Shinigami at The Train

Pairing : Kaihun

Genre : Roman dan Komedi

Rate : M

.

.

Happy Reading!

.

.

Suasana sebuah subway di daerah distrik Kyoto terlihat ramai dengan anak sekolah yang tengah menikmati masa euforia setelah ujian kelulusan. Riuh rendah suara orang terdengar bergemuruh saat kereta jalur 2 mulai terlihat. Tapi, jika kita menelisik lebih dalam, daerah di lantai 2 dekat dengan toilet wanita sangat kontras dengan keadaan di dekat peron. Ruangan itu terlihat gelap karena hanya diterangi dengan lampu bohlam susu.

Seorang laki-laki berdiri menyender di lorong yang cukup temaram. Ia menatap tajam kerumunan orang yang berada di sekitar peron. Obsidiannya tertuju kepada seorang pemuda yang terlihat tanpa beban tengah memainkan pspnya dengan asyik.

"Wasurenaide, Hun-chan." lirih pemuda dengan wajah dingin dan datar itu. ia mengusap cincin yang berada di jemari manis tangan kirinya. Dapat ia rasakan kalau hanya dingin yang menjalari dari sentuhannya itu. ia tidak mungkin berharap banyak pada seseorang. Tapi, memangnya siapa yang mau dekat dengan dirinya? Dia bukan manusia biasa, dan dia cukup tahu itu.

"Anata ni hikari." Setelah mengucap kalimat itu, pemuda berkulit tan itu menyeringai. Terlalu kejam dan bengis untuk ukuran manusia sebenarnya. Tapi, ia tidak memperdulikan hal yang ia lakukan. Bahkan, karena seringainya ini, banyak manusia yang dengan sukarela menyerahkan tubuhnya dengan sukarela dan menjalin perjanjian dengannya. Cih! Manusia yang bodoh. Bagaimana mungkin mereka membuat perjanjian dengan Iblis?

Pemuda itu berniat melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia melirik sekring yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Dengan kemampuannya yang berlebih, Kai-nama pemuda itu, menggerakkan tangannya dengan gerakan memutar seperti memutar paku ulir.

ZLAPP!

"Mati lampu!" teriakan panik mulai terdengar di sekitar peron. Dapat ia lihat banyak orang yang sedang berlarian tidak karuan. Sungguh manusia yang menyedihkan. Bagaimana mungkin ia bisa dikuasai iblis yang begitu rendah mereka pandang. Mungkin, kalau mereka bertemu dengan sang Lucifer, mereka akan langsung bersujud. Jika para malaikat tidak menghalangi mereka.

"Kenapa dia tidak panik?" sedikit banyak, ia heran dengan pemuda incarannya. Ia sedikit mengangkat dagunya. Menunjukkan senyum angkuh ketika pemuda itu menoleh kearahnya dengan pandangan yang tajam dan menusuk tapi malah terlihat sangat menggemaskan itu.

"Dia bisa melihatku. Menarik" dan seorang Kim Kai tidak akan membiarkan orang menarik perhatiannya pergi begitu saja.

"Kenapa kau berada disini?" ucapan penuh sarkasme itu ia dapat dari seseorang yang ternyata adalah orang yang menjadi incarannya selama ia mengawasi.

"Kau akan mencabut nyawa seseorang?" lanjutan kalimat dari namja itu membuat Kai terdiam. Apa ia terlihat begitu tertebak? Ia melirik punggungnya. Pantas. Kedua sayap hitam legam itu terpampang dengan gagah di punggungnya. Pemuda yang ia ketahui bernama Sehun itu mendengus.

"Dasar shinigami." Cibirnya. Kai belum pernah merasakan setertarik ini kepada manusia yang akan ia cabut nyawanya. Tentu, ia merupakan bagian dari tubuh sang Lucifer yang sering ia sebut Iblis paling kuat dan tidak ada tandingannya. Mungkin, hanya malaikat tertinggi saja-seperti Gabriel yang mampu menghadapinya.

"Apa kau datang untuk mengambil nyawaku? Silakan saja. Aku sudah muak hidup di dunia ini." Kai menaikkan sebelah alisnya. Dan baru ia sadari, sedari tadi, ia belum mengucapkan sepatah katapun kepada manusia dihadapannya ini.

