Hai, hai... Saya kembali dengan lanjutan 'Melodi Malam Hari - Second Gate' ^^ Anggap saja ini season 2 xD

Bagi pembaca baru, lebih baik jika anda membaca fanfic saya yang berjudul 'Melodi Malam hari - First Gate' terlebih dahulu.

Kenapa saya pisah? Agar jelas nampak bahwa ada konflik yang berbeda nantinya dalam cerita. First Gate adalah perkenalan Boboiboy dengan Fang dan dunianya yang baru, Second Gate kemungkinan bercerita mengenai interaksi Boboiboy dengan teman-temannya nanti... Entah apakah nanti Boboiboy akan bersekolah atau tidak sama sekali ^^

Akhir kata, selamat membaca dan semoga terhibur ^^


When the Night Comes

Suara hewan-hewan malam menggema di perbukitan pinggir kota London, Inggris. Para manusia yang tak mengenal keberadaan makhluk lain selain diri mereka sendiri akan selalu terpenjara dalam ketakutan ketika malam menjelang. Semua orang menutup pintu dan jendela dengan erat bagai tak akan menyambut siapapun yang mengetuk pintu mereka.

Bahkan di jaman yang telah dikendalikan oleh teknologi tinggi, tak urung para manusia berpikiran dan berhati sempit.

Sesungguhnya para makhluk yang keluar di malam hari hanya ingin melakukan aktifitas mereka seperti layaknya manusia.

Lampu-lampu jalan mulai menerangi dengan cahaya mereka. suara riuh ramah tamah saling menyapa bersahutan dalam dinginnya udara. Senyuman menghias gelapnya malam dari wajah para makhluk berbagai rupa. Lolongan serigala jejadian memanggil sahabat-sahabatnya untuk menikmati kopi dan daging nikmat. Para vampir bersulang segelas darah yang disediakan para manusia yang memiliki kedai legal bagi para ras lain. Para goblin yang berwajah masam membantu para penyihir mengangkut buku-buku penuh mantra dengan suka rela. Kucing-kucing mengobrol di atas cerobong yang mengeluarkan kehangatan. Para ent yang menari-nari dalam hembusan angin malam menimbulkan suara gemerisik indah. Hanya segelintir manusia yang menikmati malam bersama sahabat-sahabat makhluk malam mereka.

Di sebuah kastil jauh dari benteng organisasi Night Gaze, di balik perbukitan dan lembah yang rimbun, tengah terlelap seorang pemuda dengan telinga serigala yang memahkotai kepalanya. Wajah tampan penuh kedamaian enggan membuka mata untuk menyapa malam.

"Fang..."

Suara lembut seorang bidadari memaksa dirinya membuka mata. Senyuman hangat serta tatapan lembut menyambut sang werewolf dari tidurnya.

"Sudah malam... kau harus sekolah..."

Sungguh Fang enggan beranjak dan meninggalkan kastil untuk sekolah. Ingin rasanya seharian penuh ia hanya berdua dengan calon pengantinnya.

Gadis berpakaian pelayan lengkap dengan celemek putih bersih berenda manis yang menarik selimut Fang dengan perlahan membantu menyiapkan seragam sekolah sang Tuan Muda di pinggir tempat tidur.

Fang kembali meringkukkan tubuhnya membuat gadis tersebut menghela napas dan mendekatinya kembali , "Fang..."

Namun tangan Fang menarik tangan ramping sang gadis hingga jatuh ke dalam pelukan sang werewolf berparas tampan. Gadis itu tak mampu menyembunyikan rona merah di wajahnya, "Fa, Fang..."

"Sebentar lagi, Boboiboy..."

Ciuman di kening Boboiboy dari Fang membuat gadis itu tersenyum kecil menikmatinya. Sungguh terasa hangat pelukan sang pangeran, namun bukan berarti Boboiboy membiarkannya terus berbaring dan melupakan sekolah.

"Fang... Aku sudah membuatkan donat kesukaanmu di meja makan..."

Fang nyengir lebar, kagum pada kesiapan gadis pujaannya untuk merayu agar Fang mau bangun. Ciuman kecil di bibir sedikit mengejutkan Boboiboy, tapi ia membalas dengan tawa kecil melihat Fang yang mengibaskan ekornya bahagia.


