Nam and Jin's fict
.
.
.
Kim Namjoon | Kim Seokjin | Jung Hoseok | Min Yoongi | Park Jimin | Kim Taehyung | Jeon Jungkook
.
.
.
"With any part of you play, there is a certain amount of yourself in it. There has to be, otherwise is just not acting. It's lying." -Jhonny Depp
.
.
.
.
.
Warn: penggunaan banyak kata 'gay', dsb..
Mengapa harus di beri perigatan? Karena sebagian orang masih menganggap kata ini termasuk kategori kasar. Jadi yang merasa terganggu, tolong berhenti membaca sampai sini. Terimakasih.
Orang bilang kesialan yang terburuk adalah yang datang bertubi-tubi. Jika benar seperti itu, maka Tuhan memang sedang mengutuk Kim Namjoon. Tapi hidup harus tetap berjalan bagaimanapun juga. Meski dengan cara yang justru akan mendatangkan hal-hal sial lainnya. Anggap saja Namjoon sedang menikmati anugrah kesialan pemberian Tuhan.
Malam ini ia mabuk, lagi. Tambahan lagi disana secara tidak langsung menjelaskan kalau ia juga melakukan hal yang sama kemarin, atau hari sebelumnya, atau hari sebelum sebelumnya lagi, atau.. ya katakan saja ia mabuk setiap hari. Baginya lebih baik mati dalam keadaan mabuk dibanding sekarat menghadapi realita yang memuakan. Ia tertawa dengan kesinisan yang kental saat berhasil memasukkan password apartemennya meski diambang batas kesadaran. Melewati pintu tanpa repot-repot membuka sepatu karena ia tinggal sendiri dan tak akan ada yang mengomel jika lantai rumahnya kotor. Namjoon hanya ingin segera menuju kasur lalu melemparkan tubuhnya di atas sana.
"Kim Namjoon sialan, apa-apaan ini?!"
Lihat lihat, bahkan di tengah malam sekalipun kesialan masih terus mengikutinya. Menemukan Jung Hoseok yang bangkit dari duduk nyamannya di sofa demi menghampiri sang pemabuk yang berdiri tegak saja sudah tidak mampu. Tanpa belas kasihan, ia menarik tangan Namjoon dan memaksanya duduk di sofa. Tentu tanpa perlawanan sedikitpun.
"Hei, tidak bisakah kau membuat hidupku tenang sehari saja, manajer-ssi?" Namjoon merasa hanya dengan bicara saja perputaran di dalam kepalanya semakin parah. Lalu Hoseok yang berdiri di hadapannya menunjukan kemarahan menggebu sama sekali tak membuat keadaan malam ini jadi lebih baik.
"Apa kau masih bisa mengharapkan hidup tenang setelah pemberitaan hari ini?! PD-nim akan memakan kita hidup-hidup, Namjoon!"
Hoseok berteriak, penuh rasa frustasi yang membuat Namjoon berpikir manajer-nya ini akan melompat dari balkon kapan saja. Ia mulai terkekeh awalnya, dan tawa keras menyusul kemudian. Menertawakan reaksi Hoseok yang berlebihan. Atau mungkin menertawai dirinya sendiri yang masih bisa bebas tertawa saat 'kematian' mengintip kearahnya.
"Jangan berlebihan, hanya tinggal berikan uang pada jalang itu, ia akan langsung bungkam." Jawabnya santai masih dengan kekehan yang tersisa. Menambah gatal tangan Hoseok untuk tidak langsung menamparnya.
"Dengar Rap Monster-ssi, kau pikir agensi akan melakukan hal itu untuk artisnya yang tidak lagi memiliki prestasi dan hanya membuat skandal-skandal memuakkan?"
Tak ada lagi tawa menyebalkan. Otaknya yang sudah di ambil alih efek alkohol dipaksa berjalan seperti seharusnya. "Ah ya, aku lupa karierku sedang menurun."
