Pernah berpikir kalau punya kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain itu menyenangkan? Silakan tanam dalam-dalam presepsi bodoh kalian itu!
Dan kalian hanya akan menjadi orang bodoh yang suka mengharap hal-hal bodoh yang tidak rasional.
Aku terlalu berlebihan? Tidak… apa yang kuungkapkan sesuai dengan kenyataan. Kau pikir punya kemampuan diluar batas pemikiran manusia normal menyenangkan? Aku hampir berkali-kali sekarat karena hal itu. Dan siapa yang bisa kusalahkan? Orang tuaku? Kakaku? Adikku? Siapa? Kami-sama?
Aku tak pernah berpikir Dia ada.
Di sekolah, hampir semua siswa mengolok-olokku, beberapa bahkan pernah membuatku masuk rumah sakit selama seminggu. Dan kau tahu kenapa? Hanya kerena aku punya kemampuan diluar batas nalar manusia. Bisa melihat, merasakan, membaca, aku bahkan bisa melihat masa lalu. Apa yang terjadi kalau orang itu kesana, apa yang akan terjadi kalau orang itu begitu, atau apapun… aku bisa melihatnya dengan jelas. Setiap detailnya selalu memenuhi otakku. Membuatku tidak bisa membedakan mana kehidupanku dan mana kehidupan mereka.
Bersyukur keluargaku menerima kehadiranku dengan baik, mereka percaya padaku, menerimaku apa adanya. Tapi, tetap saja suatu saat aku harus berdiri sendiri 'kan?
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Supernatural/H/C/mystery/general/romance
Warning : typo(s), AU, AT, OOC(maybe), etc.
The memories of dead stars are still shining in the sky.
Someday I, too, want to become somebody's light.
Lagi, sendirian memang sudah jadi rutinitasnya… meringkuk di pojok ruang kelasnya yang ramai dengan sebuah handphone touch screen berwarna soft pink menjadi temannya. Para guru sedang rapat dan saat ini seluruh kelas di Konoha Gakuen sedang dalam jam bebas. Kebanyakan siswa tentu saja senang dengan keadaan itu… tapi tidak dengannya.
Hal ini malah menjadi malapetaka baginya….
"Hei, gadis psycho aneh, coba kami dengar pengelihatanmu."
Seorang perempuan dengan rambut merah gelap mendekatinya, melontarkan ejekan sinis dan merendahkan. Tapi dia tetap diam, tetep menundukkan kepalanya sambil mengenggam erat handphone-nya.
"Ah~ kenapa Saku-chan? Apa sekarang mulut busukmu itu tidak bisa digunakan?"
Semakin sinis dan membakar amarah, ucapan perempuan itu sangat keterlaluan!
"Kalau kau tidak diam sekarang juga, pulang sekolah nanti… darah akan menyelimuti tubuhmu."
Kini dia mulai menjawab, mengeluarkan suara yang tenang dan pelan. Perlahan mengangkat kepalanya, wajah tanpa ekspresi dengan bagian pupil yang mengecil.
"Mana mungkin Hyuuga Sakura! Kukatakan, itu tidak akan terjadi. Mustahil! Mana mungkin aku, Karin yang cantik ini mendapat hal buruk hanya karena tidak menutup mulutku-untuk menghinamu- yang sexy."
Sakura berdiri, tetap menggenggam erat handphone-nya, melewati Karin begitu saja. Membuat sebuah kejanggalan menyelimuti seluruh kelas.
"Karin, kau cari masalah lagi dengannya?"
"Tenanglah Anko, ramalan murahan seperti itu tak akan berpengaruh padaku!"
Tertawa keras mengakhiri kalimatnya, dengan gaya angkuhnya kembali ke tempat duduknya yang berada di deretan pertama di dekat pintu.
Pure poison of the "thorns of death",
bury the eternal soul
that knows no peace.
Angin dingin menerpa wajahnya, menerbangkan helaian merah muda yang tumbuh lebat di kepalanya. Menunggu, itu yang dialakukan…
Menunggu apa?
Entahlah… dia hanya menunggu, menunggu sesuatu, atau mungkin satu-satunya hal yang mampu membuatnya bebas semantara dari beban yang hinggap dalam dirinya.
