(c) .:icetwollucol:.
EXO (c) .:SM Ent:.
Quote (c) .:Megan Fox:.
All of EXOfficial Pair (c) .:Pairing:.
Sho-ai, weirdo, miss-typo, AU, Drabble/s (c) .:Warning:.
.
.
.
[—Text; SuLay—]
Matahari boleh bersinar terang. Angin semilir boleh membelai setiap yang dilewatinya tenang. Namun, menurut Suho. Hari yang cerah ini tidaklah lebih dari bagian hari-hari biasa seperti kemarin. Hari Senin yang biasa. Suho terbangun di ranjang kamar asramanya dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Menyantap sandwich setengah gosong pemberian Luhan—ketua asrama lantai 3—dengan kecepatan yang biasa juga. Berdandan seperti biasa. Tersenyum seperti biasa. Bernafas seperti biasa. Pokoknya semuanya biasa, biasa, dan biasa-biasa saja, menurut Suho. Kenapa terasa begitu banyak kata biasa sejak tadi? -_-
Suho tidak sedang mengeluh. Tapi, juga tidak sedang mensyukuri sesuatu selain dirinya yang masih diberi nafas untuk melewati hari yang biasa ini.
Terduduk di bangku kesayangannya. Suho merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel touch-screen miliknya yang ternyata dalam keadaan mati. Pantas saja paha Suho tadi terasa nyaman-nyaman saja.
Dan betapa terkejutnya Suho. Ketika ponselnya telah dia hidupkan terdapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Ok, itu memang hanya sebuah pesan dari nomor dengan akhiran 341 dan lagi apa yang mengejutkan dari pesan berjumlah satu dari nomor tidak dikenal? Selain isinya?
Joonmyeun membukanya. Sebuah pesan yang sangat panjang. Bahkan memakan 3 halaman layar ponselnya.
Maafkan aku yang baru bisa menghubungimu saat ini terlebih hanya lewat sebuah pesan. Aku baru melihat e-mail darimu kemarin malam dan kenapa aku baru memberi pesan saat ini karena, yah, kemarin malam aku lupa mencatat nomor telponmu. Maafkan aku.
Dan ngomong-ngomong, Joonmyeun-ah... :) Dunia ini sangat sempit, 'kan? Asal kau tahu saja, aku juga bersekolah di tempatmu dan berada di asrama yang sama tepatnya lantai 2. Jika kau butuh bukti, datanglah nanti siang setelah pelajaran selesai di ruang klub musik. Aku akan ada di sana. :D
Zhang Yixing.
PS: Dan, aku juga tidak menyangka kau akan mengirimiku e-mail dengan bahasa mandarin. :p Bahasa mandarinmu terlihat sangat baik.
Senyum Suho melebar sedikit. Kilatan matanya tidak lagi gelap. Ada rona bahagia di wajah tampannya. Pemuda setinggi 173 cm itu memutar tubuhnya untuk memandang sosok ketua asramanya yang duduk tepat di belakangnya.
"Aku sudah menemukannya." Luhan tersenyum melihat senyum tak biasa Suho. Tangan masih menyangga dagunya. Dan pensil menyelip di sela jemari kanannya. Luhan mengucapkan sebuah kata selamat.
"Dan kuharap kau berhenti menganggap hari-harimu yang terasa paling biasa mulai sekarang."
Hari Senin yang biasa. Luhan dan Suho masih tetap berbisik di kelas sosiologi mereka. Menceritakan aib adik kelas yang tinggal di asrama lantai 3 bersama mereka. Atau hanya sekedar bertukar jawaban ketika ulangan harian kimia. Hari Senin yang biasa. Yang membuatnya berbeda hanyalah sebuah pesan dari nomor tak di kenal di kotak masuk Suho serta jalan pulang yang Suho tempuh yang juga sedikit berbeda.
.
[—AutoNumber; ChenMin—]
"Bisakah kau berhenti menaruh namaku di urutan paling atas, Hyung?" Ini suara Kim Jongdae. Yang biasanya akrab disapa Chen. Mengoceh di Rabu siang dua bulan lalu di kerja kelompok ekonomi musim panas mereka.