Memang dasar pemabuk sialan, bahkan saat otaknya tampak berjalan sekalipun jawaban yang diberikan masih sama tolol dengan sebelumnya. Kalau begini bisa-bisa Hoseok juga ikutan mati muda bersamanya. Sedikit menyesal mengapa dulu menerima tawaran untuk mengurus seorang rapper pendatang baru yang kelewat antusias dengan musik buatannya. Ah, mungkin karena dulu seperti itulah Rap Monster yang ia kenal, seorang rapper yang berdedikasi tinggi pada musik.
Hoseok menjatuhkan diri pada sofa. Merasa percuma bicara pada orang yang dikuasai alkohol. Sementara Namjoon yang duduk bersebelahan akhirnya kini benar-benar menutup mulut, meski hal itu menambah horror suasana yang ada. Dua pria frustasi dalam satu ruangan? Berdoa saja mereka tidak saling tikam.
"Ingat apa yang kukatakan padamu saat pertama kali bertemu dulu?" Hoseok memulai lagi kali ini lebih terdengar seperti bisikan. Semua teriakan penuh emosi tadi menyita habis seluruh tenaganya malam ini.
"Serius kau memaksaku mengingat di saat kepalaku terasa dipukuli ribuan palu?"
Sekarang Hoseok tertawa, masih menggunakan suara lemah sebelumnya. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Mencoba rileks walaupun isi pikirannya sedang diserbu berbagai kemungkinan buruk. Mungkin sebaiknya tadi ia menyusul Namjoon saja dan ikut mabuk bersamanya.
"Aku suka musikmu."
"Yeah, aku ingat sekarang." Gumaman singkat dari Namjoon. Secara tidak langsung memaksa Hoseok menoleh ke arahnya yang juga sedang menumpukan kepala pada sandaran sofa, menatap kosong pada warna putih monoton langit-langit di ruang tengah. Hoseok tidak tahu apa ia benar-benar mengingat atau yang barusan hanya omong kosong orang mabuk. "Dan apa kau masih menyukainya? Hoseok-ah, kau menyesal kan? Mengurus artis sial sepertiku."
Baiklah, sepertinya mereka menikmati momen dimana waktu berputar ke belakang karena berbicara dengan masa lalu tak sepenuhnya buruk. Terkadang hal itu jadi menyenangkan di saat waktu yang sekarang terlalu menyakitkan untuk dihadapi.
Hoseok ingat saat pertama kali mengenal Namjoon sebagai trainee di agensi mereka. Sikapnya yang apatis terhadap lingkungan menimbulkan kesan kurang menyenangkan terhadap trainee lainnya. Tapi tidak ada yang berani memberinya sentuhan penindasan karena Kim Namjoon saat itu merupakan harta perusahaan. Mereka dengar debutnya sudah disiapkan sejak awal ia menandatangani persetujuan untuk berlatih. Sementara Jung Hoseok masih menjadi asisten manajer biasa dimana artis yang mereka tangani adalah seorang aktris senior dengan segudang pengalaman. Ia juga telah mendapat kabar bahwa ia akan segera mengurus artisnya sendiri dan sangat berharap itu bukan rapper arogan yang akan debut tak lama lagi. Mengingat umur mereka yang sama akan menambah suasana canggung nantinya. Tapi keraguannya berubah saat tanpa sengaja melihat dan mendengar sendiri bagaimana si Rap Monster memproduksi musiknya. Membangkitkan nalurinya sebagai seorang penampil, bukan sosok yang membantu di belakang panggung.
Namun setelah itu Tuhan menjalankan kutukan awalnya, hingga menimbulkan efek domino bagi kesialan-kesialan lain. Rap Monster si jenius musik yang ia kenal mulai berubah menjadi Kim sialan Namjoon seperti yang berada di sampingnya sekarang.
"Kau sendiri bahkan berubah, jadi jangan paksa aku untuk tetap sama. Dan aku tidak menyesal, sialan. Hidupku masih terlalu berharga untuk disesali."
