OngNiel fic presented by chocobananu

Private Property

2017

Produce101 ; Produce 101 ; PD101 ; P101

Ong Seongwoo x Kang Daniel

Top!Ong Bottom!Niel

Warning! OOC—Sifat Character tidak sesuai dengan aslinya.

***

Musim semi dianggap beberapa orang sebagai musim yang romantis. Dimana kau bisa bersenda gurau dengan pacarmu sambil piknik di taman dengan pemandangan bunga-bunga yang merekah. Atau menonton beragam festival yang rutin diadakan saat musim semi.

Tapi tidak bagi Ong Seongwoo. Pemuda yang sedang pusing seratus satu keliling karena ujian akhir sekolah akan segera berlangsung bulan depan. Hari musim seminya selalu diisi dengan pergi ke perpustakaan untuk belajar.

Tentu saja, mempersiapkan diri menghadapi hari dimana kemampuan otak dongkolnya akan diuji.

Pemuda itu ogah-ogahan, sebenarnya. Tapi sedongkol-dongkolnya otak Seongwoo, secuek-cueknya Ia dengan segala hal di dunia ini, Dia masih takut pada sumpah serapah Ayahnya—

'Nilai di bawah rata-rata? Kau akan kucoret dari kartu keluarga!'

—Untuk itulah si pemuda setengah bolot itu ada di perpustakaan dan berusaha menaikkan derajat otak dongkolnya.

"Sin 30 ditambah cos 60 ditambah sin 270— Hah, nilainya tidak ada di tabel. Bagaimana mencarinya ya." Rutuk pemuda bermarga langka itu sendirian sambil menggigit pensilnya frustasi.

"AH, SUDAH AH."

Tak kunjung mendapat pencerahan, Ia akhirnya melempar pensil dan membanting punggung lelahnya ke senderan kursi. Bodoamat, hidupnya didedikasikan bukan untuk mengerjakan matematika.

"HOI."

"O-Omo—YA!"

Jantung Seongwoo nyaris menggelinding saat seorang pemuda tiba-tiba mengagetkannya dari belakang. Ia menatap kesal pemuda itu, sebelum Ia sadari seisi perpustakaan juga menatap Ia kesal karena berisik.

"Bedebah kau, Kim Jaehwan."

Yang dipanggil Kim Jaehwan hanya tercengir, lalu duduk di samping Seongwoo, "Sedang apa disini, hyung? Belajar lagi?"

Seongwoo mengangguk seadanya, "Tapi aku tak bisa mengerjakan trigonometri."

Kim Jaehwan adalah adik kelasnya— meskipun tampangnya lebih mirip disandangkan dengan ayah Ong Seongwoo—Ia anggota klub seni, dimana Seongwoo adalah wakil dari klub tersebut. Makanya mereka dekat.

"Heh, kalau tidak salah trigonometri itu materi kelas dua kan? Kau bisa mengerjakan ini kan?"

Jaehwan mengerutkan dahinya, menatap sekilas soal di buku Seongwoo, "Oh tidak mataku langsung panas."

"Tapi—soal sesederhana ini dan kau tak bisa?!"

Ong menggeleng polos, "Nggak. Makanya ajari aku. Kau bisa kan?"

"Nggak, sih."

Sempat ada keheningan menyelimuti mereka berdua. Seongwoo dengan tatapan membunuhnya dan Jaehwan yang tersenyum minta ampun, "Mati kamu."

"Hyung, kau tahu kan aku sangat buruk dalam akademik? Perkalian saja aku sering tertukar, apalagi yang ginian?"

Seongwoo tahu bertanya pada Jaehwan tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka sama idiotnya. Rangking otak mereka sama-sama jongkok.

"Yah, terus gimana dong?"

Mereka berdua terdiam, tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Seongwoo yang memikirkan nasibnya di depan kertas ujian nanti, dan Jaehwan yang memikirkan balong ikan lelenya di kampung halaman.

—Tidak. Maksudnya membantu Seongwoo memikirkan pemecahan soal tersebut.

"Aha! Aku punya ide!"

Bohlam kuning tiba-tiba muncul di sekitar kepala Jaehwan—tentunya itu hanya imajinasi Seongwoo—Mata Jaehwan menangkap objek berjalan dengan tumpukan buku di tangannya sambil berdiri senang.

"Kang Daniel!"

Jaehwan berseru memanggil orang yang sedang berjalan di jajaran rak buku, membuat si pemilik nama berhenti dan menoleh tersenyum menatap Jaehwan, "Oh, apa?"

"Aku mau minta bantuan. Habis ini aku janji mentraktirmu es krim!"

"Aaah~ Es krim yang di jual di festival kan? Mau! Memang membantu apa?"

