Disclaimer: Hetalia Axis Power (c) Hidekaz Himaruya
Warning: mungkin OOC [hobi banget sih bikin OOC], mungkin lemon dan OC
Rated: T ato mungkin M?
pagi, siang, sore, malem, tengah malem. nama saia Ivan14Raka. Ivan itu dari Ivan Braginski. 14 tanggal lahir. Raka itu nama yang selalu saia gunakan. ok! emang itu gak penting. disini saia cuma mau kasih makasih...makasih... dan makasih... special makasih buat Nyasar-chan yang sudah memberikan akun ini kepada saia. dan juga untuk temen-temen FB yang udah ngeriview lebih dulu. sama sangat special thanks buat kakak saia, TikaElric7 yang udah ngedit-ngedit dan orang selalu pertama kali baca fict saia. udah ah! kaya mau pidato aja. ini fict pertama saia... selamat menikmati ^^.
TRIPEL SHOCK!
"Argh…. we…west…."
"he…hentikan…. Baka…."
"su….su-san…."
"O…Onii-san…" [AN: kalo kalian kira ini lily ama Swiss, sebenernya ini ice dan…. Silahkan tebak]
"ke….napa…. kau berhenti…. Bodoh….."
WHAT THE HELL! Kenapa mereka berisik sekali sih! Boleh sih boleh menjalin cinta disini. Tapi jangan ganggu kenyamanan orang dong!
Perkenalkan namaku Elizaveta. Aku baru saja. Aku baru lulus dari Hetalia Gakuen dan sekarang secara resmi menjadi seorang nation. Dan sekarang aku adalah Hungary. Dan sekarang (lagi!) aku sedang dikarantina untuk mendapatkan pendidikan menjadi seorang nation yang baik dan benar.
Seperti yang telah kalian baca diatas (?), sekarang para pasangan-pasangan maho itu sedang menjalin hubungan terlarang di kamar masing-masing dengan pasangan mereka. Dan aku yang sedang tidak melakukan apa-apa terkena imbas teriakan dan desahan-desahan mengganggu mereka. Aku sangat ingin beristirahat dengan tenang, tapi sekali lagi karena mereka aku jadi tidak bisa beristirahat dengan tenang. Tiba-tiba…
"KRING!KRING!"
Hand phoneku berbunyi. Aku segera mengambilnya yang kuletakkan di meja dekat tempat tidur. Kulihat layarnya.
Ada apa Roderich menelponku malam-malam begini.
"ada apa Roderich?"
"hei! Sekarang aku sudah menjadi Austria lho!" dia menjawab dengan nada yang sedikit datar
"kenapa menelponku malam-malam begini?"
"kau pasti bisa mendengar suara-suara pasangan-pasangan maho itu sedang menjalin hubungankan?"
"iya. Sangat jelas dan mengganggu." Gerutuku
"kau bisa menghitung berapa pasangan yang sedang melakukannya? Tapi hanya lewat suara." Aku berpikir, kenapa Roderich- maksudu Austria menanyakan hal seperti itu?
"eng… tunggu sebentar. 1…2…3…4…5…. Ya! hanya lima." Aku sedikit bingung dengan kata 'hanya' yang kucantumkan sendiri itu.
"kalau begitu akan kubuat menjadi enam." Setelah berbicara seperti itu Austria langsung menutup sambungan teleponnya. Aku bingung menatapi hand phoneku. Membuatnya menjadi enam. Apa jangan-jangan dia juga mau melakukannya dengan seseorang? Jangan-jangan sama Vienna [OC-ku] lagi? Akh! Itu gak mungkin. Austria bukanlah Netherland yang seorang penyuka anak kecil.
"TOK! TOK! TOK!" ada yang mengetuk pintu kamarku. Siapa ya? Aku segera berjalan menuju pintu masuk dan membukanya.
"Austria! Ada apa lagi?" aku sedikit kaget melihat ternyata Austria-lah yang ada didisana
"aku kesini untuk membuat pasangan yang sedang melakukan 'itu' menjadi 6." Nada bicaranya sangat datar. Dan matanya kosong. Maksudnya tatapan matanya yang kosong. [serem amat kalo matanya kosong]
Tiba-tiba dia menggendongku dengan posisi bridal-style. "wa! Turunkan aku Austria. Turunkan aku!" Austria tidak mendengarkannya. Dia malah berjalan masuk kedalam kamarku lalu menutup pintunya.
