eLRee ‒PRESENT‒
Disclaimer : BLEACH © TITE KUBO
Warning : OOC, AU, AT, gaje, dan sejenisnya...
Genre : Hurt/Comfort, Friendship (maybe)
Pair : Ichi-Ruki
Rated : T
Don't Like, Don't Read
Butterfly Core Chapter 1
By : eLRee
Seorang gadis berpakaian serba hitam berdiri menantang angin di atas pengaman jembatan Sungai Nagara, sungai terindah di Karakura Town. Rambut hitam sebahunya melambai meliuk-liuk mengikuti pergerakan Sang Kaze. Beruntungnya dia, saat ini suasana di jembatan ini sangat sepi, sehingga dia bisa dengan bebas berdiri di atas pengaman jembatan tanpa takut terjatuh dan tanpa takut orang lain memergokinya. Gadis itu terus menatap ke depan dengan sepasang iris violetnya yang terlihat kosong, seolah tidak ada kehidupan di dalam raga mungil itu.
Tiba-tiba melintaslah seekor kupu-kupu berwarna hitam dengan aksen merah tepat di depan wajah gadis berusia sembilan belas tahun itu. Melihat kupu-kupu yang melintas di depannya, gadis itu seolah tersadarkan oleh sesuatu. Iris violetnya yang semula redup, perlahan mulai terlihat bercahaya. Bahkan bibir tipisnya pun telah mengumandangkan sebuah lagu. Lirik awal lagu yang dikumandangkannya pun perlahan menyebar terbawa oleh angin yang semakin kencang berhembus. Perlahan kedua kelopak mata itu pun mulai terpejam, terhanyut akan lantunan lagu yang semakin terasa.
Sekumpulan memori yang sudah hampir dilupakannya, perlahan menyeruak kembali memenuhi ingatannya yang sempat kosong. Seulas senyum pun berhasil menyembul di bibir tipisnya.
Ne, Ichigo, apa kau masih ingat ketika pertama kali kita bertemu?
x x x
Sore itu hujan deras menyelimuti Karakura Burial. Sekelompok orang berpakaian serba hitam dan berpayung berdiri mengelilingi sebuah nisan yang bertuliskan Rest in Peace "Kuchiki Byakuya", menyampaikan salam terakhir mereka untuk sang mendiang. Beberapa meter dari kerumunan itu, seorang gadis mungil berusia tujuh tahun menatap kosong kerumunan tersebut. Hati dan perasaannya seakan ikut terkubur seiring dengan hujan yang semakin deras. Bahkan nyaris tidak ada air mata yang keluar dari kedua matanya. Hanya gumaman lirih yang keluar dari bibir tipisnya yang mulai membiru―pertanda tubuh mungilnya mulai kedinginan.
"Otou-san."
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu kirinya. Dengan segera gadis itu menolehkan kepalanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah seekor kupu-kupu berwarna hitam dengan aksen merah di kedua sayapnya sedang bertengger di tangan seseorang. Gadis mungil itu lalu mendongakkan kepalanya untuk memperjelas penglihatannya yang terhalangi oleh payung hitam miliknya.
"Orenji? (1)"celetuknya tiba-tiba.
"Orenji ja nai yo! (2) Ini warna asli rambutku tahu!"
Gadis itu kemudian mengejapkan matanya beberapa kali, berusaha untuk memperjelas penglihatannya.
"Hounto da (3)," ucapnya penuh kekaguman. Dan saat itulah dia menyadari kalau sosok berambut orange itu ternyata mempunyai manik yang begitu menenangkan, hazel. "Kirei na (4)."
"Hm, nani (5)? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya sosok berambut orange itu dengan sepasang mata yang mengerjap lucu.
Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. "Em em, iie (6). Bola matamu sangat indah. Suki desu (7)," ucap gadis itu tulus, menyunggingkan senyum manisnya.
Seketika rona merah menjalar di seluruh wajah sosok berambut orange itu. "A-arigatou. Kau adalah orang ketiga, setelah Oyaji dan Kaa-san, yang mengatakan kalau bola mataku indah. Padahal teman-temanku tidak suka dengan warna bola mataku, karena menurut mereka aku jadi terlihat seperti anak perempuan yang lemah."
"Iie. Justru ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang dengan bola mata yang begitu menenangkan, seperti punyamu itu. Ah iya, aku Kuchiki Rukia, kamu?" tanya gadis itu sambil mengulurkan tangan kanannya yang segera disambut oleh sosok berambut orange di hadapannya.
