Hidupmu bukanlah di siang hari…
Pemuda berambut pirang mengelap keringat yang mengucur deras dari tubuhnya.
Maka bangkitlah kau ketika Sang Surya tenggelam…
Pemuda itu semakin gelisah dan keringat semakin deras mengalir dari tubuhnya
Dan ketika ia bangkit kembali…
Minatoo!
"Fuah!" pemuda bernama Minato itu terbangun dari mimpinya dan terlihat keringat membasahi seluruh tubuhnya seakan akan ia baru saja mandi. "Oke, dimana kita sekarang?"
Minato melihat sekelilingnya dan mencari tahu keberadaanya saat ini. Dan ia baru saja tersadar bahwa ia sedang menggantung bak kelelawar tidur disebuah cabang pohon yang cukup besar dan kuat untuk menahan berat tubuhnya.
"Celaka! Dimana aku ini sebenarnya?" teriak Minato ditengah hutan rimba dan sontak membuat burung-burung yang semula bertengger kini beterbangan.
Waktu menunjukan jam 12 siang ketika minato telah sampai di Apartement miliknya. Badannya terlalu lelah sehingga ia tidak dapat pergi kekantornya untuk bekerja. Mungkin bolos sehari dua hari tidak apa baginya mengingat ia adalah seorang pekerja terpercaya disebuah perusahaannya bekerja kini. Minato Namikaze, pergi dari keluarganya dan tentu ia kehilangan kesempatan untuk menjadi Direktur diperusahaan keluarganya yaitu Namikaze Group setelah ia mendapatkan sebuah 'hadiah' dari seseorang yang tidak dikenalnya dulu.
"ah, mengapa nasibku sangat sial seperti ini? Oh Kami-sama dapatkah hari ini menjadi lebih buruk lagi?" dan tak lama kemudian Minato mendengar tetangga disebelah kamarnya bergosip tentang sesuatu.
"kau tahu tidak? Semalam aku melihat seseorang dibalik jendela kamarku."
"lalu apa yang terjadi?" lawan bicaranya menanggapi
"tentu saja aku ketakutan, tetapi ketika aku membuka jendela dekat kamarku…" dia sengaja menggantung kalimatnya. "tidak ada siapa siapa. Padahal aku yakin ada seseorang karena aku mekihat bayangannya langsung."
"ah mungkin saja dia melompat pergi dari tempatmu" lawan bicaranya menanggapi lagi
"mungkin saja, tetapi siapa orang gila yang mau lompat dari lantai 3 hah?"
Mendengar percakapan yang tak sengaja ia dengar membuat ia ingat sebuah kekuatan sekaligus kutukan yang diberikan oleh seseorang. Setelah kejadian itu ia selalu mendapatkan mimpi buruk, pendengaran meningkat, serta matanya menjadi agresif pada setiap pergerakan kecil disekitarnya dan buruknya lagi, ia menjadi sangat agresif dimalam hari ketika matahari sudah tenggelam. Ketika malam tiba Minato mendapatkan kekuatan yang sangat besar dan entah mengapa segala keletihan yang ia rasakan pada siang hari lenyap begitu saja dan langsung bertenaga.
"oh tuhan, aku harus mengontrol diri hari ini." Lalu Minato sempat berfikir sesaat. "yosh, hari ini aku akan melatih diriku agar tidak kehilangan kendali lagi!" dan jika diingat-ingat semalam Minato berlari lari tanpa arah sehingga ia mendapati dirinya menggantung di salah satu cabang pohon di dalam hutan.
Pada Malam Harinya…
Terdapat seorang wanita berambut merah darah sepinggang sedang berjalan secara tergesa-gesa seakan akan ia akan mati hari ini. Sesekali ia menengok kebelakang memastikan sesuatu dan benar saja terdapat sekelompok orang yang berjumlah 7 orang mengikutinya dari tadi sontak membuat wanita tersebut berlari tanpa arah.