"Baguslah. Cukup aku saja yang menyesali hidupku."
Terserah. Hoseok tidak sedang dalam mood menyebarkan harapan seperti biasa, kalau dirinya sendiri saja kehilangan insting untuk berharap. Memikirkan bagaimana ia menghadapi hari esok membuatnya ingin menarik rambut silver Namjoon sampai rontok semua.
"Aaahh si jalang itu.. harusnya ia bilang jika sedang dalam masa subur!"
"Jangan menyalahkan orang lain! Salahkan dirimu yang tidak hati-hati, sikapmu sudah seperti kelinci-kelinci kelebihan hormon!"
"Sex is my life, y'know?" Dan sebuah bantal tepat mendarat di wajahnya. Detik berikutnya Hoseok menyesal mengapa ia terlalu malas meraih vas bunga di meja sana.
"Berhenti bicara hal menjijikan padaku!"
Malam ini mereka bersatu mengharapkan sebuah meteor besar jatuh dan menghancurkan bumi dalam sekejap.
.
.
.
Nyatanya harapan mereka tidak terwujud, tentu saja Tuhan belum cukup gila melakukan hal tersebut.
Seperti dugaan, agensi memintanya datang pagi-pagi sekali. Tidak main-main, asisten pribadi PD-nim langsung yang menelepon. Setelah terburu-buru melakukan aktifitas paginya dan berusan dengan sakit leher karena posisi tidurnya di sofa, disinilah Jung Hoseok sekarang. Berada di ruang meeting utama pada jam dimana karyawan biasa bahkan belum bangun. Namjoon di apartemen sana juga belum bangun, tapi ia bukan karyawan? Baiklah Hoseok bersikeras merubah kalimat tadi menjadi, dimana karyawan biasa dan orang gila bahkan belum bangun.
Kembali ke suasana pertemuan yang menegangkan.
"Jadi.. ada penjelasan mengenai berita yang di luncurkan media kemarin?"
Hoseok di hadapkan pada situasi dimana ia berperan sebagai tersangka pembunuhan dalam persidangan. Dimana seluruh pasang mata di dalam ruangan menatap sinis ke arahnya, bersiap memakannya hidup-hidup jika ia salah bicara sedikit saja. Hoseok jadi ingin ikut menertawakan hidupnya seperti yang Namjoon lakukan semalam.
"S..saya sudah bicara dengan Namjoon semalam dan ia mengakuinya." Berhenti sejenak untuk sekedar membasahi kerongkongannya dengan air liur. "Tapi saat itu mungkin ia sedang mabuk sehingga tidak sadar melakukannya dengan wanita itu." Semarah apapun ia pada Namjoon, tapi dalam hal ini ia tetap harus membela artisnya sampai mati. Sialan memang.
"Sadar atau tidak saat ia melakukannya bukanlah point utama disini, Hoseok-ah. Yang terpenting Namjoon mengaku pernah melakukan hal itu pada Eunjung-ssi." Tatapan Bang PD dari kursinya sana adalah yang mempunyai efek terparah. Hoseok merasa keringat dingin menyusuri bagian punggungnya dan semakin kesulitan mengambil udara. CEO mereka memang bukan tipe diktator menyebalkan, tapi di dalam situasi seperti ini tatapan beliau bisa merubahnya jadi sangat mencekam.
"Apa menurut kalian yang harus pihak manajemen lakukan untuknya?"
Kali ini pertanyaan di ajukan untuk seluruh staf dari berbagai divisi yang mengikuti rapat. Hoseok masih berdiri di tempatnya, memberanikan diri menatap satu persatu wajah orang dalam ruangan. Mereka sama stress-nya dengan Hoseok. Merasa belum siap menghadapi pertanyaan berat sepagi ini. Ia tak berharap banyak mereka akan memihak Namjoon dengan memberi pembelaan karena sudah menjadi rahasia umum bahkan di dalam agensinya sendiri saja Namjoon mempunyai haters.
