Aomine selalu merasa tak pantas jika diajak berkunjung oleh Kise. Ingatkan Aomine tentang, perpisahan yang sesungguhnya bukanlah akhir dari segalanya. Itu juga bukan karena kelulusan sekolah menengah pertama yang sederhana. Ya, karena Ia tahu, sampai kapanpun itu. Sejauh apapun mereka berpisah, Kise Ryouta akan tetap menjadi sahabatnya. (Alternate Timeline, latar Teikou, AoKise friendship) (Warn inside)


Farewall? What Farewall? (c) Double Kick

.

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

.

Genre : Friendship, Humor, Hurt/Comfort (No Romance inside).

Warning : AoKise friendship, IC/OOC, trigendre if possible, not Boy-Love. Aomine menggunakan bahasa non-formal dan Kise menggunakan bahasa formal namun santai.

.

(Remember that I don't get any profit by writing this ff. It just... my own happiness to share my experience. Hope u'll accept it~)

.

(Dan untuk female titan yang menyempatkan diri untuk membaca ff ini, apa yang akan saya ucapkan adalah... tidak ada.)

.

Selamat membaca!


Remember, that the real farewall is not the ending at all. It also not because a simply school graduation.


Pemuda bersurai navy blue itu memejamkan matanya, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi di helaian berwarna biru-sebiru laut-miliknya itu sambil menggumamkan beberapa kata abstrak yang tak jelas apa isinya. Ia menatap bergumpal-gumpal awan cumulus indah yang berlalu lalang dengan perlahan di depan pandangnya, walaupun sebenarnya letak awan itu terlampau jauh di atasnya.

'Setsugyou wa owari ja nai (Kelulusan bukanlah segalanya)'

Aomine terdiam sambil menghembuskan nafasnya teratur, masih enggan membuka kelopaknya. Samar-samar, suara itu masih terdengar olehnya.

'Kore kara mo nakama dakara.. (Kita akan berteman selamanya..)'

Pemuda berkulit tan itu tertegun, manik navy-nya terbuka lebar, sedikit terbelalak. Suara yang begitu lembut.

'Issho no sasshintachi (Kita mempunyai semua foto kita)'

Ia tersenyum hangat. Mungkin Ia tak seperti itu juga. Mungkin saja hanya pemuda pirang itu yang melakukannya, Ia tidak. Ia hanya memiliki beberapa foto mereka, tidak semuanya.

'Osoro no kiihoruda (Kita membagi kunci yang sama)'

Ia terkekeh pelan, tak mengerti akan apa arti dari lirik lagu yang sedang didengarkannya itu.

'Itsumade mo kagayaiteru (Dan mereka akan bersinar selamanya di hati kita)'

Manik biru lautnya menerawang ke langit, terlihat seperti sedang membayangkan sesuatu. Tidak, bukan tentang Mai-chan. Sepertinya kali ini Ia sedikit terpikir akan sesuatu.

'Zutto sono egao arigatou (Seperti halnya senyummu)'

Tentang Kise Ryouta, sahabatnya.

.

.

.

"Aominecchi?"

Hening sejenak. Aomine mematikan alunan lagu yang berputar di playlist-nya dengan raut yang sarat akan ketenangan, terlalu kentara untuk berusaha terlihat tenang-sampai-sampai Ia jadi panik sendiri. Kemudian, menatap wajah Kise yang masih terlihat bingung sedikit, namun seperti sedang menahan tawanya untuk meledak-ledak.

"Aominecchi suka K-On, ssu?" pemuda bersurai kuning cerah dengan senyuman ceria itu bertanya blak-blakan dengan bola mata yang terbuka lebar, terlalu kegirangan.

Yeah, lagu yang baru diputarnya tadi itu adalah lagu terakhir yang diciptakan oleh Houkago Tea Time dari anime K-On sebelum anime itu tamat.

"Eh?! Kagak ah, kagak! Apa-apaan!" dengan cepat, sebuah jitakan meluncur di dahi sang pemuda pirang tersebut. Kise mengaduh pelan, lantas mengusap-usap kepalanya. Kemudian, seperti biasa, Ia berujar sambil menggembungkan pipinya, "Itte na, Aominecchi hidoii-ssu! (Sakit wey, Aominecchi kejam-ssu!)" dan lalu, Aomine hanya menguap malas. Hening beberapa saat sampai Kise buka suara,

"Aku juga suka K-On ssu." dengan raut polosnya, Ia berkata.