"Selamat pagi, Fang..."

"Selamat pagi, ayah, ibu..."

Boboiboy menuangkan teh panas untuk Nyonya Elizabeth yang duduk di samping suaminya. Makanan yang tersaji di meja begitu wangi penuh kelezatan hasil karya cipta Boboiboy.

Sudah lebih dari seminggu sejak Boboiboy dan Fang saling mengutarakan perasaan mereka masing-masing dengan penuh lega, Hao tetap saja tak sanggup menahan senyumnya melihat Fang yang selalu dimabuk asmara setiap bersama pujaannya.

Sebelum berangkat sekolah, Boboiboy memberikan kotak bekal dan mengantar Fang hingga pintu depan, melambaikan tangan sampai Fang menghilang dari pandangan menuju sekolahnya dalam wujud serigala.

Apa lagi yang kurang bagi Fang dengan segala kehangatan dan kebahagiaan yang diberikan Boboiboy untuknya?

Dunia ini sungguh sempurna bagi werewolf muda tersebut...


Yaya, Ying, dan Gopal, serta tak lupa Stanley yang asyik ngorok dari bangkunya memandangi salah satu teman sekelas mereka dengan aneh.

Apa yang aneh dari seorang werewolf yang sedang bersiul-siul sendiri? Apa yang aneh dari Sang Tuan Muda Fang Lang yang sedang menikmati bekal roti isi daging dengan sayur hijau seperti layaknya ia sedang makan donat lobak merah kesukaannya... terlebih ada SAYUR HIJAU di situ...?

Sudah nyaris semingguan Fang bertingkah demikian membuat heran semua temannya.

"Tuh' kan... aneh banget... Sayur yang biasanya menjadi makanan yang paling dihindari Fang malah dimakan sampe diemut-emut begitu..."

"Aiyo... nggak beres ni orang... Pasti ada hubungannya dengan pengantin imajinernya lagi, deh..."

"Terus kalian lihat nggak tadi pagi dia jalan di lorong sekolah senyum-senyum sendiri...? Kan' serem tiap hari liat dia begitu..."

"Groook..."

Ying menatap kesal pada teman di samping mereka yang menikmati molornya dengan penuh penghayatan, "Ei, Stanley! Nggak malam nggak siang... tidur aja kerjanya...! Aku curiga kalau kamu ini vampir kelainan!" Protes Ying hanya dibalas Stanley dengan menguap begitu lebar, membuat Ying menatap sengit.

Fang melihat jam di dinding kelasnya. Ia bangkit sambil membawa beberapa buku dari tas dan berjalan menuju perpustakaan sendirian. Di lorong beberapa teman halfter yang lain menyapa Fang, juga beberapa gadis halfter maupun manusia yang mengidolakannya.

Hanya sapaan datar dan dingin yang diberikan Fang pada para gadis tersebut, tapi nampaknya mereka tak keberatan sama sekali.

Di perpustakaan, Fang langsung menuju meja kayu panjang lebar dengan komputer yang berdiri di atas serta beberapa buku dan kertas-kertas menumpuk. Seorang wanita penyihir tua dengan wajah yang terangkat penuh keseriusan menyambut Fang tanpa bersuara sedikitpun. Rambut putihnya digelung rapat di belakang kepala, nyaris tertutupi topi runcing hitam yang dikenakan sang wanita. Kacamata yang berujung runcing menghias mata sang penyihir, membuat kesan dingin pada siapapun yang melihatnya.

"Saya mau mengembalikan buku...," Fang berusaha menjaga volume suaranya. Sang wanita hanya mengangguk sebagai jawaban. Begitu selesai mengembalikan buku, Fang memasuki area membaca.

Suasana perpustakaan begitu sepi, hanya suara-suara kertas terdengar menggema. Rak-rak raksasa yang berjejer dan menjulang ke langit-langit kastil sekolah dipenuhi berbagai buku. Para siswa-siswi manusia dan halfter mengisi waktu membaca dan mengerjakan tugas mereka di situ.

Namun dari sela-sela rak paling ujung belakang, di mana tempat yang paling terpojok dalam perpustakaan, sayup-sayup suara terdengar. Suara dua orang tengah memperdebatkan sesuatu sambil berbisik-bisik dengan nada agak keras.

