Hello, all. Ayeem beek. dengan fic baru ini. wkwk. :)

Semoga kalian menyukai ceritanya. :) Dan mohon maaf jika fic ini masih memiliki banyak kekurangan.

Saya seharusnya belajar karena besok ada ulangan tapi yah.. maleezz. *dijitak*

Title : Jealousy

Pairing : KenZai alias Kenya x Zaizen (I'm sooo in looove with this pairing, okay?)

Rate : T

Warning : Shounen-Ai! You've been warned. Dan OC yang menyebalkan. xP


Jealousy?


Zaizen benci cuaca yang menyengat dan panas seperti hari ini. Satu-satunya pemain Shitenhouji yang duduk di kelas 2 itu menghela nafas. Osaka belakangan ini memang begitu panas dan membuat orang-orang—terutama dari klub tennis—memproduksi keringat lebih banyak. Dan Zaizen benci hal itu.

Dan mengapa sih? Saat hari panas-panas begini para anggota regular Shitenhouji malah disuruh untuk lari mengelilingi lapangan?

Zaizen tak habis pikir. Osamu-sensei memang sulit untuk dimengerti.

"Hei! Hei! Ayo semangat Zaizen! Sepuluh putaran lagi!" Kenya menepuk kepalanya sambil berlalu dengan cepat.

Zaizen mendengus. Yah, ditambah dengan Kenya-senpai nya yang tampak terlalu bersemangat hari ini. What a perfect day… Gumamnya sarkartis.

Bukannya ia tak ikut suka melihat bahwa pasangan doublesnya itu sedang kelewat senang. Hanya saja Kenya yang kelewat bahagia itu artinya sama saja dengan Kenya yang kelewat hiperaktif. Dan Zaizen, sebagai partnernyalah yang akan kewalahan.

Jadi hal seperti apa sih yang terjadi pada Kenya sehingga senpainya itu bertingkah seperti baru mendapatkan kupon makan gratis di kedai ramen kesukaan mereka selama satu minggu penuh? Zaizen berpikir.

Oh yah, tentu saja. Pemuda bermata hijau itu mendengus lagi. Pacar baru…

Zaizen memutar bola matanya. Kemarin sore Kenya-senpai kesayangannya berceloteh panjang lebar tentang seorang cewek yang baru menembaknya setelah jam pelajaran olahraga kelasnya selesai.

Dan baru tadi pagi, Kenya memberitahunya bahwa ia sudah jadian dengan gadis itu. Dan semuanya tiba-tiba terasa begitu aneh bagi Zaizen, Kenya biasanya tidak pernah berekspresi seantusias itu ketika membicarakan soal cewek. After all, hanya karena sama-sama keluarga Oshitari lalu bukan berarti Kenya harus bertingkah sama seperti saudaranya yang pervert di Tokyo itu? Siapa namanya? Yuushi?

Memikirkan tentang pacar baru senpainya, entah mengapa perut Zaizen terasa mual.


"Yoo! Zaizen! Kau mau cokelat?" Tanya Kenya pada sang kouhai.

Zaizen menatap sebungkus cokelat yang ada di tangan Kenya. Pasti dari ceweknya senpai… pikir Zaizen. "Tidak, senpai. Aku tidak lapar." Ucapnya datar sambil melanjutkan mengikat tali sepatunya.

"Ha? Wah tumben kamu menolak makanan manis…" Kenya duduk disampingnya.

"Sudah kubilang kan senpai… Aku tidak lapar. Senpai, sudah ditungguin tuh!" Zaizen menunjuk ujung lapangan tennis .

"Hm? Ah! Itu Ayako-chan. Ayako-chan! Ayo Zaizen, aku kenalkan kamu ke dia!" Kenya langsung menarik tangan Zaizen. Zaizen berusaha memberontak tapi percuma saja, tenaga Kenya jauh lebih besar darinya.

"Tidak usah, senpai! Aku harus membereskan tasku!" Sanggah Zaizen.

"Sudahlah. Jangan malu-malu!"

