swaggysuga presents…
.
.
.
I Keep This Love For You
Casts: Kim Namjoon / Kim Seokjin / Kim Taehyung
T to T+ / Namjin
GS!Seokjin
Twoshots
Especially made for yeolliepoppo (this GS story is for you my bestie!)
Enjoy!
.
.
.
Seorang pemuda menjejakkan kaki di tempat yang kembali asing baginya.
Pemuda itu sampai di sebuah tanah lapang. Di tangannya ada sebuah koper berwarna cokelat dan ransel bertengger di pundaknya. Ia mengedarkan pandangan. Mata kecilnya menangkap berbagai macam kandang yang tak terurus, tanah yang sudah terabaikan, dan sebuah rumah mungil terbuat dari kayu. Kolam ikan mungil menghiasi tanah tersebut, dengan sebuah pohon rindang menaunginya.
"Bagaimana, Kim Namjoon?"
Kim Namjoon, nama pemuda yang dipenuhi rasa penasaran itu. Ia menoleh kepada sang Walikota yang kini berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
"Semenjak kau meninggalkan desa ini dan kembali ke kota, Kakekmu mengurus semuanya sendirian. Sekarang, karena Kakekmu sudah tiada, maka otomatis peternakan dan ladang ini menjadi tanggungjawabmu."
Namjoon mengangguk, belum berniat untuk menanggapi lebih lanjut.
"Pasti berat ya, karena harus beralih dari kehidupan kota ke kehidupan desa?"
"Tidak juga, Pak Walikota. Aku senang bisa bertemu teman-temanku dulu. Yah… meskipun aku mungkin lupa-lupa ingat akan mereka," Namjoon terkekeh.
"Omong-omong, kau mau bertemu dulu dengan warga sekitar? Biar kuantar."
"Boleh saja, Pak Walikota. Biar kumasukkan dulu barang-barangku ke dalam rumah."
Setelah Namjoon memasukkan barang-barangnya ke rumah, ia kembali kepada Walikota dan berjalan mengelilingi desa dengan beliau. Banyak di antara mereka yang masih mengingatnya, Park Jimin si asisten pandai besi, Jeon Wonwoo yang kini menjadi dokter di klinik kecil, Hong Jisoo yang sudah berstatus sebagai Pastor dan warga-warga lainnya yang kaget melihatnya tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan dewasa.
"Akhirnya, sampai di rumah terakhir."
Namjoon dan sang Walikota berjalan ke sebuah rumah yang dikelilingi oleh peternakan ayam. Dengan hati-hati Namjoon melangkah agar kakinya tidak mengenai salah satu ayam yang berkeliaran di halaman rumah itu. Mereka lalu mendapati seorang pemuda yang sedang mengurus salah satu ayam di halaman.
"Selamat siang, Kim Taehyung!"
Pemuda yang dipanggil menoleh. Senyumnya langsung melebar ketika melihat kehadiran sang Walikota. Ia membungkuk untuk memberi hormat.
"Selamat siang, Pak Walikota! Wah, rasanya senang sekali karena Walikota datang kemari," ujar pemuda bernama Kim Taehyung itu ramah. "Apakah anda sudah berminat untuk memelihara ayam sekarang?"
"Ah, aku belum mempunyai lahan yang cukup untuk memelihara ayam," balas sang Walikota sambil tertawa. "Aku mau memperkenalkanmu kepada warga baru di desa ini. Kemarilah, Namjoon."
Namjoon beranjak dan membungkuk ke arah Taehyung, yang dibalas dengan aksi serupa oleh pemuda itu. "Selamat siang, namaku Kim Taehyung."
"Kim Namjoon," lelaki itu membalas singkat sambil tersenyum.
"Wah, marga kita sama!" Taehyung menjawab girang. "Apa kau pemuda yang dibicarakan oleh warga disini, yang akan mengurus peternakan dan ladang milik Kakek Kim?"
Namjoon terkikik dalam hati melihat pemuda di hadapannya ini. "Ya, itu aku. Mohon bantuannya, ya."
"Apa kau lebih tua dariku?"
