Cast : Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Oh Sehun

.

.

Losing My Heart

Chapter 1 : Awal dari kehancuran

.

.

.

Lelaki bertubuh mungil, berhidung kecil, berbibir tipis, dan sepasang mata bening yang mengalirkan aliran air mata membasahi pipinya. Ia berjalan terseok - seok mengangkat kakinya yang entah kenapa terasa begitu berat. Orang - orang berlalu lalang memandangnya heran sekaligus merasa sedikit kasihan. Sekitar 20 meter didepannya terdapat halte yang hanya diisi oleh satu orang, mungkin orang itu sedang menunggu bus. Maka lelaki itupun kembali melangkahkan kakinya menuju halte tersebut. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah akibat berjalan kaki cukup jauh.

Ia menunduk sembari tangannya yang menapak pada perut ratanya. Mengelus dengan lembut kemudian tersenyum masam. Sedikit informasi, lelaki itu tengah mengandung benih berusia sekitar 2 mingguan.

Sejujurnya ia bahagia, ada seorang buah hati yang akan ia lahirkan, buah hati yang akan menjadi anak kandungnya. Namun disisi lain, ia membenci benihnya. Ia menanggung beban berat karena kandungannya. Buah hati yang membuatnya harus angkat kaki dari kediamannya, dan buah hati yang membuat ia dicampakkan oleh kekasih sekaligus ayah dari bayinya.

Ia tidak mempermasalahkan jika kedua orang tuanya mengusirnya. Memang orang tua mana yang mau menanggung malu akibat perbuatan anaknya. Yang ia kecewakan adalah kekasihnya, kekasih tampannya mencampakannya ketika ia memberitahukan kabar yang menurutnya kabar gembira itu. Tidak mengakui hasil perbuatannya dan malah menuduhnya jalang yang tidur dengan banyak lelaki diluar sana. Itu menyakiti hatinya.

Sekarang ia diusir tanpa membawa apapun. Pakaian ber-merk, ponsel mewah, mobil dengan harga selangit, black card, dan fasilitas - fasilitas yang sempat ia nikmati sebelumnya. Disaku celananya tak ia temukan sepeser uang sedikitpun. Ia mengusap air matanya yang menetes kembali, perutnya begitu lapar. Ia juga harus memberi makan untuk janinnya didalam sana. Jika seperti ini terus ia bisa saja mati kelaparan.

Bus dengan warna biru berhenti didepannya. Dan seseorang yang duduk disebelahnya tadi memasuki bus itu. Supir itu menatapnya seolah bertanya naik atau tidak. Dan ia menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. Bus pun melaju kembali meninggalkan dirinya seorang diri dihalte tersebut.

Cuaca hari ini begitu terik. Tenggorokannya terasa kering, ia butuh sesuatu untuk membasahi tenggorokan sekaligus mengisi perutnya. Didepan sana ada minimarket yang sepertinya sedang sepi. Ia tidak bisa berdiam diri terus menunggu keajaiban. Janinnya membutuhkan asupan dan yang namanya keajaiban itu tidak ada.

Ia berdiri dari duduknya, menyebrangi jalanan dengan hati - hati dan melangkahkan kakinya memasuki minimarket. Seorang pekerja menyapanya membuatnya mau tak mau harus tersenyum menanggapi.

Ia berjalan ke rak yang terisi banyak sekali roti. Jika diingat - ingat dulu ia suka membuang - buang makanan begitu saja tapi sekarang untuk membeli satu buah roti saja ia tidak mampu. Ia mengedarkan pandangannya meniliti suasana yang masih sepi itu. Setelah dirasa aman, ia pun mengambil dua buah roti dan menyelipkan roti itu didalam hoodienya. Tak menyadari bahwa kamera cctv sedang mengawasinya.

Lelaki mungil itu berjalan kembali menuju pintu keluar mencoba sesantai mungkin agar ia tak dicurigai. Namun pergerakannya harus terhenti ketika seorang pegawai yang tadi menyapanya itu menghadangnya. Menatapnya tajam yang membuat si mungil ketakutan.

