PANDORA HEARTS FANFICTION
Disclaimer: Jun Mochizuki
Title: Love and Selfishness
Author: Rin . aichii
Genre: Family / Tragedy / Hurt / Comfort
Pair: I don't know. Maybe AliceJack or AlyssJack
Warning(s): Actually, only readers who know about it.
.
XxX
.
Drap. Drap. Drap. Dua pasang kaki berjalan beriringan. Seirama, dan juga begitu kompak. Meski yang satunya lagi sedikit dipaksakan, namun tetap saja, semuanya terlihat kompak— dan mengalir.
"Alyss! Kau akan membawaku ke mana?" tanya salah satu pemilik kaki yang berbalut sepatu boot itu. Iris violet indahnya tersirat rasa penasaran begitu melihat seorang gadis dengan rambut seputih salju membawanya pergi— meninggalkan mansion tempat tinggal mereka dan menerobos dinginnya hujan.
Gadis dengan rambut seputih salju itu terdiam. Tidak ada sedikit pun jawaban yang dia berikan. Yang dia berikan hanyalah genggaman tangannya yang semakin diperkuat ke pada 'Adik'nya yang berusaha menyeiramakan langkah mereka.
"ALYSS!" satu bentakan dan hentakan kaki kasar membuat langkah gadis salju itu terhenti. Refleksi di belakangnya terus terengah-engah, merasa dipermainkan oleh saudara kembarnya sendiri.
"Ada apa— Alice?" setelah sangat lama membungkam mulutnya sendiri, akhirnya gadis salju itu berbicara— mengeluarkan beberapa frasa yang berujung dengan sebuah nama yang hampir sama dengannya begitu disebut baik-baik.
"Hh… kita mau ke mana? Nanti Ibu mencari kita…" saudara kembarnya— Alice sedikit mengatur nafasnya yang tidak seritme itu. Peluh yang bercampur dengan air hujan menetes dari keningnya.
Gadis salju itu— Alyss tidak menggubris apa pun. Membuat pertanyaan dari sang adik menjadi gantung. Tidak ada jawaban. Bibir mungil itu kembali tertutup, seakan-akan enggan untuk berucap sepatah-kata pun.
Yang dia lakukan hanyalah mempererat genggamannya. Terus menyeret langkah adiknya— Alice agar dapat seirama dengannya.
Sedangkan Alice, dia tidak tahu apa pun. Memang, kedua matanya memancarkan cahaya yang seakan-akan bertanya apa tujuan dari sang Kakak membawanya keluar— menerobos dinginnya hujan. Namun sedikit rasa hangat menyatu, meremukkan dinginnya hujan saat ini. Alice tahu, dan ia pun percaya, bahwa apa pun yang dilakukan oleh Kakaknya— Alyss selalu benar.
Terus berjalan…
Memotong hujan dengan langkah mereka yang sama sekali tidak seimbang. Dengan irama dan ritme yang dipaksakan…
Alice tidak tahu apa pun. Dia hanya terus berjalan, mengikuti Alyss yang enggan memberi jawaban apa pun. Di dalam kepala kecilnya, berbagai pertanyaan terus muncul. Mulai dari tujuan kakaknya membawa dirinya keluar, dan juga alasannya.
Tapi sekali lagi… Alice hanya bisa bungkam…
.
Tap. Tap. Tap. Langkah kaki Alyss merendah. Langkah yang tadinya berkesan tergesa-gesa berhenti begitu mereka telah sampai di sudut kota— hanya dengan berjalan kaki, tanpa menggunakan alat transportasi apa pun. Memang melelahkan, tapi semua itu tidak terasa… begitu irama mereka telah menyatu, menyatu dengan dinginnya air hujan.
Alice dapat mendengar, sayup-sayup, gemuru ombak mulai tertangkap di telinganya. Alice hanya bisa terus berjalan— hingga Alyss berhenti dan hendak menjelaskan segalanya.
"Eh?" bebatuan curam nan tinggi tertangkap di mata Alice. Pemandangan yang indah; bebatuan curam yang menurun ke bawah, ombak yang berbenturan dengan batu dan menyebabkan terjadinya erosi— sungguh membuat gadis dengan umur 18 tahun ini termangu. "I-Indah!" seru Alice yang kini berlari mendahului Alyss. Alice tidak sadar apa pun, bahwa saat dia berlari mendahului Alyss, Alyss nampak—
—menyeringai padanya. Menyeringai pada punggungnya yang terus begetar karena menerima pemandangan yang begitu asing di matanya.
"Alyss! Jadi karena ini kau membawaku ke sini? Terima kasih, ya!" seru Alice yang kini berbalik pada Alyss. Alyss lagi-lagi bungkam, enggan berbicara di hadapan saudaranya sendiri. "Alyss…?"
Mulai aneh. Alice mulai merasa aneh pada kakaknya yang satu ini. Sedaritadi hanya diam, tidak pernah merespon Alice. Sangat berbeda dengan Alyss yang cerewet— yang setiap hari mengoceh dan pasti akan menanggapi apa pun yang Alice katakan padanya.