"Usiaku 23 sekarang."
Taehyung manggut-manggut. "Berarti aku harus memanggilmu hyung. Namjoon hyung, apakah kau mau mampir ke rumahku?" tiba-tiba Taehyung merasa akrab dengan pemuda itu.
"Mungkin lain kali, banyak yang harus kuperiksa dan kubereskan. Maklum, ladang dan peternakan Kakekku sudah lama sekali tak terurus. Jika ada waktu luang, aku berjanji akan kembali kemari," ujar Namjoon penuh sesal.
"Tidak apa. Kau bisa kemari kapan saja, terutama ketika kau ingin membeli segala sesuatu yang berhubungan dengan unggas."
"Baiklah… kalau begitu kami pamit dulu, Taehyung. Omong-omong, tolong sampaikan kepada Kakakmu agar dia datang ke Perpustakaan hari ini. Buku yang dicarinya sudah ditemukan oleh Yoongi," tutup Walikota.
"Baik, akan aku sampaikan. Hati-hati di jalan Walikota, Namjoon hyung."
Namjoon dan Walikota beranjak dan kembali ke rumah Namjoon yang terletak tak jauh dari peternakan ayam milik Taehyung. Di depan rumah Namjoon, Walikota berpesan,
"Jika ada kesulitan, jangan ragu hubungi siapapun di desa ini. Mereka semua baik hati dan pasti akan menolongmu jika kau membutuhkan."
"Terima kasih banyak, Pak Walikota. Hati-hati di jalan."
Tatapan Namjoon mengikuti pria yang sudah berumur dan bertubuh gempal itu sampai beliau menghilang dari pandangannya. Ia lalu masuk ke dalam rumah disambut oleh debu-debu yang beterbangan ketika ia membuka pintu.
"Uhukkk!" Namjoon terbatuk. "Debunya luar biasa."
Ia maklum, Kakeknya sudah tiada sebulan lalu. Wajar kalau rumahnya berdebu. Namun rumah itu tetap tampak apik dengan sebuah tempat tidur single di pojokan, lemari buku kecil, televisi dan meja kecil serta kursi di tengah ruangan. Peti-peti kecil yang dia tak tahu apa isinya terletak di salah satu sisi ruangan. Kamar mandi mungil terletak di sisi lain ruangan.
Tak ingin terkena infeksi saluran pernapasan, segera Namjoon menyapu lantai, membersihkan semua debu dengan kemoceng dan lap lalu mengepel lantai. Ia mengganti sprei dan berbaring di atas kasur mungilnya.
"Melelahkan juga… tapi aku tidak boleh menyerah. Setelah beristirahat sebentar, aku akan mengecek kandang ayam, kandang sapi, dan mungkin ada kandang kuda?" Namjoon berdialog dengan dirinya sendiri. "Belum lagi harus mengurus ladang… ya ampun, memikirkannya saja sudah membuat stress. Sudah, sudah, sekarang kau harus tidur."
Namjoon memejamkan matanya, berusaha melupakan sejenak semua yang harus dikerjakannya nanti sore.
—I Keep This Love for You—
Tangan Namjoon mengusap bulir keringat di keningnya. Ia sudah mengecek semua kandang yang kondisinya jauh lebih parah dari rumahnya. Alhasil ia harus kerja bakti demi membersihkan kandang ayam, sapi dan domba, serta kuda. Beruntung salah satu warga yang biasa mengambil barang hasil panen atau ternak datang dan bersedia membantunya. Pemuda itu bernama Jung Hoseok.
"Namjoon-ssi, sehabis ini anda harus beristirahat. Anda bisa bersantai di bar milik Jinhee ahjussi. Barnya buka sampai jam delapan malam," Hoseok memberi saran kepada Namjoon.
"Ide bagus Hoseok-ssi, apakah anda mau menemaniku kesana? Akan kutraktir sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantuku membersihkan ladang dan kandang-kandangku."
"Baiklah, kita bertemu di bar jam setengah tujuh malam. Sekarang aku mau mandi, tubuhku pasti bau sekali," Hoseok berkelakar.
