Naruto's POV
Bagiku, hidup hanyalah sebuah panggung sandiwara dengan manusia yang memerankannya. Dengan karakter yang berbeda yang pada akhirnya menuju satu kata "KEMATIAN". Rasa suka, sayang dan cinta adalah bagian dari skenario itu juga rasa sedih. Lalu aku? aku diciptakan sebagai karakter yang meramaikan sandiwara ini. Bukan tokoh utama, hanya seseorang yang biasa dan akan menjalani kehidupan ini dengan biasa saja. Begitulah pikirku.
Aku sangat memahami peranku ini. Apapun yang terjadi aku harus terus bersikap ceria di hadapan orang lain. Bahkan jika aku akan kehilangan hidupku. Akan? Bukan akan, tetapi aku memang telah 'kehilangan' hidupku ini sejak tuhan menciptakanku untuk menjadi pemeran baru dalam skenario kehidupan ini.
Perkenalkan aku Uzumaki Naruto, aku baru saja berumur 17 tahun beberapa bulan yang lalu. Kisah ini di mulai ketika aku masih berada dalam kandungan ibuku. Saat itu, Kaasan baru saja memeriksakan kehamilannya yang kedua (aku dalam kandungan) ke dokter dan diketahuilah bahwa aku ini adalah seorang wanita. Saat hendak pulang kaasan bertemu sahabatnya, Mikoto-baasan. Yang saat itu juga sedang mengandung anak pertamanya dan kebetulan baru saja selesai memeriksakan kandungannya juga dan diketahuilah bahwa calon anaknya adalah laki-laki.
Dan disinilah awal mula peran yang harus ku jalankan. Mikoto-baasan meminta kaasan agar menjodohkan anak mereka setelah dewasa. Yah, berhubung Mikoto-baasan adalah sahabat baik kaasan dan kaasan tidak tega untuk menolak, jadilah kaasan menjawab dengan berkata "aku tidak ingin memaksa mereka". Sebuah jawaban ambigu yang membuatku harus terjebak dalam kerumitan sandiwara kehidupan ini.
Aku mengetahui hal ini saat masih kelas dua sekolah dasar! Bayangkan! Aku yang masih polos dan lugu saat itu tentu saja jadi memperhatikan dia (anak Mikoto-baasan) yang sekolahnya bertetangga denganku dan menceritakannya pada beberapa teman akrabku dan jadilah aku korban candaan teman-temanku. mereka selalu mengataiku dengan "tunangan sasuke-kun!".
Setelah tamat sekolah dasar aku meminta pada tousan agar diizinkan sekolah di sekolah yang berada di desa tetangga, tapi tousan malah berkata "untuk apa sekolah di tempat lain padahal desa kita juga memiliki sekolah sendiri", dan lagi-lagi aku hanya bias menerima. Dan kalian tahu? Sialnya, aku harus sekolah dengan sasuke-yang katanya sudah dijodohkan denganku- di sekolah ini. Untuk yang ini aku sudah tidak pernah membicarakannya lagi sejak teman-temanku di sekolah dasar mengejekku dengan ejekan 'itu'.
Mulanya aku sih cuek-cuek saja dengan keberadaannya, meskipun aku terkadang tidak menyukai sikapnya yag suka seenaknya. Yah misalnya saja dia seenaknya memeriksa tas orang lain atau kadang meminta uang orang lain meskipun yang dimintai bukan aku sih, tapi sepupunya sendiri. Mungkin sikap soknya itu dikarenakan ayahnya, Fugaku-Jiisan merupakan pemilik sekolah Konoha junior high School ini.
Tapi setelah menerima rapor kenaikan kelas aku semakin membencinya! Masa aku harus kalah dari orang sok itu karena nilainya lebih 0,5 dariku?(sebelumnya sama-sama meraih peringkat 1 kelas sih) Ini adalah hal yang benar-benar tidak bisa dimaafkan! Dan perang antara Naruto vs Sasuke pun dimulaiā¦!