"Kau manusia yang bodoh." Ujar iblis itu dengan santai. Ia tidak terkesan mengintimidasi tetapi, memang begitu keadaan pita suaranya.

"Untuk apa kau meladeniku yang merupakan manusia bodoh ini?! Cabut saja nyawaku." Sehun mengeluarkan sebilah pisau dari balik jas sekolahnya. Ia mengarahkan pisau itu kearah dada kirinya. Tepat di jantung yang iramanya sangat dinikmati oleh Kai.

"Jantungmu lemah. Aku tak tertarik." Dengan gerakan cepat, Kai merengkuh Sehun ke pelukannya. Ia melakukan teleportasi dan berpindah tempat ke dalam gerbong KRL itu. Kai mendudukkan Sehun yang terlihat sedikit terkejut dan mungkin semi-traumatik akibat teleportasinya itu.

"Jaga dirimu baik-baik. Aku menghargai kehidupan, sebagaimana malaikat menghargai kematian." Satu kecupan di dahi Sehun rasakan untuk beberapa detik. Ia memejamkan matanya sejenak. Mengingat rasa yang sepertinya familiar bagi tubuhnya. Tanpa sadar, ia mencengkeram pakaian Kai di bagian pinggang. Isyarat untuk tidak pergi.

"Terima kasih." Ucap Sehun singkat. Dan setelah itu, Kai menghilang. Meninggalkan Sehun yang tengah kebingungan akibat perlakuan Iblis yang menurutnya bodoh dan sedikit tampan itu. ingat, Sehun hanya menyebutnya SEDIKIT TAMPAN.

...

"Darimana saja kau anak babo?!" Sehun hanya meringis ketika bibinya, Kim Jaejoong. Yang tengah bertransformasi menjadi Iblis seperti suaminya-Jung Yunho tengah memegang sapu yang ia yakin sebentar lagi akan mengenai betisnya.

"Joongie Imo, Kyunie baru saja mencari buku untuk referensi. Sebentar lagi, kelas aksel akan ujian. Jangan sepelekan usiaku yang muda. Aku tidak akan kalah dengan si evil itu." ucap Sehun. Ia menyerahkan sebuah buku resep dan sekantung jjajangmyun kepada Jaejoong.

CUP!

"Imo jangan marah ne." Sehun mencuri ciuman di pipi kanan bibi galak kesayangannya itu.

"Dasar anak nakal! Kau tidak tahu kalau Kyuhyun menunggumu sampai dia flu? Adik macam apa kau ini. Cepat masuk kamar. Aku akan membuatkan cokelat panas untukmu. Udara benar-benar dingin. Kyuhyun juga kenapa dia harus ngotot menunggu Sehun sih?" Sehun hanya terkekeh mendengar omelan bibinya itu. ia berjalan melewati ruang kerja pamannya. Disana, Yunho tengah membaca buku-buku kedokteran dengan mimik yang lucu.

"U-Know sama." Sehun menggoda pamannya dengan menggunakan nama samarannya saat ia tengah bertugas menjadi agen FBI.

"Jangan menggodaku, bambu albino." Yunho menutup bukunya dan menghampiri keponakannya yang tengah menyeringai menyebalkan di pintu ruang kerjanya.

"Dari mana saja kau? Ketinggalan kereta di subway lagi?" Sehun mengernyit. Bukan karena Yunho. Tetapi, karena ada, tunggu, Kai? Kai di belakang pamannya? Apa yang mau diambil itu nyawa pamannya?

Jantung Sehun berdetak sangat kencang ketika Kai mulai mengeluarkan pisau yang tadi ia gunakan untuk melakukan tindakan bunuh diri meskipun digagalkan oleh Kai. Dengan gerakan reflek, ia langsung menarik tubuh pamannya dan menggantikan punggunya yang tertusuk oleh pisau kecil namun tajam itu.

"Samchon!"

CRASH!

"Uhuk!" pisau itu menusuk cukup dalam. Sehun sedikit bersyukur, setidaknya ia tidak jadi menggunakan botulinustoxin yang mungkin bisa membuat ia mati dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

"Sehun-ah?! Gwaenchana?!" Yunho menangkap tubuh Sehun yang mulai limbung karena kekurangan darah. Dengan perlahan, pria itu mengeluarkan pisau dari punggung keponakannya.