"Oke, sampai bertemu nanti malam."
Hoseok lalu pulang. Namjoon pun kembali ke rumahnya, mandi dan menonton televisi sambil menulis sesuatu di catatannya tentang betapa lelah dirinya hari ini. Ia duduk sambil menonton ramalan cuaca yang membosankan.
"Besok berawan dan berpotensi hujan? Padahal besok aku mau membersihkan ladang," keluh Namjoon. "Kalau begitu aku mungkin akan membeli beberapa ayam, sapi dan domba besok."
Namjoon memutar otak untuk mengatur uang yang dimilikinya, dituangkan ke buku catatannya jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli semua kebutuhannya.
Tak terasa, waktu bergulir. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh. Namjoon menepuk keningnya pelan.
"Hampir aku lupa bahwa aku ada janji dengan Hoseok."
Cepat-cepat Namjoon menyambar celana jeans-nya dan memakainya, lalu mengambil jaketnya dan segera pergi dari rumahnya menuju bar. Ia mengingat-ingat posisi bar yang tadi siang dilewatinya bersama Walikota, beruntung dirinya tidak salah jalan.
Ketika masuk ke dalam, bar ini jauh dari kata remang-remang, kelap-kelip lampu disko atau hal-hal yang biasa ditemuinya di kota. Bar ini tampak seperti tempat berkumpul, dengan beberapa lelaki serta pemuda memenuhi mejanya. Mereka tampak bersenda gurau, mengobrol ngalor ngidul seolah tak ada pembatas di antara mereka. Suasana yang sangat hangat dan jarang dilihatnya ketika ia tinggal di kota. Tak ada bartender, yang ada hanya seorang perempuan dan lelaki yang agak berumur di kasir.
"Namjoon-ssi! Kemarilah!"
Hoseok melambaikan tangannya dari salah satu meja di ujung bar. Ia duduk sendirian. Namjoon langsung duduk di seberang Hoseok.
"Sudah lama, Hoseok-ssi?"
"Baru saja sampai. Kau mau pesan apa? Tapi disini mungkin tidak ada minuman yang berkualitas tinggi seperti di kota."
"Samakan saja denganmu. Aku kurang paham dengan jenis minuman disini," Namjoon menyamankan posisi duduknya.
Hoseok lalu menuju ke arah kasir, dan kembali dengan membawa sebotol grape liquor dan dua gelas di tangannya. Ia menuangkan sedikit grape liquor ke dalam gelas Namjoon, lalu ke gelasnya dan mengadukan gelas mereka sambil berkata,
"Cheers."
Namjoon menyesap grape liquor itu dengan khidmat. Rasanya semua rasa penatnya melayang begitu saja.
"Kau sudah bertemu siapa saja di desa ini?" tanya Hoseok.
"Hampir semua, kecuali beberapa orang yang memang tidak ada di rumah ketika aku berkunjung, termasuk kau yang sedang pergi ke kota untuk membawa hasil panen dari desa."
"Apa kau sudah menemukan wanita yang menarik?"
"He?" Namjoon menatap Hoseok heran. "Wanita… selain perawat, penjaga perpustakaan, putri pemilik supermarket, dan wanita di bar ini, aku tak melihat wanita lainnya. Apakah cucu dari kakek pemilik peternakan sapi dan domba itu termasuk?"
"Hahaha, tentu saja tidak, dia masih bocah. Kalau kau baru menyebutkan mereka… berarti kau belum bertemu yang satu itu."
"Siapapun dia, aku sedang tidak tertarik untuk mencari wanita di desa ini," tegas Namjoon sambil mengedikkan bahu.
Seketika perhatian mereka teralihkan ketika seseorang datang sambil berbicara cepat serta tampak sangat ceria. Pemuda itu menyapa semua orang disana, yang dibalas oleh orang-orang itu sama cerianya. Tampaknya ia adalah pemuda favorit desa, calon menantu idaman semua ahjussi untuk putrinya.
"Kim Taehyung?" gumam Namjoon.
Hoseok menatap Namjoon penuh selidik. "Kau sudah mengenalnya? Aneh kalau kau belum mengenal kakaknya."