Dia berhenti disalah satu gang sempit, berharap ia bisa bersembunyi dari para penguntit itu. Ia menyenderkan punggungnya pada tembok dan terjatuh dengan suara yang pelan menandakan bahwa ia sangat lelah, tentu saja lelah karena ia habis berlari sejauh 10 kilometer dalam waktu 15 non-stop. Ia memejamkan matanya untuk sesaat sebelum ia mendengar…
"bos, aku menemukannya!"
"asik! Hari ini kita makan enak!" teriak seseorang berbadan besar yang ia yakini bahwa ia bosnya. "sebaiknya kalian menyingkir! Yang ini punyaku." Ia menatap wanita itu dengan ekspresi mesumnya
"oh ayolah, bos, kita hanya ingin merasakannya walau hanya sesaat." Rengek salah satu anak buahnya.
"tidak! Sekali tidak tetap TIDAK!" dia sengaja menekankan kata 'tidak' sekaligus memandang anak buahnya itu dengan tatapan mentimidasi yang seakan-akan berkata 'pergilah jika kau tidak mau mendengarkanku atau aku yang akan memakanmu!'
Mendengar si bos berkata seperti itu maka anak buah itu pergi sambil mengumpat-umpat tidak jelas.
"dasar tidak berguna.". "baiklah sekar…" belum selesai si bos menyelesaikan kalimatnya ia sudah terpental sejauh 3 meter kebelakang setelah dipukul oleh 'mangsanya'
"tidak ada seorang pun dari kalian akan menyentuhku dan aku pastikan kalian tidak melihat hari esok lagi –ttebane!" teriak wanita tersebut dan sontak saja mengundang gelak tawa menjijikan dari penjahat didepannya.
"kau semakin manis dengan bahasamu nona, oh aku jadi ingin sekali mencicipi tubuhmu yang mulus itu" bos berandalan itu bangkit dengan senyuman mesumnya lagi. "dan aku tidak sabar ingin melakukannya sekarang juga"
dengan petikan jari si bos, seluruh anak buahnya menyerbu wanita itu dan tentunya ia sudah siap dengan apapun yang akan terjadi.
*brakk
*brukk
*duesh
Satu persatu berandalan didepan wanita itu tumbang dan membuat teman temannya melongo melihat rekannya tewas dihadapan mereka.
"kurang ajar!"
Mereka memukul wanita itu secara bersamaan dan sangat mustahil baginnya untuk menghindar.
*duagh
Wanita itu terjatuh ketika salah satu pukulan dari berandalan didepannya berhasil meninju perutnya dengan sangat kencang.
"hahahahaha! Percuma saja kau membela dirimu sampai sejauh ini. Kau tidak akan bisa menang melawan kami berempat"
"uukh sialan, sebegitu hancurkah harga diri kalian sampai kalian tidak malu memukul seorang wanita?" dia meringis kesakitan memegangi perutnya.
"bagiku wanita ataupun pria sama saja. Ahahahahahaha!" bos berandalan itu tertawa lagi
Tanpa mereka sadari seseorang dengan tatapan meenyala-nyala memperhatikan mereka sejak tadi. Sepasang bola mata yang menyeramkan yang siap menerkam mangsanya kapanpun ia mau.
"cepat pegangi dia, biar aku duluan yang mencicipi tubuhnya!" perintah si bos pada anak buahnya dan disusul dengan anggukan yang mantap.
Pada akhirnya si wanita pasrah jika mahkota yang ia jaga untuk suaminya diambil oleh pria brengsek didepannya ini. Walaupun ia tidak rela, ia tidak dapat mengelak dari kenyatann bahwa ia sudah tamat.
"seseorang… tolonglah aku!" lirih wanita itu sembari meneteskan air matanya.
Air mata itu menetes, bersamaan dengan jatuhnya seorang pria kuning dari atas yang memperhatikan mereka semua dalam diam. Pemuda itu jatuh bukan tanpa alasan, melainkan untuk menyelamatkan wanita yang sedari ia perhatikan tersebut. Ia menjatuhkan diri diatas dua berandalan yang memengangi tangan wanita berambut merah itu. Dengan gerakan yang simple dan mematikan itu ia berhasil menumbangkan mereka dengan mendorong kepala mereka sampai mencium aspal.
