HI! I'M BACK! SETELAH BEBERAPA LAMA AKU GA MUNCUL, NAMUN DENGAN CERITA BARU INII, well, heheh, untuk cerita lainnya aku masih proses, dan cerita ini aku ngebut banget karena isinya nanggung jadi aku kelarin aja sekarang. Dan sebagai prolog juga sih, mau liat reaksi kalian. Untuk story ini ceritanya ringan kok, dibanding dua ceritaku yang sebelumnya, (Complicated Life, She is Her) Hehehe, jadi semoga ceritanya bagus dan... Happy reading!

.

.

.

.

.

"Ya, senior, iya, sekarang aku sedang mengerjakan dokumen ini," ujar seorang wanita umur 24 tahun yang sedang duduk di lantai sambil mengetik cepat di laptopnya, "Iya, aku ingat, deadline ini tinggal tiga hari lagi, aku akan selesaikan dengan cepat," sesekali wanita itu mengernyitkan mata karena dahinya terasa nyut-nyutan, "Baik, senior, kalau begitu selamat malam, kututup ya teleponnya."

Kazuha Toyama menyandar pada sofa di belakangnya. Dirinya tiap hari seperti tidak kenal hari libur. Ia sangat lelah. Punggungnya sangat terasa pegal karena terus-terusan duduk dan membungkuk. Kini dirinya yang sedang kerja dinas di Prancis terus dikejar oleh target. Sebenarnya ia sudah cukup lama tinggal di Prancis, sekitar setahun. Ia bekerja di dalam fashion brand cukup terkenal.

Untuk istirahat sejenak, ia berdiri sebentar dan merenggangkan tubuhya, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuat kopi panas untuknya. Kopi itu seperti candu untuknya dalam bekerja ketika ia harus begadang.

TING TING

Ketika Kazuha sedang menyesap minumannya di dapur, ia mendengar suara email masuk dari laptopnya. Ia mengerutkan dahi, siapa yang mengirimkan dia email malam begini?

Akhirnya ia duduk untuk membuka emailnya, dengan berharap semoga seniornya tadi tidak menambah jumlah pekerjaannya. Untungnya tidak, melainkan ada email dari nama yang tidak asing baginya, hanya sudah lama tidak terdengar.

.

From : mouriran99

To :

Kazuha, kapan kau kembali ke Jepang? Kabari kami ya, sepertinya bulan depan akan ada reuni. Kami berharap kau datang

.

Mouriran? Ran Mouri? Reuni... tunggu kalau begitu... ia berusaha melihat jadwal sedapat mungkin sehingga ia bisa kembali sebentar ke Jepang. Ia mengecek jadwalnya secara penuh, dan menghubungi senior agar ia bisa mengambil cuti seminggu sehabis deadline. Dan... ia berhasil.

.

.

.

1 bulan kemudian...

Dengan mata yang terpaksa untuk terbuka, Kazuha dengan perlahan membuka matanya. Kini ia tertidur di sofa, lagi-lagi. Walaupun sekarang ia sudah berada di Jepang untuk izin cuti, namun pekerjaannya seperti tidak meninggalkannya karena seniornya tetap memberinya pekerjaan, walaupun tidak sebanyak baisanya. Setelah dirinya menenggelamkan diri dalam lautan kertas-kertas dan dokumen pekerjaannya sampai larut malam, ia terlalu lelah untuk berpindah tempat tidur.

Akhirnya Kazuha bangkit dari tidurnya, dan dengan kacamata baca bulat besar yang masih terpasang di matanya, ia langsung menaruhnya di meja depannya. Dengan baju sweater hijau muda, ia merenggangkan badannya dan berdiri melihat ke arah kalender di dekat televisi ruang tamunya.

Hari ini. Oh ya, Kazuha menatap tanggal yang digambar lingkaran dan dengan tulisan kecil yaitu, 'Hari Reuni'.

.

.

Kazuha POV

Oh ya, hari ini, sebenarnya tidak dibilang reuni, karena kami bukan teman satu sekolah, namun sejak tujuh tahun yang lalu, di masa remaja berumur tujuh belas tahun, kami melalui masa-masa bersama yang cukup membuat hidup berwarna.

Sesuai janji, aku pun bersiap-siap pada sore harinya untuk bertemu dengan mereka. Aku mengenakan coat panjang coklat yang cukup tebal karena ini musim dingin dengan kemeja biru polos dan celana panjang. Rambutku yang dulu suka diikat ponytail kini hanya bisa dikuncir setengah karena rambutku sudah pendek sebahu.