Fang tersenyum mengetahui siapa dua orang... atau makhluk ini. Ia berjalan mendekati sela-sela rak. Ia mendapati seorang Goblin hijau kotak yang mengenakan topi runcing agak kebesaran di atas kepalanya tengah mengerutkan dahinya sambil membuka-buka buku tebal besar di antara tumpukan buku lain, dan seekor burung hantu gemuk raksasa berwarna ungu sebesar goblin di sampingnya. Mata merah menyala dan paruh yang meski kecil namun tak pernah absen dari cengiran lebar yang memperlihatkan gigi-gigi tajam memperlihatkan ia bukan burung hantu biasa.

"Hei, Adu Du, Probe... apa kabar?" sapa Fang tanpa menghilangkan senyuman. Goblin bernama Adu Du tersebut agak terkejut namun hanya menghela napas setelah melihat werewolf remaja yang bersandar pada rak sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

"Oh, kau Fang... kukira si penjaga perpustakaan yang menyebalkan itu... sedikit-sedikit mengomel, sedikit-sedikit mengomel...," Adu Du kembali pada bacaannya. Fang mendekati Adu Du sambil menepuk topi runcing di atas kepala Adu Du dan menatap burung hantu yang bertengger di bangku dekat jendela, "Apa kabar juga, Probe?"

"Hai, Fang...! Kabar baik sekali...! Tapi bos-ku ini masih ngotot ingin mencari resep ramuan untuk membuat tubuhnya tinggi... sedangkan aku ingin jalan-jalan di luar menikmati udara segar... bukan di perpustakaan nan pengap ini..."

Adu Du menggerutu berbisik, "Aku tak mengurusi ramuan itu lagi, bodoh! Aku sedang mencari tahu mengenai tumbuhan obat...!"

Fang cekikian melihat kedua sahabatnya berdebat berbisik-bisik. Meski Adu Du jelas adalah majikan Probe, sayangnya burung hantu itu tak segan menyindir apa yang dilakukan bos-nya tersebut.

Perhatian goblin kotak hijau kembali pada werewolf muda yang berdiri di sampingnya. Ada hal lain yang ditangkap Adu Du dari senyuman Fang.

"Kau terlihat bahagia sekali hari ini... apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?" Adu Du menutup buku berukuran lebih besar dari tubuhnya yang hanya setinggi pinggang Fang. Sang werewolf muda justru membalas pertanyaan Adu Du dengan nyengir lebar sambil menggeliat tak jelas bersandar di pinggir rak buku besar.

Adu Du melihat Fang dengan heran sambil mengrenyitkan kedua alis. Probe ikut terheran berusaha menebak-nebak apa yang membuat Fang tertawa-tawa sendiri, "Eih...? Kenapa lagi ini werewolf...? Apa jangan-jangan ini kebiasaan ras werewolf yang belum pernah diteliti incik bos?"

Adu Du mengangkat alis tak menggubris pertanyaan Probe, "Dari gelagatmu... sepertinya ini ada hubungannya dengan pengantin imajinasimu..."

Senyum Fang hilang mendadak sambil membungkukkan tubuhnya yang tinggi agar bisa menatap mata Adu Du, "Hei... sudah kubilang aku tidak berimajinasi..."

"Ya... ya... Terserah kau saja, Fang..." ujar Adu Du cuek memutar matanya dan melanjutkan mencari buku lain dalam rak di sampingnya.

Ia sudah terbiasa dengan salah satu murid akademi yang begitu emosional itu sejak tahun pertama Fang datang.

Adu Du adalah seorang goblin dari pegunungan bernama Ata ta Tiga yang bekerja di bagian institusi Night Gaze. Ia memiliki jiwa keingintahuan yang besar dibanding para goblin lain.

Awal mula Adu Du memasuki akademi adalah karena ia menyusup diam-diam ke perpustakaan dibantu burung hantu piaraannya, Probe.

Namun niat Adu Du berhasil digagalkan para tetua penjaga. Bukannya diusir, Adu Du justru diperbolehkan belajar sambil membantu sebagai asisten para guru dan profesor di situ. Bahkan ia memiliki ruangan sendiri. Betapa bahagianya Adu Du yang memiliki semangat mencari ilmu.