"Ichigo, Kurosaki Ichigo. Ah iya, aku ingin menyerahkan ini padamu." Ichigo lalu menyodorkan kupu-kupu yang bertengger di tangannya.
Rukia sedikit terkejut melihat kupu-kupu itu, karena kupu-kupu yang dipegang oleh Ichigo adalah kupu-kupu yang hanya ada di areal pemakaman saja, atau lebih dikenal dengan kupu-kupu neraka. Tetapi, tanpa dia sadari kupu-kupu itu dengan sendirinya telah berpindah ke tangannya.
"Arigatou, Ichigo-kun. Kirei na."
"Un. Ah iya, kau sedang apa di sini, Rukia?" tanya Ichigo, penasaran.
Mendengar pertanyaan Ichigo, seketika raut muka Rukia menjadi keruh kembali. Kedua matanya berkaca-kaca. Hampir saja butiran bening itu jatuh, kalau saja Ichigo tidak segera menyandarkan tubuh mungil itu di dadanya. Membuat payung hitam yang digenggam Rukia tergeletak begitu saja di samping kaki mungilnya.
"Gomen ne, tidak seharusnya aku bertanya padamu, Rukia. Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Jangan ditahan," ucap Ichigo, menenangkan Rukia yang mulai terisak di dadanya. Ichigo tahu, kalau sebenarnya gadis mungil ini sedang menyembunyikan air matanya. Atau mungkin lebih tepatnya, berpura-pura untuk terlihat tegar, meskipun sebenarnya hatinya telah menangis.
Cukup lama Ichigo memeluk Rukia. Bahkan tanpa keduanya sadari, hujan sudah berhenti beberapa saat yang lalu. Ichigo lalu melepaskan pelukannya―meskipun sebenarnya dia sangat enggan.
"Apa kau sekarang sudah merasa lebih baik, Rukia?" tanyanya penuh kelembutan, sementara ibu jarinya menghapus sisa air mata yang membasahi pipi Rukia.
Mendapat perlakuan 'istimewa' Ichigo yang di luar dugaannya, membuat kedua pipi putih Rukia langsung merona. Dengan segera Rukia menganggukkan kepalanya. "Ehm. Arigatou, Orenji-san."
"Yokatta. Tapi, berjanjilah padaku, jangan pernah lagi kau memanggilku dengan sebutan itu ya?" ucap Ichigo sambil mengelus puncak kepala Rukia.
"Hai."
"Ja, sekarang kau pulanglah. Aku tidak ingin melihatmu semakin menggigil kedinginan."
Rukia hanya terdiam ketika Ichigo mulai melingkarkan jaket yang dikenakannya untuk menyelimuti tubuhnya yang mulai menggigil, efek terkena hujan beberapa saat lalu. Tubuhnya semakin bergetar ketika tangan kanan Ichigo mengusap puncak kepalanya dengan begitu lembut. Sementara tangan kanannya sendiri langsung meraih payung hitam miliknya yang tergeletak di samping kakinya.
"Uhm, arigatou."
x x x
"Dan selama tiga tahun semenjak saat itu, kita selalu bersama-sama. Di mana ada aku, pasti ada kau. Dan begitu pula sebaliknya. Meskipun kau tiga tahun lebih tua dariku, tetapi aku sama sekali tidak menganggapmu seperti seorang kakak. Hehe, gomen ne," ucap gadis berambut hitam sebahu ini disertai dengan senyum manisnya.
Benar, ini adalah senyuman pertama yang gadis ini keluarkan setelah sembilan tahun berpisah dengan si bocah berambut orange. Dikarenakan bocah lelaki itu harus pindah ke Portland, Amerika Serikat, mengikuti keluarganya yang pindah ke sana. Selain itu, ketika memasuki usianya yang kesebelas, gadis bernama Rukia itu pun secara resmi diangkat menjadi pewaris tunggal Kuchiki Enterprise, yang menyebabkannya harus putus hubungan dengan Orenji-san. Hal itulah yang melatarbelakangi Rukia melakukan tindakan yang tidak masuk akal sore ini, yaitu ingin mengakhiri hidupnya.