"Kau harus membayar belanjaanmu, tuan" ucap pegawai itu mengintimidasi.

Lelaki mungil itu menunduk, tampak kikuk bingung mau melakukan apa. Ia menggigiti bibirnya gugup.

"A-aku tidak punya uang cash. Aku harus mengambil uangku dulu di ATM" katanya mencari alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.

"Jika tuan lupa, semua minimarket menerima pembayaran melalui kartu kredit"

Lelaki mungil itu mengatupkan bibirnya, mengutuk otaknya yang begitu bodoh. Matanya berlarian menatap sekitar yang ternyata cukup ramai diluar minimarket. Ia tidak punya pilihan lain selain...

BRUK

Mendorong si pegawai hingga terjatuh kemudian berlari sekencang mungkin. Melarikan diri dengan hanya membawa dua bungkus roti. Namun sepertinya didunia ini tidak ada yang namanya keajaiban ataupun keberuntungan. Baru sekitar 10 langkah kaki dalam pelariannya, tubuhnya menabrak seseorang yang baru saja turun dari mobil hitam mengkilapnya.

Si mungil terjatuh. Bersimpuh dihadapan pria bertubuh tinggi yang tadi ia tabrak. Lelaki itupun membantunya agar berdiri, tapi lelaki bertubuh mungil dan berwajah manis itu mencoba melarikan diri lagi. Namun kali ini tangannya dicekal.

Ia menatap lelaki yang mencekal tangannya itu dengan pandangan memohon. Bahkan raut wajahnya yang begitu melas dan bersiap untuk menangis. Tangannya memukul - mukul tangan lelaki itu.

"Kumohon, lepaskan aku. Biarkan aku pergi" ucapnya yang mana menggerakkan hati lelaki tinggi itu. Merasa kasihan.

Ia menoleh kearah si pegawai minimarket yang tampaknya sedari tadi menyumpahi pencuri kecil itu.

"Apa yang kau ambil?" ia bertanya pada si mungil. Tak ada nada mengintimidasi atau menakut - nakuti. Ia bertanya dengan lembut membuat si mungil akhirnya meneteskan air matanya.

"Aku hanya... Hiks... mengambil dua bungkus roti"

Ia melebarkan matanya mendengar jawaban yang sangat tidak ia sangka sebelumnya. "Kau hampir mencelakai dirimu sendiri hanya karena 2 bungkus roti?!" tanpa sadar ia menaikan nada suaranya.

Dan lelaki mungil itu semakin terisak, takut jika ia akan dilaporkan ke polisi. "Aku mohon, jangan laporkan aku ke polisi. Hiks... Aku lapar... Hiks... Suatu saat aku akan membayarnya jika aku sudah punya uang"

Lelaki tinggi itu menepuk - nepuk bahu si mungil agar berhenti menangis. Mencoba bersikap selembut mungkin setelah menyadari bahwa si mungil itu cukup sensitif.

"Tidak apa - apa. Aku akan membayarnya. Sekarang masuklah ke mobilku. Biar kuantar kau pulang"

Ia membelalakan matanya terkejut, berpikir kenapa bisa ada orang sebaik itu. Padahal ia baru saja menjadi seorang pencuri.

.

.

.

Lelaki bertubuh tinggi dan berwajah bak pangeran negeri dongeng itu tampak asik menatap seseorang yang duduk dihadapannya. Si mungil yang sialnya sangat manis dan si mungil yang baru saja terlibat aksi pencurian. Keduanya saat ini sedang berada disebuah restoran yang memiliki menu makanan khas italia.

"Aku Park Chanyeol. Kau bisa memanggilku paman karena sepertinya kau seusia dengan keponakanku. Siapa namamu?" ucap lelaki bernama Chanyeol itu memperkenalkan diri.

"Aku Byun Baekhyun. Usiaku... 24 tahun" Chanyeol tampak tersentak dari acara makannya setelah Baekhyun memberitahukan usianya.