"Kakaknya?" Namjoon mengingat-ingat peristiwa ketika ia berkenalan dengan warga tadi siang. "Rasanya Walikota tadi menyebut-nyebut tentang kakaknya, tapi kakaknya sedang tidak ada di rumah."
Namjoon memperhatikan Taehyung, dilihatnya Taehyung sedang memesan makanan kepada pria yang ada di kasir. Ia berbincang akrab dengan pria itu sampai makanannya datang.
"Sebentar lagi kau akan bertemu kakaknya."
"Kau yakin sekali," ujar Namjoon.
"Seribu persen yakin. Sudah, percaya saja padaku."
Namjoon dan Hoseok kembali asyik dengan perbincangan ringan sampai bunyi pintu yang dibuka kasar kembali menarik atensi mereka. Seorang perempuan cantik berambut panjang bergelombang dan berwarna merah muda datang dengan tiba-tiba sambil mengangkat rok panjangnya sampai sebatas lutut.
"Taehyung! Sudah berkali-kali kukatakan agar kau makan malam di rumah!" suaranya melengking.
Taehyung protes. "Tapi noona, aku bahkan sudah mengurangi makan di bar, sekarang hanya seminggu sekali!"
"Astaga, kau membuat tekanan darahku naik," gadis muda itu memijat keningnya. "Jinhee-ssi, sudah kukatakan agar tidak membiarkan Taehyung makan disini. Bukan apa-apa, aku tidak mau Taehyung disebut sebagai anak sekolah yang suka main ke bar."
"Seokjinku yang manis, siapapun tahu bahwa adikmu anak yang baik. Mereka tak akan berpikiran macam-macam kepadanya. Jangan terlalu khawatir," Jinhee berujar sambil mengelap gelas di tangannya.
"Tuh kan, apa kubilang," gumam Hoseok kepada Namjoon.
Kawan barunya itu tidak memberi respon apapaun. Hoseok menatap Namjoon yang terpaku kepada wanita itu. Tampaknya teman baruku ini sedang terpesona, batinnya. Faktanya Namjoon hanya terkejut dengan kehadiran wanita yang sangat berisik itu di bar. Sayangnya Hoseok salah mengartikan pandangannya.
Seruan Hoseok menggema, "Seokjin noona, bagaimana kalau kau duduk dulu disini? Bersantailah sejenak, abaikan saja bocah itu."
Wanita itu melihat ke arah Hoseok dan Namjoon. "Oh, kau disini Hoseok."
Tanpa canggung, wanita bernama Seokjin itu menghampiri meja mereka dan mengambil posisi di samping Namjoon. Namun nampaknya ia tidak menyadari kehadiran Namjoon disana. Sementara Namjoon masih terperangah dengan sikap Seokjin yang menurutnya sedikit barbar untuk ukuran wanita berparas cantik sepertinya.
"Kau tahu kan aku paling tidak suka melihat Taehyung berada di tempat ini? Dia masih di bawah umur, tidak baik jika orang melihatnya keluar masuk bar. Aku paham kalau dia kemari untuk masakan Jungkook yang memang luar biasa enak, tapi kan dia harus tetap menjaga dirinya sendiri," keluh Seokjin panjang lebar. Ia lalu merebut gelas Hoseok, menuangkan grape liquor dan menenggaknya kasar.
Hoseok menepuk pundak Seokjin. "Sabarlah, noona. Selama Taehyung tidak melakukan apa-apa, kau tidak perlu khawatir."
"Yah… mungkin itu yang dinamakan naluri seorang kakak," timpalnya. Matanya kemudian melirik Namjoon dan membuatnya menyadari ada orang asing di dekatnya.
"Ah, kau teman Hoseok? Maaf kalau aku mengabaikanmu, dan juga mengganggu waktu kalian," suaranya berubah lembut, menyapa telinga Namjoon dan langsung merasuk ke jantungnya. Bukankah gadis ini tadi barbar sekali?
"A-a-b-bukan, eh, iya, aku teman Hoseok, lebih tepatnya… warga baru disini," Namjoon mendadak gelagapan.
