What I Am ?
CHAPTER 1: Monster or Hero
DISCLAMER: BUKAN PUNYA SAYA
"HA" BERBICARA
'HA' BATIN
"HA" BERBICARA SCARED GEAR / /AMARAH/ / JURUS
'HA' BATIN SCARED GEAR / / AMARAH
WARNING:ABAL-ABAL/GAJE/OC/OOC/TYPO/No shinobi/Dragon/Monster/Mecha/
PAIR: (NARUTO X …)
GENERS: ADVENTURE, FATASY, and SUPERNATURAL
RANTED: M
Summary: Aku dulu diculik oleh para golongan iblis lama, namun kemudian mereka melepaskan ku begitu saja di suatu tempat yang tidak ku ketahui. Lapar dan haus itu yang kurasakan, sampai ku menyadari tempat ini dipenuhi oleh bankai-bankai naga yang sudah rusak. Tidak punya pilihan lain aku harus memakan mereka dan meminum darah busuk untuk bertahan hidup. Dan kemudian aku menjadi Monster.
Di suatu tempat yang sangat menyeramkan dan dipenuhi oleh bankai-bankai naga yang sudah rusak. Aku tengah berjalan mencari sebuah harapan di dunia yang sudah melupakan ku mungkin, kelaparan dan kehausan aku ganjal mereka dengan memakan para mahluk yang sudah menjadi tidak bernyawa ini. Ini semua demi bertahan hidup, namun semakin lama aku memakan dan meminum daging serta darah mereka muncul rasa ketagihan dalam diriku ini. Ketika aku mengelak memakan daging lagi rasa sakit itu muncul dengan sendirinya.
Bingung dan tak bisa mengetahui sekarang aku apa Iblis, Naga, atau apapun itu aku tidak mengetahui sekarang aku apa, langit yang sangat menyeramkan untuk kupandang dengan mata ini. Sudah aku ingin menangis kenapa hal yang menyeramkan ini terjadi, aku harap ini hanya mimpi namun sekali ku tutup mataku dan kemudian membukanya kembali tidak terjadi apapun ini kenyataan yang sangat pahit untuk ku lewati.
Aku memegang perutku ini rasa lapar ini muncul, mereka meminta untuk diberi makan. Daging busuk dihadapan ku namun aku hanya menatap nya saja semakin lama rasa sakit ini muncul. Mecoba untuk menahannya tetapi malam membuatnya semakin parah. Secara paksa aku melangkah kearah bangkai naga ini aku menarik mengambil salah satu daging dari tubunya.
Kumakan daging ini secara lahap, bunyi benturan antara gigi dan daging ini bertemu. Sangat tidak sopan namun ini demi merendam rasa sakit yang berada di tubuhku ini lalu selesai sudah seluruh daging ini sudah masuk kedalam tubuh ku. Namun aku masih haus darah mengalir dari sisa-sisa tubuh naga yang lain. Aku sudah mual tidak sanggup lagi berdiri aku Monster. Itulah sebutan yang pas untuk diriku, apa ada orang yang dapat berteman dengan diriku entalah.
Ketakutan melanda ku kembali. Aku takut pada keluargaku dan para sahabat ku apa mereka akan menerima ku yang telah berubah seperti ini, atau mereka akan menjauhiku. Kedua tangan ini menampung sesuatu yang kental merah.
"Sangat naif."
Suara seseorang terdengar di dalam pikiranku. Dia muncul entah dari mana dan bagaimana aku tidak dapat bertemu dengannya namun aku dapat mendengarnya saja. Kadang aku berpikir apa aku gila, apa aku sudah di butakan oleh kesendirian ini.
"Ayolah kenapa kau begitu pesimis akan hidup ini."
Aku hanya membiarkan suara itu, jika aku mendengarkannya mungkin saja aku berubah menjadi Monster yang sesungguhnya. Detak jantung ini berdetak dengan sangat cepat. Bunuh diri itu yang aku inginkan namun itu akan sia-sia saja ketika aku ingin melukai diriku sendiri tetapi aku tidak mampu melakukannya.