Pagi tadi, Rukia berhasil kabur dari mansion Kuchiki. Dengan berjalan kaki, dia mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjunginya bersama Ichigo sewaktu kecil dulu. Tentunya dengan sebuah penyamaran, agar dia tidak dikenali oleh masyarakat sekitar. Selain itu, juga untuk mengelabui para bodyguard yang akan dikirim untuk mencarinya, begitu para tetua Kuchiki mengetahui kalau dia telah menghilang.
Sebenarnya Rukia ingin sekali menyusul Ichigo ke Portland, tetapi hal itu pasti akan lebih berbahaya. Karena itu Rukia mengurungkan niatnya untuk pergi menyusul Ichigo. Mengingatnya benar-benar membuat Rukia ingin menangis. Dan seandainya Ichigo tahu, apa yang dirasakannya saat ini, mungkinkah dia akan saat ini juga kembali ke Karakura?
"ICHIGO!"
x x x
Portland, Amerika Serikat di waktu yang sama…
DEG
Mendadak Ichigo mengerem laju mobilnya. Sampai-sampai dia harus menerima makian dari pengendara mobil di belakangnya. Setelah meminta maaf, Ichigo lalu menepikan mobilnya. Disentuhnya dada kirinya yang mendadak abnormal. Mungkinkah ini hanya perasaannya saja? Tetapi mengapa jantungnya berdetak dengan keras?
Setelah menimbang-nimbang sebentar, Ichigo lalu membatalkan niatnya untuk berangkat kuliah. Mengabaikan fakta bahwa siang ini dia harus bertemu dengan dosen pendamping skripsinya. Bergegas, dia memutar kemudi mobilnya, melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan. Entah mengapa, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah gadis itu, Kuchiki Rukia. Gadis yang selama beberapa tahun belakangan ini menjadi pengisi hatinya.
"Rukia, what's up with you?"
x x x
Butiran bening yang tertahan itu, akhirnya tidak lagi mampu terbendung. Rukia menangis sejadi-jadinya, begitu dia selesai meneriakkan nama "Ichigo" dengan cukup keras. Kalau boleh jujur, air mata ini merupakan air mata pertamanya setelah perpisahannya dengan bocah berambut orange itu. Yah, selama beberapa tahun ini dia memang tidak pernah menunjukkan ekspresi yang berarti. Hanya wajah datarnya saja yang selalu dia tunjukkan kepada semua orang.
Rukia kemudian turun dari pembatas jembatan, menekuk kedua lututnya sebelum membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya—meredam air matanya yang semakin deras mengalir. Bahkan sesekali isakannya terdengar.
"Ichigo~" panggilnya sekali lagi, nyaris tidak terdengar. Rukia tahu, tindakannya ini hanyalah sia-sia. Berapa kalipun dia memanggilnya, Orenji itu tidak akan pernah berada di sampingnya. Yah, terang saja, jarak antara Portland dengan Karakura itu cukup jauh bukan? Walaupun demikian, setidaknya Rukia merasa kalau Ichigo selalu berada di dekatnya, meski hanya dengan memanggil namanya.
"Hiks…"
Sungguh, Rukia sudah tidak dapat menahan kerinduan ini lebih lama lagi. Dia sangat membutuhkan Ichigo saat ini. Dia sudah sangat lelah dengan kehidupannya sekarang. Kenapa semenjak otou-san-nya pergi meninggalkannya sendirian, para tetua Kuchiki sama sekali tidak pernah memahami perasaannya sedikitpun? Mereka selalu saja membatasi pergerakannya. Beruntung keluarga Ichigo mau menerimanya dengan baik. Bahkan Isshin-jisan, otou-san Ichigo, sudah menganggap Rukia sebagai calon menantunya. Hihi, mengingat ini membuat hati Rukia sedikit berdebar.
Rukia masih ingat dengan jelas ketika Ichigo dengan lantangnya mengatakan kalau dia akan menjadi pelindung Rukia, seperti arti namanya, dihadapan Isshin-jisan. Ichigo langsung mendapat pelukan maut dari Isshin-jisan, mengatakan kalau ternyata anaknya masih normal. Gara-gara itulah otou-san Ichigo yang nyentrik itu mendeklarkan Rukia sebagai calon menantunya. Khah~ Rukia benar-benar merindukan semua momen itu.
