Matahari sudah menghilang di ufuk barat. Menyisakan lembayung senja keemasan di atas sana. Seorang gadis, cantik, namun sendu tengah berbaring lurus menjadikan atap sebagai alas. Sementara kedua lengannya yang polos ia jadikan sebagai bantal. Membiarkan semilir angin menyentuh kulit pucatnya. Iris bening itu masih menengadah, menantang lurus ke arah mega yang tenang. Entah sudah berapa lama waktu yang ia bunuh di tempat ini. Tempat favoritnya sejak kecil. Tempat di mana ia melarikan diri, berdiam, bersembunyi dari segala yang meresahkan dirinya, mencengkram hati dan pikirannya. Terhitung sudah tiga kali selama hidupnya ia di sini.

Pertama, saat boneka beruang merah hati miliknya hilang terbawa arus kala berkunjung ke suatu tempat antah berantah yang sudah ia lupakan namanya.

Kedua, saat ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai.

Dan ketiga...

Saat selembar kertas hitam berhias dan bersepuh emas itu sampai ke tangannya.

Sebuah undangan.

Undangan pernikahan.

Dan seketika air matanya mengalir lagi.

.

.

Kau tahu apa arti cintaku padamu?

Bukan sekotak coklat di hari kasih sayang. Bukan selembar tiket nonton di saat kencan. Bukan pula seikat bunga di hari jadi sebagai kejutan.

Hanya sebuah kerelaan...

Rela membunuh diriku sendiri hanya untuk menatap bibir manismu mengulas senyuman.

.

.

You're the Colour of My Blood

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Saya hanya meminjam karakternya saja tanpa mengambil keuntungan apapun

Warning : AU, OOC, etc...

.

.

Matcha Latte. Caffe Au Lait. Espresso Con Panna.

Pria itu terdiam, memandang menu berwarna turqouise di depannya dengan seksama. Dengan sorot mata serius seolah sedang memilih calon isteri alih-alih memesan minuman penghangat di musim dingin.

Ah... Winter. Butiran putih itu terkadang membangkitkan kenangan masa kecilnya yang indah di tanah kelahirannya dulu. Dulu... Sebelum ia memutuskan untuk pergi, menjadi penerus salah satu cabang perusahaan ayahnya. Membawanya seorang diri bermigrasi ke negeri lain. Jauh dari keluarga.

Ia mengangkat wajahnya hingga beberapa helai rambut hitamnya bergerak-gerak. "Black coffee."

Sang waitress, wanita muda pirang dengan kulit kemerahan itu tersenyum paksa sebelum berbalik menjauh. Menyiapkan minuman untuk pelanggan terhormat yang telah dengan semena-mena mengamputasi 15 menitnya yang berharga hanya untuk memesan segelas kopi hitam.

Saat secangkir likuid gelap itu diletakkan di mejanya, pria itu hanya berujar singkat, cenderung bergumam, membiarkan waitress itu mengernyit, berkata 'silahkan, sir' dengan nada ramah, lalu berlalu setelah sebelumnya mengangkat bahu menghadapi lelaki asia tampan nan aneh ini.

Sasuke Uchiha -nama pria itu, mengalihkan mata tajamnya ke arah kepulan uap yang menguar dari permukaan kopinya, menyeruputnya sedikit, kemudian berkutat lagi dengan benda elektronik berlayar di hadapannya sambil sesekali mendengus dengan alis tertekuk. Jari putihnya menari cepat di atas keyboard. Laporan keuangan dengan segala tetek bengeknya. Damn. Ia seharusnya tak lagi melotot di depan layar, begadang bersama secangkir herbal tea atau sepotong muffin seraya membungkus tubuh dengan mantel, atau seperti sekarang ini. Duduk manis di meja pojokan kafe, menggauli laptop, sambil menunggu rekan kerja yang semestinya telah muncul batang hidungnya saat ini. Di tempat ini. Sekarang juga.

Sasuke meraih ponsel. Mengecek sms, chat, email, atau notifikasi apapun yang berasal dari manusia yang masih dengan sabar ia tunggu. Nihil. Ia berdecak kecal. Ponsel gold itu lalu ditempelken ke telinga setelah sebelumnya menyentuh layarnya. Hanya sedetik, telepon itu diangkat.

"Halo."

"... Sasuke, maaf aku tak bisa menemuimu. Uhuk...Rrrk.. Sepertinya aku alergi cokelat kenari yang dikirim Hinata padaku. Besok ya."

'Klik.'

