Ada satu maksud tertentu dibalik keramahan Kuroo Tetsurou terhadap si kacamata dari Karasuno.

Awalnya tidak terlalu kelihatan, sih. Hanya seperti senior yang berniat baik, mengajari juniornya cara blocking dalam olahraga voli yang baik dan benar. Tetapi Tsukishima lama-lama merasa ada yang aneh dari tingkah si kapten Nekoma yang selalu menyengir lebar ini.

Awalnya, Tsukishima hanya menganggap pertanyaan Kuroo sebagai sesuatu yang biasa. 'Hey, mana temanmu yang selalu mengekor itu? Yang selalu berlatih serve sendirian itu.'

Oh, wajar sih, kalau dia bertanya. Yamaguchi Tadashi—teman yang ia maksud itu, memang kerap terlihat bersama Tsukishima di sekolah ataupun saat camp pelatihan. Tsukishima hanya memberikan jawaban singkat seperti 'Entah', dan semacamnya—menganggap itu hanyalah pertanyaan biasa.

...Itu yang pertama, oke.

Namun Tsukishima tidaklah bodoh; ia menyadari ada sesuatu. Ada sesuatu dibalik semua pertanyaan sederhana yang Kuroo lontarkan kepadanya. Kini, setiap ia berlatih bersama Bokuto, Kuroo dan juga Akaashi, ia selalu mendengarkan dengan seksama setiap kata-kata yang Kuroo ucapkan (terutama jika ia bertanya kepada Tsukishima. Karena...)

"Kau sudah lama berteman dengan si nomor dua belas itu, Tsukki?"

"Hey, hey, selain serve, ia berlatih apa lagi?"

"Kalau ia ikut berlatih..."

"Yamaguchi, 'kan, namanya?"

"Hey, Tsukki, temanmu Yamaguchi itu—"

—Oke, cukup. Setiap kali mereka latihan, Kuroo selalu bertanya tentang hal yang sama. Pasti ada sesuatu. PASTI.

"Hey, Tsukki! Ajak temanmu itu ikut berlatih disini, dong~"

...Dan kali ini, pertanyaannya sedikit memberikan sugesti bahwa ia ingin agar Yamaguchi juga diajak untuk berlatih dengan mereka. Kuroo menyengir lebar, dan berkata bahwa 'Temanmu bisa membantu kita, loh, kalau ikut latihan. Dia bisa melatih servenya, dan Lev bisa berlatih menerima serve yang ia berikan,'

Oh, Kuroo ingin Yamaguchi ikut berlatih? Masuk diakal. Yamaguchi semakin lama memang semakin pandai dalam melakukan Jump Float Servenya. Tak ada salahnya mengajak ia berlatih... atau tidak.

Karena entah kenapa, Tsukishima merasa tidak rela. Seolah-olah—jika ia mengajak Yamaguchi untuk latihan, ia berarti telah mengorbankan sahabatnya sendiri untuk menjadi santapan kucing liar..

"Um... mungkin nanti."

—Itulah jawaban yang Tsukishima berikan ketika ia mulai curiga.

.

.

.

Hari ke lima, dan Tsukishima mulai bersiap akan pertanyaan Kuroo—yang baru saja ia sadari—selalu mengarah kepada teman dekatnya Yamaguchi. Baru melangkah masuk ke dalam gedung saja, Tsukishima sudah menatap tajam Kuroo duluan dari balik kacamatanya; membuat Kuroo sedikit merinding dan berpikir, apakah ia pernah berbuat salah kepada Tsukishima selama ini, ya?

Namun Kuroo tetap berpikir positif, ia menghampiri Tsukishima sambil tersenyum; dan Tsukishima entah kenapa bisa menebak apa yang akan dikatakan si jangkung dengan rambut mirip pantat ayam ini.

"Tsukki! Temanmu itu tidak bergabung juga, hari ini?"

—Tuh 'kan.

Tsukishima Kei sudah bukan curiga lagi, tapi ia sudah yakin kalau Kuroo memang sengaja melakukan semua ini. Ia memang mengincar temannya Yamaguchi Tadashi. Tidak salah lagi.

"—Apa yang kau inginkan dari Yamaguchi?"

Kuroo terdiam.

"..Euh, um—tidak ada? Ayolah, aku 'kan hanya bertanya! habis, kalian 'kan dekat—"

" Yakin kau hanya bertanya? Aku tidak akan merasa aneh kalau kau suatu hari menanyakan nomor ponsel Yamaguchi kepadaku. Apa sebenarnya maumu? Kau mau mendekati dia, hmm?"

Ya, Skak Mat. Kuroo menelan ludah dan menutupi rasa gugupnya dengan senyuman; meski keringat terlihat jelas bercucuran. Mampus. Kenapa Tsukishima dari awal sudah terlihat tidak memberikan restu, ya?

Tetapi Kuroo tidak mau menyerah. Ia menarik nafas; bersiap dengan kemungkinan buruk apapun yang akan terjadi kedepannya. Nasi sudah menjadi bubur—tanggung ketahuan, lebih baik ia makan saja sekalian bubur itu, bukan?

"Oho~ Kau memang cerdik, Tsukki! Kalau kau sudah bisa menebak begitu, berarti kau mau membantuku, 'kan? Ahahahaha... ha.."

Salah langkah.

Kuroo tahu dia harusnya mundur, namun ia malah melangkah menuju lubang kuburannya sendiri. Setengah hatinya berharap bahwa Tsukishima akan membantunya, dan harapannya tersebut sedikit naik ketika Tsukishima memberikan Kuroo sebuah senyuman.

"Tentu saja—"

Wajah Kuroo bersinar seketika.

"—Aku tidak akan membantumu. Bodoh. Aku tidak akan menyerahkan Yamaguchi kepadamu, sampai kapanpun juga."

Dan Tsukishima tidak berlatih bersama mereka di hari itu, meninggalkan Kuroo di gedung olahraga dengan posisi OTL nya yang dramatis. Tsukishima lebih memilih diam di dekat Yamaguchi saja untuk hari ini dan seterusnya, menjaga teman baiknya dari kucing liar yang sedang memandang Yamaguchi sebagai mangsa..

"Bokuto..."

"Sabar ya, Kuroo. Sudah kubilang 'kan, Tsukki itu terlihat sedikit posesif akan teman baiknya sendiri. Harusnya kau tidak meminta bantuan Tsukki!"

"Lalu aku harus meminta bantuan siapa, hah? Kalau aku meminta bantuan Sawamura atau Sugawara, itu namanya malah bunuh diri!"

"Kuroo, my bro, mintalah bantuan pada orang yang tidak berbahaya. Di Karasuno, ada 'kan satu orang yang seperti itu?"

"Eh? Ada, ya? Siapa—"

"—Toilet! Toilet! Aku harus pergi ke toilet~"

Bokuto dan Kuroo menatap sekilas warna oranye yang melintas depan pintu gedung olahraga. Yang tadi melintas, adalah si middle blocker pendek dari Karasuno yang memiliki kemampuan hebat. Keduanya saling bertatapan—oh. Ada ya, satu orang yang bisa mereka manfaatkan..

"Hey, kamu yang disana—yang berambut oranye—yang dari Karasuno! Bisa kesini sebentar?"

Dan operasi: Usaha Kuroo Tetsurou mendekati Yamaguchi Tadashi dibantu oleh Asisten Bokuto Koutarou, dimulai kembali.