The Last Chosen
Disclaimer: It belong to Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Friendship
Rate: T semi M
Pairing: Shizune and Sakura Haruno
Warning: OOC, miss typo, AU, NO YURI INSIDE, inspirasi dari Big Brother (BB) dan Penghuni Terakhir (PETIR). Tahu 'kan?
Note: '...' : menandakan gumama atau pikiran dalam diri
Bold: waktu atau kejadian yang terjadi di masa lalu
Summary: "Sebuah reality show yang bernama The Last Chosen yang diadakan oleh Konoha TV untuk mengatasi kebangkrutan yang mereka alami dimana ada 12 orang ninja yang berasal dari latar belakang berbeda-beda yang memperebutkan sebuah mansion besar bernilai 100 juta yen. Bagaimana mereka menjalani hari-harinya selama bersaing tersebut?"
The Last Chosen
Chapter 1: Bangkrut
It belong to Rui-chan
g
w
o
Don't like, don't read, don't flame :p
Dua bulan yang lalu...
"Shizune-sama mau pulang?" tanya salah seorang karyawannya.
"Iya, aku ada janji dengan pacarku," jawabnya seraya tersenyum manis, lalu mengambil jaketnya dan keluar kantor.
Anko memerhatikan atasannya sekaligus sahabatnya sejak SMA itu. Dia merasa sedikit asing, saat Shizune mengatakan 'pacarku'. Sejak kapan sahabatnya itu mempunyai pacar? Dan, mengapa ia tidak tahu? Padahal Shizune selalu menceritakan apapun padanya. Dengan bermodal kecurigaan awal tersebut, ia mengikuti sahabatnya sampai pada lobby utama. Tampak seorang pria sedang mencium pipi Shizune lalu menggenggam tangannya. Akhirnya, mereka pun pergi keluar kantor dengan menggunakan mobil Pagani Zonda F. Ia merasa mengenal mobil itu, tapi ia lupa. Ia pun berusaha mengabaikannya. Tanpa ia sadari, sebenarnya orang itu akan jadi bencana besar bagi stasiun TV tempat ia bekerja.
Seminggu yang lalu...
"Haha, aku tahu kau memang paling bisa diandalkan soal begini. Jadi, Konoha TV akan bangkrut kurang dari seminggu lagi, kan?" seorang pria berada di lahan parkir sebuah stasiun TV sedang berbicara dengan pria di depannya. Pria berambut perak pucat di depannya hanya terlihat mengangguk sesekali menghitung uang yang ada di amplop yang diberikan atas hasil kerja yang dilakukannya.
Lahan parkir itu telah kosong. Hanya tersisa dua mobil yang masih berdiam. Seorang wanita berambut hitam pendek yang ingin mencari udara segar sehabis pulang kerja, keluar dari mobil pacarnya. Tampak, blousenya yang berwarna biru tua satin berantakan karena penat yang ia rasakan selama kerja tadi. Rok hitam yang panjangnya 5 cm di atas lutut sedikit lecek. Ia pun merapikannya sembari berdiri mencari kekasihnya yang katanya tadi ada urusan sebentar. Ia menyandarkan diri di balik mobil nissan march pacarnya yang baru dibeli sekitar dua bulan lalu. Matanya secara tidak sengaja melihat kekasihnya dari jarak agak jauh sedang berbicara dengan sosok yang ia sangat kenal baik. Ia pun berusaha mendengar percakapan itu. Walau singkat dan samar, tapi ia dapat menangkap jelas dari maksud mereka. 'Jadi, Konoha TV bangkrut karena dia, tak akan ku maafkan!' gumam wanita itu dalam hati.
"Oya, katanya kau kesini dengan pacarmu, mana dia?"
Anko—nama wanita yang berambut hitam itu cepat tersadar. Dia segera memasang wajah santai dan muncul dari belakang pacarnya. "Jiraiya, kau lama sekali, sih! Ayo pulang!". Merasa dipanggil, Jiraiya segera menyembunyikan amplop tersebut ke belakang tubuhnya. Suara Anko yang terdengar seperti rengekan membuat pria di depan Jiraiya ini terkikik geli. 'seleranya boleh juga, lumayan' .