Dengan cepat, Aomine bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk, menatap manik gold milik Kise dengan raut tak percaya. "U-uso! (Kau bercanda!)" ujarnya setelahnya, mengibaskan tangannya dengan semangat yang meledak-ledak. Sedang Kise hanya nyengir kuda, lalu berucap, "Sou ssu yo, (Beneran wey)" dan, "Aku suka Azusa, Aominecchi suka siapa ssu?" lanjutnya masih nyengir. Sontak, wajah sang pemuda bersurai navy itu sedikit merona. "Sonna baka (jangan bodoh), gue gak suka K-On!"

"Jujur saja ssu! Tadi jelas-jelas kau memutar lagunya, kan?" dan kemudian, terasa nyeri di tulang rusuknya. Kise menyikutnya hanya untuk sebuah pengakuan semata.

"Gue cuman suka Mio aja, tuh! Gak lebih, gak kurang!" Aomine membantah, namun Kise masih setia nyengir kuda.

"Aaaarrghh! Terserah lo aja ah!" Aomine yang frustasi karena dipaksa terus-terusan oleh Kise, hanya menjambak rambutnya kesal. Pemuda berpostur tinggi itu kembali membaringkan tubuhnya di marmer atap yang sudah tergores banyaknya, kemudian menatap awan yang berlalu-lalang dengan pase monoton di hadapannya. Kise ikut membaringkan dirinya di samping Aomine.

"Ne, ne, Aominecchi, (Hey, hey, Aominecchi)" Ia berujar pelan. Yang dipanggil malah memejamkan matanya, kembali menikmati terpaan angin sepoi-sepoi yang berderu halus di kulitnya, lantas bergumam pelan sebagai balasan. Kise menolehkan wajahnya sejenak, hanya untuk memastikan bahwa Aomine sedang menutup kelopak matanya, enggan memperlihatkan manik navy-nya. Kemudian, Ia menghela nafas tertahan. Kembali menatap langit, sambil berujar pelan, lagi.

"Kelulusan bukanlah akhir dari segalanya, kan?" Kise sedikit mengecilkan volume suaranya, meredam perasaan kalutnya. Aomine membuka sebelah matanya dengan berat hati, lantas menatap pemuda yang tadi berujar itu dengan satu mata bajak laut miliknya. "Wey, sejak kapan lo mulai ngucapin guyonan-guyonan melankolis picisan beginian, heh, Kise?"

"Ah, tidak. Hanya saja, etto... ano... ah, a-aku lupa ssu," Kise menggaruk kepala bersurai kuningnya yang tidak gatal sama sekali, hell yeah, dia kan tidak kutuan.

"Apanya?" Aomine terpancing.

"Aku lupa apa yang mau kukatakan selanjutnya-ssu, ehehe," Kise nyengir lagi.

JETAKK

Dan satu jitakan mulus mendarat lagi di dahi Kise sebagai pelampiasan.

"Aominecchi hidoii! (Aominecchi kejam!)" teriakan melengking itu terdengar sampai ke angkasa luar, tempat para alien sedang mendiskusikan rencana mereka untuk menginvasi bumi.

Dan, pemuda yang namanya sering diplesetankan menjadi 'Ahomine' itu tak pernah menyangka bahwa ucapan melankolis Kise akan berdampak padanya juga nanti. Bukannya Ia tak percaya karma, tapi Ia merasa bahwa suatu hal terbilang lebay kalau sudah membicarakan tentang karma. Semuanya pasti ada balasannya, perbuatan yang besar maupun yang kecil, tak pernah luput dari pandangan Tuhan. Kami-sama memiliki jalan yang lebih baik, bukan?

Di atap itu, Ia juga mengingat dengan jelas, bagaimana suara Kise yang sarat akan keraguan saat mengucapkannya.