"Tapi, senpai—"

"Ayako-chan! Kenalkan, ini pasangan doublesku. Kau pasti sudah tahu namanya kan? Nah, Zaizen, ini pacarku. Ayako." Zaizen diam saja sambil memperhatikan Kenya yang begitu bersemangat memperkenalkan pacar barunya.

Huh.

Sudut hatinya terasa nyeri. Zaizen menatap gadis di hadapannya.

Tidak secantik yang aku bayangkan, kenapa sih Kenya-senpai mau sama cewek ini?

"Hallo, kau Zaizen Hikaru kan? Namaku Matsuda Ayako. Salam kenal." Gadis itu membungkuk di depan Zaizen. Zaizen mau tak mau membalasya, yaah—meskipun sambil berekspresi judes. "Salam kenal." Balasnya cepat.

"Ne, Ayako-chan. Hari ini kita jadi pulang bareng kan?" Sebuah seringai lebar medarat di wajah sang Naniwa no Speed Star.

Gadis disampingnya menunduk dengan eksperesi malu-malu yang menurut Zaizen, sangat menjijikan.

"Apa Zaizen-kun ikut?" Tanya Ayako—sok—manis. Zaizen ingin bilang, Tentu saja! Senpai kan selalu pulang bersamaku setiap hari! Kamu yang tiba-tiba ngikut! Tapi tentu saja kalau ia berkata seperti itu cewek di depannya akan kaget. Zaizen Hikaru tetaplah Zaizen Hikaru, jadi ia harus tetap cool.

"Tidak. Aku akan pulang sendiri" jawab Zaizen ketus.

"Benar tidak apa-apa, Zaizen?" Tanya Kenya. Zaizen mendengus kesal. Ya ampun. Senpainya yang satu ini benar-benar bodoh, mana ada sih orang baru jadian yang mengajak temannya untuk menemani ia dan pacarnya pulang bersama? Ia, sebagai kouhai yang baik, tentu saja tidak mau mengganggu senpainya.

Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga ingin pulang bersama Kenya.

"Oshitari-senpai, aku perlu mengulanginya sampai berapa kali sih?" Zaizen mendengus. "Aku akan pulang sendiri. Biar senpai pulang berdua saja dengan—umm.. pacar senpai"

"Uum, baiklah kalau begitu." Ucap Kenya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ne, kita pulang, Ayako-chan" Dan dengan begitu, Kenya berbalik dan pulang bersama pacarnya.

Zaizen merasa sedikit kecewa. Biasanya Kenya akan membujuknya setengah mati agar dapat pulang bersama, Tapi kali ini Kenya dengan mudah meninggalkan Zaizen sendiri. Yah, Zaizen memang menolak ajakannya sih. Tapi kan tetap saja…

"DOORR! Hikaruuu-chan~~" Sesosok makhluk botak dan mengerikan muncul dari balik punggung Zaizen

"Konjiki-senpai! Jangan muncul tiba-tiba dong!" Ucap Zaizen

"Apa yang Hikaru-chan lakukan disini~~? Kenapa Hikaru-cahn menatap pacarnya Kenya seperti ituu~?" Koharu bertanya sambil memonyong-monyongkan bibirnya. Membuat kouhainya bergidik ngeri.

"Bu… bukan apa-apa kok s-senpai…" Zaizen menjawab dengan grogi, mencoba menyingkirkan lengan Koharu yang sedari tadi bergelayutan di lengannya.

"Hmm…" Koharu memandangi wajah manis kouhainya.

"A-ada apa senpai?" Tanya Zaizen grogi.

Koharu menepuk tangannya dengan ekspresi yang sulit Zaizen tebak. "Jadi begitu yaa.. nfufufu…"

Dan dengan misterius Koharu kembali ke tengah lapang tempat Yuuji masih berada sambil melompat-lompat gembira.