Perlahan didongakkan kepalanya, menyadari rintik hujan yang mulai membasahi tubuhnya. Tidak mempedulikan hujan yang semakin deras, Rukia terus saja menengadahkan wajahnya menatap langit yang telah berwarna kelabu. Hingga akhirnya kedua matanya pun mulai memburam. Diikuti dengan tubuhnya yang oleng ke arah kiri, sebelum akhirnya sejajar dengan permukaan bibir jembatan. Perlahan namun pasti, sepasang kelopak mata itu pun mulai menutup.
Ichigo…
x x x
"Gomen, mendadak aku ada urusan. Ehm, setelah ini selesai aku akan segera ke apartemenmu. Ehm, kau tenang saja. Sudah ya. Jaa…"
Hah~
Entah sudah berapa kali Hitsugaya menghela napas panjang seperti ini. Ugh, kepalanya terasa pening sekarang. Dipijatnya kedua pelipis wajahnya, berusaha mengurangi kadar kepeningan yang menyerang kepalanya. Saat sedang asyiknya menikmati pijatan di kedua pelipisnya, mendadak kedua indera pendengarannya mendengar suara pintu terbuka. Ditolehkan kepalanya ke samping kiri, di mana terlihat seorang dokter dan seorang suster baru saja keluar dari ruangan di sebelah kirinya. Ah, sepertinya mereka telah selesai melakukan pemeriksaan terhadap orang itu.
"Keluarga pasien?"
Segera Hitsugaya menegakkan tubuhnya. "Ah, maaf, aku orang yang membawanya kemari. Ada yang perlu saya bantu, Sensei?"
Sang dokter terlihat mengernyit, bingung. "Apa Anda yang bernama Ichigo? Pasien terus saja memanggil nama Ichigo."
Sekarang giliran Hitsugaya yang mengernyit bingung. Ichigo? Siapa dia? Tunggu, sepertinya dia tidak asing dengan nama itu. Hmm, di mana ya dia pernah mendengar nama itu?
"Ah, apabila Anda tidak tahu, tidak apa-apa. Lalu, apabila Anda ingin menjenguk pasien, saya persilakan. Kondisinya sudah lebih baik sekarang. Saya permisi."
"Aa, hai. Arigatou gozaimasu, Sensei," balas Hitsugaya, sedikit membungkukkan tubuhnya.
Sepeninggal dokter yang Hitsugaya ketahui bernama Urahara, dia kemudian mengintip ruangan di depannya. Di dalam sana, gadis berambut hitam yang beberapa saat lalu ditolongnya, terbaring dengan infus yang menghiasi punggung tangan kanannya. Menghela napas panjang, Hitsugaya pun membuka pintu ruang rawat itu. Disentuhnya puncak kepala gadis itu, sebelum diusapnya dengan hati-hati.
"Kau harus kuat, Rukia," bisiknya.
Yah, Hitsugaya sangat mengenal gadis itu. Dia adalah kouhai -nya di Universitas Karakura. Meskipun mereka berbeda jurusan, tetapi mereka berasal dari klub yang sama, klub literatur, dengan Hitsugaya sebagai ketua klub dan Rukia yang menjabat sebagai sekretaris klub. Selain itu, siapa sih yang tidak mengenal Kuchiki Rukia, pewaris tunggal Kuchiki Enterprise yang terkenal seantero Jepang, atau bahkan mungkin dunia? Sebenarnya bukan hanya itu saja alasannya bisa mengenal Rukia. Alasan pertamanya adalah karena Momo—nama kekasihnya—lah yang pertama kali mengenalkan Rukia padanya saat penerimaan murid baru di Karakura High School, sekitar lima tahun silam.
Sejak pertama kali bertemu dengan Rukia, Hitsugaya tahu kalau gadis itu menyembunyikan sesuatu di balik wajah datar tanpa ekspresi yang selalu ditunjukkannya. Meskipun begitu, Hitsugaya sama sekali tidak tertarik untuk mengorek tentang sesuatu yang disembunyikan oleh Rukia. Akan tetapi, sepertinya kali ini dia harus melakukan hal itu. Karena tidak mungkin, seorang Rukia yang selalu terlihat tegar, dapat pingsan begitu saja. Mungkinkah beban yang ditanggungnya begitu berat?
Lamunan Hitsugaya terputus, ketika iris emerald-nya menangkap pergerakan jemari Rukia.
"I-chi-go—"
Dan setelah hampir tiga jam tertutup, kedua iris violet itu akhirnya kembali nampak. Dengan langit-langit berwarna putih menjadi hal pertama yang ditangkap oleh penglihatannya.
