This is ma second fanfic. Just support me and please following me or following the story~~

I'm sorry. Bad summary

Ini truelly hasil dari ide saya sendiri

Maaf kalau ada kesamaan

Typo everywhere~~

Happy reading3

.

.

.

.

.

.Suasana kelas siang ini bisa di bilang mendekati ramai. Ya, karna ini jam istirahat. Terlebih, ini hari Sabtu, jam istirahat biasanya diperpanjang 5 menit, itu berarti jam istirahat menjadi 20 menit.

Aku keluar kelas. Bosan rasanya hanya duduk tak jelas didalam kelas yang dengan sedikit ventilasi. Lagipula, sudah pasti dikelas kosong. Yaa, mungkin hanya ada beberapa, tp disana, dipojok kelas sebelah kanan hanya ada pria berkebangsaan china yang setia dengan kacamata bulat teblanya ditambah tangan yang mengangkat buku menghadap kedepan wajahnya, Zhang Yixing.

Diambang pintu kelas terlihat jelas 4 manusia berlagak sok menawan (menurutku) sedang asik mengobrol. Ah, bukan, tapi.. menggosip. Itu, pekerjaan mereka.

Aku melewati mereka berempat, seperti biasa. Ada rasa dan bau tidak enak merayap dihidung dan fikiranku. Benar kan, mereka membual (lagi). mau tak mau, aku harus menutup hidungku, busuk sekali yang mereka bicarakan.

"Sehun!". Salah satu mereka pasti memanggilku.

Aku menoleh.

"hidungmu gatal lagi? atau salah satu bulu hidungmu ada yang merambat keluar?". Yeri berbicara mengejek disambiri dengan tawa centil ketiga temannya.

Aku meringis. "lanjutkan saja gosipmu, wanita berlidah panas."

Aku pergi. Lebih baik seperti ini daripada melanjutkan acara debat yang pasti akan menyita perhatian siswa lain.

Aku merasakan Yeri menghentakan kakinya. Bagus.

Aku terus berjanalan melintasi koridor dan melewati siswa-siswa yang setia bertengger disana. Aku masih menutup hidungku sambil jalan menunduk. selalu ada rasa busuk. "mereka beridiri disini hanya untuk membicarakan hal-hal buruk seperti itu?". Batinku

Mereka menatap aneh kepadaku. Aku bisa merasakannya, aku bisa mendengar mereka.

.

.

.

.

.

Amerika, 10.00 p.m.

"ah, umma. Why are u like this to me? Aku tidak mau pindah kekorea lagi. terlalu membosankan disana. Terlebih bibi, dia orang yang suka mengatur melebihi umma. Aku tidak mau meninggalkan amerika dan menetap disana dengan keluarga bibi. Never!"

"sehabis musim dingin kita akan terbang ke korea juga, anakku. Bibimu hanya memegang amanat yang umma sampaikan padanya".

Umma mendekat kearahku dan mengelus bagian ubun-ubun kepalaku. Seakan menyampaikan "tidak akan terjadia apa-apa. Percayalah".

Tapi tetap saja, mendadak mengabarkan pesawat menuju korea yang dipesankan untukku yang akan berangkat besok pagi. Aku bosan dengan korea.

Aku berlari kearah ayahku. "ah, appa. Please, help me. I beg you". Aku tau ini seperti anak bocah berusia 7 tahun, tapi…. Masa bodoh!

"kemaslah kopermu, Kai". bukannya menanggapi, malah meninggalkan kamarku menyisakan aku dan ibu.

"ah, appaaa….. aku tidak mauuuuuu… shit! Abeojiiiiiiii!"

.

.

.

.

.

Sehun's side

aku merelaxkan tanganku yang sedari tadi ku gunakan untuk menutup hidungku. Untuk apa lagi, jika bukan untuk menghindari bau-bau tidak mengenakan hasil buah pemikiran mereka tersebut. Aku bisa mendengar, membaca dan merasakan fikiran mereka.

Kemampuanku memang sedikit aneh. Tapi ini yang membuatku istimewa. hehehe

aku memilih bangku panjang untuk aku duduki. Aku selalu disini setiap jam isitrahat. Ku beritahu, sebenarnya aku bukanlah tipe murid yang cukup pendiam. Jika dibandingkan dengan Zhang Yixing, kemampuan berbicaraku lebih akurat dibandingnya.

Isitilahnya, bisa diperumpamakan aku hanya lebih suka berbicara paling banyak 10 kali disekolah dan 15 kali berbicara di rumah. Sedangkan Zhang Yixing? Aku tidak tahu. Sedikit yang aku ketahui, dia hampir tidak berbicara disekolah.

Tapi, banyak yang kuketahui, dari yang aku baca darinya dia hanya memikirkan pelajaran dan baris-baris kata yang setiap ia baca dari bukunya.

Aku bisa mendengarnya. Orang pendiam seperti dia harusnya dibudidayakan.

Selintas fikiran yeri dan teman-temannya dikoridor tadi terlintas melewati sarafku. saat dikelas aku mendengar fikiran mereka.

Mereka berniat untuk mengerjai si pria Zhang (lagi). tapi, ini lebih parah dari sebelumnya.

Entah harus kembali keatas lagi dan menolong Yixing atau diam disini dengan terganggu akan fikiran siswa bajing itu semua.

Aku melihat arloji yang melilit dilengan kiriku. Masih ada 5 menit.

Akan lebih bodoh dan kejam jika aku mengetahui niat keji mereka tapi tetap diam disini.

Aku kembali keatas dan menuju kelas.