Ong Seongwoo tertegun menatap percakapan spesies di depannya. Daniel dan Jaehwan berdiri beberapa meter darinya. Sudut bibir Daniel perlahan naik saat Jaehwan menyebutkan es krim, yang lama-kelamaan menampilkan gigi-gigi kelincinya.

Eh, kok manis.

Seongwoo menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin Ia kebanyakan mengkonsumsi micin, eh, soal matematika, sehingga Ia tak sadar bahwa Ia baru saja memuji sejenisnya dengan sebutan…

…Manis.

SUMPAH. SEONGWOO NORMAL.

Berkali-kali pemuda itu meneriakkan dirinya sendiri di dalam hati. Kemarin baru saja Ia mati-matian berusaha memanjat tembok GOR demi mengintip paha-paha mulus tim cheerleader yang sedang latihan, masa sekarang Ia sudah pindah haluan?

Seongwoo mengerjapkan matanya lagi saat dua pemuda di depannya—Jaehwan bersama Daniel yang mengekor di belakang Jaehwan—mendekati tempat Ong duduk.

"Hyung! Temanku ini jago matematika, dan Ia bersedia membantumu!" Jaehwan berseru senang layaknya salesman dalam menawarkan produk.

"A-Ah, benarkah?" Seongwoo mendadak tergugup.

Jaehwan mengangguk mengiyakan. Lalu menarik tangan Daniel tiba-tiba yang membuat pemuda tersebut tergopoh-gopoh dan hampir terjatuh.

"E-Eh, pelan-pelan bodoh!—"

Ong Seongwoo berteriak panik melihat Daniel yang hampir jatuh ditarik Jaehwan. Ia refleks berdiri dan menjitak kepala yang lebih muda.

"—Kalau dia jatuh, bagaimana!?"

Jaehwan meringis pelan, menatap hyungnya dengan tatapan membunuh sebelum akhirnya Ia menggeret kursi untuk Daniel di sebelah Seongwoo.

"Sudah kubantu, tapi tidak dibalas dengan baik." Jaehwan ngambek. Pemuda itu menyambar tas ranselnya dan berlalu meninggalkan Seongwoo dan Daniel, "Sudah, ah! Aku mau kencan dulu dengan Ponyo-ku. Bye!"

***

Dan suasana lapangan tinju pun kini berubah menjadi suasana ruang ujian. Mencekam—hanya bagi Ong Seongwoo, karena Daniel biasa saja. Daniel mengambil alih pensil dan kertas Seongwoo, menuliskan kumpulan rumus dan penyelesaian soal di atas sana.

Sepertinya Seongwoo memang sudah berbelok haluan. Baik mata maupun otaknya tidak terfokus pada penjelasan Daniel, melainkan wajahnya. Daniel yang berkonsentrasi pada kertas tak pernah menoleh padanya, sehingga Seongwoo dengan leluasa memperhatikan Daniel.

'Sepertinya aku tak keberatan kalau harus belajar matematika setiap hari kalau pengajarnya seperti ini.'

"Sunbae kalau mau cari nilai yang bukan sudut istimewa, begini caranya." Daniel dengan lihai menulis berbagai rumus yang sangat sulit dicerna Seongwoo. Tidak lupa pemuda itu membuka tempat pensilnya dan mengambil highlighter warna-warni dan menghiasi tulisannya.

"Kuharap sunbae tipe yang mudah menghafal kalau membaca dengan perpaduan warna."

"A-Ah, iya."

Daniel mendengus kesal. Sudah satu jam Ia berkicau menjelaskan macam-macam soal, namun jawaban kakak kelasnya itu selalu tak jauh dari 'A-Ah, iya.'. Daniel kan jadi bingung, apakah Seongwoo menangkap penjelasannya atau tidak.

"Sunbae, mau coba mengerjakan soal sendiri?"

"Wah, harus ya?"

"Ya, iya. Kan tidak mungkin aku ikut ke dalam ruang ujian nanti."

Seongwoo mengusap tengkuknya, "A-Anu, aku terlalu lelah. Bagaimana kalau kau berikan aku PR saja dan kau periksa lagi besok?"

Modus ini sih. Tapi memang Seongwoo ogah menyentuh buku soalnya lagi, karena mungkin alergi matematikanya akan kambuh.

"Ckck, bilang saja sunbae tidak mengerti." Terka Daniel. Ia mengambil post it bergambar bunga sakura lalu menempelkan pada halaman yang harus dikerjakan Seongwoo.

"Nomor 20 sampai 40."

"HAH BANYAK AMAT."

Daniel mendelik kesal menatap seniornya, "Aku masih berbaik hati padamu, sunbae. Mau kutambah jadi 60?"