"Konjiki-senpai hari ini aneh.." Gumam Zaizen, lalu ia beranjak dari tempatnya dan mengambil tasnya yangsedari tadi tergeletak disisi bench. Ah, Konjiki Koharu kan memang selalu aneh…


Hari yang sangat cerah, Zaizen pikir. Ia berharap ia bisa mendengarkan musik sekarang juga, tapi sayangnya headsetnya tertinggal di rumah, dan dia malah mendengarkan celothan Kenya sekali lagi. Tentang pacar barunya itu tentu saja.

"—Terus Ayako-chan bilang aku terlihat keren ketika sedang bermain tennis. Apa aku memang terlihat keren ketika sedang bermain, Zaizen?"

"Mm"

"Kemarin aku dan dia pergi ke bioskop. Kau harusnya lihat pakaian yang dia pakai Zaizen! Lucu sekali lho! Ayako-chan memang terlihat pantas dengan rok selutut—Ah tidak! Ayako-chan pantas memakai pakaian apapun!"

"Hmm." Zaizen tidak terlalu memperhatikan ocehan senpai-nya yang berambut blonde itu. Matanya terpaku pada kumpulan rumus matematika yang ada di buku catatannya. Sial.. kenapa besok harus ada ulangan sih?

"Oii… Zaizen, kau mendengarkanku tidak sih?" Tanya Kenya sambil cemberut.

"Aku dengar kok, senpai."

"Jadi, besok kau bisa kan?" Kenya memandang penuh harapan pada kouhainya itu.

"…Hah?"

"Tuhkan kau tidak mendengarkan!" Kenya menjitak kepala Zaizen keras.

"Auww! Sakit tahu, senpai!"

"Makanya dengarkan senpai-mu ini ketika berbicara!" Kenya memandang kouhainya gemas.

"Memangnya tadi senpai ngomong apa? Yang aku ingat senpai kan cuma bercerita tentang pacar senpai yang cocok memakai apapun…" Zaizen mengelus kepalanya yang benjol akibat dijitak Kenya barusan. Well, dia memang cuma mendengar Kenya berkata bahwa Ayako—atau siapapunlah nama pacar senpainya itu—cocok memakai pakaian apapun.

Ia tak habis pikir. Memangnya kenapa kalau cewek itu pantas memakai apapun? Jadi, walaupun cewek itu memakai pakaian badut, Kenya pun akan tetap terpseona padanya, begitu? Kakak ipar Zaizen juga pernah berkata bahwa ia cocok memakai pakaian apapun. Apa sih istimewanya? Waktu kecil Zaizen pernah pakai rok dan kakak laki-lakinya bilang itu cocok untuknya, dan dia terlihat manis. Yah meskipun Zaizen benci dibilang manis, dan ia juga benci harus memakai pakaian perempuan—

"Ayako-chan bilang, dia ingin bertemu denganmu. Jadi besok kita bertiga akan bertemu di café. Kau bisa kan?"

Tapi artinya dia juga cocok memakai apapun kan? Jadi—Hei! Apa kata Oshitari-senpai barusan? Bertemu denganku?

"Be-bertemu denganku? Untuk apa, senpai?" tanyanya.

"Entahlah, tapi bukannya itu menyenangkan? Ayolaah~ Ayako-chan pasti akan kecewa kalau kau tidak memenuhi permintaannya." Kenya menarik ujung kemeja Zaizen. "Kau bisa kan Zaizen?"

Ugh… Pandangan itu… Zaizen berusaha menahan dirinya dari puppy eyes senpai-nya yang jago lari itu. Namun gagal.

"Hmm. Baiklah senpai. Aku akan datang."

"GOOD! Asyik, kalau begitu kami menunggumu di café tempat kita biasa beli eskrim ya!" Kenya menepuk kepala kouhainya untuk kesekian kalinya.

"Senpai! Sudah kubilang jangan menepuk kepalaku. Rambutku jadi berantakan nih!" Zaizen berusaha menepis tangan senpainya itu dari kepalanya, tapi alih-alih menyingkirkan, Kenya malah mengacak-acak rambut hitam pekat miliknya.

"Apa yang kau lakukan pada RAMBUTKU, SENPAI? Hentikaan!" Zaizen berteriak frustasi.

-To Be Continue-