"EMAAAAKK, GUE LULUS, MAAAKK!" teriakan Aomine menggelegar seantero Teiko, membuat beberapa ekor burung melenggang dan jatuh ke tanah karena terpaan gelombang audiosonik yang sepertinya telah melewati batasnya sendiri. Aomine berpelukan dengan ibunya, terlihat jelas bahwa nyonya Aomine sungguh terharu sampai menggesek-gesek pipi putranya dengan pipinya sendiri yang berlinang air mata. Kise menatap pemandangan relasi ibu-anak itu dengan perasaan yang sedikit terharu, namun tetap saja setitik bulir keringat mengalir di pelipisnya.

"Aominecchi, kau tak ingin memelukku ssu?" memberanikan diri, Ia bertanya.

"Najis lo ah! Ntar gue dikira humu!" dengan ogah-ogahan (dan masih berpelukan dengan ibunya), Aomine mendumel.

JLEBB

Siapapun, tolong kokoro-nya Kise yang kesepian, kedinginan, dan kelaparan tengah meringkuk di sudut perasaannya yang tersakiti.

Kise kicep seketika.

Setelah beberapa saat, nyonya Aomine akhirnya melepaskan pelukan mereka. Aomine tersenyum sejenak saat ibunya sudah mau mengajaknya pulang. Dengan sopan, Ia menolak akan alasan tentang sahabatnya yang telah tersakiti olehnya itu, Kise Ryouta-pemuda bersurai blonde itu malah ikut-ikutan meringkuk di kolong tangga terdekat.

"Oy, Kise." panggil Aomine dengan tas sekolah yang telah tersemat di pundak asal-asalan. Dengan cepat, Kise menoleh lantas menjawab dengan pertanyaan, "Nani-ssu, Aominecchi? (Ada apa, Aominecchi?)" dan raut Aomine yang tak dapat dibacanya kali itu mungkin bisa menjelaskan sebagian narasi.

"Bagaimana kalau menghabiskan waktu di atap sampai sore, hm?" tawar Aomine.

"Eh?" Kise mengerjapkan matanya beberapa kali. "Tumben-ssu," komentarnya singkat. Tapi akhirnya, Ia mau saja diseret ke atap oleh sang pemuda tan tersebut. Nyonya Aomine menggeleng pelan, tak suka dengan kelakuan putranya itu kepada orang lain. Ia menghela napasnya sejenak, lalu segera pulang setelah berpesan agar putranya tidak keluyuran sembarangan seperti spesies terong-terongan yang dilihatnya di berita semalam.

.

BRUKK

Mereka tahu, mereka bukan pasangan yaoi yang saling mencintai. Mereka hanyalah teman yang saling memeluk satu sama lain-salah satu dari mereka memeluk dengan cara yang begitu extreme sampai seorang lainnya jatuh ke lantai marmer dengan punggung yang hampir patah dan encok yang nyaris kumat. Tebak siapa?

Ya, kalian benar.

Dialah Aomine Daiki. Yang tengah memeluk Kise erat-erat sambil memejamkan mata, dan dengan posisi sedang menindihnya. Begitu ambigu.

Dan semuanya berubah saat Kise bertanya polos, "Aominecchi, katanya bukan humu ssu?" dan dengan sekuat tenaga, Kise mendorong tubuh Aomine yang masih memeluknya. Begitu berat. Sejak kapan Aomine jadi seberat ini? Kise tak tahu. Yaiyalah, dia kan baru kali ini ditindih oleh sang empunya badan berkulit tan tersebut. Entah apa yang membuatnya seperti itu, namun Aomine enggan bangkit. Yang ada, Ia malah berkata,

"Gue tau, lo nyembunyiin sesuatu dari gue. Iya, kan?" suara pelan Aomine mengubah atmosfir yang tercipta di antara mereka menjadi sedikit cangung.

Dan Kise terdiam untuk beberapa saat. Kedua surai mereka-navy blue dan blonde-melambai pelan tertiup angin, menambah kesan ala sinetron saat mereka sedang pose wenaknya di atap. Mereka masih diam, enggan berujar satu sama lain, sampai akhirnya, pemuda dengan senyum secerah mentari dan suara sebising tong kosong bunyinya nyaring itu memperlihatkan cengiran terbaiknya di musim panas. "Hehe, apa coba?" tanyanya.

