Complicated love
Cast
Jeon Wonwoo
Choi Seungcheol
Kim Mingyu
Yoon Jeonghan
Pairing
SeungWon
MeaNie
SeungHan
Warning
Banyak Typo, Boys Love/Yaoi, sedikit moment Meanie/?, membosankan.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Wonwoo hanya bisa mematung didepan pintu ruang latihan. Tangannya masih menempel dikenop pintu dengan keadaan pintu sedikit terbuka. Sedikit, tapi cukup untuknya melihat keadaan didalam ruangan. Keadaan yang sekian kalinya terjadi dan membuatnya harus menelan pil pahit.
Lagi, dirinya melihat sang kekasih duduk berdua, dengan posisi sahabat yang dianggap kakaknya sendiri bersandar dibahu kekasihnya. Dan sesekali sang kekasih akan mencuri ciuman dipipi sahabatnya.
Sungguh, kakinya terasa kaku untuk digerakkan menjauh. Air mata mengalir setetes demi setetes dari kedua matanya. Itukah yang dinamakan persahabatan. Mana ada sepasang sahabat yang saling berpelukan dan berciuman. Ahh, mungkin saja ada, dan pasangan sahabat itu adalah Choi Seungcheol dan Yoon Jeonghan.
"Hyung, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya seseorang yang menghampirinya.
"Tak ada," jawab Wonwoo datar.
"Kau menangis hyung," kaget Mingyu saat melihat air mata yang mengalir dipipinya.
"Aku tak menangis," ujarnya. "Dan kusarankan untukmu agar tidak masuk dulu keruang latihan," lanjut Wonwoo lalu mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar studio latihan yang selalu mereka pakai.
"Sebenarnya apa yang membuatnya menangis," gumam Mingyu.
Penasaran, membuat Mingyu membuka pintu ruang latihan perlahan. Dan kegiatan yang mereka lakukan didalam membuatnya benar-benar marah.
"Kau menyakitinya lagi Choi Seungcheol," geram Mingyu.
.
.
.
"Nahh kita sudah sampai, cepatlah keluar. Aku tak mau kau sampai telat dikelasmu," ujar Seungcheol.
"Ne hyungiee," ujar Wonwoo sambil membuka seatbelt nya.
"Chagia, sepertinya aku tak bisa menjemputmu nanti. Aku ada urusan dengan dosenku," jelas Seungcheol.
"Tak apa hyung, aku bisa pulang sendiri. Aku bukan anak kecil lagi hyung," ujar Wonwoo.
"Anak pintar," Seungcheol mengacak gemas rambut Wonwoo, "Belajarlah yang rajin agar kau bisa cepat lulus dan aku bisa segera melamarmu," lanjut Seungcheol.
"Aishhh hyung kau membuat rambutku berantakan," keluh Wonwoo, "lagipula kau saja belum lulus dan belum bisa menghasilkan uang sendiri, lalu kau berani mau melemarku? Jangan harap kau mendapat restu dari orang tuaku,"
"Eitss chagi kau jangan meremehkanku, sebentar lagi kuliahku lulus dan aku akan meneruskan perusahaan appaku. Kau yakin orang tuamu masih tidak mau memberikan restunya?" goda Seuncheol.
"Hehh,, kau benar. Orangtuaku pasti memberikan restunya padamu calon presdir," ujar Wonwoo dengan sesikit meledek.
"Kkkk~ sudah sana cepat masuk sebelum dosenmu datang,"
"Ne hyung, sampai nanti. Kau hati-hatilah menyetirnya," Wonwoo memberikan sedikit ciuman dipipi Seungcheol dan keluar dari mobil Seungcheol.
"Belajarlah yang rajin Choi Wonwoo," goda Seungcheol sebelum melajukan mobilnya meninggalkan Wonwoo.
Melihat mobil Seungcheol menjauh, Wonwoo kembali memasang wajah datarnya dan melepas topeng cerianya yang baru saja dia pakai dihadapan Seungcheol.
