sambil menari dengan gaya yang tidak jelas. Salah satu temannya yang berambut hijau hanya bisa mendengus.

"Huh. Apanya yang harga diri. Kau hanya bisa mempermalukan dirimu sendiri!" kata pria berambut hijau itu ketus.

"Apa barusan yang kau bilang dasar lumut aneh?"

"Kau berisik sekali. Diamlah atau akan aku bunuh kau!"

"Kau berani?"

Hampir saja kedua pria itu membuat keributan di depan umum, tapi untung saja pria berkostum tengkorak itu dapat melerai meraka berdua.

Nami yang melihat kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Wow, sungguh ramai sekali sirkuit ini", komentar Conis.

"Iya…" kata Vivi dan Nami bersamaan dengan wajah sendu.

"Pasti karena pasangan kalian tidak bisa menemani kalian malam ini. Kalau begitu maafkan kami berdua yang sudah memakai tiketnya," kata Conis dengan nada bercanda.

"Ah, bukan begitu maksudku Conis. Hanya saja…." Nami menggantung kata-katanya.

"Tentu saja. Pasangan baru yang baru menikah, tentu akan merasa aneh jika tiba-tiba tidak tampil bersama di depan publik", kata Robin sambil tersenyum. Nami hanya diam tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tanda bahwa pendapat Robin memang benar.

"Wah, manis sekali", kata Vivi dengan pandangan iri.

"Apa Kohza belum melamarmu juga Vivi?" tanya Conis heran.

"Huh, pria yang satu itu memang sudah dimengerti!" dengus Vivi kesal. Robin hanya tertawa kecil mendengarnya, begitu juga dengan Nami dan Conis.

Beberapa menit kemudian pertandingan pun dimulai. Para penonton bersemangat menyaksikan balapan mobil, pit stop pun sibuk mengganti ban mobil atau mengisi bahan bakar, komentator sibuk mengomentari jalannya pertandingan dan para peserta balap bersaing ketat memperebutkan gelar juara. Pada putaran ke delapan, tiba-tiba terjadi sesuatu. Mobil balap berwarna merah dengan nomor 11 mengalami pecah ban di sirkuit, membuat pembalap di dalamnya kehilangan keseimbangan. Bannya tergelincir, mobil balapnya oleng ke arah peserta balap lain, membuat mobil balap tersebut menubruk mobil balap lain yang sedang melaju kencang. Tabrakan beruntun pun tidak terhindarkan, para penonton yang terkejut langsung berdiri ingin melihat kejadian tersebut secara jelas.

Ada lebih dari lusinan mobil yang saling menabrak di belakang mobil bernomor 11 tersebut. Asap putih keluar dari semua mobil yang tertabrak tadi. Namun asap paling tebal mengepul dari mobil nomor 11. Rupanya percikan api mulai terlihat dan kelihatannya berpotensi untuk menjadi kebakaran. Mobil ambulan, para medis, serta teknisi berhamburan ke tengah sirkuit menuju ke arah mobil yang hampir terbakar tersebut. Para penonton menghela napas panjang, membelalakkan matanya, menutup mulut mereka yang menganga yang tak percaya akan apa yang terjadi di hadapan mereka. Nami dan teman-temannya pun juga ikut resah.

"Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi?" teriak Vivi.

"Apa mereka bisa menyelematkan pembalap itu?" tanya Conis resah.

"Ya Tuhan, mengerikan sekali!" komentar Nami dengan nada resah.

Robin hanya mengamati kejadian itu dengan seksama walaupun dia meletakkan tangannya di dadanya karena kekagetan akan kejadian barusan.

Terlihat beberapa orang berusaha menyelamatkan pembalap tersebut dengan memecahkan kaca mobil. Beberapa teknisi menyemprotkan alat pemadam kebakaran, para medis bersiap-siap dengan oksigen dan alat tandu. Semua orang tanpa terkecuali terlihat panik dan khawatir. Semua orang menahan napasnya melewati momen yang lebih menegangkan dari balap mobil itu sendiri, berdoa agar sang pembalap selamat dan tidak aka nada tragedi mala mini. Kamera pun tanpa henti menyorot aksi penyelamatan ini dengan sebaik mungkin dan menayangkannya di layar besar agar semua orang di sirkui bisa melihat penyelamatan yang sedang dilakukan.

Tiba-tiba salah seorang teknisi terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil. Terlihat sebuah helm berwarna merah menyeruak dari dalam mobil yang tengah mengeluarkan asap yang sangat pekat. Para penonton berusaha melihat dengan lebih jelas apa yang terjadi baik itu di sirkuit maupun di layar. Mereka berteriak seakan-akan ingin menemukan harapan baru selamatnya pembalap bernomor 11 itu. Harapan itu pun terkabul saat pembalap tersebut berhasil ditarik keluar dari dalam mobil. Hampir seluruh kostumnya gosong penuh dengan legam hitam. Tubuhnya yang lemah tidak berdaya tergeletak di rerumputan di pinggir sirkuit. Para medis segera mengangkat pembalap tersebut ke atas tandu dan salah seorang teknisi mencopot helmnya agar dia bisa segera diberikan oksigen. Kamera pun menyorot kejadian itu dan saat helm pembalap itu dibuka…..

"LUFFY…!" teriak Nami kencang, tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.

Bersambung…..