"baiklah. Aku akan menurunkanmu." Austria pun benar-benar menurunkanku. Lalu dia tersenyum kepadaku. Mungkin seharusnya aku tersipu melihat senyumannya yang sesungguhnya sangatlah manis. Tapi sekarang aku merasa takut. Tubuhku bergetar cukup keras.
"apa maksudmu membuat pasangan yang sedang melakukan 'itu' menjadi 6? Memangnya kau mau melakukannya pada siapa?" aku sedikit membentak
"siapa lagi kalau bukan kepada perempuan yang paling kucintai. Yaitu, kau Hungary." sambil berkata seperti itu, Austria terus memojokanku. Sampai akhirnya punggungku bertabrakan dengan tembok. Sekarang aku dapat merasakan bahwa semua syarafku sudah berhenti berkerja. Badanku sama sekali tidak bisa bergerak.
Saat aku sudah terpojokkan oleh tembok, Austria mencium punggung tangan kananku, lalu turun ku jari-jariku, pergelangan dan terakhir dia menciumi lengan bagian bawah sikuku. Aku berusaha untuk tenang dan tak mengeluarkan suara apalagi desahan. Karena biasanya, hal itu malah membuat laki-laki makin terangsang untuk melakukannya lebih jauh.
Setelah puas menciumi tanganku dan sedikit membasahinya dengan saliva, dia naik ke bagian leherku. Sekali lagi dia menciuminya, menghisapnya dan sedikit menggigitnya hingga membuat tanda merah. dia melakukannya dengan sangat liar. Aku memejamkan mataku. Aku tak berani melihat apa yang terjadi pada diriku sendiri. Setelah puas dengan leherku, sangat jelas bahwa Austria mengincar bibirku.
Oh no! mungkin karma karena aku telah menjadi fujoshi dan berkali-kali mencoba mendapatkan foto Austria tanpa busana!
"bolehkah aku bermain dengan mulutmu, Elizaveta?" kata Austria sambil tersenyum lagi kearahku. Tubuhku makin bergemetaran dengan sangat kencang. Austria memegang dagu-ku. Itu artinya dia sudah siap untuk menciumku. Aku hanya menunduk. Aku tak memberlihatkan wajahku sambil berkata pada Austria,
"maafkan aku Austria. Tapi ini demi kebaikanmu dan kebaikanku juga." Langsung saja aku menyambar frying pan-ku dan kupukulkan kekepala Austria dengan sangat kencang.
"KEMPLNG!"
Austria langsung pingsan seketika. Aku membaringkannya ditempat tidurku. Lalu aku berpikir,
Apa yang membuat Austria bertindak senekat inI? Dia yang menelponku pada malam hari saja sudah sangat aneh. Sekarang dia malah menjadi seperti itu. Apa dia mabuk? Ah tidak mungkin. Mukanya sama sekali tidak membuktikan bahwa dia sedang mabuk. Dia juga masih bisa berbicara dengan jelas. Jadi, apa yang membuatnya seperti ini?
Aku pun mengecek semua kantung yang ada dibaju Austria. Dengan harapan mendapatkan sesuatu petunjuk kenapa Austria menjadi seperti ini. Lalu aku mendapatkan secarik kertas dari kantung kemejanya. Itu adalah undangan yang dibuat oleh Ivan Braginski, atau sekarang adalah Russia!
Datanglah kepesta untuk merayakan keberhasilah kita menjadi seorang nation. Dikamar Ivan Barginskin nomor 10, lantai 3, Jam 20.00. Aku menunggu kehadiranmu.
Ivan Barginskin.
Aku hanya terdiam membaca itu. Itu berarti Austria datang ke pesta laknat yang diadakan oleh Ivan, maksudku Russia! Dan kalau Russia yang membuat pesta, pasti tak mungkin dia tidak menawarkan vodka-nya ke Austria. Kalau begitu dia benar-benar mabuk! Aku segera berlari menuju kamar 10 dilantai 3. Aku tak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Sampai disana aku langsung mendobrak pintunya dan bau vodka langsung menyeruak keluar. Aku berusaha untuk tidak mual. Aku langsung berjalan menuju Russia. Dia sedang membereskan kamarnya bersama budak-budaknya [trio gemetar].