"Ah, baiklah baiklah, Anko. Tapi sebelumnya perkenalkan dulu, dia—" ucapa Jiraiya tertahan karena bunyi nada dering dari hp lawan bicaranya itu.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa Jiraiya, dan err—Anko," sebelum menaiki mobilnya, dia sempat mengedipkan matanya dengan bahasa tubuh menggoda kepada Anko.
"Temanmu boleh juga," Anko berusaha memancing Jiraiya.
"Hei, tapi soal di ranjang, dia tidak akan bisa mengimbangimu. Kau 'kan ganas!" ucapnya dengan seringai licik.
"Huh, kau kira aku apa. Ayo pulang sekarang!"
Dua insan ini segera ke mobil Jiraiya, dia melempar amplop itu di tempat duduk Anko. Ketika membuka pintu mobil, Jiraiya merasa memikirkan seringai temannya tadi. 'ah, jangan lagi, mengapa aku terangsang di saat seperti ini!'.
"Anko! Bisa kau membantuku sebentar di belakang?"
"Ada apa?"
"Bisa tolong kau ambilkan hpku di bawah sana? Aku 'kan mau menyetir," Jiraiya menunjuk arah bawah yang berdekatan dengan pintu seberang lainnya.
"Ah, kau ini merepotkan saja!" walau mengeluh, Anko pun tetap mengambilkannya. Ia yang memakai rok terpaksa harus merangkak. Anko tidak sadar bahwa sedari tadi Jiraiya belum masuk mobil di bangku supir. Dia memerhatikan Anko yang tampak menungging dari belakang. Tiba-tiba celananya terasa sesak. Ada perasaan dimana ia merasa harus menuntaskannya. Langsung saja ia memeluk pinggang ramping Anko dari belakang dan menggesek-gesekkan sesuatu miliknya yang berada di bagian bawah tubuhnya. Anko melenguh tertahan. Tanpa sadar, ia mulai mendesah.
"Aah~," akhirnya adegan itu pun berlanjut dengan adegan lainnya yang 'lebih'. Anko pun terpaksa sejenak melupakan semuanya, termasuk hal yang tadi ia dengar. Hal yang seharusnya dan secepatnya dia beritahukan kepada atasannya. Untuk saat ini, ia memilih melupakannya dan memlilih merasakan apa yang Jiraiya lakukan terhadapnya. Seandainya Anko mau menahan Jiraiya melakukannya, lalu segera memberitahukan kepada atasannya. Mungkin belum terlambat untuk memperingatkan. Tapi, itulah manusia. Bila sudah terbuai, semua hal lain yang dikesampingkan bisa hancur dan berantakan.
Seorang perempuan yang terlihat tergesa-gesa berjalan cepat. Suara sepatu berhak tinggi melewati sebuah koridor panjang yang biasanya tampak ramai, namun sepi saat ini. Ujung dari koridor ini adalah ruangan yang ia tuju. Tampak ada sebuah penampang nama di pintu bertuliskan 'RUANG DIREKTUR'. Lalu, ia mengetok ruangan tersebut.
Tok tok tok
"Direktur..."
"Ah, masuklah, Anko."
Wanita yang bernama Anko itu pun segera membuka pintu ruangan tersebut. Tampak seorang wanita yang dipanggil dengan direktur itu memegang kepalanya. Tidak biasanya dia seperti ini. Biasanya, segala masalah perusahaan itu bisa ia selesaikan dengan baik. Tapi, untuk kali ini ia tidak bisa berharap banyak.
Anko menarik kursi yang ada di depan atasannya, lalu ia duduk berhadapan dengan atasannya. Ia tahu belakangan ini atasannya sedang kalut, karena masalah perusahaan. Ia juga merasakannya. Perasaan putus asa.
Shizune mengangkat kepalanya, berusaha sejenak melupakan masalah perusahaannya ini untuk mendengarkan sahabatnya yang menjadi bawahannya selama ini.
"Kau juga mau mengajukan surat pengunduran diri, ya?" katanya sedikit parau.
"Hei, kita dulu berjuang bersama-sama untuk membangun perusahaan ini. Tidak mungkin aku mundur dari hal yang sebenarnya ku inginkan sejak kecil. Ini cita-citaku, Shizune. Dan aku... tidak akan membiarkan kau sendirian menghadapi masalah seperti ini," suara Anko terdengar bijaksana dan tegas.