Setahun setelahnya, Fang yang saat itu masih tahun pertama sekolah berusia sebelas tahun, merasa bosan pada pelajaran dan pada teman-teman di kelasnya. Ia nekat membolos dan mengelilingi gedung akademi diam-diam, hingga tanpa sengaja memasuki ruangan Adu Du yang dipenuhi dengan berbagai macam benda unik. Fang kecil terkagum menelusuri ruangan tersebut, tanpa disadari Probe yang sedang membersihkan tumpukan buku-buku tak sengaja menyenggol tumpukan buku tersebut nyaris menimpa Fang. Dengan cekatan Fang melompat menuju tempat tinggi di atas lemari membuat Adu Du terkagum.

Sejak saat itu, Fang bersedia menjadi objek penelitian Adu Du terhadap halfter jenis werewolf usia anak-anak dengan syarat Fang diperbolehkan main ke ruangan yang dipenuhi benda-benda antik nan unik tersebut. Namun meski penelitian Adu Du terhadap ras werewolf telah selesai, Fang tak berhenti mengunjungi kedua temannya hingga tahun berganti. Bahkan untuk menghindari kejaran para fansnya, Fang lebih suka bersantai sambil mengobrol dengan Adu Du dan Probe di ruang mereka.

"Jadi... kalau gadis ini bukan imajinasimu... kenapa kau tak pernah mengenalkannya pada kami...?" Probe terbang dan hinggap di bangku dekat Fang berdiri. Desahan kecewa menjadi permulaan sebelum Fang angkat bicara. Namun pemjaga perpustakaan ternyata menghampiri mereka dengan raut wajah dingin meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya yang tipis.

Ketiganya terpaksa menurut dan meninggalkan perpustakaan menuju ruangan Adu Du yang berada di loteng akademi. Sebuah menara kecil menjulang di antara menara akademi lain, terletak paling pojok belakang bangunan. Di balik kaca berteralis hitam Fang duduk santai pada pinggir jendela sambil menyandarkan tangan kanan pada salah satu lututnya yang terangkat. Sementara tangan kirinya memainkan bola kristal dengan lihai seperti memutar bola basket dengan jemarinya.

"Heh, jangan dimainkan! Nanti aku tak bisa berkomunikasi dengan para profesor...!" Adu Du mengambil bola kristal dari tangan Fang dan meletakkannya di atas bantalan yang dikelilingi sekian banyak buku di atas meja. Barang-barang untuk membuat ramuan beserta bahan-bahannya memenuhi ruang tersebut. Seluruh rak buku yang berjejer dipenuhi oleh buku, toples ramuan, benda-benda magis, dan banyak lagi. Jelas Adu Du dan Probe tak sempat membersihkan barang-barang tersebut sementara mereka sibuk dalam urusan penelitian dan percobaan.

"Jadi... bisa kau lanjutkan alasanmu belum mengenalkan pengantinmu ini pada kami...?" Adu Du duduk di bangku tinggi yang membuat kakinya tergantung tak menapak lantai. Probe semakin penasaran hinggap di seonggok kayu yang memang disediakan untuknya bertengger.

"Yah... aku sudah pernah cerita kalau gadis ini manusia, kan...?" Fang mulai menceritakan bagaimana awal mula Boboiboy menjadi setengah vampir dan akhirnya ia tinggal bersama keluarga Lang, "...tubuhnya bukan tubuh seorang vampir sejati dan ia masih memiliki sifat-sifat manusia... Maka itu jam tidurnya pun juga menuruti jam manusia... Bangun pagi, tidur di malam hari... Aku tak bisa memaksanya untuk kemari hanya untuk membuktikan kata-kataku pada teman-teman..."

Fang menghela napas sementara Adu Du tertarik mendengar ras manusia yang memiliki darah vampir dalam tubuhnya, "Wow... aku ingin sekali bertemu dengan gadis ini... boleh aku meneliti dirinya...?"

"Entahlah... selama Boboiboy tak keberatan kurasa tak apa-apa... Tapi sepertinya akan sulit untuk mempertemukan kalian...," Fang menggaruk kepalanya ragu. Entah sudah berapa lama ia ingin memperkenalkan Boboiboy pada orang-orang. Namun tentu saja Fang tak mau memaksakan kehendak pada gadis lembut tersebut.


TBC...