"Lo bakalan pindah ke Nara, kan?" Aomine menatapnya tajam. Kise menyilangkan tangannya, "Jangan tatap aku seperti itu, ssu!" dan surai pirang miliknya ikut terkibas-kibas seiring gelengannya ke kanan dan ke kiri.

"Tapi iya, kan?" tanya Aomine ngotot, sambil melotot pula. Senyum Kise memudar, ditambah dengan arah sorot pandangnya yang menurun ke bawah, enggan membalas tatapan Aomine yang menuntutnya sedari tadi.

"Cuma ke Nara, kok. Apa masalahnya?" sudut-sudut bibir Kise terangkat paksa, membentuk senyum. "Selain itu, kita sudah terbiasa dengan sekolah yang lumayan jauh dari tempat tinggal kita sendiri, toh. Bukan begitu, Aominecchi?" manik gold dan navy itu akhirnya saling menatap. Yeah, Aomine mengakui bahwa ucapan Kise barusan adalah benar, namun apa yang dilihatnya di depan matanya sendiri membuatnya tak enak hati.

Mata Kise yang sedikit berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang hendak keluar dari pelupuk matanya.

Aomine bangkit dari tubuh Kise, lalu berdiri dan berjalan ke arah dinding rendah pembatas atap itu dalam diam. Ia menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang kerap kali dirasakannya sejak pertama kali Ia menemukan tempat itu. Kise menoleh, lantas bangkit duduk, lalu diam. Sama seperti Aomine, Ia juga sedang menikmati terpaan angin lembut di wajahnya yang tak urung dengan senyuman-walaupun senyum itu hanyalah sekedar paksaan semata-dan juga, menikmati keheningan yang terjadi di antara mereka.

"Gue minta maaf sebelumnya, tapi gue takut ketangkep sama anak-anak fujo di sekolah ini lagi berduaan, pelukan, bahkan lagi nindih elo tadi," Aomine angkat bicara. Habisnya, Ia tak tahu harus berkata apa lagi untuk menghibur Kise. Ia tahu, pemuda pirang itu murah senyum. Namun bukan berarti Ia harus memaksakannya juga saat sedang mengatakan hal-hal yang berat untuk disampaikan? Kalau Aomine jadi dirinya, dipastikan Ia akan menghapus senyumnya itu seharian penuh. Tapi tetap saja, hell no, Ia tak akan menangis.

"Ya, aku tahu," Kise berkata singkat.

"Mau one-on-one?" tawar Aomine. Kise mengangguk semangat. Aomine tahu, bagi seorang pemain basket, olahraga itu pasti bisa membuat perasaan mereka terhibur barang secuil besarnya.

.

"Jadi, kapan lo berangkat?" Aomine men-dribble bola dengan tenang, memperhatikan step yang diambil oleh Kise.

"Aku tidak yakin. Otou-san bilang, aku akan menjalani satu semester dulu sebagai anak SMA di Tokyo, sebelum pindah." Kise menatap bola basket oranye yang sedang memantul itu sengit, lantas mencoba untuk melakukan steal.

"Jadi begitu," dengan spontan, Aomine melakukan crossover, melindungi bola yang hendak diincar. Kise sedikit terbelalak saat Aomine dapat lolos dari penjagaannya dan langsung melakukan dunk-nya yang ketiga. Kise berdecak kesal-sekaligus kagum dengan kecepatan milik Aomine yang selalu tak terkalahkan.

Bola terpantul bebas di lapangan, Kise mengambilnya, lantas membawa bola itu keluar dari garis threepoint untuk me-restart permainan. Aomine siaga dengan posisi defense. Kise tersenyum singkat, lalu melakukan copycat seperti biasanya. Meniru gerakan Aomine yang tadi dengan sedikit fake, lalu melakukan dunk. Menyamakan skor yang sedari awal terus kejar-mengejar sampai salah satu dari mereka kalah telak.

"Aominecchi akan masuk ke SMA mana, ssu?" Kise bertanya, sambil menyeka peluhnya dengan punggung tangan.

Aomine menoleh, "SMA Touou. Lo sendiri mau masuk SMA mana?" Ia balas bertanya setelah menjawab terlebih dahulu.