Kedatangan pemuda itu membuat dua berandalan yang didepannya sontak berjungkir balik kebelakang karena kedatangan pemuda mengagetkan mereka. Ia menatap wanita yang ingin ia selamatkan itu sedang menangis tersedu-sedu. Seakan merasa iba ia menundukan dirinya sehingga sejajar dengan wanita itu dan mengelap air matanya.
"sekarang serahkan semua ini padaku" lirih Minato pada wanita itu yang masih tersedu-sedu.
*dor
Sebuah timah panas berhasil menembus tubuh Minato, tetapi ia seperti tidak merasakan apapun. Ia berdiri dan menatap dua berandalan yang satu diantara mereka memegang pistol.
"kalian sudah memancingku sejauh ini.."
Dan dengan gerakan yang cepat ia melumpuhkan satu berandal lainnya. Ia menatap bos dari berandalan itu dengan tatapan yang menyeramkan. Dan beberapa saat kemudian ia berlari menuju pria itu dan memukul wajahnya hingga tidak berbentuk lagi dalam sekali pukulan yang membuat ia melayang ke sisi tuhannya seketika.
Minato tersadar bahwa wanita yang sedari tadi menangis dibelakangnya kini memandang Minato dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia melongo melihat aksi Minato menyelamatkan dirinya/kesuciannya.
"tidak baik seorang wanita berjalan dimalam hari seperti ini," Minato mendekati wanita itu.
"aku berjalan semalam ini bukan karena tidak ada alasan –ttebane!" jawab wanita itu dengan semangat. "dan jangan mendekat!"
Namun terlambat Minato dengan segera menggendong tubuh wanita itu di kedua tangannya ala bridal style dan segera berlari. Tujuannya kini adalah 'apartement, obati, dan lindungi dia'. Dengan segera ia berlari sekuat tenaga dan membuat wanita itu tambah ketakutan.
Sesampainya Minato di apartemen miliknya ia segera membaringkan wanita itu di ranjangnya. Sebenarnya ia tidak bisa membiarkan seorang wanita tidur di sofa sedangkan ia di atas ranjang yang empuk, tentu ia merasa telah membuang harga dirinya sebagai pria jika melakukannya.
"sekarang beristirahatlah disni, aku akan menjagamu." Minato memalingkan wajahnya dan pergi ke dapur untuk membuat minuman.
Wanita itu masih bingung tentang pemuda tampan yang baru saja meyelamatkannya. 'eh, kenapa aku menyebutnya tampan? tapi dia… memang tampan sih hehe' batin wanita itu lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang milik Minato.
Ia menghirup udara dengan dalam, ia merasakan bau pemuda itu yang sangat melekat pada ranjang yang ia tiduri saat ini, dia membayangkan…
"ah maaf mengganggu nona, tapi sekarang saatnya aku mengobati lukamu dan… sebaiknya kau minum dulu." Lalu Minato menyodorkan gelas berisi teh hangat. Ia tahu bahwa wanita dihadapannya saat ini sedang shock berat akibat insiden mengerikan yang baru saja menimpa dirinya, hampir menimpa dirinya.
"um nona, mohon angkat baju anda"
"eeh, kau mau apa?" tanya wanita itu dengan panik
"hanya ingin memastikan.." Minato menyeringai. "jika kau tidak mau, aku akan membuka paksa bajumu, mungkin juga seluruh pakaianmu." Dan benar ucapan Minato sukses membuat wajah wanita itu merah seperti rambutnya.
"baiklah baiklah, kau menang. Tapi aku tidak mau orang yang tidak kukenak menyentuh tubuhku seenak pusarnya sendiri." Kata wanita itu dengan kesal.
"namaku Minato… hanya itu saja." Singkat Minato.
