HunHanCha

present :

PLEASE DON'T HATE OUR AEGI

CAST: HUNHAN

SUHO

ZIYU

"Dasar kau pria menjijikan" Luhan hanya dapat menundukan kepalanya merasa hatinya diremas oleh kata-kata yang keluar dari suaminya sendiri

"Hei kau bisu cepat pergi dari sini, aku muak melihat wajahmu lajang" desiran mengerikan itu terdengar lagi saat Sehun menyebut Luhan dengan panggilan *Bisu,Lajang* itu seperti nama panggilan karena sering terucap dari bibir suaminya.

.

.

.

Ya Sehun sangat membenci Luhan yang berstatus sebagai Istrinya, mereka menikah karena perjanjian kedua keluarga. Walau bagaimanapun Sehun dan Luhan tak bisa menolak karena perjanjian ini memang harus di tepati.

Lain hal nya dengan Sehun, Luhan malah bahagia dengan pernikahan ini karena dia memang menyukai Sehun sejak awal mereka dijodohkan. Walau dengan kekuranganya tapi dia berjanji akan menjadi Istri yang baik.

.

.

.

Malam itu seperti biasa Luhan menunggu kedatangan sang Suami, walaupun Luhan tau jika sang suami menang jarang pulang, entahlah Sehun tidur di mana tapi Luhan masih setia menunggu suaminya itu pulang, sampai larut malam dan Luhan tidur di sofa.

*BRRAAKKK*

Suara dobrakan pintu begitu keras membuat Luhan terkejut dari tiduranya. Senyumnya terlihat samar, ia berfikir jika ini adalah suaminya yang ia tunggu.

Segera Luhan membuka pintu, dan benar saja jika ia melihat sang suami datang dalam keadan berantakan dan berbau alkohol.

"Hei pria bisu, cepat mingirrr..." teriak Sehun setelah Luhan membukakan pintu. Dengan cepat Luhan mengambil tas kerja Sehun yang terjatuh. Dengan langkah sempoyongan Sehun menuju kamar miliknya.

Tanpa melepas sepatu dan mengganti baju yang ia gunakan Sehun langsung merebahkan dirinya kasar di tempat tidur King Size nya.

Tak berselang lama Luhan datang dengan tas kerja dan baskom yang bersisi air hangat, ia letakan di meja dekat tempat tidur.

Dengan lembut Luhan melepas satu per satu sepatu , kemudian kaos kaki, dan dasi yang mengkerat di tubuh kekar suaminya. Di remasnya kain basah lalu mengusapkanya di wajah Sehun dengan penuh kasih sayang, Luhan tak ingin sang suami tidur dengan keringat. Luhan menuju ke tangan suaminya, diusapnya pelan "Grepp" Luhan terkejut dengan tarikan kasar Sehun pada tanganya.

"Dasar lajang beraninya kau menyentuh tubuhku Huh..!" Suara dingin Sehun berbisik dengan nada khas orang mabuk."Greppp" Sehun menarik Luhan lebih dekat lagi ketika istrinya ingin melepas genggamanya. "Kau tak dapat pergi begitu saja bitch, kau harus mendapatkan hukuman karena berani menyentuhku " Luhan merinding dengan ancaman Sehun, dengan gerakan seduktif Sehun mulai mendekatkan tubuh mungil Luhan hingga kini istrinya berada di atas kasurnya juga.

Semakin dekat jarak mereka hingga wajah Luhan menyentuh dada bidang sang suami, tangan Sehun bergerlia di bagian sensitif milik Luhan yaitu lehernya.

"SRRRREETTT" dengan kasar Sehun merobek piyama milik Luhan, terlihatlah tubuh putih sang istri. Dengan penuh nafsu Sehun membalikan keadaan hingga kini Luhan berada di bawah kuasanya.

.

.

Sekitar 20 menit lalu mereka melakukan hubungan seksual dimana Sehun masih dengan tenaga kudanya menggenjot hole Luhan.

"Aaahhh...aaahhh..aaahhh" desahan mereka beradu menikmati sensasi ini.

"Kau sugguh sem...phittt Aaahh bitch" rancau Sehun dengan rasa nikmat hinga lupa kalau dirinya membenci Luhan.

*Sehun kumohon berhenti,rasanya perih* Luhan memberi isyarat pada Sehun tapi tetap diabaikan oleh sang suami, dan Sehun malah menaikan tempo genjotanya menjadi brutal.

"Arrrggghhhh..."

"Aaarrrggghhhh..."

Teriak mereka bersamaan mersakan sensasi orgasme di dalam tubuh mereka yang menyatu.

.

.

.

Matahari menembus gorden di kamar mewah yang terlihat dua insan manusia tengah berada di balik selimut tebal.

"Eunghh". Sehun mengerejapkan matanya mengingat hal bodoh yang ia lakukan semalam, tapi entah mengapa Sehun merasakan hatinya nyaman. Kemudian ia menoleh kesamping mendapati istrinya menutup wajah terdengar suara isakan kecil. Tanpa pikir panjang Sehun bangkit dan meninggalkan Luhan begitu saja.

"Brraaakk" terdengar suara pintu menandakan Sehun telah pergi. Luhan dengan perlahan menghapus air matanya, ia benar-benar ketakutan sampai saat ini dengan prilaku brutal Sehun kemarin.

*Apakah aku semenjijikan itu Sehun?* benak Luhan merasakan Sehun yang kemarin menyentuhnya dengan kata-kata kasar.

.

.

.