"Seorang yang ingin mencari siapa dan apa dirinya tetapi hanya memiliki satu pandangan."
Sudah cukup aku muak dengan orang ini, terjebak di sebuah tempat yang mungkin ku sebut sebagai Grave's Dragon. Tanpa siapa-siapa hanya aku dengan orang yang berada entah dimana. Waktu aku tidak mengetahui jam, hari, bulan, maupun tahun. Aku mengambil langkah menuju tempat yang mungkin benar untuk pulang kerumah.
Perjalanan sangat panjang sedikit demi sedikit bankai-bankai naga ini mulai tidak ada. Apa aku keluar dari tempat yang sangat menjijikan ini atau mungkin malah lebih buruk dari tempat ini.
Namun harapan itu pupus yang aku temukan sebuah jurang tanpa dasar yang terlihat dari mataku ini. Aku jatuhkan diriku kebelakang, lelah aku sudah sangat lelah akan semua ini.
"Kubilang juga apa kadang harapan tidak selalu ada."
Diriku berdiri kembali dan menatap jurang tersebut kemudian kedua tangan ku aku kepalkan dengan kuat. Mataku mengeluarkan air mata yang membasuhi kedua pipi ku ini. Sudah cukup suara sialan.
Tanpa berlama-lama aku langsung berlari kearah jurang tersebut dan loncat menuju jurang tanpa dasar ini. Sekarang mungkin aku dapat mati dari pada tersiksa dengan rasa sakit ini aku mulai menutup mataku.
"Tidak semudah itu."
Mataku tiba-tiba terbuka begitu saja dengan perubahan warna menjadi keunguan dengan pupil seperti naga. Punggungku tiba-tiba terasa sangat sakit. Sebuah sayap besar muncul sangat mengerihkan, sepasang sayap ini mengepak-gepak. Gagal. Itulah yang kurasakan kenapa orang ini selalu menghalau diriku untuk mencoba melakukan kematian.
Dengan tidak diperintah aku dibawa kembali ke atas ke tempat dimana aku akan mengakhiri hidupku ini. Tertunduklah diriku kedua tangan ku memukul-mukul tanah.
"Menyesal tidak akan menyelesaikan masalah."
Aku mengankat kepala ku. Sebenarnya apa yang diinginkan orang ini kenapa dia selalu ada. Siapa sebenanrnya orang ini. Aku menggelengkan kepala kemudian berjalan kearah lain meninggalkan jurang tanpa dasar ini.
Hanya kekosongan yang tergambar dimataku ini. Aku tak tahu lagi harus kemana dan bagaimana, mungkin aku akan hancur seperti ini. Berapa jauh kaki ini sudah melangkah. Tempat apa yang aku tuju sekarang.
Suara seseorang namun bukan orang yang entah dimana. Aku menerusuri asal suara tersebut. Kutemukan beberapa orang dengan sayap hitam bagaikan gagak tengah melakukan pelecehan pada seorang perempuan. Entah kenapa aku ingin menolongnya namun disisi lain aku ingin meninggalkannya karena ini akan membawa masalah lebih rumit.
"Benar-benar memalukan."
Tanpa sadar aku menginjak ranting membuat suara yang cukup yang dapat membuat indra pendengaran mereka mendengarnya. Beberapa dari mereka mengalihkan kearah diriku yang berada di balik pohon besar. Apa aku akan ketahuan aku harap jangan sampai.
Langkah demi langkah beberapa orang ini menuju kearah diriku yang bersembuyi. Namun kemudian langkah itu mulai tidak terdengar aku mengintip kearah mereka. Menghilang begitu saja apa yang terjadi sebenarnya. Aku membalikan wajah ku dan seketika rasa terkejut ku muncul akibat mereka ada dihadapanku.
"Akkkhhhh!" teriak diriku kemudian aku langsung terjatuh kebelakang. Kini aku harus berpikir bagaimana aku dapat melewati hal ini.
