/Timeless/
/
Alat pengukur denyut jantung terus berbunyi sementara dokter Tsunade menyiapkan pisau bedahnya.
"Haruno, terus periksa denyut jantungnya. Sai, siapkan jantungnya. Hyuuga, pastinya biusnya bekerja dengan efektif," dokter Tsunade memberikan instruksi sementara rekan-rekannya melaksanakan tugasnya.
Tsunade mengarahkan pisau bedahnya ke dada pasiennya dan melakukan irisan pertama. Darah segar mengalir keluar dari torehan yang dibuat oleh Tsunade, menguarkan bau amis ke seluruh ruangan. Tapi Tsunade tetap bekerja, ia memperdalam tusukannya, menggunting tiap lapisan dan selaput yang melapisi jantung pasiennya.
Musik klasik yang mengalun di ruang operasi terdengar samar-samar di telinga Tsunade, ia telah berkonsentrasi sepenuhnya pada jantung pasiennya yang sekarang sudah terlihat. Ia menghapus keringat di dahinya dan memulai operasi intinya, mengeluarkan jantung pasiennya yang sudah tidak berfungsi untuk menggantinya dengan jantung yang baru.
Perlahan, Tsunade menggunting semua pembuluh yang terhubung ke jantung pasiennya. Ini memang bukan operasi transplantasi jantung pertamanya, tapi tetap saja ia sedikit nervous.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berhasil memisahkan jantung itu dengan tubuh pemiliknya, membuat alat pengukur denyut jantung mengeluarkan suara 'pip' panjang. Tsunade menghela napas, tugas pertamanya sudah ia lakukan dengan baik. Tinggal memasang jantung baru. Ia menoleh ke Sai.
"Sai, jantung barunya."
Sai mengeluarkan jantung yang masih segar dari dalam wadahnya dan menyerahkannya ke Tsunade. Ia menerimanya dengan hati-hati dan memosisikannya di rongga dada pasiennya. Tsunade memastikan posisinya sudah sempurna sebelum ia memulai pekerjaan berikutnya, menyambungkan kembali pembuluh-pembuluh dengan jantung.
Tsunade menggerakkan jemarinya dengan terampil, sama sekali tidak peduli dengan banyaknya darah segar yang telah membasahi tangannya. Tujuannya cuma satu, membuat pasiennya tetap hidup.
Beberapa jam kemudian yang rasanya seperti berabad-abad, Tsunade telah menyelesaikan tugasnya. Ia menegakkan tubuhnya, menoleh ke arah alat pengukur denyut jantung. Bunyi 'pip' panjang yang selama dua jam terakhir ini mengiringi Symphoni No. 5 yang mengalun belum berubah. Tsunade masih memandang ke arah alat itu, berharap...
Pip.
Pip.
Pip.
Tsunade tersenyum lega, memandang koleganya dengan ekspresi puas. Ia kembali membungkuk di atas tubuh pasiennya untuk menjahit lukanya.
Tugasnya sudah selesai.
/
"Kira-kira kemana manusia pergi setelah meninggal ya?" tanya seorang pemuda pirang yang duduk di sampingku.
"Aku tidak tahu... tapi aku ingin jadi langit."
"Ho... kenapa?"
"Agar aku bisa terus mengawasimu."
"Haha. Seperti penguntit," pemuda pirang itu terdiam. "Langit cerah berarti kau sedang tersenyum, langit mendung berarti kau sedang sedih, langit senja berarti kau sedang tersipu, dan langit malam berarti kau sedang memelukku dengan lembut..."
/
Gaara terbangun. Napasnya sedikit tersengal dan pandangannya sedikit kabur. Dada kirinya terasa nyeri, membuatnya meringis menahan sakit, dan bau obat di sekitarnya membuat kepalanya sedikit pusing.
Gaara mencoba mengatur napasnya dan memandang sekelilingnya. Putih. Ruangan tempatnya berada didominasi oleh warna putih. Setelah penglihatannya berangsur-angsur menjadi jelas, barulah ia menyadari kalau dia berada di rumah sakit.
Samar-samar, ia mendengar percakapan beberapa orang yang berdiri di luar pintu ruangannya.
Gaara mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia baru saja menjalani operasi transplantasi jantung, dan tampaknya ia bisa melaluinya dengan baik.
"Sabaku-san."