"aku Kushina Uzumaki. Salam kenal Minato"
"jadi kita mulai saja sekarang." Lalu Kushina mengangkat sedikit bajunya sampai keatas pusar dan disana terlihat sebuah akibat luka lebam. Lalu Minato mengambil handuk kecil lalu menyelupkannya kedalam ember berisikan air hangat dan memerasnya lalu mulai mengelap bagian yang terluka itu dengan handuk. Kushina hanya merintih sesaat sehingga Minato terpaksa menghentikan tangannya. Ia menatap Kushina dalam-dalam dan menyadari bahwa wanita itu sudah semerah tomat karenanya.
Ia melirik Kushina secara diam-diam, entah apa yang dilakukan wanita ini sampai-sampai ia dapat mengendalikan dirinya malam ini dengan sangat mudah. Entah mengapa ia merasa Kushina adalah orang yang dapat melepaskan kutukan yang ia alami.
"eh,, um Minato, kau tidak perlu melakukan ini kan?" tanya Kushina pada Minato yang wajahnya sudah sangat memerah.
"memangnya kenapa? Aku suka kok menyentuh wanita cantik sesuka hatiku." Kini ia menyeringai.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama akhirnya sebuah pukulan keras mendarat di perut Minato dan membuat pemuda itu terpental sampai membentur tembok dibelakangnya. Kini Kushina sudah memasuki mode habanero yang ditakuti semua orang dan tentu Minato juga termasuk kedalam daftar tersebut.
"tidak sakit ya? Kalau begitu aku akan membuatmu tidak dapat melihat dunia ini lagi." Kini kushian sudah mengeluarkan hawa ingin membunuh yang sontak membuat Minato berfikir bahwa dirinya dalam bahaya sekarang.
"ah iya, baiklah. Kau menang untuk kali ini." Minato menyerah. 'atau mungkin kau akan menang terus setelah ini.' Batin Minato yang memikirkannya sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
"kalau begitu, Kushina, kau harus bantu aku mengobati luka luka yang aku dapati setelah melawan berandalan itu, bagaimana?" tawar Minato dan senyuman tipis di wajahnya. "tentunya pertolongan tadi tidaklah gratis jika dipikir-pikir." Disusul seringai mengerikan diwajahnya.
"jadi kau menolongku tidak sepenuh hati? Kalau begitu seharusnya kau membiarkan aku diperkosa saja oleh para berandalan itu juga kau pada akhirnya juga akan merebut mahkotaku." Suara Kushina sedikit sedih.
"tentu saja aku bercanda bodoh, hahahahahaha" Minato tertawa seperti orang kesurupan dan sukses membuat wajah Kushina memerah semerah tomat, tanpa ia sadari wanita didepannya sangat marah sehingga rambut merahnya melayang membentuk 9 untaian dan…
Pagi harinya Minato terbangun dan mendapati dirinya diperban layaknya mumi, mengapa tidak? Minato kini babak belur setelah dihajar oleh Kushina habis-habisan semalam. Memikirkannya lagi kini mintao sadar kalau ia tidak boleh membuat wanita berambut merah itu mengamuk.
"ah kau sudah bangun?" Minato sontak menengok ke asal suara dan menemukan Kushina sedang menyiapkan sarapan.
"mandilah dulu baru kau boleh sarapan dasar mesum!" sambungnya sambil mengejek Minato.
"aku tidak mau mandi jika kau tidak ingin memandikanku" kini Minato menggoda Kushina.
"oho, tentu saja aku mau memandikanmu saat ini…" terlihat senyum kemenangan di wajah Minato setelah mendengar jawaban Kushina. "dengan menggunakan minyak goring tentunya, lalu kuoleskan tepung dan kugoreng lagi dan kujadikan kau tempura untukku sarapan saja –ttebane."
"ah.. hahahaha" tawa garing Minato di barengi dengan sweatdrop sebesar biji jagung.