"hahahahaha"

"bertindak lah zhang"

"yaampun, lihatlah si bodoh ini"

"hahahaha, menagapa aku jadi merasa kasihan. Hahahaha"

"dasar. Menjijikan"

Benar saja, apa yang mereka lakukan. Mereka menggantungkan tas yixing dipengait tembok yang paling tinggi, meja yang didudukinya di pilok dan dicoreti begitu saja, kulihat kacamata nya pun dicoreti marker hitam.

Dasar. Aku mengepal tanganku, masuk kedalam kelas.

Aku mendorong kasar chanyeol, salah satu si provokator. "minggir kau, bajingan!".

Tentu saja ia tersungkur dan anak-anak pendukung si provokator pun diam. Entah diam karena kaget atau sedang mencerna apa yang aku lakukan.

Masa bodoh. Aku tidak mau mengetahui fikiran mereka.

"hehehey, Oh Sehun! Tidak bisa kah kau melakukannya dengan sopan dan sedikit formal? Kau bisa menunduk dan mengatakan 'halo' kepadaku terlebih dahulu."

ini lebih seperti 'ia mengejekku'.

"enyahlah atau akan kupanggilkan guru!"

"apa kau sedang mengadu domba?"

"lalu bagaimana denganmu? apa kau adalah domba yang sedang mencoba menganiaya majikannya?"

Ia meringis. "lucu sekali. Apa maksudmu, Oh Sehun?"

"kau tahu? Dia?" aku menunjuk yixing yang sedang menunduk. karna apa lagi kalau bukan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. seperti biasanya.

"Dia. Dia yang kau dan kalian remehkan, lecehkan, dan rendahkan dengan mulut busa kalian itu akan menjadi orang besar nantinya. Siapa yang bisa mengira emas yang tertimbun dalam tanah berlumpur akan muncul dan bersinar diantara lumpur licin seperti kalian?".

Bagus. Semua murid didalam kelas sedang memandangiku tak percaya sekarang.

"dulu kau memang teman dekatku, Park Chanyeol. Tapi melihatmu seperti ini, mengucilkan yang kecil, aku prihatin. Hatimu sudah terlanjur terbang terlalu tinggi. Akal dan logikamu mendorongku, Park Chanyeol!"

Langsung saja, aku tarik lengan yixing dan mengambil kasar kacamata bening yang sekarang sudah berubah menjadi hitam dari tangan Yeri.

Aku membawa Yixing pergi dan menuju kekamar mandi.

"diam disini. Aku akan mencuci bersih kacamatamu. Sebaiknya kau juga bersihkan wajahmu".

Yixing mengangguk dan menuju wastafel sampingku. Aku terus mencuci kacamata hitamnya, tapi sama sekali tidak ada pengaruh apapun. Terus saja aku gosok.

"ehem, Oh Sehun." Yixing menoleh kepada ku.

Kali pertama ia berbicara denganku. Suaranyaa…. Sedikit lembut dan imut.

"ya?"

"sepertinya marker itu permanen. Biarkan saja dan aku akan membelinya lagi yang baru".

Ini juga kali pertama yixing berbicara lebih dari 1 kalimat kepadaku.

Aku menoleh, wajahnya sudah bersih dan poni tipisnya terlihat sedikit basah.

"baiklah. Ini kacamatamu." Aku tersenyum. "tak apa tanpa kacamata?"

"a-ah tidak apa. Jangan fikirkan dan hiraukan saja aku." Ia tersenyum tipis.

Hatinya terlalu sakit.

"kita teman sekelas. Aku harus menunjukan rasa solideritas". Aku balik tersenyum

"…"

Yixing diam, ia sedang memikirkan sesuatu. Tapi tak bisa ku dengar. Otaknya terlalu banyak berfikir.

"kau tidak mau kembali kekelas?". Akhirnya aku memecahkan keheningan.

Agak sedikit canggung memang.

"aku tidak mau mendapat resiko dikerjai dengan mereka lagi. aku akan menunggu disini sampai bel pulang. tak apa, tinggal 1 jam pelajaran lagi kan?". Yixing berbicara sambil menduduk.

Hatinya sakit. Aku dapat merasakan itu.

"kau… kembali saja, Sehun-ah"

["tak bisa kah kau melindungiku, Sehun?"]

["akhir bulan ini sebaiknya aku mengajukan surat undur diri siswa"]

["aku tidak bisa"]

["seakan kau satu-satunya. Aku mohon, Sehun"]

Tunggu…. Aku mendengar fikiran yixing. Dia meminta pertolonganku? Melindunginya? Keluar dari sekolah? Akhir bulan? Itu masih 7 hari lagi kan?

Tak tega sebenarnya melihat ia terpuruk seperti ini. Aku memikirkan bagaimana jika aku yang sedang diposisinya sekarang.

Tuhan…. Betapa perih hidupnya. Baiklah, biar aku yang menolongnya. Lagipula kita teman kan?

Aku meraih tangannya dan menariknya, kekelas tentu saja.

"jangan khawatirkan apapun. Dan jangan sama sekali berniat untuk keluar dari sekolah. Mengerti?"

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf kalau terlalu pendek;(

Ayo ayo dong di review. Aku tunggu….

Don't be silent riders hehehe

Aku tunggu kritikan dan comentnya

Aku tunggu juga favorit & follow nya xD hehehe

Minta tolong juga tolong rekomendasiin fanfic ini ketemen dekat, ya? Ya ya ya?

Seperti biasa, nanti aku kasih coklat~~~~