"Argh! Kenapa lagi-lagi kau menulis namaku pertama kali, sih? Nanti aku 'kan jadi yang musti maju duluan." Kim Jongdae dengan suara melengkingnya yang berteriak-teriak masih mempermasalahkan 'kenapa namaku selalu paling atas'. Di kelas biologi mereka 3 minggu lalu ketika Kwon-seonsaengnim memberikan tugas paling membosankan di dunia, yaitu; meneliti ekosistem di lingkungan sekolah.
"Aku ini 'kan bukan orang yang punya wajah 'berkemimpinan' maupun 'bertanggung jawab'. Kalau kalian menulisku paling pertama, bisa-bisa aku yang jadi ketua kelompok, tahu?" Kim Jongdae tidak lagi berteriak. Tapi, pemuda itu masih aktif dalam melancarkan protesnya. Kali ini mungkin karena dia berbicara pada Kyungsoo—siswa paling lembut di kelas 12-13 ini—makanya dia tidak berteriak. Kali ini tugas mingguan bahasa jerman.
"Kau cocok kok menjadi ketua kelompok. Di kelas ini tidak ada anak yang lebih meyakinkan selain dirimu, Chen." Kim Minseok yang biasa disapa Xiumin selalu mengomentarinya. Dan komentar yang Xiumin keluarkan selalu sama. Jongdae bosan mendengarnya.
"Kau selalu berkomentar seperti itu. Kali ini aku butuh bukti bahwa aku memang meyakinkan di kelas ini."
"Menurutku bukan cuma di kelas saja kau itu meyakinkan. Tapi, di kamarpun kau berpidato dalam tidurmu bahwa kau selalu—"
"Baik. Berhenti dan tulis saja namaku di nomor satu, ok? Semuanya selesai."
Kyungsoo berkedip di bangkunya, masih dengan pensil yang terselip dijarinya. Sementara, Minseok hanya tersenyum penuh arti ketika Jongdae melangkah pergi meninggalkan dua pemuda manis itu.
"Um, memangnya dia pernah mengigau tentang apa?" Kyungsoo menangkap maksud pembicaraan dua sahabatnya ini. Namun, sangat penasaran dengan inti pembicaraan keduanya. Dia butuh penjelasan.
"Hahaha, hanya racauan tidak imut tentang; 'Minseokie-hyung! Asal kau tahu saja sebenarnya aku ini lebih hebat dari Kris pacarmu itu. Aku ini selalu nomor satu secara otomatis, 'kan? Jadi kenapa tidak kau denganku saja mulai sekarang.' Hahaha!" Minseok tertawa lebar. Out of character. Jongdae di depan sana merona. Out of character. Kyungsoo dan beberapa anak yang mendengar ucapan Minseok hanya bisa menahan tawa dengan wajah sedatar mungkin. Out of character—mengingat biasanya mereka tidak tanggung-tanggung dalam menertawakan aib seseorang.
"Tapi serius, hyung! Kenapa tidak kau denganku saja? Bukankah kau selalu menjadikanku nomor satu saat kelompok? Kalau begitu kenapa tidak kau jadikan aku nomor satu dalam segala hal di matamu?" Jongdae entah dapat dorongan dari mana. Tiba-tiba mengatakan hal yang sangat tidak diduga. Mata Kyungsoo yang sudah lebar kini jadi lebih agak lebar.
"Hahaha, boleh saja." Minseok juga dengan tidak terduga tiba-tiba menyeletuk. Kyungsoo makin melebarkan matanya.
"Ehhh!?" Dan seluruh siswa di kelas 12-13 tiba-tiba menjadi koor.
Meski Kyungsoo dan penduduk kelas 12-13 sedang melakukan koor aneh mereka. Jongdae tersenyum senang. Ah, tidak ada hal yang paling menyenangkan dalam hidupmu ketika menjadi si nomor satu untuk pujaan hati, bukan? Setidaknya, itu menurut Jongdae.
.
[—Number; KrisTao—]
"Aku masih tidak mengerti." Tao menyandarkan kepalanya pada dinding di belakangnya. Terduduk di lantai di samping kursi belajar Kris. Pensil terselip di belakang telingannya. Di tangannya kini terdapat sebuah buku dengan begitu banyak coretan angka 1 dan 0.