Aku melihat lokasi yang tertera pada notes di handphoneku. Benar. Restoran ini. Aku pun masuk dan berusaha bertanya pada bagian receptionist apa ada rombongan orang yang memesan tempat ini. Namun sebelum aku bertanya lebih lanjut, tiba-tiba suara perempuan yang begitu familiar terdengar memanggilku.

"Kazuha?" ujarnya memanggil namun seperti ragu. Akhirnya aku menoleh, dan melihat seorang gadis rambut hitam panjang yang begitu dekat denganku dulu. Gadis itu kini duduk di antara yang lainnya, dan itu adalah teman-teman yang lain.

"Ran?" jawabku yang juga seperti ragu, dan takut salah memanggil nama.

"Oh, astagah, kau Kazuha?!" ujar Ran yang sedikit kaget begitu melihatku. Ya, aku mengerti kenapa dia kaget, karena mukaku kini kuakui sudah cukup terlihat tua karena pikiranku yang stres dengan banyaknya pekerjaan, dan juga gaya rambutku yang jauh berbeda.

Akhirnya aku mendatangi mereka, dan menyapanya. "Hai semua!" Ran bangkit dari tempat duduknya dan langsung memelukku erat. "Wuah, aku kangen sekali padamu!"

"Wah, ini nih, tamu istimewa yang dari tadi kita tunggu… yang paling susah untuk diajak ketemuan," gadis yang kutebak adalah Sonoko itu langsung berdiri yang mengalungkan lengannya pada leherku. Sontak badanku langsung membungkuk kecil dan kulihat yang lain tertawa.

Akhirnya aku melepas coat ku dan menaruh di sandaran kursi, dan duduk di kursi.

"Hei, Toyama, kau dari mana saja? Kudengar kau selalu jalan-jalan ke Eropa karena pekerjaanmu," ujar Kaito yang duduk di depanku sambil nyengir jahil.

Aku hanya tertawa kecil, "Jangan berlebihan, aku tidak jalan sejauh itu, lagipula bukannya kau ya yang harusnya sudah keliling dunia dengan kostum Kaito Kid itu?" ujarku kembali mengejeknya.

"Tuh kan! Mulai lagi, tadi Sonoko juga menertawaiku dan membahas lagi tentang itu, itu kan sudah lewat!" ujar Kaito dengan kesal. Aku hanya geli melihat Kaito yang tidak berubah dari dulu, dengan tingkahnya yang usil, ceria, tetapi merupakan moodbuster untuk kami semua.

Aku hanya bisa tertawa, "Memang sih, selama ini, aku cukup rindu dengan sifat konyolmu, Kaito..."

Muka Kaito langsung muncul merah semu, Aoko yang mendengarnya hanya bermuka datar dan sedikit membuat mukanya cemberut, "Senang kau, Kaito?"

Kaito langsung terperanjat dan memeluk Aoko, "Tidak, Aoko sayang, jangan cemburu seperti itu," Setelah itu yang lain tertawa juga.

Ketika Sonoko seperti memimpin acara 'reuni' itu, dan yang lainnya seperti Makoto, Aoko, Ran, dan Kaito juga asik mengobrol, aku seperti ditinggalkan oleh kedua orang ini. Kedua laki-laki ini. Mereka berdua duduk di hadapanku. Aku merasakan rasa kaku, tidak tahu harus bersikap apa. Akhirnya aku memanggil pemilik restoran untuk meminta sesuatu.

"Bibi, aku minta sake nya satu ya," ujarku mencari kesibukan. Namun tiba-tiba salah satu dari mereka mengajakku berbicara.

"Hei, Kazuha, sekarang kau sudah bisa minum sake begitu?" ujar pria berkulit hitam itu padaku. Aku sedikit terperanjat mendengarnya bertanya seperti itu. Aku mencoba untuk bisa bersikap biasa saja.

"Tentu saja bisa, lagipula aku sudah biasa minum alkohol..." ujarku berusaha menjawab seperti biasa. Namun aku terdengar seperti orang bodoh yang sok kuat walaupun sebenarnya ini kebiasaanku karena aku sering sulit tidur, jadi aku butuh alkohol kalau aku ingin istirahat.