Selalu seperti ini. Wonwoo akan selalu melupakan kejadian kemarin dan membiarkan hatinya yang sudah berdarah. Dia hanya belum siap untuk kehilangan Seungcheol dari hidupnya. Hatinya belum bisa kehilangan walau nyatanya sudah banyak luka yang ditorehkan Seungcheol.
Dilangkahkan kakinya menuju kedalam kampusnya. Rasanya malas sekali untuk mengikuti kelas hari ini. Inginnya sih kembali pulang dan berbaring dikasur empuknya.
"Pagi Wonwoo hyung," sapa Mingyu dengan nada cerianya.
"Hemm, pagi," balas Wonwoo singkat.
"Cuaca hari ini cerah loh hyung. Tapi kenapa wajahmu suram begitu?" tanya Mingyu.
"Kau yang menyapaku membuat wajahku menjadi suram," jawab Wonwoo asal.
"Ahhhh bercandamu itu ga lucu loh hyung,"
"Aku memang sedang tidak bercanda,"
"Mwo? Jadi kau serius? Omona, maafkan aku yang sudah membuat wajah mu suram hyung. Aigooo harusnya aku tidak menyapamu tadi," dan Mingyu tiba-tiba saja menjadi berlebihan.
"Pfttt, wajahmu benar-benar aneh Kim Mingyu. Aku hanya bercanda tadi, jadi berhenti memasang wajah orang frustasi seperti itu," ujar Wonwoo dan berjalan meninggalkan Mingyu
"Setidaknya aku bisa membuatmu tersenyum dengan wajah fruatasiku," gumam Mingyu.
"Yakkk hyung jadi kau hanya mengerjaiku eoh? Tunggu aku hyung," Mingyu berjalan menyusul Wonwoo yang sudah lebih dulu berjalan dikoridor kampus mereka.
Inilah kebiasan Kim Mingyu setiap harinya. Selalu datang pagi dan berdiri disamping pohon sakura didekat gerbang, menunggu Wonwoo nya melewati gerbang dan akan menyusul Wonwoo untuk berjalan bersama dikoridor.
Mingyu hanya ingin melihat senyum indah Wonwoo dipagi hari. Senyum yang tak akan dia dapatkan kalau dia tidak menggangu Wonwoo dipagi hari.
.
.
.
"Kau lama sekali Choi Seungcheol," kalimat pertama yang Jeonghan ucapkan setelah memasuki mobil Seungcheol.
"Mian baby, aku harus mengantar Wonwoo kekampusnya lebih dulu. Biar bagaimana pun dia masih kekasihku," jelas Seungcheol.
"Ya, aku tahu dia memang kekasihmu makanya harus lebih diutamakan. Berbeda denganku yang hanya menjadi selingkuhanmu," ujar Junghan dengan nada merajuk.
Chup~
Seungcheol yang gemas mencium sekilas bibir Jeonghan.
"Jangan bicara seperti itu lagi Jeonghan. Kau bahkan tahu kepada siapa aku lebih mencintai," ujar Seungcheol lalu melajukan mobilnya menuju kampus mereka.
"Seuncheol kapan kau akan mengakhiri hubunganmu dengan Wonwoo?"
Pertanyaan Jeonghan menjadi pemecah keheningan yang mereka ciptakan sedari tadi. Tapi itu bukanlah pertanyaan bagus untuk Seungcheol. Dia masih bingung bagaimana harus menjawab. Dia juga masih bingung kenapa hatinya sedikit tak rela untuk melepaskan Wonwoo dari dekapannya. Padahal sudah jelas kalau dia benar-benar mencintai Jeonghan.
"Aku tak tahu. Bersabarlah sedikit lagi Jeonghan, aku akan segera menyelesaikan semua ini," jawab Seungcheol.
"Aku lelah untuk selalu bersabar Seungcheol," ujar Jeonghan dan memilih memejamkan matanya. 'Aku juga lelah menyakiti hati namja sebaik Wonwoo,' lanjut Jeonghan dalam hati.