"Akhirnya kau bangun juga, Rukia-chan."
Rukia menolehkan kepalanya ke arah kanan, saat sebuah suara memasuki indera pendengarannya. Ia sedikit mengernyit menyadari siapa yang berdiri di sebelah kanannya.
"Hitsugaya-senpai? Kenapa aku bisa ada di sini?"
Hitsugaya hanya tersenyum. Dia lalu menghentikan kegiatannya mengelus puncak kepala Rukia, sebelum menarik sebuah kursi dan mendudukinya.
"Tadi aku menemukanmu pingsan di jembatan Sungai Nagara. Memangnya apa yang sedang kau lakukan di sana, hmm?"
Melihat senyuman Hitsugaya, entah mengapa membuat Rukia kembali menitikkan air matanya. "Hiks, senpai~"
Mau tidak mau, Hitsugaya akhirnya memeluk tubuh mungil yang tidak jauh berbeda dengan kekasihnya itu.
"Hmm, sudah jangan menangis. Kalau Momo tahu, dia pasti akan membunuhku."
Bukannya semakin mereda, tangisan Rukia justru semakin bertambah keras. Akhirnya Hitsugaya hanya bisa pasrah—membiarkan T-shirt-nya basah oleh air mata. Ditepuknya pelan punggung ringkih gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu.
Tidak terasa, setengah jam pun berlalu. Tangisan Rukia pun sudah mulai mereda, meskipun samar masih terdengar suara isakannya. Perlahan Hitsugaya melonggarkan pelukannya. Dihapusnya jejak air mata yang menghiasi kedua pipi Rukia.
"Sudah merasa lebih baik sekarang?"
Rukia hanya menganggukkan kepalanya. "Gomen, aku merepotkan Hitsugaya-senpai. Hiks…"
"Hm, tidak apa-apa. Setidaknya aku merasa beruntung karena bisa melihatmu menangis seperti ini, hehe…"
Segera saja Rukia menghadiahi Hitsugaya pulukan di bahunya, meski sama sekali tidak terasa seperti pukulan. Ugh, Rukia merasa sangat malu sekarang. Jelas saja, ini adalah kali pertama dia menunjukkan tangisannya di depan orang lain setelah sembilan tahun berlalu.
"Jadi, apa kau mau menceritakannya padaku, Rukia?"
x x x
Seorang pemuda berambut sewarna jeruk Mandarin tampak meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, efek dari perjalanan udara yang baru dilaluinya beberapa saat lalu. Iris hazelnya mengamati sekeliling. Sudah sembilan tahun berlalu, tetapi tempat ini sama sekali tidak mengalami perubahan yang berarti. Apakah dia juga begitu?
Perlahan dilangkahkan kakinya menjauhi pintu keluar bandara, sebelum menghentikan salah satu taksi yang lewat.
"Hotel Shirayuuki," jawabnya saat sopir taksi bertanya tempat tujuannya.
Aku pulang, Rukia…
To be continued…
Glosarium:
1.. Orenji? = Jeruk?
2.. Orenji ja nai yo! = Ini bukan jeruk!
3.. Hounto da = Wah, benar
4.. Kirei na = indahnya
5.. Nani? = apa?
6.. Iie = tidak
7.. Suki desu = aku suka
A/N : Ohisashiburi, minna~~~ Ada yang masih ingat dengan Ree? Kekeke, sepertinya sudah pada lupa ya? Yah, maklum saja, Ree terlalu asyik menjadi reader di fandom sebelah, wkwk… #digampar
Okay, kali ini Ree comeback dengan sebuah fic. Ehm, sebenarnya fic ini sudah jamuran di laptop Ree, tapi baru bisa Ree bereskan kemarin-kemarin. Jadi, yah, gomen kalau pembawaannya agak gimana gitu~ XD #slapp
Dan, kenapa Hitsu jadi OOC gitu? Hiks… #ditendang
Salahkan Hitsu yang sekarang udah berubah jadi dewasa gitu. Hiks, Ree masih belum rela kalo Hitsu berubah jadi dewasa~ #plak
Ah, fic ini tidak terlalu panjang kok chapternya. Mungkin dua atau tiga chapter saja. :p
Seperti biasa, kritik dan saran (but don't flame please~ #puppyeyes) sangat Ree harapkan. Jangan lupa tinggalkan jejak, ne? Pai-pai~
~ eL-Ree ~