"apa yang telah kau lakukan pada Austria?" aku bertanya sambil memelototi laki-laki yang sangat tinggi ini.
"memangnya dia melakukan apa kepadamu?" Russia malah balik bertanya.
"dia menyerangku bodoh! Dan Austria yang normal tidak akan melakukan hal seperti itu!" aku membentaknya.
"oh! Kalau begitu obat hasil racikanku sendiri bekerja dengan baik ya." dia merogoh sesuatu dari kantung celananya. Dia menunjukan plastik obat. Hanya saja didalamnya adalah serbuk. Aku mengamati serbuk itu dengan baik.
"serbuk apa itu?" aku curiga kalau itu adalah adalah sabu-sabu
"ini obat hasil racikanku sendiri. Efek dari obat ini hampir mirip dengan minuman keras lainnya. Tapi lebih baik sekaligus lebih parah," Dia menyimpannya kedalam kantungnya lagi. "karena dia tak mau menerima vodka yang kutawarkan, jadinya aku mencampurkan obat ini kedalam minumannya."
"apa maksudmu?" aku masih bingung tentang efek dari obat itu.
"jadi, yang meminum obat ini akan menjadi mabuk. Hanya saja tidak terlihat. Mukanya tidak akan menjadi merah, omongannya masih jelas ,dan yang meminumnya akan terangsang untuk berhubungan dengan lawan jenisnya." Jelas Russia. Senyum suramnya menyinggung muka datarnya. Aku sangat kaget mendengar itu semua. Aku merasa perasaanku menjadi campur aduk. Jantung mulai berdegup kencang. Aku mulai bergemetaran lagi.
"oh iya! Tadi aku juga sudah meminum obat ini, hanya saja aku belum melakukan kontak apa pun dengan perempuan," senyumannya berubah menjadi licik. Dark glare-nya mulai muncul. Dia memegang daguku sambil berkata, "bersatulah dengan Russia, da!" dia sudah sangat siap untuk menciumku. Ujung bibirnya sudah menyentuh ujung bibirku. Tiba-tiba aku merasa semua bebanku hilang entah kemana. Aku pun berteriak dengan sangat kencang,
"HENTIKAN!" aku segera menampar Russia dan berlari dari kamar terkutuk itu. Aku berlari entah kemana. Tiba-tiba aku ingat kalau temanku, Caroline [sekaligus OC-ku] yang kamarnya ada dilantai tiga. Lebih tepatnya kamar 14. Aku segera bergegas kesana. Setidaknya aku bisa menceritakan semuanya kepadanya.
Sampai di depan kamarnya, aku langsung memasukinya begitu menyadari kamarnya tidak dikunci. Dan begitu aku masuk, pemandangan yang pertama kali kulihat adalah, dia sedang duduk dipangku oleh United Nation dan mereka sedang berciuman dengan sangat mesra. Aku tak tahu harus berbicara apa lagi. Aku hanya memperhatikan mereka berdua. Lalu aku pun langsung membanting pintu kamar Caroline lagi, dan sekali lagi aku berlari tanpa tujuan.
Oh Tuhan, kepada siapa lagi aku harus menceritakan semua kejadiaan burukku ini. Temanku sudah meninggalkanku jauh. Kepada siapa aku bisa bertumpu lagi?
Tanpaku sadari air mataku meleleh aku. Aku sudah tak tau lagi apa yang bisa kulakukan? Aku yang sekarang hanya bisa menangis dalam sunyi…
Chapter 1 finish…. Ini adalah fict terparah yang pernah kubuat. Maafkan saja kalo agak aneh. Dan mungkin ceritanya agak nanggung. Riview please….. Dan mungkin saia bikin sedikit game yang sangat mudah, pasangan apa saja yang sedang menjalin cinta di awal cerita itu. Hohohohoho mudah sekali kan….
and buat informasi aja, Caroline itu OC-ku nomor 1. dia tangan kanan United Nation. and... United Nation itu pernah saia baca di salah satu fict orang. saia izin minjem United Nation mu dulu ya.
sama Vienna itu nama OC-ku yang belom resmi. pokoknya dia itu adeknya Austria. baru itu saja yang kupikirkan tentang Vienna aka Wina.
