Tsuki (c) Kulkas

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Warn : AU. OOC. Typo. Membuat pembaca mengutuk si penulis

.

.

.

Ketika kamu menyukai seseorang. Kamu akan lupa beberapa hal kecil yang mungkin akan menyakitkanmu tanpa tersadar.

Seperti, dia yang baik padamu mungkin baik juga terhadap yang lainnya. Dia yang memberimu semangat mungkin memberi semangat pada yang lainnya. Dia yang selalu menegurmu terlebih dahulu, mungkin dia juga menegur yang lainnya terlebih dahulu.

Dan, saat tersadar, kamu telah jatuh terlalu jauh. Kamu akan sulit untuk melupakannya walau kamu tahu dia tidak meresponmu sama sekali.

Saat semakin dalam kamu jatuh. Kamu hanya bisa berdoa semoga ini hanya mimpi. Atau, semoga dia menerima perasaanmu.

.

.

"Lihat apa sih?" tegur siswi bermahkota pirang panjang.

"Ti-tidak ada,"

"Kau tidak bisa membohongiku."

Senyuman atau lebih tepatnya seringaian yang sudah tidak asing. Karena pada akhirnya akan menjadi bahan olokan.

"Shion," rengek si mungil Hinata Hyuuga.

"Kenapa tidak langsung tembak saja?"

Shion memeragakan cara menembak dengan menggunakan tangan yang dibentuk menyerupai pistol. Bidikannya merupakan seorang siswa yang sedang bermain basket di lapangan. Siswa dengan tinggi diatas rata-rata dengan gigi taring, jangan lupakan tato segitiga terbaliknya.

"Tidak semudah itu."

Hinata menelungkupkan kepalanya. Kedua tangannya lurus dikedua sisi kepala sembari memejang sisi meja depan.

"Keburu jadian sama yang lain, Hinata."

Gemas. Shion menunjuk-nunjuk teman sebangkunya dengan menggunakan pensil.

.

"Aku menyukai kakak."

Jantung Hinata berhenti berdetak untuk sepersekian detik.

Dadanya ngilu dan sesak. Ia sedikit kesulitan bernapas. Pelupuk matanya mulai panas.

Tidak. Hinata bukan anak cengeng.

Tapi rasanya sakit sekali.

Bukan maksud Hinata untuk lancang mendengarkan pembicaraan atau lebih tepatnya pernyataan yang seharusnya tidak ia dengar.

Ia baru saja dari kamar mandi. Dan tak sengaja melihat dua sosok yang berada didekat kamar mandi belakang sekolah. Ingin Hinata lewat. Namun ia urungkan.

Sekali lagi, bukan Hinata mau lancang menguping. Namun, rasanya tidak baik bila Hinata lewat dan diketahui oleh dua sosok tersebut.

Dengan menutup telinga menggunakan kedua tangannya rapat-rapat. Hinata berharap tidak mendengar ucapan apapun yang keluar dari si mulut pemuda itu.

Selang lima menit. Hinata mencoba melihat situasi. Aman. Mereka berdua sudah pergi sepertinya.

Dengan menormalkan degub jantungnya yang masih bertalu. Hinata menuju ruang kelasnya.

Tanpa disadari Hinata. Sepasang mata sedang mengawasi Hinata sampai ujung kamar mandi, berbelok dan menghilang.

.

.

"Hyuuga Hinata."

Semua pasang mata menoleh kearah Hinata yang sedang melamun menatap keluar jendela dengan berpangku tangan.

Tidak ada respon dari si pemanggil. Yang otomatis membuat si pemanggil mendekati meja Hinata dan duduk dikursi kosong samping Hinata.

Merasa ada bayangan dibelakangnya, Hinata menoleh. Dan hal yang disesalkan Hinata saat dia menoleh dan mendapati seseorang yang tidak ingin ditemuinya.

.

"Bisa kau jelaskan sikapmu padaku akhir-akhir ini?"

.

.

.

pojok kulkas :

Bingung antara tbc apa the end .