"Dia cucu dari kakek Kim, pemilik ladang dan peternakan di dekat rumahmu, noona," jelas Hoseok.
Seokjin mengangguk tenang. "Salam kenal, aku Kim Seokjin, kakak Taehyung. Maaf kalau aku membuatmu terkejut, aku tidak semengerikan yang kau lihat tadi kok," katanya sambil tersenyum sangat manis.
Namjoon menelan ludahnya, astaga, wanita ini adalah representasi dewi yang nyata.
"Hei, kau tidak mau membalas salam Seokjin noona?"
Seolah tersadar dari mimpi, Namjoon langsung berseru, "Salam kenal, namaku Kim Namjoon! Mohon bantuannya!"
Seketika semua mata tertuju kepadanya. Namjoon berusaha menahan malu karena kelepasan seperti itu, wajahnya merah padam. Seokjin terkekeh melihat perilaku Namjoon.
"Kau lucu sekali," Seokjin masih tertawa. "Kim Namjoon."
Siapapun tolong kubur Namjoon dalam-dalam di tanah.
—I Keep This Love for You—
Setelah pertemuannya dengan Seokjin di bar, Namjoon selalu terbayang akan gadis itu. Ia sampai salah memotong rumput dan membuat sabitnya hampir mengenai kakinya sendiri karena kurang konsentrasi.
Namjoon menengadahkan kepalanya. Langit berawan, persis seperti prakiraan cuaca kemarin. Tiga perempat ladangnya sudah bersih. Ia memutuskan untuk pergi ke supermarket demi membeli bibit tanaman dan kepada pedagang ternak untuk membeli ayam, sapi dan domba.
Pertama, ia pergi ke supermarket, lalu setelahnya ia mengunjungi kakek pemilik ternak sapi dan domba. Namjoon membeli satu sapi dan dua domba, juga beberapa karung pakan untuk tiga ternak barunya. Ia membayarkan sejumlah uang, dan sang kakek berkata bahwa cucunya akan mengantarkan semua pesanannya sore hari nanti. Maka Namjoon menghaturkan terima kasih dan beralih ke peternak ayam, yang tak lain tak bukan adalah keluarga Kim.
Namjoon berjalan perlahan, mencoba menenangkan hatinya yang berdegup karena kembali teringat kepada senyuman dan suara halus Seokjin. Namun ia menguatkan diri, meyakini bahwa dirinya adalah pria tangguh nan perkasa yang harus berani menghadapi semua resiko.
Namjoon melihat ke halaman, tidak ada siapapun di sana. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah mereka, sesaat terdengar suara langkah kaki dari dalam.
Pintu rumah terbuka, menampilkan seorang wanita berambut merah muda. Bukan Seokjin, wanita ini lebih tua dan memiliki wajah yang serupa dengan Seokjin.
"Ada perlu apa, ya?" tanyanya ramah.
"Ehm, aku mau membeli beberapa ayam," jawabnya canggung.
"Tolong tunggu sebentar, ya. Aku tidak paham masalah makhluk-makhluk petelur ini, biar anakku yang akan menjelaskannya padamu," wanita itu berlalu dan memanggil anaknya.
Namjoon langsung terkesiap melihat sosok yang muncul dari balik pintu.
"Namjoon-ssi?"
Hampir saja Namjoon kabur karena terlalu gugup. Namun harga dirinya sebagai pria gagah perkasa tak terkalahkan membuatnya tetap memaku diri di hadapan wanita yang, anehnya jika di hadapannya bersuara lembut itu. Itu Seokjin, yang sedang memandanginya, menunggu sahutan dari Namjoon.
"Hai, Seokjin-ssi. Aku mau membeli beberapa ayam dan makanannya, apakah kau bisa membantuku?" Namjoon berbicara tenang, padahal jantungnya sudah bertalu-talu.
"Tentu saja! Kami punya ayam petelur terbaik di desa ini. Ayo ikut aku ke kandang, kau bisa mencari ayam yang kau mau. Percaya atau tidak, terkadang kita punya chemistry dengan ayam yang cocok," Seokjin menyambut antusias.