"Apa yang kita temukan disini seorang iblis kecil." Ucap salah seorang dari mereka yang berpenampilan memakai pakaian seorang anggota bangsawan. Mendengar kata iblis aku menundukan wajah ku. Apa yang mereka pikirkan aku bukan iblis namun aku monster.
"Apa yang kau pikirkan kenapa tidak menunjukan sedikit ke sadisan mu kepada mereka."
Kemudian aku berdiri dan kemudian menantap wajah mereka satu persatu dan akhirnya mata menantap dengan menuju satu arah seorang perempuan yang berambut biru panjang sampai ke punggung.
Angin berhembus dengan kencang membuat rambutku melambai-lambai. Air mata ini keluar kembali aku menangis mungkin ini agak aneh namun bagiku ini adalah sebuah peringatan bagi mereka untuk menjauh dari diriku ini.
"Kenapa kau menagis iblis kecil apa kau takut." Ejek salah seorang dari mereka. Aku terus menangis kembali. Dan akhirnya rasa lapar ini muncul rasa yang akan membuat pada orang didepannya ini mati secara mengenaskan.
"Kumohon pada kalian menjauhlah dariku." Pintaku kepada para orang-orang tesebut. Jika hal ini terjadi aku harap perempuan itu tidak melihat kejadian mengerihkan ini.
Mereka tertawa mendegar ucapakanku. Kemudian salah seorang dari mereka maju kedepan dan mencekram leherku ini. Dia berhenti tertawa dan menantap tajam kearah wajahku yang tengah kesusuhan bernafas. Dia mengucapkan tidak peduli dan melemparku kearah sebuah bagunan tua.
Tubuh ini serasa tertabrak sebuah hantaman yang sangat kuat. Aku mulai kehilangan kesadaran miliku. Kumohon jangan sampai orang itu mengambil alih tubuhku ini.
"Saatnya menunjukan siapa bosnya."
Mataku terbuka namun kini berwarna keungunan. Menatap kedepan dan melihat sebuah tombak cahaya melesat kearah ku dengan sangat cepat. Tombak ini mengenai bagian tangan kananku. Membuat ku tertancap di bagunan tersebut.
"Lebih baik kau diam disitu dan melihat saja." Kemudian orang-orang ini mulai medekati perempuan berambut biru tua tersebut. Namun perempuan itu memberontak dia tidak ingin disentuh oleh para tangan kotor mereka. Beberapa kali memberontak namun akhirnya dia diam dan para orang-orang ini mulai melecehkan lebih parah dan memperkosanya.
Tangan kiri ku menyentuh pundak mereka. Ketika mereka membalikan kepala. Hanya keterkejutan yang dapat mereka gambarkan. Tangan kanan ku tetap tertancap di bagunan tersebut yang berarti aku memotong tangan ku sendiri tanpa tahu bagaimana karena sekarang tubuhku bukan milik diriku tapi milik orang lain.
"Saatnya makan." Suara ku tampil berbeda aku serasa bagaikan seorang penjahat yang sangat menakutkan bagi setiap orang. Aura gelap muncul ditelapak tangan berubah menjadi sebuah kuku-kuku yang tajam. Menusuk dengan sangat kuat kearah jatung berada dan mencekramnya. Yang hanya bisa ku tonton dari suatu tempat itu adalah sebuah ketakutan.
Sebuah teriakan rasa sakit mengema di tempat tersebut. Dan tanpa rasa manusiawi aku mencabut dengan paska jatung tersebut. Kini aku memegang inti kehidupan. Sementara orang yang telah kucabut jantungnya ini melebur menjadi butiran cahaya. Tanpa banyak hal aku memakannya sangat mengerihkan dan menjijikan kunyah dan terus menguyah seluruh inti kehidupan tersebut. Beberapa orang yang melihatnya mulai mundur dari diriku salah seorang dari mereka bahkan ada yang muntah karena tidak kuat melihat adegan ini.