"Kau baik-baik saja, Alyss…?" tanya Alice dengan penasaran. Irisnya begitu sendu melihat keadaan Alyss yang begitu berubah akhir-akhir ini. Ya, iris indah itu tadinya sendu. Namun begitu melihat apa yang terjadi, kebeningan dari violet indah itu tergantikan dengan rasa takut. Rasa takut yang memuncak begitu melihat sang kakak yang menekan pundaknya, memberikannya beban tambahan untuk—
—tertarik oleh gaya gravitasi bumi.
Iris itu semakin membulat, bayangan Alyss tergambar jelas dalam kepanikan dari iris violet Alice.
Namun itu tidak berlangsung lama— karena kini, Alice tertarik dengan lugasnya oleh gravitasi bumi.
"KYAAAAA!" satu pekikan mewakili segalanya. Disaat pekikan itu terdengar, Alice telah terlebih dahulu membentur beberapa batuan yang cukup tumpul dan tercebur ke dalam dinginnya air laut. Menyatu dengan dinginnya alam bawah sana.
.
Alyss's Side
.
"KYAAAAA!" pekikan terakhir Alice terdengar— memekikkan telinga Alyss. Namun bukannya ikut mamasang wajah panik dan menolong Alice, Alyss malah menyeringai penuh arti.
Bola mata violet-nya yang memiliki warna yang sama dengan Alice memancarkan dendam. Lalu, Alyss berdesis pelan, diiringi dengan deburan ombak yang mengikuti ucapannya.
"Itulah akibat jikalau kau merampas orang yang aku sayangi, Alice…"
.
Alice's Side
.
Gelap. Hanya kegelapan yang terlihat di sekitar Alice. Alice tidak ingat apa pun, karena dia tidak ingin mengingatnya; mengingat hal yang membuatnya begitu sakit. Bagitu mengingat bahwa Alyss dengan teganya mencelakai dirinya sendiri. Dan, yang berada di dalam kepalanya saat ini hanyalah rasa sakit yang terasa pada bagian kepalanya.
Perih. Hanya itu yang Alice rasakan. Entah merasakan sakit, atau apa pun, yang jelas Alice merasakan perih di seluruh tubuhnya— termasuk hatinya sendiri.
Alice hanya bisa memasrahkan segalanya. Matanya terlalu berat untuk dibuka. Air laut yang terasa asin memasuki hampir memenuhi paru-parunya— membuatnya sesak, sangat sesak.
"Uhuk! Uhuk!" Alice terbatuk-batuk, air segera keluar dari mulutnya. Meninggalkan kesan asin pada bibirnya yang kini memucat. Tidak ada apa pun— tidak ada suara yang tertangkap oleh telinganya, selain deburan ombak yang begitu menenangkan.
.
XxX
.
Alice kini terbaring lemah, di bibir pantai dengan keadaan yang tidak bisa dibilang baik. Rasanya begitu tidak nyaman, apalagi begitu kulit Alice yang sedikit tergores beberapa karang menyentuh pasir pantai yang berwarna putih bersih di bawahnya.
Rasanya perih…
Dan deburan ombak yang terdengar di telinga Alice, kini berganti dengan alunan musik yang begitu indah— menentramkan segalanya. Alice tidak tahu apa-apa akan musik itu, atau mungkin dia melupakannya. Namun dia berani bertaruh, kalau musik itu begitu indah.
"Apa nama musik itu?"
Alice terbangun, kelopak matanya yang tertutup sedikit akan bulu mata yang lentik terbuka, menampakkan cahaya redup dari irisnya yang sesungguhnya cerah itu. Apa nama musik itu?— Alice mengikuti pertanyaan yang juga tertangkap di telinganya itu. Hanya refleks saja.
"Hm… namanya adalah—"
—Lacie
.
Aku… tahu akan musik itu— nafas Alice memburu, kedua matanya semakin berat. Tubuhnya yang tadinya begitu berat kini terasa ringan. Apa aku akan mati?— tanya Alice sedikit mengamati tubuhnya yang kini dipenuhi luka goresan.
Telapak tangan Alice yang penuh luka goresan meraih segenggam pasir yang ada— menatapnya dalam keadaan telentang di pasir pantai itu.
Apa pun yang aku genggam… semuanya pasti akan pergi… meninggalkanku…
Lama kelamaan, tanpa Alice sadari, iris violet-nya mulai tertutup. Memberikannya kedamaian sendiri di dalam tidur abadinya. Namun sebelumnya, dia sempat bergumam, air mata mulai menitik dari rongga matanya. "Maaf… Alyss…"
.
TBC
Rin . aichii Note's: Halo minna! Semuanya sudah selesai UKK 'kan? Yuup, saya juga sudah selesai, dan kali ini saya kembali dengan fic baru. Um… tidak janji juga, sih, sepertinya ini fic hanya two shot saja :D *Slap*
Hahaha, apalagi judul Cerita / Judul Chapter ini tidak nyambung sepertinya OAO"
Gomen, ne :DD