Namjoon mengernyit, kalau chemistry dengan gadis ini ada, kalau dengan ayam? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Kakinya terus berjalan mengikuti Seokjin ke kandang ayam yang besar. Suara kotek-kotek ayam langsung menyambut mereka. Seokjin mengangkat salah satu ayam dengan kedua tangannya.
"Coba kau ambil salah satu ayam disini."
Mata Namjoon memindai satu persatu ayam disitu. Ia menggaruk kepalanya, dalam pandangannya semua ayam disini sama saja, sehingga ia memutuskan untuk mengangkat salah satu ayam yang berbulu putih dan ekornya indah. Ayam itu tampak tenang berada di gendongannya. Lucunya, Namjoon merasa ada ikatan yang mendadak terjalin dengan hewan petelur itu.
"Kau mau yang itu?"
"Ya… kurasa aku akan mengambil yang satu ini. Mungkin aku akan mengambil satu ayam lagi?"
"Oke, biar kupegang ayam yang kau pilih."
Seokjin meletakkan ayam di tangannya dan menjulurkan kedua tangannya, hendak mengambil ayam di tangan Namjoon. Pemuda itu memberikan ayam itu seperti memberi bayi. Kulit mereka sedikit bersentuhan, membuat Namjoon mendadak merasa seperti diberi efek kejut di dadanya. Sementara Seokjin tampak biasa-biasa saja.
Namjoon lalu sibuk mencari seekor ayam lagi. Dan dia mengambil lagi seekor ayam. Mereka keluar dari kandang sambil memegang ayam di tangan masing-masing.
"Sekarang kau harus beri nama."
"Beri nama?!" Namjoon kembali terkejut dengan kadar keanehan gadis ini. Benar-benar orang yang absurd. Gadis itu hanya membalas dengan anggukan cepat.
"Uh… Chika? Dan, Chiki?"
"Chika dan Chiki?" Seokjin terkekeh geli. "Nama yang lucu. Baiklah, Chika dan Chiki. Apa kau butuh makanan untuk mereka?"
"Pasti, tolong berikan satu karung saja dulu. Kalau kurang aku bisa kembali lagi kemari," dan bertemu denganmu wahai Seokjin-ssi yang cantik.
"Baiklah. Biar nanti Taehyung yang mengantarkan makanannya ke rumahmu. Sekarang kita ke bawa ayam ini ke rumahmu ya."
"Oke—eh, kita?" Namjoon ingin memastikan bahwa dirinya tak salah dengar.
"Iya, kau tak mungkin membawa kedua ayam ini dengan tanganmu sendiri, kan? Biar aku membantumu, sekaligus untuk menjelaskan cara merawat ayam-ayam ini."
Namjoon mengangguk, ia mengikuti Seokjin yang berjalan lincah meskipun tampak kewalahan karena rok panjangnya yang seringkali menghalangi langkahnya. Rambut merah mudanya yang bergelombang tergerai indah, membuat Namjoon yang berjalan beriringan dengannya mati-matian menahan diri karena ingin sekali membelainya.
Sesampainya di kandang ayam, Seokjin meletakkan ayamnya di lantai kandang, diikuti oleh Namjoon. Sejujurnya Namjoon merasa canggung berada di dekat Seokjin, apalagi hanya berdua di tempat tertutup seperti ini. Namun lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum ceria dan mengabaikan Namjoon yang kaku seperti bihun mentah.
Seokjin menunjuk salah satu kotak panjang yang dibagi dengan sekat-sekat. "Kau bisa meletakkan pakan di tempat ini. Setiap hari, kau harus memberi mereka pakan. Kau juga harus membawa mereka ke halaman, tapi kau tetap harus menjaganya dari serangan binatang-binatang liar. Dan yang paling penting, jaga mood mereka dengan baik, karena jika mereka uring-uringan, mereka akan mudah jatuh sakit, bahkan mati."
Suara lembut Seokjin seperti alunan melodi yang disusun indah membuai telinga Namjoon. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk saja, menikmati halusnya suara gadis cantik di hadapannya.