Gaara menoleh, dokter Tsunade memasuki ruangan dengan clipboard di tangannya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya dokter Tsunade, menghampiri Gaara dan memeriksa denyut jantungnya dengan stetoskop.
"Aku baik-baik saja."
Tsunade tersenyum pada Gaara. "Baguslah, kau bisa pulang beberapa hari lagi. Minum obatmu secara teratur dan istirahatlah."
Gaara mengangguk sementara Tsunade meninggalkan ruangan. Ia kembali merebahkan diri. 'Mimpi yang tadi itu...'
/
Gaara memacu mobilnya. Baru dua hari lalu ia keluar dari rumah sakit. Dan mimpi itu tidak berhenti menghantuinya. Mimpi tentang pemuda pirang yang selalu tersenyum ke arahnya. Ia tidak tahu kenapa, ia bahkan tidak mengenal pemuda itu, namun entah kenapa setiap pemuda itu tersenyum padanya, ia merasakan sesuatu yang lain di hatinya... jantungnya selalu berdebar...
Pada awalnya, Gaara berpikir itu adalah efek pasca operasi, tapi... apa iya?
Gaara menambah kecepatan mobilnya, dan kelebatan-kelebatan mengenai wajah pemuda pirang itu kembali hadir. Ia mengurut keningnya. Ia sangat penasaran siapa pemuda itu, dan kenapa ia terus-terusan memimpikannya? Belum lagi perasaan seperti ia telah lama mengenalnya.
Gaara membelokkan mobilnya di tikungan dan sebuah toko bunga menarik perhatiannya.
Ia memelankan laju mobilnya dan berhenti di depan toko bunga itu. Jantungnya kembali berdegup kencang. Gaara mencengkram dada kirinya. 'Apa yang terjadi denganku?'
Gaara menarik napas dan menyandarkan kepalanya di setir mobilnya. 'Kenapa aku berhenti di sini?'
Ia menoleh ke arah toko bunga yang berada di seberang jalan.
Deg.
Gaara kembali mencengkram dadanya. Ia merasakan deja vu yang amat kuat. Ia merasa pernah mengunjungi toko bunga ini sebelumnya. Tapi itu hanya perasaannya, ia yakin ia belum pernah mengunjungi jalan ini, ataupun toko bunga itu. Apa yang seberanya terjadi dengan ingatannya?
Gaara memejamkan matanya dan senyum pemuda itu kembali terlintas di otaknya.
Gaara membuka matanya dan turun dari mobilnya, ia butuh udara segar.
Deg.
Gaara mencengkram dadanya yang kali ini terasa amat sakit, memaksanya jatuh berlutut di samping mobilnya. Napasnya kembali tersengal. Sakit yang dirasakannya sangat luar biasa.
"Kau tidak apa-apa?"
Gaara mendongak dan mendapati raut wajah khawatir seorang pemuda di hadapannya. Hatinya mencelos.
"Kau tidak apa-apa kan? Wajahmu pucat..." tanya pemuda itu.
Gaara tidak menjawab. Ia terlalu terfokus pada wajah pemuda di hadapannya.
Pemuda itu membantu Gaara berdiri dan memapahnya masuk ke dalam toko bunga yang ternyata miliknya. Ia mendudukkan Gaara di kursi kayu di ruangan itu sementara pemuda itu mengambilkan sesuatu dari belakang toko.
Gaara mencengkram pegangan kursinya, memperhatikan pemuda yang menolongnya dengan seksama. Rambut pirang... mata biru jernih... Gaara tidak mungkin salah. Itu adalah pemuda yang selama ini muncul di mimpi-mimpinya.
"Minumlah, siapa tahu kau jadi lebih baik." Pemuda itu menghampiri Gaara dan meletakkan secangkir teh hangat di hadapannya. Gaara memandangnya, dan pemuda itu membalasnya dengan senyum khawatir.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Gaara.
Pemuda itu menggeleng, sedikit bingung. "Kurasa tidak... ini pertama kali aku melihatmu."
Gaara memandang wajah pemuda itu. Ia yakin, ia benar-benar yakin, tidak mungkin salah mengenali orang. Tapi kenapa pemuda itu bilang mereka belum pernah bertemu? Lalu kenapa ia harus hadir di mimpi Gaara?
"Tidak," Gaara menggengam tangan pemuda itu. "Aku yakin kita pernah bertemu."