"Apanya?" Kris tidak menoleh. Terlalu sibuk dengan tugas matematikanya. Tao bukan roommate-nya. Tao adik kelasnya. Dan terlebih Tao tinggal di lantai 1 sementara dia di lantai 3. Hanya saja anak itu suka sekali berkunjung ke kamar Kris hanya untuk mengganggunya. Seperti saat ini. Menanyakan hal-hal yang sudah paten dengan kalimat perandaian.
"Kenapa angka biner hanya terdiri dari angka 1 dan 0?" Iya, 'kan? Tao benar-benar menanyakan hal-hal seperti itu. Kris menghela nafas. Kepalanya makin sakit melihat garis-garis gradien di depannya. Ditambah pertanyaan Tao. Sungguh mengganggu.
"Bukankah Kim-seonsaengnim sudah mengatakan kalau adanya sudah seperti itu, ya sudah. Kenapa harus kau menanyakan hal seperti itu? Itu terdengar kau menyuruhku mendatangi makam para penemu angka biner dan menanyakan; 'Kenapa kalian hanya menggunakan angka 1 dan 0?'." Kris merasa sudah sangat banyak mengeluarkan kata dalam kalimatnya hanya karena makhluk bermata panda ini. Oh, ke mana dirinya yang selalu cool dan keren?
"Tapi kalau begini bukankah akan sangat terlihat kalau kau si satu dan aku si nol." Kalau baru beberapa bulan Kris mengenal Tao. Pemuda itu pasti tidak akan mengerti maksud ucapan Tao. Dan beruntung mereka selalu satu sekolahan sejak SMP dan ikatan persahabatan mereka sudah sangat erat.
Pertama, Tao mempunyai kebiasaan membahas hal-hal yang sudah seharusnya begitu dengan; bagaimana kalau saja tidak begitu. Kemudian, justru melontarkan hal-hal aneh yang tidak bisa dicerna dengan mudah.
"Menurutku juga begitu." Kris kembali menenggalamkan diri di antara garis gradiennya. Tao mendongak dan memberikan Kris sebuah tatapan sebal. Melontarkan sebuah protes dengan pelan.
Kris melirik dari ujung matanya yang berbingkai kacamata baca. Menghela nafas lagi. Sebelum akhirnya memutuskan menandai halaman tugas di buku diktatnya kemudian menutupnya. Dan melepaskan kacamata bacanya. Bangun dari duduknya menuju pintu keluar.
"Hei!"
Yang sukses mendapat protes hebat dari Tao. Pemuda itu dengan kalap segera mengejar Kris.
"Maksudku begini, ya. Angka nol itu abadi, konsisten tapi fleksibel secara bersamaan. Dan walaupun terkadang memberikan kesan ambigu. Nol itu seperti penyihir dalam perkalian serta pembagian—yang merubah berjuta angka kembali ke titiknya, titik nol. Tapi, tidak berpengaruh apapun terhadap penjumlahan maupun pengurangan." Kris menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Dia benar-benar terdengar seperti orang lain sekarang ini. Sejak kapan dia belajar bahasa semacam itu? Hiperbolis.
"Dan yang paling aku suka, nol itu tidak akan pernah berubah. Sepertimu yang menyebalkan, keras kepala, penuh semangat tapi cengeng." Kris berbalik dan mendapati sekarang ini Tao tidak sendiri. Di sampingnya berdiri Kai dengan tatapan selidiknya.
"Itu gombalan yang payah." sela Kai. Dan berlalu begitu saja setelah memberikan komentar pedasnya pada Kris. Tao mengikuti Kai dari belakang, mereka ada janji latihan baseball sore ini.
Kris tersenyum miris. Mengolok dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba dirinya tersentak ketika Tao kembali menghampirinya hanya untuk menepuk kedua bahunya dengan keras dan memamerkan senyum manisnya.
"Kalau begitu aku mau selamanya menjadi nol, dan berusaha untuk tidak akan berubah." Ujarnya sambil berlalu menyusul Kai.
Kris tersenyum. Pada punggung yang makin lama makin mengecil di depan sana. Astaga, kenapa dirinya begitu dramatis akhir-akhir ini? Mungkin, karena si angka nol.