Tanpa menunggu amukan dari Kushina (lagi) ia menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Didepan cermin ia melihat dirinya, seorang pemuda tampan berambut pirang jabrik dengan mata biru sapphire. Lalu ia melihat bagian tubuh yang diperban oleh Kushina, dan ia mendapati sebuah bekas jaitan silang menandakan bahwa peluru yang bersarang ditubuhnya sudah dikeluarkan tapi bagaimana?
"sudahlah, sebaiknya aku tidak membuatnya mengamuk lagi hari ini." Gumam Minato sembari memandangi dirinya.
Minato keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan kaos putih polos dengan celana berwarna biru laut dan segera menuju ke meja makan. Ia mendapati Kushina duduk dengan manisnya sembari menunggu Minato.
"eh, kau tidak seharusnya menungguku seperti ini." Ia segera duduk didepan Kushina.
"seorang wanita yang baik tidak boleh makan sebelum pria mencicipi masakannya terlebih dahulu, terlebih lagi sekarang aku akan tinggal bersamanya." Jawab Kushina dengan wajah semerah kepiting rebus.
"oh jadi begitu,,, eh?" sontak Minato langsung kaget setelah mendengar ucapan Kushina barusan. "apa yang kau masuk 'akan tinggal bersamanya' hah?" kini ia berteriak sambil menunjuk wajah Kushina.
"kenapa? Memangnya tidak boleh ya? Sebenarnya aku ingin dijodohkan oleh seseorang yang tidak aku kenal oleh ayahku. Dia bilang jika aku menikah dengannya maka hidupku akan bahagia dan tentunya aku menolak hal tersebut." Kushina menjelaskan masalahnya pada Minato
"jadi kau kabur dari rumah kemarin?"
"ya, aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kukenal bahkan tidak kucintai jadi aku melarikan diri dari rumah." Kushina bercerita sembari mengusap air matanya. "aku ingin mencari pasanganku sendiri –ttebane." Teriak Kushina dengan bersemangat.
"hahahaha baiklah-baiklah. Kau boleh tinggal disini, tetapi aku tidak dapat membantumu secara finansial karena keterbatasan yang kumiliki. Kau harus mencari uangmu sendiri paham?" Minato berbohong pada Kushina sebenarnya Minato dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan pekerjaan yang ditekuninya saat ini. Di kantornya ia dikenal sebagai karyawan terbaik dan tentu saja dia selalu dinaikkan jabatannya sehingga ia sudah menjadi direktur di tempatnya.
Ia menjadi direktur di kantor tempatnya bekerja bukan hanya karena keteladanannya, melainkan direktur sebelumnya sudah terlalu tua sehingga ia pensiun dan ketika ia melihat sosok Minato ia memutuskan untuk menjadikannya direktur penggantinya mengingat sifat Minato dan anaknya yang sangat mirip. Anaknya tidak dapat melanjutkan perusahaan keluarganya karena sudah meninggal akibat kecelakaan berkendara dan istrinya tidak dapat melahirkan anak lagi karena suatu penyakit sehingga rahimnya diangkat.
"ah, tidak perlu." Minato telah membuat keputusan yang pastinya adalah keputusan terbaik yang ia buat untuk Kushina. "mengingat kau kabur dari rumah pastinya orangtuamu sedang mencarimu kesana kemari dan mungkin mereka akan menyewa orang-orang untuk mencarimu kemanapun kau pergi."
"eeh,, lalu bagaimana denganmu? Kedatanganku kesini pasti membuat beban hidupmu bertambah." Kini ia segera mengambil piringku yang sudah kosong sedari tadi. Jujur masakannya sungguh enak.
"aku telah memutuskan bahwa kau akan tinggal disini, tepatnya dikamar tamu. Aku tidak dapat menjamin jika aku tidak akan 'menyerangmu' pada malam hari." Minato mengambil nafas dalam. "kau tahu kan laki-laki?"
"tentu saja aku tahu! mereka mesum, bodoh, Stalker." Ucapan Kushina membuat hati Minato seperti ditusuk oleh pisau yang sangat besar.
Jika diingat-ingat lagi apa yang dilakukan Minato ketika malam hari datang?