"Maafkan aku nae Cheonsa," dan Seungcheol menggengam tangan Jeonghan erat saat lampu merah menghadang perjalanan mereka. Dibawanya genggaman tangan mereka dan mencium lembut punggung tangan Jeonghan.
.
.
.
Angin musim gugur mulai berhembus cukup kencang sore itu. Sebagian orang lebih memilih didalam rumah untuk mengahangatkan tubuh. Tapi itu tak berlaku untuk Wonwoo. Musim gugur adalah musim kesukaannya dan dia tak mungkin melewatkan udara segar dimusim gugur. Wonwoo masih betah membaca bukunya dibangku taman. Dinginnya udara Musim gugur tak mengganggunya sedikit pun.
"Ini coklat hangat spesial untuk kekasihku yang manis," Seungcheol mendudukan dirinya disamping Wonwoo dan memberikan satu cup coklat hangat.
"Gomawo Seungcheol hyung," ujar Wonwoo saat menerima coklat hangat pemberian Seungcheol.
"Cheonma chagi," balas Seungcheol.
Wonwoo meminum secara perlahan coklat hangatnya. Taman ini mulai sepi, mungkin karna hari sudah menjelang malam.
"Wonnie~ ya sebaiknya kita pulang. Ini sudah hampir malam dan udara mulai dingin, aku tak mau kalau kau sampai sakit," ajak Seungcheol.
"Hmmm kau benar hyung, sebaiknya kita pulang saja,"
Wonwoo menutup buku yang dibacanya dan menaruhnya kedalam tas. Dia mengikuti Seungcheol yang sudah berdiri lebih dulu dan merapikan mantelnya.
"Kajja~" Seungcheol mengulurkan tangannya dan disambut oleh Wonwoo. Mereka mulai berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Sedikit membuat tangan mereka menghangat ditengah angin musim semi.
Andai mereka bisa seperti ini terus menerus, Wonwoo bahkan rela melakukan apapun agar Seungcheol bisa selalu disampingnya. Tanpa adanya bayang-bayang Yoon Jeonghan. Namun harapan Wonwoo sepertinya terlalu tinggi. Karna nyatanya hati Seungcheol sudah terbagi. Bahkan mungkin sudah sepenuhnya menjadi milik Jeonghan.
"Kita sudah sampai, masuklah aku tak mau kau semakin kedinginan," ujar Seungcheol sambil merapikan syal yang melilit leher Wonwoo.
"Kau tak mau mampir hyung? Umma dan Appa sedang tak ada dirumah, sekalian temani aku sampai mereka pulang hyung," pinta Wonwoo.
"Aku ingin sekali menemanimu Wonnie~" ujar Seungcheol, "Tapi tugas kuliahku masih menumpuk dan aku harus mengumpulkannya besok, mianhae aku tak bisa menemanimu" dan raut menyesallah yang Seungcheol perlihatkan kepada Wonwoo.
"Ahhh begitu," Wonwoo mengangguk tanda dia mengerti, "Tak apa hyung, aku bisa sendiri ko dirumah. Kau pulang saja dan cepat selesaikan tigas kuliahmu. Aku tak ingin nilai-nilaimu menjadi jelek," lanjut Wonwoo.
"Kau memang kekasihku yang paling pengertian," ujar Seungcheol "Kalau terjadi sesuatu atau kau membutuhkan sesuatu kau harus menghubungiku, arraso!" lanjutnya.
"Arraso hyung,"
Wonwoo berjalan memasuki rumahnya. Meninggalkan Seungcheol yang masih berdiri mematung didepan pagar rumah Wonwoo.
"Maafkan aku Woonie. Aku kembali berbohong kepadamu," gumam Seungcheol lalu berjalan meninggalkan rumah kekasihnya.
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan Wonwoo merasakan perutnya lapar. Diambilnya ponsel yang berada dimeja lalu mendial nomor Seungcheol. Namun yang terdengar hanya suara operator yang menyambutnya.
"Aishh kenapa ponselnya tak aktif," gerutu Wonwoo.