"Kau... 24 tahun?? Wahhh kukira kau masih 16 atau 17 tahun. Kalau begitu panggil aku hyung saja. Kita hanya terpaut 7 tahun"

Chanyeol tersenyum dan tangannya begitu gatal ingin mencubit pipi Baekhyun yang terlihat begitu menggemaskan.

"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang setelah ini"

Baekhyun terdiam ketika ditanyai tempat tinggalnya. Ia bingung ingin menjawab apa. Ia tidak punya rumah ataupun tempat untuk ia tuju sekarang. Jika dulu ia akan dengan bangga memamerkan rumah mewahnya pada teman - temannya. Namun sekarang apa yang ingin ia pamerkan.

Chanyeol menyadari keterdiaman Baekhyun. Ia mengulurkan tangannya menggenggam tangan ramping yang terasa begitu pas digenggamannya.

"Aku tidak punya tempat tinggal" ucap Baekhyun sambil menunduk sedih. Tangannya tanpa sadar balas menggenggam erat tangan Chanyeol. Seolah meminta tolong pada lelaki tinggi itu.

Sementara Chanyeol nampak tak percaya dengan apa yang diucapkan Baekhyun. Jika diteliti lebih detail lagi, pakaian yang dipakai Baekhyun adalah pakaian dengan brand yang sama dengan Chanyeol. Sepatu yang membalut kaki Baekhyun juga termasuk brand termahal. Naik lagi kewajah Baekhyun. Kulit wajah Baekhyun tampak begitu bersih dan glowing. Layaknya mendapat perawatan yang harganya tidak main - main. Rambut dark brownnya juga tampak begitu lembut walau tak ia sentuh. Shampo yang Baekhyun pasti sangat mahal. Jangan lupakan ketika mereka memasuki restoran ini Baekhyun tampak biasa saja, cara makannya juga terlihat begitu anggun. Tak menunjukan kekampungannya. Jika dilihat secara keseluruhan Baekhyun adalah orang yang memiliki harta berlimpah. Jadi tidak mungkin kalau Baekhyun tidak punya tempat tinggal.

"Apa kau kabur dari rumah?" Chanyeol bertanya hati - hati. Dan reaksi Baekhyun hanya diam dan menunduk semakin dalam. Sepertinya benar, Baekhyun sedang kabur dari rumah.

Chanyeol mengelus tangan Baekhyun yang ia genggam, berusaha menenangkannya. "Baiklah, kau bisa tinggal sementara ditempatku"

Mendengar itu Baekhyun seketika tersentak. Mendongak menatap wajah Chanyeol terkejut. "B-benarkah?" anggukan Chanyeol seketika membuatnya menangis.

Ia bahagia karena masih ada orang yang mau menolongnya begitu saja. Ia pikir ia akan tergeletak dijalanan selamanya.

"Terima kasih. Aku benar - benar berterima kasih pada hyung. Aku akan membalasnya suatu hari nanti" ucap Baekhyun dengan menggebu - gebu. Terlihat sekali ia sangat bahagia.

"Aku akan menghidupimu. Membelikan pakaian mahal, perawatan kulit, black card, mobil termahal sekalipun untukmu. Tapi tentu kau harus menggantinya dengan satu hal"

Namun sepertinya Baekhyun harus kembali lagi ke pemikiran awalnya. Bahwa didunia ini tidak ada keajaiban, tidak ada keberuntungan, dan tidak ada yang namanya orang baik. Semua orang memiliki maksud tertentu dibalik kebaikan hatinya. Dan satu lagi, hidup didunia ini tidak ada yang namanya gratis. Semua perlu imbalan.

"A- apa?" Bibir Baekhyun serasa kelu untuk sekedar bertanya apa yang diinginkan lelaki itu darinya.

"Jadilah simpananku"

.

.

.

.

teebeeeceee

.

.

aku malah bikin cerita baru hehe.

seperti biasa. orang ketiganya Sehun. kalo biasanya aku bikin sehun jadi cowok yg sweet. mungkin kali ini beda. jadi secara keseluruhan ff ini tentang Chanbaek. beda sama The Dark Side yang lebih ke hunbaek.

oke deh. semoga suka ya. dan jangan lupa review.