Setelah kejadian erotis itu hubungan mereka yang dulu dingin sekarang menjadi beku. Luhan yg dulu biasa membuatkan Sehun sarapan dan menyambut dengan senyuman, sekarang bahkan tak berani untuk menatap Sehun.

Begitu juga dengan Sehun, merasa ada yang aneh dalam dirinya ia selalu merasa marah setiap kali melihat Luhan

.

.

"Hoeekkk...Hoeekkk"

Sehun mendengar suara nyaring dari arah toilet, ia melirik jam dinding menunjukan pukul 3:59 pagi. Tidurnya terusik suara, penasaran Sehunpun beranjak mencari asal suara.

Ia terkejut mendapati Luhan tengah berdiri di wastavel, mukanya pucat pasi, dan terus memegangi betapa sakitnya ia sekarang. Sehun menepuk pundak Luhan pelan "kau kenapa?" Tanya Sehun dan hanya di jawab gelengan dari Luhan. "Baiklah kalu begitu berhenti muntah karna kau mengganggu tidur ku bitch" geram Sehun, meninggalkan Luhan yang terisak pedih mendengarnya lagi.

.

.

Luhan memegang sebuah benda persegi panjang kecil yang bertanda dua garis merah, ia begitu bahagia mendapati arti dari dua garis merah itu. Ia tak sabar memberitahu Sehun kabar ini.

.

.

Waktu menunjukan pukul 23:30 waktu seoul, Luhan tertidur di sofa menunggu sang suami pulang tpi sudah tengah malam begini Sehun tak kunjung menampakan batang hidungnya.

Hingga sekitar pukul 1:00 dini hari Sehun pulang dengan wajah kusut.

"Braakk" dorongan pintu dengan keras membangunkan Luhan dari tidurnya, betapa terkejutnya Luhan begitu melihat sang suami datang dengan keadaan berantakan dan tercium bau alkohol yang menyemgat.

*Sehun kau sudah puluang* seperti biasa Luhan menyambut suaminya dengan bahasa isyarat. "Minggir bisu" kata Sehun memgabaikan Luhan. Tak menyerah Luhan segera membantu Sehun yang berjalan limbung menuju kamar.

Begitu sampai di kamar,dengan telaten Luhan membuka sepatu sang suami,melepaskan ikatan dasinya dan segera setelah itu menyelimuti tubuh Sehun.

*Selamat malam Suamiku* bisik Luhan dalam hati. Sedikit kecewa karena ia tak dapat memberi tahu kabar kehamilamya.

.

.

.

"Hoeekk"

"Arrggghhh"

pagi ini Luhan terkejut dengan rasa sakit pada perutnya lain dengan rutinitas mualnya akhir-akhir ini karena morning sick sekarang bahkan ia tak dapat menahan perutnya seperti terlilit. Ia mengelus pelan perutnya yang sudah mulai membuncit,

*baby kau harus lebih kuat disana ya, Umma mohon kau harus bertahan* walau tanpa suara yg terdengar tapi percayalah bahwa ia slalu berbicara kepada sang buah hati.

.

.

.

Luhan sedang menunggu giliran untuk Jadwal chek kehamilanya, ini adalah kali keduanya ia mengunjungi Dokter Suho selaku Bidan yang menangani Luhan.

"Luhan-ssi kau sendiri lagi" tanya kepada Luhan yang kini sedang berbaring di bed, dan di balas anggukan oleh Luhan.

"Dasar Sehun selalu saja egois, tak pernah memikirkan orang lain" guman Suho, ya Suho adalah sepupu Sehun ia mengenal baik Sehun ketika mengetahui istri sepupunya yaitu Luhan hamil ia sangat senang dan overprotektif kepada Eomma calon keponakanya ini.

"Lu apa kau belum memberitahu Sehun?" tanya Suho lagi dan kembali Luhan menjawab anggukan untuk pertanyaan Suho.

"Lu apakah kau merasa perutmu nyeri belakangan ini?" tanya Suho sambil terus menggerakan alat USG ke bagian perut Luhan sambil sesekali menatap layar monitor.

Luhan mengambil note dan pulpenya di tas kecilnya ia menuliskan sesuatu umtuk Suho.

*Ne..nyeri dan mual* Tulis Luhan. "seharusnya suamimu ada di sini" umpat Suho kepada Sehun ia merasa sangat kesal kepada sepupunya itu

*Sehun sangat sibuk akhir ini, aku belum sempat memberitahunya* tulis Luhan kemudian ditunjukan kepada Suho. *Apakah ada yamg ingin kau katakan?*Luhan menunjukan note itu lagi kepada Dokter muda itu. "Kau benar Lu sebenarnya ada sesuatu yang terjadi dengan kandunganmu" sontak perkataan Suho tadi membuat Luhan cemas dengan aeginya.

.

.

.

Luhan tengah berdiri di balkon kamarnya ia terus memandangi langit sambil mengelus perutnya yang kini mulai membuncit. Ia tengah memikirkan perkataan Dokter Suho tadi saat mengecek kandunganya.

flasback

"Lu rahim mu terlalu lemah saat ini, itu sebabnya kau terus merasa nyeri di perutmu,dan itu menyebabkan.." Suho menghentikan kalimatnya kemudian menggenggam tangan Luhan.

"Lu...bayi mu susah berkembang"

.

.

. TBC

Hai chingudeul

Cha post new story nih.. rencananya sih bikin ff ini jdi oneshoot ehh Cha berubah pikiran buat jadiin ff ini chepteran .

Tenang aja cuman 2-3 chepter doang, sebagai selingan Ff SERUM FOR M-PREG.

So R&R please..^^