Wednesday, February 27, 2013
9:58 AM
Aku mencintainya sejak pertama kali aku membuka mata.
###
"Hyukjaeeee Tungguuuu..."
Teriakan kencang membahana, berasal dari suara berat milik pemuda yang tengah berlari dengan nafas tak beraturan juga dengan keadaan tak kalah buruk dengan tarikan nafasnya.
Hyukjae, lelaki pemilik nama itu hanya menoleh sejenak, mendengus dan melanjutkan acara jalan kaki pulang ke rumahnya. Sedikitpun tidak prihatin atas kondisi sang pemanggil.
"Monyet pabbo!, bisakah kau berhenti?!"
Dengan panggilan seperti itu tentu saja Hyukjae tidak akan berhenti. Ia sudah menunggu lelaki itu, nyaris satu jam, tapi lelaki itu malah asyik bercengkrama dengan gadis-gadis tolol yang selalu histeris setiap melihatnya. ya orang yang berteriak tanpa etika itu adalah seorang lelaki, dan lelaki itu bukan sahabatnya, kalian jangan salah sangka. Ia tidak pernah menyebut lelaki itu sebagai sahabatnya, seumur hidupnya tidak akan, ia tidak ingin.
"Ayolah Hyukkie, jangan ngambek seperti ini" lelaki itu mulai bisa mensejajarkan dirinya dengan Hyukjae. Nafasnya masih berantakan, ia sesekali menghapus peluh di keningnya. "Aku hanya ngobrol dengan mereka, tidak lebih"
Ah, siapa bilang dirinya ngambek. Ia marah tau. Sakit hati. Dan siapa pula yang minta penjelasan tentang apa yang dia dan gadis-gadis centil itu kerjakan. Ia sudah melihat dengan kedua mata kepalanya, bagaimana, ikan ini dan gadis-gadis itu 'ngobrol'. Satu dari gadis-gadis itu yang tidak ingin Ia sebut namanya sangat asyik bergelantungan di lengan Ikan amis menyebalkan di sebelahnya ini, berbicara dengan nada yang di buat semanja mungkin. Hell, itu tidak pantas di sebut dengan ngobrol saja kan?.
"Hyukkie" lelaki itu memasang badannya di hadapan Hyukjae "Jangan diam begini" lelaki itu mulai berjalan mundur karena Hyukjae tidak juga menghentikan langkahnya.
Ck. Lelaki itu berdecak kesal. Ia lebih suka jika Hyukjae ngambek sambil memasang semua ekspresi anehnya daripada bungkam seperti ini. Ia bisa saja menghentikan langkah dan memeluk erat lelaki manis di hadapannya ini tanpa perduli dengan semua pemberontakannya. Tapi kali ini ia tidak berani, Hyukjae benar-benar marah, dan dirinya juga merasa bersalah atas apa yang terjadi di sekolah barusan.
"Aku hanya sedang malas bicara Hae" tanpa sadar Hyukjae mengeluarkan suara dengan nada sedikit merenggut. "Menyingkirlah" Ia lalu mengambil langkah ke kanan, lelaki yang di panggil Hae itu mengikuti. Jika seperti ini terus mereka akan jadi tontonan gratis para pejalan kaki yang berjalan di jalan ini.
"Aku suka kau cemburu, tapi jangan bungkam seperti ini, ne?"
Hyukjae benci melihat senyum kecil menggoda di wajah ikan menyebalkan ini, ia lebih suka menikmati wajah panik yang sedari tadi melekat di wajahnya. Ia menyesal sudah mengeluarkan suara tadi. Lagi pula siapa yang cemburu. "Aku tidak cemburu Piranha!" Hyukjae membuang muka. Ia memang tidak cemburu. Ia hanya marah.
"Lantas?"
"Aku membencimu, itu saja" Hyukjae menghentikan langkah. Ia sudah sampai di depan rumahnya. "Jadi, menyingkirlah" Hyukjae ingin secepatnya masuk rumahnya.
Lelaki itu menatap Hyukjae lama. Tatapannya yang begitu lembut di penuhi begitu banyak permohonan. Permohonan supaya Hyukjae memaafkannya.
Hyukjae tidak berani menatap mata itu. Ia bisa luluh seperti keju yang dipanaskan jika ia melihat wajah memohon ikan di depannya ini. Ia tetap membuang muka.
"Oke. Aku mengalah" meskipun kaget mendengar lelaki itu mengalah begitu saja tapi Hyukjae tidak mengeluarkan sepatah katapun. "Sekali lagi kau mendiamkanku seperti ini, aku tidak akan membiarkanmu" kemudian lelaki itu memeluk Hyukjae, sejenak tapi begitu erat diikuti dengan dua kecupan di kening dan di bibir dan semua itu di tutup oleh satu bisikan lembut, "Saranghae".
Hyukjae melangkah memasuki pekarangan rumahnya ketika membalas bisikan lembut tadi itu "Nado saranghae". Meskipun masih marah tapi ia tidak bisa tidak membalas kalimat itu. Ia terlalu mencintai lelaki menyebalkan itu. Lelaki yang selalu membuatnya kesal itu. Lelaki yang ia tau akan tetap berdiri di depan gerbang hingga dirinya menghilang di telan pintu rumahnya. Ia tidak tau sejak kapan dirinya jatuh cinta pada lelaki itu, yang ia tau hanya bahwa setiap kali ia membuka mata ia tau bahwa dirinya mencintai lelaki itu.
###