Dan, oh... betapa Kris ingin sejenak melupakan tugas matematikanya dan menonton permainan baseball di lapangan sekolah.
.
[—Currency; HunHan—]
Luhan itu pelit, menurut Sehun. Sehun itu lebih pelit, menurut Luhan. Mereka itu roommate yang pelit dalam segala hal, menurut seluruh warga St. Exoxia yang mengenal mereka. Mereka berdua terlalu perhitungan dalam membelanjakan uang keduanya. Alasannya terdengar sangat enteng dan membuat yang mendengarnya ingin memukul wajah tampan keduanya.
"Untukku sendiri saja belum cukup. Bagaimana bisa aku membelikan kalian sesuatu dengan uangku?" ini si Sehun.
"Orang tuaku mengirim uang untukku, anaknya. Bukan, kalian. Jadi, jangan protes!" ini si Luhan.
Dan bahkan, saking sudah sangat parahnya penyakit pelit mereka. Mereka bertingkah seperti anak kembar yang selalu membeli kaos, celana, jaket bahkan pakaian dalam yang sama dengan alasan; "Kalau beli dengan merk yang sama dan model yang sama. Kami, bisa dapat diskon 65% tahu."
Lalu, hal lainnya seperti selalu membeli segelas besar bubble tea dengan sebungkus hotdog ukuran super untuk mereka nikmati berdua. Alasannya masih sejenis dengan yang di atas; "Dengan begini kami menyelamatkan 0,56 sen dari dolar yang kami belanjakan."
Tapi, anehnya sepelit apapun mereka—bahkan pada sahabat baik masing-masing. Keduanya tidak pernah bertindak sebagai duo mata duitan yang selalu mengicar gratisan makanan seperti Chanyeol dan Tao ataupun selalu memberondong pakaian di hari sale di sebuah swalayan seperti Baekhyun dan Kris. Mereka hanya pelit, itu saja. Dan selebihnya suka menghemat uang mereka dengan berbagi dengan satu sama lain atau membeli benda yang sama agar mendapat potongan harga.
Dan suatu hari karena saking penasarannya Kai selaku teman sekelas Sehun dan sahabat sejak kecil pemuda pelit itu. Pemuda bermarga Kim itu bertanya to the point, "Kau itu pelit. Tapi, kenapa tidak seperti Mr. Crab yang bahkan mengorek peni senilai 10 sen dari kantong pegawainya?"
Sehun terdiam lama saat itu. Mengamati wajah kecoklatan sahabatnya dengan datar. Sebelum akhirnya kembali mengeluarkan sebuah jawaban yang tidak terduga dan tidak seperti biasanya.
"Kukira kalian semua sudah tahu kalau niat kami juga bersangkutan dengan mengumbar kemesraan. Ternyata, kalian hanya mengira kami menghemat uang toh." Sehun berujar datar. Kai mendelik tanpa berkedip. Mengikuti setiap gerak-gerik Sehun seperti seorang predator.
"Hai, Kai! Sehun-ie. Ayo, kita beli makan siang." Luhan datang ke kelas mereka. Hanya untuk kembali pergi berdua ke kantin dengan Sehun. Kai ditinggal sendirian. Kai masih mendelik pada dua makhluk berwajah mirip itu. Satu helaan nafas. Yang entah karena kecewa atau meremehkan.
Dan ternyata memang benar. Kai sudah menduga kalau Sehun dan Luhan itu bukan hanya pelit tanpa alasan. Intinya, keduanya makhluk termodus sejagat raya. Menjadikan 'menghemat sen dari dolar' padahal niatan mereka tak lebih dari 'agar mereka bisa bermesraan dan terlihat seperti pasangan'. Dasar!
.
.
.
[Chapter 1—]
—END.
.
.
.
a/n: Drabble/s lebih mudah dibuat daripada cerita dengan konflik. Dan maaf untuk sudah mengabaikan fic berchapterku dalam waktu yang sangat lama. GMBKU dan BOF akan di-update secepatnya. Paling lambat akhir bulan—mungkin. ;p
ChanBaek dan KaiSoo next chap! Dan voting untuk dua couple yang akan muncul lagi di chap depan. :)
.
.
.
Mind to review for next drabble(s)? ;p