"Tapi percuma, Anko. Lihatlah kantor kita ini! Pegawai yang ku punya hanya kau, Tenten, dan Chouji! Apa yang bisa kita lakukan?". Suara itu seperti keputusasaan. Ia tahu sahabatnya sedang berada di kondisi terburuk dalam hidupnya. Bagaimana dia merasakan ketika impian telah dia bangun dengan susah payah dan kerja keras dihancurkan oleh orang yang ingin dia gagal tanpa dia tahu apa kesalahannya.
"Apa harta perusahaan kita yang masih ada?" tanya Anko setelah ia menghela napas.
"Hanya tinggal gedung ini, semua gedung kita di kota lain sudah dijual untuk menutupi hutang dari inivestor yang dipertanggungjawabkan kepada kita,"
Anko berusaha memikirkan apa hal yang bisa ia lakukan.
"Dan..." Shizune merasa tidak sanggup untuk mengatakannya.
"Apa?" tanya ia memburu.
"Besok, perusahaan ini tamat. Hutang kita yang terakhir hanya bisa lunas setelah gedung ini dijual. Kita sudah tidak punya harapan lagi,"
Anko tercengang, tiba-tiba saja memori otaknya merekam kembali kejadian yang ia lalui seminggu yang lalu. Kemudian, pikirannya memutar kembali pada masalah yang dihadapi perusahaannya saat ini.
"Anko? Kau tidak marah, 'kan? Kita bisa kok membangun semuanya lagi dari awal. Aku masih mempunyai sebuah mansion seharga 100 juta yen yang bisa ku jual untuk biaya sekolah. Aku mau kita bersekolah lagi di sekolah pertelevisian, lalu kita mencari pekerjaan baru lagi. Aku harap kau mau," Shizune berusaha mencairkan suasana. Dirinya yang terbiasa bekerja keras dan tidak [ernah muda menyerah selalu merasa pasti ada kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.
Anko tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Shizune. Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan kejadian seminggu yang lalu. Dia berpikir, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Sekarang adalah waktunya membantu sahabatnya yang sedang kesulitan ini.
"Maaf, aku sedang tidak enak badan. Aku pulang dulu," jawab Anko agak dingin.
Mungkin di saat seperti ini ia terkesan lari dari masalah yang dihadapi sahabatnya, tapi sebenarnya tidak. Ia tahu, bila hanya berbicara tidak akan menyelesaikan masalah. Masing-masing dari orang yang tersisa di kantor ini yaitu—Shizune, Tenten, Chouji, dan dirinya sendiri perlu waktu berpikir untuk memecahkan masalah ini. Ditambah lagi dengan waktu mereka yang tidak banyak. Hanya sehari.
Shizune mengangguk pasrah.
Matahari pun siap kembali ke peraduannya, memberikan salam singkat kala senja sudah cukup baginya. Matahari pun berpamitan di ufuk barat. Selalu begitu yang terjadi setiap harinya. Shizune mengunci ruangannya.
Ceklek, bunyi kunci yang memutar beradu dengan gagang pintunya.
Dia melihat sekeliling, 'biasanya para pegawaiku mengucapkan oyasumi padaku, tapi sekarang...'. kosong dan lenggang. Suasana itulah yang didapatinya ketika dirinya keluar ruangan untuk pulang. Ini hari terakhirnya, besok sudah tidak ada lagi dia dimana pun semua sudut gedung kantor ini. Hancur sudah impiannya dulu. Siapa pun orang yang menghancurkannya, tentu sangatlah tidak suka dengan keberhasilan stasiun Tvnya. Setidaknya, sekarang dia tahu. Para pegawainya bukanlah orang yang bertipe seperti direktur mereka. Mereka tidak akan berusaha mencari cara mempertahankan perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka kabur, mencari perusahaan lain yang masih bisa membayar gaji mereka. 'besok, semua peralatan ini tidak akan terlihat lagi. Aku akan merindukannya'. Karena ini hari terakhirnya, dia memutuskan berkeliling gedung kantornya yang menjadi tempat pertama dia mengawali karirnya di bidang pertelevisian.
Review? I hope it so much for better story