Pemuda itu menarik tangannya dari genggaman Gaara, memandangnya dengan wajah ketakutan kali ini. "Kita belum pernah bertemu. Kau salah."
Gaara mengernyit. Ia benar-benar bingung. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah pemuda pirang itu dan pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto sederhana di atas meja. Potret dua orang pemuda yang saling berangkulan dan terlihat sangat bahagia. Gaara mengenali sosok yang di kiri sebagai pemuda pirang yang sekarang berdiri di hadapannya, dan yang satunya lagi...
"Ah, maaf, mungkin aku salah orang," kata Gaara akhirnya. Ia langsung bangkit berdiri dan bergegas keluar dari toko bunga itu, memacu mobilnya kembali ke rumahnya.
/
Gaara menghempaskan diri di sofa ruang tamu rumahnya. Kepalanya berdenyut sakit dan jantungnya tidak berhenti berdebar. Ia mengurut keningnya. Pemuda berambut hitam yang bersama si pirang di foto itu…
Gaara mengenalinya.
/
"Jatuhkan senjatamu! Kau sudah dikepung!"
Seorang perampok yang sedang menodongkan senjatanya ke kepala sanderanya sama sekali tidak menggubris peringatan yang diberikan kepala polisi. "Keadaannya tidak begitu, Pak Polisi. Suruh anak buahmu menurunkan senjatanya dan biarkan aku lolos, atau kubunuh orang ini."
"Inspektur Uchiha, apa yang harus kita lakukan?" tanya salah seorang anak buahnya.
Polisi itu sedikit ragu. Ia tak ingin ada korban dalam penangkapan ini, tapi ia juga tidak ingin membiarkan perampok keparat ini lolos.
"Jangan pedulikan aku, Sasuke!" teriak sanderanya.
Polisi yang dipanggil Sasuke itu tampak bimbang. Ia harus menyusun rencana. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyiapkan senjata mereka dan bersiap menembak jika ia memberi aba-aba. Anak buahnya mengangguk paham.
Sasuke kembali menyimpan senjatanya di sarungnya, dan mengangkat kedua tangannya setinggi kepala. "Oke, sekarang lepaskan sanderanya."
Perampok itu mendengus geli. "Beri aku jalan, Pak Polisi. Biarkan aku lewat dengan tenang."
Sasuke menghela napas. Ia hendak memberi jalan ketika tiba-tiba terdengar suara letusan senapan. Ia menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang mengira gerakannya tadi sebagai isyarat untuk menembak. Sasuke mencelos. Ia kembali menoleh ke si perampok yang hampir terkena peluru tadi, tampak sama kagetnya dengan dia.
Terlambat.Sasuke hendak menarik pistolnya keluar untuk melumpuhkan si perampok, tapi gerakannya kurang cepat. Ia bahkan belum sempat membidik ketika terdengar suara letusan kedua dan Sasuke merasakan sesuatu yang panas menembus kepalanya.
Gelap.
/
Gaara keluar dari rumahnya dan dengan tergesa memacu mobilnya ke kantor arsip. Ia harus memastikan sesuatu.
Gaara bahkan tidak peduli mobilnya sudah terparkir dengan benar atau belum. Ia langsung keluar dan menerobos masuk ke kantor arsip, mengabaikan seruan beberapa petugas jaga. Gaara tidak berhenti berlari sampai ia tiba di deretan rak yang menyimpan arsip anggota kepolisian. Jari-jari putihnya menelusuri sekumpulan arsip yang ada di sana.
Dan telunjuknya berhenti pada satu nama.
Gaara menarik keluar arsip itu dan membukanya. Foto yang ada di sana adalah foto wajah pemuda yang dilihatnya di toko bunga bersama pemuda pirang itu.
Uchiha Sasuke. Orang yang telah ditembaknya hari itu.
/tbc/
Fic ini didedikasikan untuk Sheren Atthiya. Semoga ia diterima di sisi-Nya.
Dan karena fic ini judulnya Timeless, maka wajar saja kalau timeline-nya gaje, terutama kalau dibaca lewat ponsel karena italic-nya jadi nggak keliatan. *disepak*
By : Gretta Cassiopeia, nae-rossi chan, & Ndin Cassiopeia
Disclaimer : Masashi Kishimoto, Kim Junsu & Jang Ri In