"Karena aku sudah menjelaskan hampir semua dari yang kau butuhkan, kurasa aku bisa pulang sekarang. Jika ada yang kau butuhkan, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Aku pamit dulu, Namjoon-ssi."
"Terima kasih banyak untuk bantuanmu, hati-hati di jalan, Seokjin-ssi."
Seokjin mengangguk dan sekali lagi menyunggingkan senyuman yang mempesona. Ia melambaikan tangannya kepada kedua ayam Namjoon. "Sampai bertemu lagi, Chika dan Chiki!"
Ayam-ayam lucu itu seolah menyahut perkataan Seokjin. Gadis itu kemudian berlalu dari pandangan Namjoon, meninggalkan dirinya bersama degupan jantung yang tak kunjung mendamai. Ia melirik kedua ayamnya.
"Welcome to our house, Chika, Chiki," monolognya kepada kedua ayam itu.
—I Keep This Love for You—
"Apa? Kau tertarik padanya?"
Namjoon hanya diam,wajahnya memberengut kesal. "Kan aku sudah bilang tadi. Kenapa kau harus mengulangnya sih?"
Setelah seminggu, Namjoon baru berani bercerita kepada Hoseok perihal ketertarikannya kepada Seokjin. Hari sudah mulai senja ketika mereka berbagi cerita sambil duduk di pinggir aliran sungai dekat rumah Namjoon. Pemuda pemilik wajah sumringah itu menyambutnya statement Namjoon riang.
"Kau menyukainya dan kau hanya mengurung diri di ladang ini selama seminggu tanpa melakukan apa-apa? Astaga, benar-benar," Hoseok menggeleng.
"Aku belum mengenalnya, mana mungkin langsung sok akrab begitu saja," Namjoon memainkan air sungai dengan kakinya.
"Omong-omong, kau punya saingan bernama Jongin. Dia biasanya datang setiap musim panas dan tinggal di pantai dekat alun-alun desa. Musim panas sebentar lagi, kau sebaiknya bergegas dan membuat Seokjin tertarik padamu lebih dulu dari si hitam itu," Hoseok membocorkan informasi.
"Sebenarnya… ada yang mengganjal pikiranku," helaan nafas Namjoon terdengar. "Dulu aku menyukai seorang anak perempuan di desa ini. Aku berjanji akan menemuinya lagi jika aku kembali dan akan menikahinya, tapi aku bahkan tak tahu namanya."
Hoseok tertawa keras sampai harus memegangi perutnya. "Kau masih menyimpan janji seperti itu?! Bahkan kau mengatakannya ketika kau masih beringus, tapi kau memikirkannya serius sekali. Aku bahkan yakin kau tidak tahu apa arti kata pernikahan saat itu."
"Tapi… aku takut dia menungguku dan kecewa kepadaku karena aku tak mengingatnya."
"Apakah kau memberitahu namamu kepadanya?"
"Ya, aku memberitahunya."
"Seharusnya kalau kau memberitahunya, dia akan segera datang dan mengaku ketika mendengar kau ada di desa ini," ujar Hoseok.
Namjoon mengangguk, benar juga apa kata Hoseok. "Jangan-jangan dia sudah pindah?"
Sejenak Hoseok berpikir. "Tidak ada anak perempuan di desa ini yang pergi dari desa. Semuanya tumbuh besar disini."
"Kau yakin? Kalau begitu, seharusnya cepat atau lambat dia akan menampakkan batang hidungnya. Kecuali... kalau ia sudah bersuami," Namjoon bergidik.
"Haaah… aku baru dengar ada orang yang percaya pada janji masa kecil. Dengar ya, gadis itu pasti sudah lupa dengan janji recehmu itu. Kau fokus saja dengan Seokjin, tarik perhatiannya semaksimal mungkin."
Saran Hoseok nampaknya bisa masuk di akal Namjoon. Pemuda itu mengusak wajahnya, lelah memikirkan semua kerumitan ini. Temannya benar, seharusnya ia lupakan saja semua janji masa kecilnya itu. Ia mulai meragu apakah gadis di masa lalunya itu akan tetap mengingat dan memegang janjinya.