"SMA Kaijou, hehe." pemuda bersurai pirang itu nyengir sambil terkekeh pelan.

.

Entah sejak kapan permainan mereka berakhir dengan kedudukan skor yang seri satu sama lain.

.

"Souka. (Oh, begitu.)" Aomine bergumam kecil. Mengangkat bola basket di tangan kanannya, lantas memutarnya di jari telunjuk. Sesekali, Ia menambah putarannya, juga menahan agar bola itu tidak jatuh. Begitu seterusnya sampai keduanya terdiam. Aomine berkonsentrasi dengan putaran bola di jarinya, dan Kise menatap Aomine lamat-lamat, bingung mau mengatakan sesuatu.

"Hey, Aominecchi, minat berkunjung ke apartemenku, tidak?" Kise menawarkan selagi Aomine masih tetap memutar bolanya tanpa menoleh ke arahnya.

"Enggak, ah. Ntar elo pamer kekayaan," sergahnya cepat.

"Hidoii-ssu! (Kejamnya!) Aku tidak akan pamer kekayaan! Aku bukan Akashicchi!"

Dan segera saja, Aomine membekap mulut Kise, lantas menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan bahwa tak ada sepasang mata dwi warna yang sedang menatap mereka dari kejauhan.

"Jangan sebut namanya keras-keras, nanti hantunya datang!" Ia berujar masih sambil membekap mulut Kise. Sebenarnya, Ia berniat untuk bercanda. Bagaimanapun, kapten tim basket mereka yang memilki surai berwarna merah menyala itu memang menyeramkan. Malah lebih menyeramkan lagi dibanding hantu manapun. Namun malangnya,

"Maaf, bisa kau ulangi ucapanmu itu, Daiki?" dan wajah dingin Akashi berada tepat di depannya.

'Karma nih, karma!' batin Aomine dalam hati. Dan semuanya terjadi begitu cepat sampai Ia tak menyadari bahwa Ia tengah berada di jalan pulang menuju rumah dengan sekujur luka gores di wajahnya.


"Eh? Kise? Hoaahmm.." Aomine menguap sambil mengucek matanya pelan, menatap Kise dengan mata belekan dan rambut tempat tidur yang berantakan dan tak tersisir. Ini masih pagi, dan Kise tak sempat bilang padanya bahwa Ia akan berkunjung ke rumahnya. Jadilah Aomine terbangun saat seseorang dengan semangatnya memencet bel rumahnya berkali-kali, sampai Ia terbangun dalam keadaan rumah yang kosong melompong. Semuanya pergi keluar untuk bekerja, kecuali dirinya.

"Aominecchi, kau kebo ssu," Kise menyempatkan dirinya untuk berkomentar.

"Serah gue ah, lo dateng sendirian?" mengesampingkan komentar tak bermutu dari Kise itu, Aomine menoleh ke luar, kemudian menatap Kise yang masih belum menginjakkan kakinya di ruang tamu kediaman Aomine.

"Sou-ssu yo, (Begitulah)" Kise tersenyum lebar, lalu beranjak dari kusen pintu yang terbuka, memasuki kediaman Aomine setelah permisi terlebih dahulu.

"Oke, mau one-on-one?" tebak Aomine, mengangkat salah satu alisnya dengan senyum percaya diri yang mungkin benar-benar terlihat fail saat itu.

"Tuh udah tau," Kise nyengir, lalu menyamankan dirinya untuk duduk di sofa.

"Bentar ya, tunggu di sini tiga puluh menit." Aomine memberikan instruksi dengan telapak tangannya, lalu mulai melangkah kembali ke kamarnya.

"Heh? Selama itu-ssu?" pertanyaan Kise yang bernada protes itu membuatnya menoleh dan berhenti sejenak.

"Diem aja dah, duduk manis di sini!" Ia kembali mengibaskan telapak tangannya, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

"Haah, wakatta, wakatta. (Haah, aku mengerti, aku mengerti)" Kise menghela napas. Ia merasa bosan jika harus disuruh menunggu. Heh, salahnya sendiri juga yang datang ke rumah Aomine dengan mendadak, hanya untuk mengajak pemuda berkulit tan itu one-on-one seperti biasa. Mereka telah melewati masa-masa ujian untuk kelas akhir di SMP, jadi rasanya bebas jika ingin melakukan apapun selagi liburan. Wajar saja.

