Earth Girl

.

.

DISCLAIMER: SUGAR PRINCESS © HISAYA NAKAJO

DISCLAIMER: Tetap seperti biasa.

..oOo..

"Lagi-lagi kamu," ucap Reina kesal, gadis yang menyukai Shun. Pintar dalam soal skater. Gadis ini sangat geram pada sosok seorang gadis yang berpakaian biasa, datang ke rumah Shun. "Mau apa kamu ke sini?"

Tanpa ada rasa minder, Maya mencengkram rok bawahnya. "Aku mau bertemu Shun. Apa boleh?"

"Shun tidak ada. Dia lagi pergi."

"Sendirian?" tanya Maya lagi. Reina kesal setengah mati pada anak sok ingin tahu.

"Entahlah. Memangnya kenapa?" tanya Reina balik, menyilang tangan.

"Aku hanya bertandang ke rumahnya saja, soalnya aku khawatir." Itulah ucapan yang terlontar dari mulut Maya. Maya sangat khawatir pada Shun, karena Shun kemarin tidak datang ke arena skating.

"Huh! Dia tidak butuh kamu!" Reina balik badan dan menutup pintu rumah Shun. Maya jadi tersentak kaget. Maya diam di depan pintu, lalu berbalik pulang.

Di jendela, Reina tersenyum. Seandainya Shun ada, pasti Maya disuruh masuk. Untung saja, Shun tidak ada. Hari ini sangat indah buat Reina, selama seharian penuh Reina tetap berada di samping Shun biarpun Shun mengusirnya nanti.

.

.


.

.

Maya menghela napas sambil berjalan-jalan menunduk ke bawah. Maya tidak peduli apa yang dilihat orang darinya. Yang diinginkannya, bertemu Shun. Sejak kejuaraannya dimenangkan olehnya dan Shun, hubungan keduanya jadi harmonis. Shun pun berpacaran dengan Maya. Mereka romantis sekali, namun selalu saja ada Reina yang mengganggu.

Langkah Maya terhenti, kemudian duduk di halte bis. Setiap langkahnya maju, Maya sering menghela napas. Entah apa yang dipikirkannya. Setiap hari, Maya memikirkan Shun.

"Aku betul-betul payah."

"Apanya?"

Mata Maya melebar. Maya menoleh ke samping. Di sana ada Shun yang mengenakan syal biasa, membawa setumpuk makanan untuk dibawa pulang. Shun tadi mau pulang, tetapi ditunda karena melihat sosok orang paling ditunggunya.

"Shun? Kenapa?"

"Maksudnya kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Shun balik. Maya mengangguk. "Aku datang untuk mengejarmu. Aku takut kamu tidak datang ke rumah."

"Tadi aku datang…" Maya menundukkan kepala. "Tapi… kata Reina, kamu tidak ada."

"Ooh… dia, ya?" Shun duduk di samping Maya, menyerahkan sebungkus roti hangat kepadanya. "Mau?"

Maya mengambil satu. Tetapi, belum memakannya. Shun merasa ada yang disembunyikan Maya. Diletakkan sebungkus makanan di dekatnya, lalu menarik tubuh Maya ke pelukannya.

"Jangan pikirkan sesuatu yang buat aku cemas. Aku tahu kamu pasti memikirkan soal Reina."

"Aku mungkin keras kepala," sahut Maya. "Tidak bisa bersikap dewasa."

"Kamu cocok jadi apa adanya dirimu. Mau keras kepala. Mau dewasa. Itulah kamu." Shun memutarbalik tubuh Maya agar bisa berhadapan. "Aku bisa bersamamu, karena keras kepalamu. Aku bisa dapat juara, karena kerja kerasmu. Dan aku bisa menyayangimu seperti ini, karena kamu itu kekanakan."

Shun mencubit hidung Maya, hingga Maya merintih kesakitan. "Sakiitt…"

Direngkuh Maya ke pelukannya, tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingnya. "Aku menyayangimu, gadis keras kepala."

"Aku juga menyayangimu, pemuda egois."

Mereka tertawa bersama-sama. Sesungguhnya, ini hanyalah masalah sepele bagi keduanya. Akhirnya mereka bisa mengatasinya dengan baik. Sedangkan Reina mengutuk dirinya di rumah Shun karena Shun belum datang sedari tadi.

Inilah akibat berani-berani menyakiti seseorang. Bagi kalian, jangan diikuti ya. :p

.The End.

..oOo..

A/N: Makasih sudah baca fict pertama saya di F Sugar Princess.

Sign,

Zecka S. B. Fujioka

Makassar, 23 September 2013