Muncul sebuah lengan baru menggantikan lengan kanan yang telah putus. Namun lengan baru ini terbuat dari kegelapan dengan beberapa tulang-tulang yang melingkar di sekitarnya.
"Siapa selanjutnya." Aku mulai mendekati orang lain yang berada dalam ketakutan ini. Orang ini orang yang sekarang mengendalikan tubuhku kenapa dia selalu tidak bisa dihentikan. Dari mereka menyiapkan sebuah tombak yang dibalut cahaya.
Salah satu dari mereka maju dan menyerang secara membabi buta kearah tubuhku. Tusukan demi tusukan sayatan demi sayatan aku terima. Namun diriku terseyum sinis.
"Benar-benar bodoh." Aku mencekram kepalanya. Kulihat bola matanya yang membulat dengan sangat lebar di sela-sela jariku ini. Dengan mudah seperti menarik daun-daunan dari rantingnya. Tanpa rasa kasihan aku menarik kepalanya ini dari tempatnya.
Butiran-butiran cahaya mengurai dari tubuh dan kepala orang bersayap hitam ini. Kemudian menghilang. Aku memandang kearah beberapa orang lagi. Perubah muncul. Aura gelap muncul menutupi ke sebelah anggota tubuhku ini dengan beberapa tulang-tulang.
Beberapa diantara mereka berniat untuk pergi dari sini. Jangankan berniat untuk kabur bersembuyi pun akan aku temukan dirimu sampai harus ke ujung dunia sekalipun. Tangan kiri ku memanjang dan menembus beruntun ke bagian perut mereka. Semuanya tumbang dengan hanya sekali serangan.
Butiran cahaya kembali berterbangan di langit yang sangat rusak ini. Aku memadang kearah perempuan yang menjadi korban hawa nafsu mereka. Ketakutan yang dapat kurasakan dari dirinya.
"ku serahkan sisanya padamu." Aku kembali. Mengendalikan tubuhku ini sekarang aku menatap perempuan itu jari-jemari tangan ku ingin menyentuh pundaknya. Namun dia mundur dengan perlahan.
"Kau melihatnya." Dengan terus terang aku juga merasa ketakutan ketika tubuh ini sudah di kendalikan oleh orang tersebut. Kemudian aku membalikan badan. Lebih baik aku pergi dari sini dari pada perempuan ini mengalami sebuah ketakutan yang berlebihan dan membuatnya menjadi gila.
Aku mulai meninggalkan perempuan yang tidak ku ketahui namanya itu. Rambut ku berkibar tertiup angin, seolah mengantarku untuk pergi dari sini. Apa pun yang aku lakukan tetap saja aku adalah monster. Kekuatan kegelapan menyelimuti anggota tubuhku juga menghilang tanpa jejak sedikitpun.
~What I am?~
Setelah beberapa hari. Selepas kejadian tersebut aku terus mencari jalan keluar dari tempat ini. Dan apa yang kutemukan sebuah gua yang sangat menyeramkan dan gelap. Diluar dari pada itu aku menemukan sesuatu sebuah lambang. Lambang yang tertempel di atas gua tersebut berbentuk seperti anak panah yang dengan di kedua sisinya seolah ada sayap berwarna kuning semua. Dengan rasa penasaran aku memasuki gua tersebut.
Cukup panjang dan berliku-liku gua ini. Rasa laparku juga mulai muncul namun aku mungkin dapat menahannya sebentar lagi. Aku sangat penasaran dengan ujung dari gua ini dan ada apa disana. Jika yang aku lihat tadi terdapat sebuah lambang yang berada di atas pintu gua ini. Apakah gua ini milik seseorang atau kelompok pikirku ini.
"Kenapa kau tidak menyerah." Aku mendengarnya. Itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk jawab sekarang karena aku tidak mengetahui alasan ku untuk tidak menyerah dalam keadaan yang dapat dikatakan sangat buruk.