"Lebih baik aku pergi mencari makan diluar," gumamnya.
Wonwoo lalu mengambil mantelnya yang masih bertengger diatas sofa. Berjalan keluar rumah dan pergi setelah mengunci pintu rumah dan memastikannya sudah aman.
Kota Seoul memang selalu ramai walau jam sudah menunjukkan waktu yang mulai larut. Masih banyak toko-toko yang buka bahkan ada yg sampai 24 jam. Wonwoo berjalan santai menuju kafe favoritnya.
Dengan tangan yang dimasukan kesaku mantelnya guna menghalang dinginnya angin malam yang membuat tangannya seperti membuka. Dia terlalu buru-buru sampai tak sempat mengambil sarung tangan. Walau bukan musim dingin tapi udara Seoul dimusim gugur juga cukup dingin.
Kafe yang ditujunya sudah dekat, dia sudah bisa melihatnya. Wonwoo hanya perlu menyeberang jalan saja. Dirinya sudah berdiri didekat lampu penyeberangan, matanya memandang kesegala arah dan tanpa disangka menemukan sebuah pemandangan yang menarik dimatanya.
Wonwoo terbiasa melihatnya, namun hatinya masih belum terbiasa. Kakinya bahakan masih saja bertahan ditempat itu padahal otaknya sudah memerintahkan kakinya untuk melangkah pergi. Lagi dan lagi, luka baru kembali ditorehkan oleh kekasihnya.
.
.
.
Mingyu keluar dari toko buku langgangannya. Dia baru saja selesai melakukan pekerjaan part timenya sebagai kasir ditoko buku itu. Mingyu bukanlah orang yang berasal dar keluarga tidak mampu tapi hobinya lah yang membuatnya mengambil pekerjaan part time.
Udara malam ini cukup dingin untukknya. Hari ini dia pulang agak malam karna toko buku tempatnya bekerja benar-benar sedang sibuk. Padangan Mingyu tak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya. Orang itu berdiri didekat lampu penyeberangan dengan tatapan kosong terarah kedepan.
"Apa yang sedang dilihat Wonwoo hyung," gumam Mingyu.
Penasaran, Mingyu mengikuti arah pandangan Wonwoo. Dan lagi dia juga melihatnya. Seungcheol hyung dan Jeonghan hyung yang sedang makan bersama dikafe. Itu akan terlihat biasa saja kalau mereka tidak saling menggenggam dan Seungcheol tidak mencium punggung tangan Jeonghan.
Mingyu mengepalkan tangannya menahan amarah. Menahan dirinya untuk menghampiri Seungcheol dan memberinya sebuah pukulan. Karna Mingyu tahu dia tak berhak ikut campur dalam masalah ini.
Teringat oleh Wonwoo, mingyu kembali mengalihkan pandangannya ketempat Wonwoo berdiri tadi dan dia tak menemukan Wonwoo disana. Mingyu berlari mencari Wonwoo dan dia menemukannya dibangku taman dekat situ. Dihampirinya Wonwoo yang sedang duduk, namun suara tangisan menghentikannya. Dia bisa melihat bahu Wonwoo yang bergetar. Dia juga bisa mendengar tangisan pilu seorang Jeon Wonwoo. Tangisan itu membuat hatinya berdenyut sakit. Hal yang paling tak ingin Mingyu dengar adalah tangisannya.
Wonwoo masih menangis, isakan itu bertambah keras. Mingyu melanjutkan langkahnya menghampiri Wonwoo dan mendudukan dirinya disamping Wonwoo. Dibawanya namja itu kedalam dekapannya dan dia bisa merasakan tubuh Wonwoo menegang sebentar. Mungkin dia tak sadar kalau ada Mingyu disampingnya.
"Mi-mingyu Hiksss,"
"Menangislah hyung. Menangisalah sampai kau puas kali ini aku mengijinkanmu menangis. Keluarkan semua bebanmu dan luka dihatimu," Mingyu mengelus rambut Wonwoo.