"Ada apa Yun-OMO?!/ Appa, wae geurae-Sehun-ah!" Jaejoong dan Kyuhyun yang mendengar keributan langsung mendatangi Yunho dan Sehun. Namun, begitu mengejutkannya, Sehun tengah tertusuk pisau, dan Yunho tengah memegang pisau itu.

"Appa, kau..siapa yang dibelakangmu?" Kyuhyun mendekati lemari tempat Kai berdiri. Sehun yang melihat itu hanya bisa menahan Kyuhyun dengan mengusap pelan lengannya.

"Boo, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Cepat ambil air hangat dan handuk. Aku akan menjahit luka Sehun." Jaejoong mengangguk saja. Ia menyuruh Kyuhyun untuk membantunya. Sedangkan Sehun?

"Samchon! Tidak usah dijahit. Diperban saja cukup. Samchon!" Yunho hanya mendengus. Tadi, Sehun sangat lemas, tetapi setelah mendengar kata menjahit, tenaganya langsung kembali. Dan itu membuat Yunho harus melakukan anestesi jika tidak ingin kehilangan tenaganya sia-sia hanya untuk menenangkan Sehun yang memberontak.

"Awas kau Kai!" desis Sehun sambil menatap Kai penuh dendam. Sementara Kai, ia hanya mengangguk dan menghilang. Terlalu misterius untuk seorang shinigami.

SNUT!

"SAMCHOOON! ITU SAKIT! KENAPA TIDAK DIBIUS SAJA?!"

BRUK!

"Aku baru mau bilang ini obat bius Sehunie, kau sudah terlanjur tidur. Sudahlah. Lebih baik lakukan dengan cepat." Yunho hanya menghela nafas. Ia melanjutkan acara pembersihan luka di punggung Sehun sembari menunggu air hangat dari isterinya.

...

"Sudah enakan, Sehun-ah?" tanya Kyuhyun ketika adik sepupunya itu membuka matanya. Sehun mengangguk dan diberikan senyuman terbaiknya kepada Kyuhyun. Kakak sepupunya ini sangat evil dan jahil. Tapi, tidak bisa dipungkiri juga kalau ia sangat baik dan pengertian.

"Hyung, kenapa kau menungguku?" Sehun menatap dahi Kyuhyun yang diperban dan masih terlihat basah dengan darah.

"Kau pasti terluka lagi. Mianhae, Kyunie hyung.." Sehun manyun. Ia sudah membuat hyung kesayangannya terluka. Kyuhyun tertawa. Dalam hati, diam-diam, Sehun mengakui kalau Kyuhyun sangat cantik dan manis. Pantas saja, jika Changmin dan Kyuhyun berjalan bersama, maka Changmin terlihat sangat bahagia.

"Kyunie hyung, dimana Changmin hyung?" Sehun menatap kyuhyun heran. Ia tidak melihat hyung tiang listriknya yang satu itu.

"Dia sedang mengikuti mapala dan berangkat pagi tadi. Lebih baik kau makan bubur dari Eomma." Sehun menurut. Namun, lagi-lagi, ia melihat Kai tengah tersenyum meremehkan sekaligus menjengkelkan di dekat lemarinya. Pria yang mengaku shinigami itu menatap penuh minat kearah Kyuhyun.

"Jangan lihat hyungku seperti itu." Sehun menatap lurus kearah Kai yang tengah tersenyum sangat tipis namun terlihat sangat berminat itu.

"Hyungmu sangat menggoda." Kai mengangkat sudut bibirnya melihat Sehun yang mendecih sebal.

"Sehunnie, kau tidak apa?" Kyuhyun mencubit paha Sehun.

"Appo hyung!" ucap Sehun tidak terima.

"Sudahlah, kau makan dulu buburmu dan istirahat. Hyung mengerjakan tugas di kamar." Kyuhyun keluar dari kamar Sehun. Tapi, Kai menyempatkan untuk meremas bokong Kyuhyun hingga membuat Sehun menatap horor Kai yang menyeringai.

"Jangan sentuh hyungku, Iblis mesum!

...

TBC/END(?)

Aku kembali bawa fanfic baru Kaihun. dan beberapa bulan kedepan, CheonsaWine bakal publish karya pertamanya di sini. tapi, dia Hunhan fans. and, im sorry if this story very very very very absurd, rite? hehehe

Gamsahamnida, and, review please ^_^