Aku berhenti. Dihadapanku hanya tertdapat sebuah ujung yang kosong tanpa apapun. Apa hanya ini yang dapat ku temukan aku putus asa dalam hal ini sungguh hanya satu yang ada dalam pikiran ku yaitu ketidak mengertian. Kenapa seseorang atau kelompok tertentu membuat sebuah gua yang ujung hanya ada kekosongan.
"Jadi sia-sia yah." Suara yang membuat ku semakin terjatuh. Terjatuh bagaikan aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi setelah itu. Rasa sakit ini muncul aku memegang bagian dari perutku ini. Namun semakin sakit saja tidak dapat menahannya lagi aku meninju sisi gua ini.
TANKK!
Mata ku melebar ketika mendengar bunyi benturan tersebut. Bunyi ini seperti bunyi logam. Kemudian aku mengetuk semua sisi di gua ini dan benar saja semuanya berbunyi seperti benturan logam.
Aku kembali lagi kearah ujung gua yang kosong ini. Tanpa lama aku seolah menyentuh sebuah tembok yang berkamuflase dengan lingkungannya dan dapat membuat seseorang benar-benar tidak menyadarinya. Kemudian aku menempelkan telapak tangan ku ini. Keajaiban terjadi.
Seluruh isi gua ini mulai bersinar dan mulai berganti menjadi sebuah logam. Kemudian aku menatap kearah tembok di depan ku ini. Liku-liku garis mulai bermunculan di wajah tembok ini. Aku mundur kebelakang beberapa langkah dan akhirnya sebuah lambang yang aku temukan diatas pintu masuk tadi.
Tembok ini pun terbelah dan menunjukan sebuah ruangan kosong dengan hanya di tengah terdapat sebuah batu berwarna merah menyala terang. Aku menatap batu tersebut entah kenapa batu itu seolah menarik diriku untuk mengambil dirinya dari tempatnya. Ku berjalan menuju tempat batu tersebut. Ketika kedua tangan ini akan mengambil batu tersebut. Cahaya menyilaukan berwarna merah membuat ku tak dapat melihat aku mencoba untuk menutupi kedua mata ku dengan tangan.
Ketika membuka kembali mata. Yang aku lihat hanya ruangan putih tanpa ujung sama sekali. Aku menengok ke kiri dan kanan namun tak ada yang aku temukan sampai aku menatap ke atas. Aku melihat sebuah robot merah raksasa yang terantai seluruh bagian tubuhnya matanya hanya ada satu berwarna hijau namun itu membuatnya sangat sangar dan menakutkan untuk dilihat.
Matanya menatap kearah diriku yang berdiri dihadapannya. Di hanya menatap dan tidak berbicara sama sekali. Namun aku melihat sebuah minta tolong di matanya ini, dia tidak mengatakannya tetapi aku dapat merasakan kalau dia ingin di tolong agar bebas dari rantai ini.
Dengan sekuat tenanga aku mencoba memutuskan rantai yang membelitnya ini. Namun beberapa kali kucoba semuanya tetap tidak berhasil. Aku memandang kearah wajah dari robot merah ini. Hanya ada rasa kekosongan dan hilang akan seseorang yang dapat aku lihat. Ini seolah dia adalah aku namun ada beberapa perbeda dimana dia menjadi kekosongan akibat kehilangan sesuatu yang berharga atau semancamnnya. Sementara diriku akibat lingkungan dan mentalku sendiri.
Robot merah ini kemudian mengeluarkan sebuah cahaya dari bagian dadanya. Sebuah cahaya berwarna merah yang mirip dengan baru yang aku lihat di ruangan kosong tersebut. Dan aku terkejut karena itu adalah batu merah yang tadi. Sampai sebuah suara lainnya yang berasal dari batu itu mungkin saja.
"Apa yang kau inginkan dari ku." Ucapannya membuat hati seseorang ini tidak cukup tenang. Sebuah batu yang sangat unik dan sebenarnya batu apa ini. Itulah yang ada dipikiran ku saat ini.
"Sebenarnya kau ini apa dan siapa." Aku menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sungguh aneh. Tapi karena rasa penasaran akan sebenarnya siapa mereka dan apa mereka.