Mendengar perkataan Mingyu membuatnya benar-benar menangis kencang. Hati nya benar-benar sesak dan hanya menangislah yang bisa dia lakukan saat ini.
"Hiksss Mingyu Kenapa hikss ini masih menyakitkan," gumamnya ditengah isakannya.
"Apa aku tak pantas dicintai, apa aku kurang menarik untuk Seungcheol hyung hiksss," racau Wonwoo.
"Apa yang kurang Mingyuu hiksss apa yang kurang hahhh dariku hikss,"
Mingyu tak tahu harus bagaimana menjawabnya. Karna Mingyu tak tahu apa yang tidak dimiliki namja sesempurna Wonwoo bagi Seungcheol. Mingyu hanya bisa mengeratkan dekapannya. Dan membiarkan namja yang dicintainya menangisi kekasih bodohnya.
.
.
.
Malam mulai larut, Mingyu memutuskan untuk menggendong Wonwoo menuju rumahnya. Dia tertidur setelah puas menangisi namja bodoh itu. Tubuh Wonwoo sepertinya bertambah kurus, terasa ringan saat menggendongnya. Dan itu membuat Mingyu sedih.
Gerbang rumah Wonwoo sudah terlihat, dia membuka gerbang rumah itu dengan sedikit kesulitan. Lalu melanjutkan lagi langkahnya. Tangannya menyentuh kenop pintu bermaksud membukanya tapi ternyata pintu itu terkunci.
"Hahh terpaksa membangunkannya," gumam Mingyu.
"Woonie hyung irreona~" ujar Mingyu pelan.
"Nghhhh~" suara Mingyu cukup untuk membangunkannya.
Perlahan matanya mulai terbuka dan dia menyesuaikan pandangannya. Saat matanya menatap keatas, wajah Mingyu yang sedang tersenyumlah yang dia lihat.
"Mingyu~" gumam Wonwoo.
"Bangunlah hyung, kita sudah sampai dirumahmu," Mingyu menurunkan Wonwoo dan memagangi bahu Wonwoo yang sepertinya masih lemas untuk berdiri.
"Aku tertidur ya?" tanya Wonwoo dan Mingyu menjawabnya dengan anggukan.
"Dan kau yang menggendongku sampai rumah?" dan sekali lagi anggukan Mingyu lah jawabannya.
"Gomawo Mingyu," ujar Wonwoo tulus.
"Cheonma hyung, sekarang masuklah. Diluar sangat dingin hyung, nanti kau bisa sakit," suruh Mingyu.
"Kau tak mau menginap saja Mingyu?" tanya Wonwoo.
"Tak usah hyung. Aku pulang saja, aku tak mau ummaku khawatir hyung,"
"Ahh kau benar, kalau begitu aku masuk dulu,"
"Ne hyung, jangan lupa kunci pintu dan jendela sebelum tidur," ujar Mingyu.
"Iya Mingyu,"
Wonwoo memasuki rumahnya tanpa menengok kearah Mingyu. Melihat sang pujaan hati sudah memasuki rumahnya, Mingyu mulai melangkah untuk pulang. Namun saat akan membuka pintu gerbang Wonwoo, suara seseorang membuatnya berhenti.
"Mingyu tunggu," teriak Wonwoo.
Mingyu membalikkan tubuhnya dan dia bisa melihat Wonwoo yang berlari kearahnya dengan sebuah syal ditangannya.
"Kau harus memakai ini, cuaca malam ini semakin dingin. Aku tak mau kalau sampai kau sakit Gyu," ujar Wonwoo saat memasangkan syal miliknya keleher Mingyu.
"Terimakasih sudah mau menemaniku menangis malam ini. Terimakasih karna sudah menjadi sandaranku malam ini,"
Dan hal tak terduga terjadi. Wonwoo mencium pipinya sekilas.
"Dan itu untuk ucapan terimakasihku, selamat malam Mingyu,"
Wonwoo berlari kembali memasuki rumahnya tanpa menunggu balasan darinya. Bersandar dipintu yang baru saja ditutupnya dan merasakan hatinya yang perlahan menghangat.