Tak perlu banyak kata apalagi perdebatan panjang untuk membuat Sasuke memutuskan untuk mengakhiri panggilannya. Si brengsek itu. Seharusnya ia sudah hafal tabiat buruknya. Gusar ia menyeruput kopi hitamnya yang mulai dingin, meraih laptop dan memasukkannya ke dalam tas kulit hitam di sampingnya. Perlahan ia merogoh saku, mengambil dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar euro dan diletakkan begitu saja di atas meja. Bersiap untuk pergi. Waktunya terbuang sia-sia lagi untuk hari ini.

.

.


.

.

Faktanya, jarak cafe dari apartemennya hanya terpaut beberapa blok. Namun hawa dingin yang terus membelenggu tubuh membuat mekanisme kerja kakinya melambat. Seolah menempuh jalan berpuluh-puluh mil, aliran darahnya naik membuat hidung itu memerah seperti cherry. Dan sampai langkahnya berhenti, sengalan napas itu pun tak kunjung surut. Malah semakin memburu. Bagai sengatan listrik tak kasat mata menerjang jiwanya saat sosok itu tampil di hadapannya. Manis namun ringkih. Berdiri seorang diri di tepi jembatan besi yang sepi.

.

.

.

.

Jembatan ini sunyi. Senyap. Tak banyak yang melewati. Cuaca terlalu dingin bagi manusia-manusia berpikiran normal untuk tak melakukan aktifitas di luar kediaman mereka. Cokelat hangat, perapian, dan selimut tebal lebih menarik ketimbang berkeliaran di tengah guyuran salju. Pengecualian untuk orang yang tak peduli. Atau depresi... Seperti sang dara yang kini tengah berdiri gontai, menatap sayu ke arah horizon tak bertepi. Ia pucat, nyaris seperti mayat. Seolah tak berjiwa. Ia biarkan angin nakal memainkan ujung rambutnya yang panjang. Tak peduli butir dingin itu menyentuh wajahnya. Perlahan kaki-kaki kurusnya bergerak ringan. Menaiki besi-besi beku pembatas jembatan. Selangkah lagi. Hanya selangkah saja semuanya akan berakhir dengan damai.

'Srettt.'

Dan hal terakhir yang ia ingat ialah manik sekelam malam yang mulai memerangkap dirinya.

.

.


.

.

"Kau sudah menghubunginya?"

Hening. Tanpa jawaban. Sang penanya mendesah keras. Maju lalu duduk tepat di hadapan sosok yang tengah sibuk membolak-bolik halaman bersampul merah di tangannya. "Sudah menghubungi adikmu kan?" Pertanyaan yang sama terluncur lagi. Kali ini dengan sedikit penekanan, membuat pria berkulit putih itu mendongak lalu menutup bukunya dengan pelan. "Sudah Ibu..."

"Terus?"

"Ia belum membalas email dariku."

Mikoto mengernyitkan kening. "Tak bisakah kau langsung meneleponnya?"

Itachi tertawa pelan. Ia mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja. "Aku tak ingin mengganggunya. Jika tak sibuk pasti ia akan membalasnya."

Wanita paruh baya itu berdecak kesal. "Anak itu... Apa ia sudah melupakan dari mana ia berasal?" Kerutan di dahinya tercetak jelas. Bibir merahnya bergerak-gerak kecil.

Helaan napas lalu terdengar. "Ibu..." Mikoto menoleh. "Biarkan Sasuke mengurus bisnisnya terlebih dahulu."

"Sudah saatnya ia kembali." Mikoto bangkit berdiri. "Banyak yang harus di kerjakannya di sini. Menikah misalnya." Ia melanjutkan. Kemudian berbalik, bersiap pergi namun terhenti saat putera sulungnya kembali bersuara.

"Menikah?" tanya Itachi. Kedua alisnya bertaut serius. "Kalian memilihkan seorang wanita lagi untuknya?"

"Tergantung. Kalau ia punya kekasih di sana ia bisa membawa wanita itu kemari," tukas Mikoto seraya meraih gagang pintu kemudian melangkahkan kaki ke luar ruangan. Meninggalkan Itachi dengan senyum sendunya. "Beruntungnya kau masih diberi pilihan, Sasuke," gumamnya pelan. Ia mengatupkan mata. Entah mengapa perih ini masih terasa seperti dulu.

.

.


.

.