"Kita semua tahu akhir-akhir ini karier Namjoon sedang sangat tidak bagus. Tapi langsung menendangnya keluar dari agensi juga akan memperburuk image kita di mata media."
"Ya, kau benar. Kita tidak bisa membatalkan kontraknya begitu saja. Media akan menilai kita tidak bertanggungjawab."
Pernyataan salah satu staf manajer barusan yang disertai persetujuan dari CEO mereka bisa membuat Hoseok sedikit menarik nafas lega setidaknya dapat dipastikan Namjoon tidak akan menggelandang di luar sana.
"Ada saran lain?"
Lalu Hoseok kembali menahan nafas.
"Bicara tentang image, Rap Monster tak lepas dari julukan playboy-nya. Skandal-skandal yang ia buat semakin menguatkan image itu. Sebagian fans mungkin menyukainya, tapi dari yang kulihat dari jumlah followers di fancafe mereka semakin menurun drastis. Mungkin kita bisa mulai mencoba merubahnya menjadi sosok yang kembali bisa mengambil hati masyarakat."
"Hmmm.." Bang PD terlihat sangat serius memikirkan pendapat staf yang seingat Hoseok berasal dari bagian art and perfomence. Semua orang disana tampak sama-sama menahan nafas menunggu tanggapan dari sang CEO. "Jina-ya, image seperti apa yang sedang populer di masyarakat saat ini?"
Secara otomatis, seluruh pandangan mengarah pada sosok wanita berambut pendek warna ungu dan mengenakan kaca mata bulat yang tebal, dia duduk di pojok sisi sebelah kiri meja. Menjadi pusat perhatian dadakan ia jadi panik sendiri. Hoseok mengenalnya sebagai salah satu crew kreatif mereka yang kepribadiannya terkenal sedikit tertutup. Tapi sepertinya ia bukan orang yang buruk jika Bang PD saja mempercayakan pendapatnya tentang hal seperti itu.
Mereka menunggu Jina mengotak-atik iPad yang ia bawa, men-scroll beberapa kali hingga akhirnya ia balas menatap sang CEO yang tentu masih menunggu jawabannya.
"M..mungkin akan s..s..sedikit mengejutkan. Tapi fenomena ini sungguhan yang terjadi di masyarakat."
Bang PD mengangguk-angguk mengerti. Jelas sekali ia percaya pada apa yang dikatakan stafnya barusan. "Dan apa itu?"
"Gay."
Detik itu juga ruangan di penuhi suara-suara aneh hasil seseorang menahan tawa. Hoseok juga nyaris membuka mulut dan tertawa keras seperti biasa dengan gerakan memukul-mukul meja atau orang di sampingnya. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang ada untuk tak melakukan itu. Pfft. Apa yang dikatakan Jina terdengar seperti lelucon terbaik abad 21.
"S..saya tidak bohong. Bukti-bukti yang ada mengatakan seperti itu. Film-film dengan unsur percintaan sesama jenis semakin merajalela dan sukses di pasaran. Para member dalam sebuah grup tidak lagi malu-malu melakukan kontak fisik, seperti berciuman. Hal-hal tersebut dikarenakan pemerintahan yang baru meski tidak secara terang-terangan mendukung, tapi sudah dapat di pastikan tidak lagi memberi larangan ketat. Anda bisa membacanya sendiri dari beberapa artikel yang sudah saya pilih, Sajangnim."
Mereka kembali menahan nafas saat sang CEO tanpa kata memberi kode menggunakan jarinya agar Jina menunjukkan hasil 'peneletiannya'. Jina melangkah mendekat dengan aura kepercayaan diri yang meningkat seolah sedang gantian merendahkan staf lain yang tadi meragukannya. Hoseok salah satunya. Baru terpikir olehnya bahwa mungkin selama ini ia terlalu sibuk mengurus Namjoon sampai tidak mengetahui apa saja yang terjadi di luar sana. Jika begini, kemungkinan besar apa yang dikatakan wanita berambut ungu itu benar. Ck. Mungkin ini yang sedang dunia nikmati sekarang. Sebuah lelucon terbaik untuk hidup sial mereka.