"Aishhh kenapa aku malah mencium pipinya, Jeon Wonwoo pabbo," gumam Wonwoo.
Sementara Mingyu masih terdiam mematung didepan gerbang rumah Wonwoo. Dia masih tak percaya kalau Wonwoo baru saja menciumnya walaupun hanya dipipi. Perlahan senyum merekah dibibirnya, dieratkannya syal milik Wonwoo dilehernya, aroma Wonwoo tercium disyal ini. Mingyu keluar dari halaman rumah Wonwoo dan menutup gerbangnya.
"Semoga ini pertanda kau mau membuka hatimu untukku, Wonu hyung," gumam Mingyu dengan sedikit berharap.
.
.
.
Memilih adalah satu hal yang paling sulit dilakukan. Apalagi kalau harus memilih salah satu dari orang yang ada dihatimu. Dan hal itu sedang dialami oleh Seungcheol, dia bingung siapa yang harus dipilihnya. Sebut saja dia orang brengsek karna mencintai dua orang sekaligus.
Seungcheol mencintai Wonwoo, kalau tidak mana mungkin mereka bisa bertahan hampir 3 tahun. Tapi Seungcheol juga tidak bisa memungkiri perasaannya pada Jeonghan. Yoon Jeonghan adalah sesosok malaikat untuknya.
Mereka berteman baik bahkan sebelum mengenal Wonwoo. Jeonghan adalah sosok penguatnya saat harus kehilangan ibunya saat dia bahkan baru memasuki sekolah menengah pertama.
Tapi itu tidak membuatnya jatuh cinta pada sosok Jeonghan atau lebih tepatnya tidak menyadarinya. Seungcheol justru jatuh cinta pada seseorang yang dikenalkan oleh Jeonghan yaitu Jeon Wonwoo. Saat itu mereka sedang melakukan latihan -Jeonghan dan Seungcheol ikut komunitas dance cover- dan Jeonghan datang dengan membawa seseorang yang manis menurut Seungcheol.
Jeonghan bilang dia adalah temannya ditempat les yang ternyata sangat tertarik dengan dance cover. Jadi Jeonghan berinisiatif mengajak Wonwoo untuk melihat mereka latihan. Melihat bagaimana Wonwoo tersenyum sangat manis saat itu membuatnya langsung jatuh cinta. Terserah kalau kalian mau menyebutnya terlalu berlebihan tapi itu sungguh terjadi padanya.
Mereka berkenalan secara biasa. Saling berjabat tangan dan mengucapkan nama masing-masing. Mungkin biasa bagi Wonu, tapi tidak biasa bagi Seungcheol karna dia sudah bertekad untuk mendapatkan seorang Jeon Wonwoo.
.
.
Hari-hari selanjutnya Seungcheol benar-benar melakukan rencana pendekatannya. Dimulai meminta nomor Wonwoo kepada Jeonghan, mengiriminya pesan pesan selamat pagi atau selamat malam, mengajaknya jalan-jalan untuk mengisi waktu luang dan terkadang mengantar-jemput Wonwoo kesekolah atau ketempat les.
Dan semua harapan Seungcheol terwujud di malam tepat 4 bulan usaha pendekatannya dengan Wonwoo. Dia menyatakan cintanya kepada Wonwoo dihadapan semua teman-teman dance covernya dan betapa bahagianya kala pernyataan cintanya dibalas oleh Wonwoo.
Mulai hari itu mereka resmi berpacaran, tapi tak semua orang merayakan hal itu dengan hati yang gembira. Karna nyatanya ada dua hati yang terluka diatas kebahagian mereka.
Ya, kalian benar. Memang ada dua hati yang terluka. Pertama adalah hati seorang Yoon Jeonghan yang sudah mencintai sahabatnya sejak dulu dan kedua adalah hati seorang Kim Mingyu yang ternyata menyimpan perasaan kepada sunbaenya sejak berada ditingkat kedua sekolah menengah pertamanya yang sama dengan Wonwoo. Diam-diam Kim Mingyu sudah mencintai Jeon Wonwoo. Bahkan sampai melanjutkan kesekolah yang sama dengan pujaan hatinya.