Hoshi ni yuki ni kioku ni kimi no ashiato sagasu doka towa no yasuragi koko wa yume no tochu de….
Lantunan pelan terdengar menggema dari handphone-nya, menandakan seseorang tengah menelponnya.
Membawa handphone itu kehadapan mukanya, sebuah nama tertera di layarnya, nama orang yang paling dekat dengannya hingga saat ini.
Aniki
Kakaknya, kakak sepupu lebih tepatnya… menekan 'answer' dan mengaktifkan speaker. Suara baritone yang dalam dan tenang menyapanya….
"Konnichiwa Sakura."
Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, rautnya lebih tenang dan santai.
"Konnichiwa Neji-onii-sama, bagaiamana di Paris?"
Hyuuga Neji, kakak sepupunya… umur mereka hanya berbeda 1 tahun, sekarang Neji dan keluaranya sedang membereskan beberapa urusan mereka di Paris, Prancis.
"Semua baik di sini, bagaimana denganmu?"
Selalu suara yang tenang dan kalem, begitu tegas namun lembut pada saat itu juga.
"Aku… baik-baik saja."
Neji sangat overprotective padanya, pemuda itu bahkan pernah mengeluarkan seorang siswa dari sekolah mereka karena menghina dan mengolok-oloknya habis-habisan.
"Kau tidak berbohong 'kan?"
Sakura terdiam, dalam hal seperti ini… sejujurnya dia berbohong atau tidak?
Diolok, dihina bahkan dikerjai oleh temannya memang sudah jadi bagian hidupnya sejak kecil, apakah itu membuat keadaannya tidak baik?
"Tidak, Saku tidak bohong… ne Onii-sama sudah dulu. Jyaa ne~"
Helaan nafas terdengar keluar perlahan, di masukannya handphone itu dalam saku roknya. Maju beberapa langkah dan memegang pagar kawat yang menjadi pembatas di atap.
"Apa artinya aku hidup?"
Yah… apa artinya dia hidup? Apa gunanya dia di dunia ini?
Dia Hyuuga Sakura, gadis berumur 15 tahun dengan kemampuan tambahan diluar batas nalar manusia.
Untuk apa kemampuannya? Harus digunakana untuk apa?
Sakura tidak pernah menemukan jawabannya… tidak sekalipun, semua usahanya seakan menjadi debu yang tertiup angin, tak ada gunanya.
TERRRTTTT
Handphone-nya bergetar, sebuah mail masuk…
Setidaknya memang seperti itu, mengambil handphone-nya lagi. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal.
From : +XXXXXXXXX
Have to try to break free
From the thoughts in your mind.
Use the time that you have,
You can't say goodbye,
Have to make it right.
Pesan yang ganjil, aneh…
Menatap statis layar handphone-nya, pesan yang tidak berguna.
.
.
"Aku merasa kita terus terancam belakangan ini."
Seorang pria dengan banyak perching di wajahnya memulai pembicaraan, menatap datar seluruh penghuni ruangan.
"Hn, bocah itu sepertinya juga mulai menyadari apa yang kulakukan."
Dengan wajah tak kalah datar, seorang pria dengan rambut panjang dan dua garis halus di pipinya berujar. Memainkan sebuah koin perak diantara jemarinya.
"Cih- kalau begini terus, ini sungguh tidak menyenangkan, un. Sungguh tidak berseni."
Penghuni lain dalam ruangan itu menyahut, rambut pirangnya dikuncir tunggal dan poni panjangnya menutupi mata sebelah kanannya. Semantara itu, pandangannya tetap fokus pada tanah liat yang sedang ia bentuk.
"Berhentilah bermain dengan tanah liat-mu itu."
"Ada masalah dengan ini, un?"
Yang bersangkutan mengalihkan perhatiannya, menatap kesal sosok pria berambut merah yang duduk di depannya.
"Sangat…"
Mengeluarkan tatapan mautnya, nada suaranya datar dan mengancam… dan sepertinya sebentar lagi akan terjadi perang.
"Berhenti kalian berdua. Aku tidak mau ikut-ikutan kalau sampai markas ini hancur lagi!"