"Siapa Kim Seokjin?" Pertanyaan yang akhirnya datang dari sang CEO setelah hampir sepuluh menit perhatiannya terfokus pada apa yang sedang ia baca.
Dan Hoseok bersumpah ia merinding saat pandangannya menangkap binar-binar imajiner pada mata Jina disana seperti efek rasa antusias berlebih dalam manhwa yang pernah ia baca.
"Ah, dia aktor boys love pendatang baru yang sedang naik daun akhir-akhir ini."
"Boys love?"
"I.. itu sebutan genre untuk film dan drama bertema gay."
Tiba-tiba Hoseok merasa ia bukan lagi makhluk penghuni Bumi karena terlalu asing dengan hal-hal yang disebutkan Jina. Sepertinya terlalu lama bersama Namjoon menimbulkan efek ia sedang berada di planet Mars atau bahkan Pluto sekalipun. Ah, atau kebalikannya? Makhluk bumi lah yang sekarang sudah berimigrasi ke Mars hingga sesuatu yang dulunya tabu justru menjadi populer. Baiklah, otak Hoseok memang mulai bergeser sedikit dari tempatnya.
"Bagus juga." Komentar yang terdengar seperti bisikan, namun seluruh peserta rapat pasti dapat mendengarnya. "Saya rasa saya setuju dengan ini."
"Dengan apa maksud Anda?!" Itu kalimat spontan Hoseok yang tidak bisa lagi tertahan. Mengambalikan fokus orang-orang disana pada sang tersangka utama.
"Image gay ini, Hoseok-ah."
"Tunggu sebentar, jadi maksud anda Namjoon akan kita buat menjadi gay? Gay? Penyuka sesama jenis?!"
Entah menghilang kemana segala keformalan yang berusaha Hoseok tunjukan di awal. Ia dan Bang Sihyuk sudah lama saling mengenal hingga kadang sang CEO sudah menganggapnya sebagai adik atau bahkan anaknya sendiri. Sebenarnya ia memang tipe pemimpin seperti itu. Hanya saja ide-ide ekstrimnya kadang membuat para staff-nya migrain berkepanjangan.
"Ya, menurutku sekarang ini dikenal sebagai gay lebih baik dibanding mendapat julukan pemerkosa oleh masyarakat."
"Sajangnim, saya yakin mereka melakukannya tanpa ada unsur paksaan pada satu sama lain!"
"Dan apa kau pikir wanita itu akan bicara kenyataan pada media?! Aku bisa saja menyuruh seseorang membungkamnya, tapi tak ada yang bisa kulakukan mengenai image brengsek Namjoon di luar sana. Dan menjadikannya sosok yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Biar bagaimanapun juga, Namjoon pernah menguntungkan perusahaan, ini caraku membantunya."
Hoseok kalah telak. Ia sangat tahu hal itu sangat mungkin terjadi. Si jalang tak akan tanggung-tanggung menghancurkan karier Namjoon yang sudah retak. Juga kepedulian pemimpin mereka yang masih tersisa untuk Namjoon membuatnya tak lagi berani membantah. Ia jadi ingin berlari pulang ke apartemen Namjoon untuk memeluknya yang punya hidup begitu sial. Tapi keinginannya seketika batal saat sadar bahwa si bodoh itu sendiri yang membuat hidupnya semakin sial.
"Jina-ya, berikan aku kontak agensi dari Kim Seokjin."
"Baik, Sajangnim. Emmm.. maaf, "
"Ada apa?"
"Sebenarnya minggu lalu kita mendapat tawaran film dari salah satu produser untuk genre tersebut."
Seringai PD-nim mereka berhasil menularkan sensasi merinding yang tadi Hoseok rasakan dari binaran mata Jina. Lalu kalimat selanjutnya membuat Hoseok benar-benar ingin berlari memeluk sahabatnya yang malang.