"Wah... hebat ya, sekarang kau sudah dewasa, Toyama," ujar pria berambut hitam itu, "Jangan kebanyakan minum, nanti kau akan menggendut tau,"

Aku yang mendengarnya hanya mendesah panjang, "Hei, Heiji, Kudo, kalian sendiri tidak berubah ya, sama-sama menyebalkan," namun setelah aku mendapat minumanku dan aku meneguknya, aku menutup mata, memohon dalam hati, tolong, jangan tinggalkan aku bertiga dengan mereka. Aduh, kedua pria ini, baik Heiji, dan Shinichi. Mereka itu...

"Eh, Kazuha, kau memesan sake? Bibi! Aku juga!" tiba-tiba Sonoko pun menengok ke arah Kazuha, Heiji, dan Shinichi, Akhirnya aku bisa bernapas lega. Seharusnya posisi duduknya harus di antara Ran dan Sonoko, ini aku duduk di pinggir bersama kedua laki-laki itu yang duduk menghadap padaku.

Kami pun bertanya tentang kabar masing-masing. Ran kini sedang menjalani profesi guru SMA di sekolah lamanya, di SMA Teitan. Sonoko, hmmm, kabarnya ia sudah bertunangan dengan Makoto, yang kini sudah menjadi atlet karate nasional yang sudah mencapai go internasional. Aku pun meminta tanda tangannya karena rekan kerjaku yang kerja di Prancis salah satunya sangat menyukai dunia bela diri, dan memintaku tanda tangan atlet hebat itu.

Kaito menjadi pegawai swasta yang suka masih diam-diam melakukan aksi mencurinya, namun kini sedikit ubah, yang kudengar ia lebih mengarahkan dirinya untuk bersikap lebih baik, dan menjadi pelatih sulap. Aoko pun menjadi pendampingnya, dan mereka masih nyaman untuk berpacaran. Heiji dan Shinichi pun sama-sama bekerja di kepolisian, sebagai inspektur kepolisian di wilayah masing-masing dengan usianya yang masih sangat muda namun mereka memang memiliki kemampuan seperti itu. Mereka yang dulunya hanya anak SMA, begitupun diriku, kini kami punya pekerjaan masing-masing.

"Oh ya, ngomong-ngomong," ujar Kaito, "Dulu itu bukannya Kazuha dan Heiji berpacaran ya?"

Aku terperanjat dan spontan melebarkan mata. Begitupun ketika kulihat Heiji, ia juga terkaget sembari melirik-lirik padaku. Astaga, kenapa mereka malah membahas ini. Apa yang harus kulakukan? Apa sebaiknya aku bersikap biasa saja?

"Hmm, iya, kami sempat menjalin... hubungan," ujarku pelan, namun berusaha tersenyum seolah itu bukan hal yang aneh. Yang lainnya hanya melebarkan matanya, termasuk Shinichi.

"Woah, Kazuha, benarkah? Aku kok tidak tahu?" ujar Aoko sedikit terperangah. Well, She doesn't need to know, pikirku dalam hati.

"Yah, begitu..." ujar Heiji pelan. Kaito menyenggol lengan Heiji, "Hoi, pasti kau senang kan bisa bertemu lagi di sini? Bertemu dengan mantan?"

"Apa?!" Heiji mengernyitkan matanya, Ia melirik padaku, "Ya... aku biasa saja, kenapa aku harus senang?!"

"Astagah, Heiji, panik sekali kelihatannya..." ujar Kaito, "Slow down, bro, slow..."

"Lagipula itu sudah tujuh tahun yang lalu, saat kami masih remaja yang belum dewasa, jadi aku dan Heiji sudah seperti teman biasa," ujarku, sambil berusaha bersikap santai, "Ya kan Heiji?"

Heiji melebarkan matanya, "Ya betul, dasar kalian ya,"Kami hanya tertawa bersama setelah itu.

"Kalau begitu," Ran mengangkat alisnya, "Boleh dong kalian bercerita, bagaimana kalian jadian? Sungguh, aku waktu itu tidak percaya kedua orang seperti kalian bisa jadian..."

Aku dan Heiji semakin kaget ketika Ran meminta seperti itu. Yang lain seperti mengangguk setuju, kecuali Shinichi. Aku pun hanya menghela napas. Karena aku bilang seakan-akan ini hanya pengalaman cerita saat muda, jadi aku tidak boleh bersikap seakan-akan kisahku dengan Heiji adalah cerita yang tabu untuk diceritakan. Jadi aku pun memulai replay ke masa saat itu. Masa dimana kami masih muda dan penuh semangat mencari cinta.