"Baiklah akan ku jawab pertanyaan mu dulu, aku adalah Sinanju seorang ksatria besi yang berasal dari meteor yang jatuh dibumi ini beratus-ratus tahun yang lalu. Sekarang bisa kau jawab pertanyaan miliku."
"Aku hanya ingin membebaskan mu dari rantai yang menjeratmu."
"Kau tidak ingin kekuatan miliku."
Aku menggelengkan kepala. Untuk apa aku punya kekuatan karena hanya sebuah kekuatan bukan sebuah sesuatu yang berharga yaitu teman. Bagiku kekuatan itu mudah dicari asalkan kita mau untuk berlatih agar mendapatkan kekuatan itu sementara teman, sangat susah mencari seorang teman yang sangat setia.
"Dan bisakah kita berteman."
Mata milik robot ini menatap kearah diriku yang berada di depannya. Tajam dan sangat dingin. Tapi kemudian rantai-rantai yang membelit robot tersebut dengan sendirinya menghilang menjadi sebuah butiran butiran seperti salju yang berwarna merah.
"Tentu saja kita berteman karena kau telah lulus dari ujianku tadi."
Mendengar kata ujian membuat aku terkejut jadi selama ini rantai-rantai yang tidak dapat dilepas dengan paksa tadi adalah miliknya dan itu semua dia lakukan demi satu hal yaitu kejujuran dan kesetiaan. Sekarang aku paham kenapa rantai tadi tidak bisa lepas.
"Boleh kutahu namamu."
"Aku Naruto."
Robot ini pun berubah mejadi ukuran yang hampir sama dengan dirku dan kemudian bersujud ala seorang ksartia abad pertengahan. Kemudian dia mengucapkan sebuah janji setia pada diriku yang berarti aku sekarang dapat dikatakan sebagai seorang tuan. Tak lama setelah itu dia berubah menjadi sebuah cahaya merah yang masuk kedalam tubuku.
Cahaya itu kembali membuat silau. Aku tak dapat melihat dan akhirnya aku membuka mataku. Hanya perasaan terkejut dan serasa ada yang hilang kenapa guanya menghilang. Kini dia berada entah dimana lagi namun yang pasti kini dia sudah berada jauh dari Grave's Dragon karena merasakan aura yang dapat dikatakan iblis.
"Apa aku pulang."
"Entalah."
Kemudian aku meneruskan perjalanan ke arah aura yang cukup kuat seperti ada sebuah pertandingan. Tapi kenapa ada yang janggal. Benar juga kenapa rasa sakit ini tidak muncul lagi, apa karena Shinanju. Aku kurang tahu soal ini. Namun tak lama kemudian sebuah suara membuatku berhenti berlangkah.
"Rias Gremory, tidak bisa melanjutkan pertarungan dengan ini Raiser Phenex di nyatakan sebagai pemenang!"
TBC
Author Note:
Hei Minna kembali lagi dengan Author KAMENRIDAGekijouban.
Kali ini saya membawakan Fanfic baru yang berjudul What I am? Sedikit info di sini saya menggunakan Sudut pandang Naruto/ Sudut pandang orang Pertama. Dan jika kalian baca Naruto disini sedikit Overpower namun sebenarnya dia belum menguasai kekuatan tersebut dan yang menggunakan kekuatan kegelapan adalah seseorang yang berada di tubuh dirinya sangat misterius. Oke
Naruto akan memiliki tiga kekuatan dalam tubuhnya dan baru dua yang di perlihatkan:
Yaitu, Kegelapan yang berasal dari seseorang misterius tersebut.
Kemudian Shinanju seorang satria yang berasal dari Meteor di galaxy ini, dan untuk penampilan Shinanju silahkan lihat (MSN-06S SHINANJU)
Dan yang terakhir itu masih rahasia author.
Baiklah cukup sampai disini. Dan juga tolong untuk memberikan pendapat, masukan dan kritikan untuk fanfic ini.
Saa Jane