—I Keep This Love for You—
Namjoon sudah selesai mengurus semua ternak dan ladangnya. Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak, menyapa alam. Pemuda tampan itu mulai berjalan ke arah barat. Seingatnya, ada danau, hutan dan bukit jika ia berjalan ke barat.
Bunga-bunga liar yang indah menyambutnya ketika ia tiba di hutan. Ia menatap salah satu pohon, menghampirinya dan mengusap pohon yang berdiri kokoh itu. Sejenak, janjinya dengan gadis itu terputar jelas seperti film di kepalanya.
"Kamu benar-benar akan kembali kemari?"
Namjoon mengangguk. "Ya, aku akan kembali. Ketika aku kembali, aku akan meminta pastor untuk menikahkan kita. Seperti Ahjussi dan Ahjumma yang tadi," Namjoon mengulas kejadian yang tadi dilihatnya di Gereja.
"Janji?" gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya.
Namjoon yang masih bocah menyambut uluran jari kelingking gadis itu dan menautkannya dengan miliknya.
"Janji! Tunggu aku, ya!"
Senyum gadis itu masih terpatri jelas di benak Namjoon. Namun tidak ada satupun senyum serupa ditemuinya di wajah para perempuan yang tinggal di desa. Namjoon lalu tersenyum, berpikir bahwa sebaiknya ia merelakan semua kilas balik itu sebagai memori yang indah. Namjoon pun membalikkan tubuh, dan memetik beberapa kuntum bunga berwarna kuning, berniat untuk memberikannya kepada Seokjin yang jelas sudah memikat hatinya.
Ia melangkah menyusuri jalan setapak sambil bersiul. Ketika Namjoon berada di daerah pemandian air panas, telinganya menangkap suara-suara samar, membuat langkahnya terhenti sejenak. Diliriknya kedua gadis yang sosoknya ia ingat betul, yaitu Yoongi dan Jungkook. Mereka sedang berbincang di tepi aliran air terjun.
"Aku tidak yakin ia akan mengingatnya. Toh, itu hanya janji masa kecil."
Janji masa kecil? Namjoon semakin menajamkan telinganya, penasaran dengan percakapan keduanya sembari terus bersembunyi di balik semak-semak.
"Kenapa kau tidak coba bicara dengannya dulu, Yoongi? Siapa tahu ia masih memegang janjinya, dan bersedia menikahimu jika ia tahu kau masih menunggunya," ujar Jungkook.
"Tapi... semua itu tidak mungkin sekarang, Jungkook. Keadaannya sudah berbeda."
"Kurasa ada baiknya agar kau tetap menyatakan perasaanmu. Sekarang ayo kita kembali, kau harus menjaga perpustakaan, selain itu aku yakin Ayah sedang kelimpungan menghadapi tamu di restoran dan penginapannya," Jungkook terkekeh geli.
"Iya, terima kasih sudah menemaniku mengobrol."
Sementara kedua gadis itu pergi, Namjoon terpaku di tempat. Apakah gadis yang dulu dijanjikan untuk dinikahinya adalah Yoongi, si pendiam penjaga perpustakaan? Kalau bukan, mengapa ceritanya terasa cocok dengan kisahnya?
Entah mengapa hatinya terdorong untuk memastikannya kepada Yoongi, namun sekali lagi keraguan menyergapnya.
Ia menghela nafas, kenapa semua ini terjadi ketika ia mulai yakin kepada Seokjin?
TBC
.
Hai hai! FF ini dibuat khusus buat para Namjin shipper, umat penikmat fanfic BTS dan yeollipoppo (tuh udah gue bikin ngek GSnya, ahaha). Dilatarbelakangi oleh cerita Harvest Moon karena kerinduan penulis yang berlebayan kepada game jaman SD itu, dengan harapan readernim akan membaca sembari bernostalgia. Cerita ini aku buat twoshots karena kalau oneshot kepanjangan. ^^
Fav, follow and review juseyo!
