Salam semua. ini fic keduaku, tapi fic pertamaku di bleach. Sebelumnya, aku mau berterima kasih sama , karena dari salah satu fic-nya, aku dapet ide buat fic ini (tapi beda kok, isinya). Trus aku juga mau berterima kasih sama Kubo Tite karena aku minjem tokoh2nya. Dan sama para senpai-senpai yang mau baca dan ngereview. Karena aku masih anak baru, jadi mohon bantuannya (baca: review) ya!

BLEACH-Déjà vu

Prelude:

Seorang gadis. Di sebuah lorong sempit. Tubuh mungilnya berdarah sana-sini. Rambut hitamnya yang di kuncir basah oleh keringat. Kakinya melangkah pelan. Jalannya menunduk agak bungkuk. Tangan kirinya memegangi kepala. Tangan kirinya memegangi kusen jendela.

Bruk!

Ia terbentur lagi. Entah sudah berapa kali ia menabrak tembok. Matanya nanar menatap lurus di depan. Lorong yang lebarnya hanya 2 meter. Koridor yang lembab dan sepi. Lorong tanpa ujung. Koridor yang mengerikan, mau melihat ke depan atau belakang, adanya cuma hitam. Gelap.

Bruk!

Lagi-lagi gadis itu. Ia memegangi kusen jendela dan tembok. Tubuhnya bersandar lemas di jendela. Matanya yang melihat ke depan, kini melirik jendela. Hitam juga, dan hujan. Gadis itu kembali berjalan. Makin lama makin pelan. Napasnya ngos-ngosan. Tubuhnya menahan sakit.

Lorong dengan pintu dan jendela di sekelilingnya. Pintu yang berdebu. Pegangan pintu dari besi yang emas yang tertulis nomor-nomor di atasnya (yang sudah karatan juga) tertempel di pintu. Lantai putih kusam, beberapa bercak darah, beberapa bekas sepatu berlumpur. Kusen jendela dari kayu yang sudah ditempati rayap. Jendela …, yah seperti di jelaskan tadi, ada beberapa bekas goresan seperti cakaran di kaca kotor, tak pernah di bersihkan.

Tap… tap… tap….

Gadis itu terkejut.

Siapa??

Ia ingin menoleh, tapi nggak bisa. Ia nggak boleh menoleh kebelakang.

Tap… tap… tap….

Suara langkah kaki itu makin lama makin dekat. Gadis itu mulai mempercepat langkahnya.

Tap… tap… tap….

Siapa itu?? Siapa??!

Langkah kaki tak dikenal itu makin lama makin cepat, seperti berlari. Si gadis segera berlari secepat ia bisa, secepat ia mampu.

"Hei!!"

"Hhh…, hh…."

Gadis itu terus berlari dalam ketakukannya. Ia tidak tahu dan tak mau tahu siapa pemilik langkah kaki dan siapa yang memanggilnya.

"Hei!! Tunggu!!"

Kumohon, siapa saja kau, berhentilah! Biarkan aku sendiri!!

"Heeeiii!!!!"

Gadis itu tetap berlari. Tiba-tiba matanya terbelalak. Segaris cahaya muncul. Mulutnya membentuk lengkungan dengan lesung di pipi kirinya. Ia segera menarik pegangan pintu itu dan menariknya. Segaris cahaya itu kini terbuka lebar. Si gadis cepet-cepet masuk kedalamnya.

"Hei!! Kau!!"

Cahya. Sinar. Silau.

Tangan si gadis berusaha menutupi matanya. Silau sekali di dalam pintu itu.

"He-…," suara si pemanggil tercekat.

Si gadis tersenyum kecut. Apa benar harapan itu ada? Kalau dia harapanku, seharusnya dia menolongku kan?

"Hei! Cepat keluar dari sini!!" si pemilik suara menarik tangan si gadis. Gadis itu terperangah sedikit, tapi tetap menghadap depan.

Kenapa?? Apa benar kau harapan itu? Kenapa kerjamu hanya setengah-setengah begini? Harusnya kau…

Bruk!!

Si pemilik suara itu menarik tangan si gadis menjauh. Tapi si gadis tetap di tempat. Akhirnya si pemilik suara itu menubruk gadis itu agar terjatuh. Ya, gadis itu memang terjatuh, dan si pemilik suara segera menariknya keluar dari pintu itu.