Dari sekian banyak kata yang bisa diucap, mereka memilih diam. Membiarkan detak jarum jam yang bergerak konstan itu menyapa mereka dengan jelas. Sang gadis membisu. Begitu pun Sasuke. Ia memandang dinding lalu menatap langit-langit, kemudian beralih lagi memandang dinding. Mencoba mencari-cari untaian kalimat yang pas dalam situasi yang jika boleh ia definisikan dengan kata canggung, kaku, atau apapun namanya itu. Intinya, kemampuannya untuk berdiplomasi dengan koleganya seolah tak berguna untuk menghadapi gadis ini. Mulutnya terkunci rapat. Namun dirinya tak punya pilihan. Apa yang bisa diharapkan dari seorang gadis yang bahkan bergerak saja ia tak mau. Lebih menyerupai boneka manekin yang terpajang di sebuah store jika saja dadanya tak bergerak, menandakan ia masih bernafas.

Sasuke berdehem sejenak sebelum berucap. "Ingin kutambah minumanmu, Sakura?" Basa-basi. Karena kenyataannya, secangkir teh yang telah disediakan Sasuke tak disentuh sama sekali. Tetapi tampaknya itu berpengaruh banyak. Gadis itu mengangkat wajah. Menatap Sasuke dengan mata hijaunya yang jernih. Raut terkejut tak bisa ia sembunyikan.

"Kau... tahu namaku?" tanyanya dengan suara yang amat pelan. Nyaris berbisik.

"Sekedar informasi. Kita berada di sekolah yang sama saat SMA."

Sakura menggigit bibir kemudian menunduk lagi. "Maaf... aku... tak ingat."

Bukan tak ingat. Sasuke yakin bahwa gadis ini bahkan tak pernah sadar akan keberadaannya. Gadis introvert yang lebih memilih berkencan dengan setumpuk buku tua di pojokan perpustakaan ketimbang bergaul dengan gadis-gadis lain. Bertukar cerita tentang aktor tampan terkenal, make-up keluaran terbaru, atau gaun apa yang akan dipakai saat prom. Sasuke tersenyum dalam hati. Dirinya adalah salah satu murid populer di sekolahnya dulu. Tampan, kaya, cerdas. Semua orang melihatnya. Semua orang memperhatikannya. Semuanya... Kecuali gadis ini.

"Jadi, kenapa kau tadi ingin melom—"Sasuke seketika tersadar atas kelancangannya saat mendapati Sakura meliriknya sejenak dengan tatapan tak nyaman. Jenius Sasuke. Sekarang gadis ini akan kembali berubah menjadi boneka pajangan lagi. Ia merutuki dirinya sendiri.

"Aku Sasuke... Jika kau lupa namaku." Pria itu memperkenalkan dirinya tanpa menjulurkan tangan. Berjaga-jaga jika Sakura tak menyambut uluran tangannya dan malah tak mengindahkannya seperti lalat.

"Sakura... Haruno Sakura."

"Aku sudah tahu." Sasuke menghapus embun dari jendela apartemennya dan mengintip ke luar. Hujan es membuat hamparan putih di luar sana. "Kau bisa istirahat sejenak di sini. Akan kuantar saat salju mulai reda."

"... Terima kasih, Sasuke."

Pria itu mengangguk kilat kemudian memandangi pohon maple tua yang masih berselimut benda beku itu. Daun-daunnya yang menggelap ketika musim gugur tiba kini tak bersisa. Meninggalkan batang rapuhnya sendirian. Namun tetap menawan. Tetap hangat di saat salju memeluknya. Sama seperti dirinya saat ini. Hangat itu menyelusup ke dalam hatinya. Mengendap-endap kemudian masuk ke celah-celah. Entah ia sadari atau tidak. Bahkan ketika selukis senyum kecil itu menghiasai wajahnya walau samar.

Ini adalah musim dingin terbaik di sepanjang hidupnya.

.

.

OoO


.

.

Author's note :

Bukan maksud hati menambah jumlah utang fic yang harus diselesaikan. Hanya bermula pada suatu sore yang indah, ketika tangan saya menekan sebuah alat bernama mouse hingga tak sengaja singgah ke akun profil ffn bertulis seorang author yang bombastis berinisial RN. Sambil menatap nanar ke layar laptop, memandangi kalimat yang teruntai manis bahwa ternyata dalam 4 tahun berkecimpung di dunia fanfiksi ini, hanya ada 10 fic (itupun masih ada yang belum kelar dari zaman dinosaurus sampai sekarang) yang berhasil saya unduh keluar dari pikiran absurd ini. Fantastis! *dibacok.

Anggap aja ini pengganti fic i love my brother girls yang udah lama bgt ga saya sentuh. Mirip lah. Tapi dengan pengubahan. Soalnya ini gabungan dari draft fic saya yg lain yg udah membusuk di lepitop saya. Dan TARAAA... Jadilah fic gaje ini. Rencana mau dibikin ga banyak-banyak chapter. Harap maklum klo absurd dan terkesan maksa ya T_T

Jadi gimana, Minna?

Mind to Review ^_^?