"Ck, dewa keberuntungan akhirnya memihak bocah sialan itu."
.
.
.
.
.
Kim Seokjin bangun dengan isi kepala yang seolah meronta keluar. Salahkan ajakan minum dari Yoongi semalam mengapa begitu menggoda di tengah mood buruknya saat itu. Selama ini ia bukan tipe pengeluh yang sedikit-sedikit mengutuki hidup. Tapi perselingkuhan Jin Hyosang membuat hidupnya mendadak pantas dicaci maki. Hah, sialan. Harusnya dulu ia tetap pada komitmen awal untuk tidak termakan godaan lawan mainnya yang rata-rata adalah pria sehat dan normal penyuka dada besar wanita. Semalam Yoongi habis-habisan menasehatinya tentang itu hingga ia memilih kesadarannya di kuasai penuh oleh alkohol dibandingkan mendengar ceramah sang sahabat yang bahkan memiliki kisah cinta tidak lebih darinya.
"Wake up and rise, princess."
Tanpa menoleh pun Seokjin tahu siapa sosok mungil yang bersandar di ambang pintu sana karena Min Yoongi merupakan satu-satunya orang yang bisa bebas berkeliaran dalam rumahnya.
"Yoongi-ya, berhenti mengingatkanku pada si brengsek itu." Mendengar panggilan tadi sakit kepalanya semakin bertambah saja.
"Kalau begitu lupakan saja dia."
"Bicara memang mudah."
Terdengar langkah kakinya yang semakin mendekat, mata Seokjin masih terlalu berat terbuka untuk memastikan apa benar segelas susu putih yang kini Yoongi ulurkan padanya. "Ya itu susu, minumlah." Seokjin tersenyum kecil. Diam-diam merasa beruntung memiliki Yoongi yang dapat mengerti dirinya walau tanpa bicara sekalipun
"Bukannya memang mudah bagimu? Terima saja tawaran film baru, mendapatkan lawan main baru yang tampan, dan boom! kau akan lupa pada si tukang selingkuh Jin Hyosang."
Kalimat datar minim emosi dari Yoongi berhasil membuat Seokjin tersedak. Jadi ia batalkan perasaan beruntungnya tadi. Memiliki Yoongi sebagai sahabat mungkin juga akan menjadi alasannya mati muda. Seokjin mengelap asal mulutnya yang belepotan susu menggunakan ujung lengan piyamanya. Mengumpulkan energi lebih guna menyerang balik produser Min yang dipuja para penyanyi di luar sana.
"Hey, apa kau pikir aku semurahan itu?!"
"Ya."
Ah sialan. Seokjin lupa kapan terakhir kali ia memenangkan perang argumen dengan Yoongi. Lalu sebuah lemparan bantal Seokjin berikan pada si pria pucat yang tentu dapat mudah menghindar.
"Lihat saja, aku tidak akan pernah lagi membawa perasaanku yang sesungguhnya dalam akting!"
Bagus. Memang sumpah macam itu yang ingin Yoongi dengar dari sahabatnya. Seokjin sudah terlalu banyak tersakiti karena perasaannya sendiri. Sudah seharusnya tak ada rasa nyata dalam industri hiburan yang terlalu sesak oleh kepura-puraan.
.
.
.
.
.
Continued
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa aku mengejutkan kalian dengan ini? lol ini akan jadi fic berchapter panjang kedua dariku. Setelah merasa Second sudah mencapai tahap-tahap ending, walaupun masih belum terpikirkan bagaimana cara mengakhiri yang satu itu. Terimakasih sudah bersamaku dan membuatku merasa dihargai sebagai seorang penulis amatir hahaha aku akan berusaha lebih baik lagi untuk membuat kalian semakin jatuh cinta dengan Nam and Jin dalam versi imajinasiku.
Real life is getting really hard for me, but y'all and Bangtan always save me and make me want to stay longer on this shitty world. So I sincerelly thank you for that ^^ I love you~