Brak!

Si pemilik suara menendang pintu itu kasar. Sang gadis, untuk pertama kalinya menoleh ke belakang, menatap si pemilik suara. Si pemilik suara kaget.

"K-kau??!"

Apa benar harapan itu ada? Ya, harapan itu ada.

~???~

"Hh…, hh…." Seorang pemuda berbaju aneh mengelap keringat di wajahnya. Pedangnya yang besar itu kembali ia gantungkan di bahunya.

"Kau hebat, Ichigo."

Si pemuda menoleh. "Rukia," katanya.

Gadis yang memanggilnya mengangguk. Ia menghampiri pemuda itu. Setelah basa-basi, ngobrol sedikit, gadis itu mengajaknya pulang.

"Ayo, yang lainnya sudah menunggu. Pasti mereka senang dengan kemenanganmu ini."

"Ok." Pemuda itu berlari beberapa langkah. Dalam sejekap dia sudah 8 meter di depan gadis itu.

"Hei! Jangan pake shunpo!! Aku tak bisa!!" seru si gadis sambil berlari, berusaha menyusulnya. Pemuda itu tertawa mengejek. Ia menunggu gadis itu dengan sabar. Ketika gadis itu sudah menyamai langkahnya, mereka berlari biasa, menyusuri lorong panjang.

"Kau hebat, Ichigo," kata gadis itu.

"Ya, tadi kau juga ngomong begitu kan? apa ada yang salah denganmu?" jawab si pemuda.

Si gadis tertawa kecil. "Tidak. Tapi aku jujur. Memangnya salah kalau aku jujur?"

"…."

"Jujur saja, aku sangat iri denganmu…."

"Apa?"

"Ya, itu benar. Kau memiliki kekuatan roh yang besar, zanpakotu yang hebat, bahkan kau menguasai bankai."

"Kau iri dengan bankai-ku? Minta diajari Yourichi dan Pak Uruhara. Merekalah guruku sebenarnya."

"Tapi kau cepat dalam menerima ilmu yang diajarkan Yourichi dan Uruhara!"

"Kenapa kau nggak minta diajarkan oleh Byakuya saja?"

"…."

"Oh, maaf."

"Tidak apa-apa. Seharusnya kau tahu kalau kakak sangat sibuk. Tak mungkin mengajariku."

"Ya…, maaf."

"Kau bahkan sudah membunuh Aizen," tambah gadis itu.

"…."

"Seandainya kau seorang shinigami dari salah satu divisi, kau pasti sudah di promosikan menjadi kapten, Ichigo," kata si gadis lagi, sambil mendesah pelan.

"Hahaha, tapi sayang aku shinigami golput. Tidak ada di divisi manapun. Tapi…, kalau aku menggantikanmu, berarti aku di divisi 13? Tapi kekuatanmu kan sudah kembali," pemuda itu menggaruk kepalanya, bingung. Gadis itu hanya tertawa kecil.

"Kapten itu boleh memilih siapa wakilnya kan?" tanya pemuda itu. Si gadis mengangguk. Pemuda itu berpikir sebentar, lalu menatap si gadis sambil tersenyum khasnya (dengan kerutan di dahinya tentu saja).

"Kalau aku benar-benar jadi kapten, aku akan memilih kau sebagai wakilnya."

"Hah?" gadis itu terperangah, kaget. Pemuda itu tertawa melihat tampang bloon gadis itu.

"Tapi bukan berarti aku mengharapkannya lho," ucap pemuda itu cepat. "aku lebih suka begini daripada mengatur-atur orang."

"Seandainya kau dan aku berbalik keadaannya…," ucap si gadis tanpa sadar.

"Apa??"

"Ah, tidak. Ayo jalan!"

"Biarkan aku pake shunpo!"

"Tidak!! Lihat tubuhmu itu!!"

Mereka melanjutkan perdebatan mereka itu sambil berlari menyusuri lorong, berusaha keluar dari istana Aizen yang sebentar lagi roboh ini.

~???~

Huaa..., maaph kalo jelek dan rada gaje. mungkin banyak yang ngga ngerti dan banyak yang salah, biar aku nggak salah lagi, tolong review jadi aku bisa tau salahku dimana. Makasih...

Ayo klik tombol ijo dibawah!!