"O-OH tidak! Terimakasih. Aku sudah cukup mual mendengarnya. "

Mereka berdua tertawa renyah sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Tak peduli lagi dibilang berisik karena ruang perpustakaan sudah kosong sedari tadi.

"Hei."

"Ya, sunbae?"

"Bagaimana jika kau jadi guru les privatku selama satu bulan ini? Akan kubayar berapapun kau mau, deh!"

Daniel terkekeh pelan, "Kalau aku meminta satu milyar, apa kau juga akan tetap membayar?"

"YA— Mana ada les privat seharga satu milyar."

Daniel mengangguk pelan, "Sure. Sunbae tidak perlu bayar apa-apa. Cukup bayar dengan es krim!"

"Es krim saja?"

Daniel mengangguk mantap, "Jika kau tidak keberatan."

"Tentu saja tidak. Sepertinya aku tak akan pernah bermasalah dengan segala permintaanmu, kelinci tonggos?"

****

Seongwoo menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Akhirnya setelah sekian lama Ia duduk di perpustakaan—dan berdiri terdempet di subway—Ia bertemu lagi dengan kasurnya.

"Lega." Gumamnya senang sambil mengguling-gulingkan badannya di kasur kingsize berbau kurang sedap tersebut.

Matanya berniat untuk terpejam, sampai tiba-tiba Ia teringat akan soal-soal yang diberikan Daniel, "Ah, aku lupa."

Dengan terpaksa, pemuda itu berpindah tempat ke meja belajarnya. Mengeluarkan keperluan perang dari tas ranselnya (read; alat tulis, buku soal, dan catatan dari Daniel).

Seongwoo membalik-balik empat halaman catatan warna-warni buatan Daniel. Rapih dan sangat mudah dibaca. Dan mungkin juga makin mudah diingat, mengingat yang membuat adalah orang yang membuat Seongwoo jatuh cinta pada pandangan pertama.

LEBAY.

Teriak otak Seongwoo pada batinnya yang mulai meracau tak jelas.

Untuk pertama kalinya Ia suka dengan pria. Delapan belas tahun Ia hidup, dan baru sekarang Seongwoo mempertanyakan orientasi seksualnya sendiri. Seminggu yang lalu Ia mencibir Jaehwan karena memacari pria. Tapi sekarang, Ia kena batunya.

Karma datang begitu cepat, sepertinya.

"Persetan dengan paha mulus anggota cheerleader, tulisan Daniel—dan juga orangnya—lebih menggoda dari itu."

DRRRT..

DRRRT..

Telepon genggamnya berbunyi. Sebuah panggilan video call dari kakao talknya masuk.

"Ck, paling dari Hwang Minhyun."

Minhyun, si ketua klub seni, terbiasa mengganggu Seongwoo ber-video call malam-malam hanya untuk bercerita tentang pacarnya, Kwon Hyunbin, si anak kelas satu yang sangat overprotective.

Nyatanya, bukan.

Display name ㄱㄷㄴㅇ muncul di layar hp Seongwoo. Ia sendiri tak tahu siapa pemilik nama dengan inisial hangul seperti itu. Makanya Ia menutupi bagian kamera dengan jempolnya agar wajahnya tak terlihat, berjaga-jaga kalau saja Ia ditelepon orang jahat.

Cling.

Video call menyala. Menampakkan seorang pemuda yang sedang duduk di meja belajar sambil memeluk semangkuk es krim dan memakannya.

"Oh. Hi, sunbae. Ini aku. Kamu tidak lupa dengan PR yang kuberikan, kan? Perlu kuingatkan kembali bahwa aku adalah guru privatmu selama sebulan kedepan. Jadi, kuharap kau tidak masalah kalau aku terus mengecekmu tiap malam. Mengerti, muridku?"

Seongwoo membulatkan matanya tak percaya. Perlahan Ia menyingkirkan jempol yang menutupi kameranya, membiarkan pemuda di seberang sana melihat wajahnya juga.

"K-Kang Daniel?"

****

Tbc.

****

Aku….

Nulis…..

Lagi…

Akhirnya.

Aku lagi suka banget sama Daniel gara-gara perform dia pas yeorojwo itu;; tapi aku gak bisa ngeliat dia sebagai seme lagi sejak perform itu. Jadi malah gemes liat dia. Kayak sugar baby yang ngegodain daddy daddynya gitu di perform itu tuhhh ;; #apaansih #mabok

Anw, maaf yang ngasuka aku nistain daniel jadi uke di fict ini. Ini cuman seonggok imajinasi aku yang pengen aku tuangin doang kok!

I'm still new at making story. Jadi aku butuh segala dukungan, kritik, dan saran alias RnR yang bisa membangun aku demi fanfiction yang baik dan benar(?).

Terimakasih. Salam kecup dari istrinya Alpaca. Mwa!