Sekarang seorang pria dengan masker di wajahnya menyahut, aura pembunuh keluar dari tubuhnya. Tapi walau begitu, tetap saja tidak berpengaruh pada dua orang yang sudah sibuk bertukar deathglare.
"Sebagai sesama seniman seharusnya kalian bisa akrab."
Pria blonde yang sejak tadi sibuk dengan remote tv di tangannya ikut berkomentar.
Dan entah kenapa, bahan pembahasan mereka jadi berubah jalur. Membuat seorang-satu-satunya- wanita di ruangan itu menggeram kesal. Tangannya sudah mengepal dan siap untuk memukul meja.
"Kita ini sedang rapat! Bisa tidak kalian serius sedikit? Lihat.. Tobi, Zetsu, dan Kisame. Mereka diam saja 'kan?"
Semua terdiam, baiklah… memang seharusnya begitu 'kan?
"Kembali ke topik kita. Jadi ada yang mempunyai masukan?"
Sang leader menatap seluruh anggotanya.
"Cari paranormal saja yang bisa mengawasi dan membantu kita dari jauh."
Si blonde berkomentar seenaknya, masih sibuk menggonta-ganti saluran televise dengan remotenya.
"Aku tidak mau mengeluarkan uang untuk hal bodoh seperti itu!"
Pria dengan masker menjawab acuh.
Konan kembali menggeram, wanita berambut biru itu akhirnya berdiri. Berjalan mendekati pintu diiringi tatapan dingin dari sang leader.
"Rapat kita belum selesai."
"Dan aku sudah muak dengan rapat yang tidak jelas arahnya ini. aku mau keluar sebentar, siapa tahu menemukan sesuatu yang menarik."
Berujar sinis, wanita dengan bunga kertas sebagai hiasan rambutnya itu keluar dari ruang rapat dan membanting pintu ruang rapat dengan keras dari luar.
"Aku tidak mau ikut campur kalau sampai pintu itu rusak."
.
.
"Kalau anda mau pergi, jangan belok ke kiri. Sebentar lagi akan ada kecelakaan di sana… dan kalau seandainya anda tetap ingin ke sana… anda akan jadi salah satu korbannya."
Menengok ke sebelahnya, seorang gadis berambut pink dengan atasan kaos berlengan panjang berwarna putih dengan rok jeans di atas lutut. Neckbelt hitam, kalung perak dan gelang dengan leontin tengkorok menjadi aksesorisnya. Penampilan yang terkesan gothic dan 'kelam'.
"Apa… maksudmu?"
Gadis itu tidak menjawab, matanya menatap lurus rambu-rambu lalu lintas yang ada di tengah pertigaan.
"Percayalah padaku…"
Kini sepasang emerald menatapnya, dingin terkesan begitu gelap, gelap yang pekat.
"Aku juga tidak terlalu terburu-buru, mari buktikan ucapanmu."
"Namaku Kamioru Konan, namamu?"
Gadis itu mengembalikan objek pandangnya, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya yang seputih porselen.
"Hyuuga Sakura."
.
.
Dilaporkan, kemarin sore terjadi kecelakan di sekitar pertigaan Kota Konoha. Denga korban seorang gadis bernama Aizawa Karin(15) meninggal ditempat dengan keadaan yang mengenaskan.
.
Konan menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya, tapi setelah itu… sebuah senyuaman terpasang lebar di wajahnya.
"Pein, aku sudah dapatkan solusi."
Berbisik dalam keheningan, teman-temannya sedang pergi keluar menjalankan tugas masing-masing. Mengambil handphone merah maron diatas meja.
Mengetik sebuah message singkat dan mengirimnya.
.
From : Konan Akatsuki
Sakura, bagaimana tawaranku?
Deal or not?
.
.
+To Be Continued
Request by Hatake HaDei-chan un, semoga Dei suka XD
Dan, hontou ni gomen… DX maaf banget baru sekarang saya kabulkan request-nya -.-a*pundung*
Udah kayanya gaje lagi xd sungguh maafkan diriku kalau Dei kurang puas, :(
Ne, maaf kalau ada yang kurang berkenan dalam fic ini.
Boleh minta reviewnya? *langsung kabur*
