Bagaimana kalau Levi ada seorang Yakuza dari Jepang? Usianya sudah kepala dua dan dia menyelinap ke sebuah SMA demi menikmati masa remaja. Masih pantaskah dia menjadi remaja ABG? Atau identitasnya terbongkar duluan karena tampang tua?

Rate T (sementara ini)
Warning Yakuza!Levi menjurus ke BL, atau ini memang BL

Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama
We take no profit


Kolaborasi dengan Rice Tea. Tapi karena dia tidak punya akun disini, saya yang upload. Posisi saya disini lebih sebagai Beta Reader dan Editor, 80% ide berasal dari "Teh Beras". Saya hanya menambahkan detail dan memperbaiki kosa kata. Don't be silent reader, peace from "mbakmj" dan "Rice Tea".

Enjoy the story!


Di malam yang tenang, sang rembulan memaksa masuk di setiap celah pada lorong-lorong dinding yang hampir menyerupai kastil Jepang pada masa kejayaannya dimana terukir pahatan-pahatan indah, beraksen obor bertengger rapi menambah kemegahan di dalamnya. Terdengar suara langkah kaki seseorang, berjalan tenang diikuti jiwa-jiwa yang siap melaksanakan tugas dari atasannya, berjalan melewati satu demi satu ruangan hingga sampai di ruangan yang dituju.

"Ada apa, pak tua?" tanya pemilik tatapan segelap malam bagai kehilangan sinar rembulan.

"Oh, itukah kau, Levi?" jawab sang lawan bicara, menduduki sebuah sofa merah bata di tengah ruangan sambil memegang secangkir gelas anggur di tangan kanannya.

"Cih, jangan berbelit-belit, pak tua. Cepat katakan apa keinginanmu?"

"Kau tau Levi, aku sudah tua, keinginanku hanya satu yaitu bisa melihat kalian semua bahagia, terutama kau Levi. Bukan cuma memberikanmu tahta sebagai bos Yakuza, aku juga ingin melihatmu bahagia tanpa beban."

"Lalu?"

"Aku ingin melihatmu hidup layaknya orang biasa."

"Normal?"

"Ya hidup normal, aku ingin kau mulai besok masuk ke sekolah SMA Sina di tahun ajaran baru dengan menyamar menjadi murid pindahan."

"Tidak," jawab Levi tanpa ekspresi.

"Aku tau kau pasti akan menolak," dengan helaan nafas ia melanjutkan kata-katanya, "Baiklah, kau memaksaku, Levi Ackerman. Jika kau menolak aku akan menggantikan pencalonanmu menjadi bos Yakuza, kau akan digantikan adikmu, Mikasa Ackerman"

Kata-kata yang terucap dari sang ayah berhasil membuat Levi diam seribu bahasa dan menatap lawan bicara dengan tatapan setajam elang, siap membunuh siapa saja di depan mata.

"Levi, apa jawabanmu?"

"Kau... Kenny Ackerman!"

"Hm...?"

Dengan menghembuskan nafas perlahan Levi menjawab, "Iya."

Dengan satu jawaban 'iya' berhasil menarik senyum tipis di bibir Kenny Ackerman yang berkedudukan sebagai bos Yakuza.

Melihat hal tersebut, Levi segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dengan perasaan amat sangat tidak suka memenuhi hatinya, diikuti anak buahnya yang juga meninggalkan ruangan.

Setelah hanya menyisahkan dua jiwa dalam satu ruangan, perlahan tapi pasti suara tiupan angin berhembus lewat celah jendela yang terbuka, sepasang kaki berjalan mendekat, lalu terucap dari bibirnya yang memiliki segudang pertanyaan dalam pikirannya, "Bos, apa maksud Anda?" tanya seorang bawahan Kenny, melihat tuannya menatap sebuah foto dengan intens. Potret dalam figura berbingkai kayu dengan ukiran dedaunan yang rapi nan mulus di setiap detailnya adalah mendiang istrinya.

Wajahnya merenung dan tertunduk ke bawah menatap yang tercinta, kemudian ia menjawab, "Kau tahu Auro, aku sangat mencintai Levi dan memberikan semua yang dibutuhkannya, tapi kemarin malam istriku datang dan bertanya 'sayang, apakah anak kita sudah bahagia?', memikirkan hal itu aku sadar bahwa aku sudah merenggut kebebasan Levi untuk menjalani kehidupan remajanya."

"Maafkan aku bos, telah lancang bertanya," dengan wajah tertunduk dan rasa bersalah, Auro meninggalkanKenny sendirian di ruangannya.