Seungcheol merasa semua akan baik-baik saja. Namun sepertinya itu tidak benar. Ditahun keduanya menjalani hubungan dengan Wonwoo, tepat setelah mereka merayakan Anniversaey mereka yang kedua masalah mulai terjadi.
Seungcheol mendengar kabar kalau orang tua Jeonghan memilih berpisah dan pengurus rumah Jeonghan menghubunginya karna khawatir dengan Jeonghan yang belum pulang kerumah padahal malam sudah sangat larut.
Seungcheol juga khawatir, dia mengecek ponselnya dan syukurlah gps Jeonghan menyala jadi dia bisa melacaknya. Segera disusulnya Jeonghan saat tahu kalau Jeonghan ternyata ada disebuah bar dikawasan gangnam.
Seungcheol menjemputnya dan mengantar Jeonghan pulang. Saat dirinya bersiap kembali kerumahnya Jeonghan menahannya. Dan Jeonghan mulai mengeluarkan semua keluh kesahnya. Dari sana akhirnya Seungcheol tahu kalau ternyata Cheonsanya ini menyukainya sejak lama.
Seungcheol merasa bersalah kepada sahabatnya karna dirinya sungguh tidak peka terhadap perasaan Jeonghan. Jeonghan sudah banyak berkorban untuk dirinya. Bahkan Jeongahn lah yang membuatnya bangkit dari keterpurukan masa lalunya. Tegakah dia menyakiti hati Jeonghan terus menerus? Tentu saja dia tak tega. Di pagi hari, dimana Jeonghan baru saja terbangun dari tidurnya, Seungcheol mengutarakan keputusannya kepada Jeonghan.
Meminta Jeonghan menjadi kekasih keduanya dan melakukan hubungan terlarang dibelakang Wonwoo, kekasih Seungcheol sekaligus sahabat yang sudah Jeonghan anggap sebagai adiknya. Sisi malaikat Jeonghan tentu saja menolak karna dia tak ingin menyakiti Wonwoo tapi sisi iblisnya terus mendesaknya kalau dia berhak mendapatkan hati Seungcheol karna bagaimanapun dia dululah yang mencintai Seungcheol dibanding Wonwoo.
Akhirnya tepat hari itu mereka berdua menjalin hubungan sebagai kekasih dibelakang Wonwoo dan semua teman-teman mereka. Keputusan yang diseseali Seungcheol diawalnya namun tidak saat mereka sudah menjalin hubungan lebih dari 2 bulan. Seungcheol akhirnya sadar kalau hatinya mulai benar-benar mengganggap Jeonghan kekasihnya dan sedikit demi sedikit menghilangkan nama Wonwoo dari sana.
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan tuhan. Aku tak mau menyakiti hati kedua malaikat mu walau nyatanya aku sudah menyakiti mereka tanpa sadar," gumam Seungcheol yang sedang terbaring ini terlalu berat untuk hidupnya. Dan dia sungguh lelah dengan semua ini.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
Hai aku bawa ff baru disini. Entah kenapa kejadian dimasa lalu kembali teringat dan membuatku ingin menulisnya sebagai ff. Mian kalau misalnya kata-katanya terlalu lebay atau jelek. Karna sungguh aku tak bisa memilih kata-kata yang bagus hahahaha. Maaf untuk Seunghan Shippee karna sudah menistakan otp kalian. Tapi sungguh aku juga suka Seunghan, hanya saja aku membutuhkan mereka untuk menjadi peran yang sedikit antaonis disini. Dan ff ini kemungkinan hanya akan sampai 2 atau 3 chapter saja. Untuk ff ku yang lain masih dalam proses. Mumpung lagi libur 4 hari jadi mau kugunakan untuk mengetik ff waks.
Jangan lupa diriview oke dan terimakasih untuk yang udah review di ff ku yang lain.
Salam Meanie.