Tiga puluh menit, katanya. Lima belas menit telah sukses Aomine gunakan untuk mandi dan bersiap, sisanya Ia gunakan untuk memasak. Tak ada yang tahu pasti, berapa lama 'sisa' waktu yang digunakan Aomine untuk memasak. Dan setelah semuanya selesai, Aomine kembali ke ruang tamu, tempat Ia membiarkan Kise menunggunya sampai lumutan.

"Gue balik, nih." Aomine menyerahkan satu kotak bekal berwarna biru laut untuk Kise. Sebelah tangannya memegang bola basket.

"Hee! Kau lama sekali-ssu! Aku sudah menunggu selama empat puluh lima menit!" Kise melancarkan aksinya untuk protes lagi, dan akhirnya manik gold itu menangkap kotak bekal yang disodorkan oleh Aomine. Keningnya berkerut heran, lantas menatap Aomine dengan pandangan bersirat kalimat 'Itu apa?'. Aomine bergumam sebentar, kemudian menjawab.

"Obentou. Ambil aja, ini buat lo, Kise." Ia tersenyum kecil.

"Aku belum pernah melihatmu membuat bentou sih, tapi bagaimanapun... arigatou-ssu! Kucicipi, ya?" Kise menerima kotak bekal itu, lantas berniat membuka tutupnya untuk mencicipinya, namun keburu ditahan oleh Aomine.

"Matte, matte! (Tunggu, tunggu!) Makannya bentaran aja abis maen. Jalan ke lapangan street ball dekat taman, yuk?" tawar Aomine. Kise menghela napas, lantas mengangguk, "Boleh juga,"

.

"Aominecchi, apa ini akan menjadi yang terakhir-ssu?" Kise memberanikan diri untuk buka suara, setelah beberapa saat yang terdengar hanyalah bunyi bola memantul teratur. Aomine mengerutkan alis, merasa tak suka.

"Jangan ngomong gitu, seems like elo mau mati aja," Aomine berujar, mengutarakan rasa tak sukanya itu kepada Kise.

"Huweee Aominecchi hidoii-ssu! (Huweee Aominecchi kejam!)" Kise mewek dengan air mata buaya andalannya.

"Yekan bercanda," Aomine nyengir. Kise menyipitkan matanya yang memang sudah sipit dari sononya.

"Yasudah, aku mau mencicipi masakanmu dulu-ssu," dan dengan wajah berbinar, Kise membuka tutup kotak bekal pemberian Aomine tadi. Isinya hanya nasi goreng sederhana dengan telur dadar berbentuk wajah beruang unyu yang sering disebut 'rillakuma'.

"Aominecchi! Ini benar-benar imut, ssu!" Kise gemas sambil mencomot hidung si beruang. Setetes keringat meluncur di pelipis Aomine saat mendengarnya. Ia pernah diajari membuat bekal itu oleh tetangganya- Ia biasa memanggilnya 'Ryo'-sampai bagaimana cara membentuk obentou yang kawaii dan menarik selera makan-bagi anak-anak. Sungguh, Aomine pernah mengira ini sebelumnya, mungkin cita-cita tetangganya itu adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk keluarga serta anak-anaknya.

"WHOAAA! OISHWI-SSWUU! (Whoaaa! Oishi-ssu! Ini enak-ssu!)" teriak Kise dengan pipi yang gembung karena berujar selagi mengunyah. Hanya di depan Aomine, Kise bisa berbuat apa-apa sesuai kata hatinya sendiri, tanpa memikirkan segala hal berbau charming karena profesinya sebagai model.

Aomine tersenyum lega. Belajar dari Ryo ada hikmahnya juga, dibandingkan jika Ia harus belajar memasak dengan Satsuki. Mungkin yang akan terjadi selanjutnya adalah tabung gas yang meledak sebelum disentuh, nasi gosong, telur pecah yang berhamburan di mana-mana, dan sebagainya yang membuat dapurnya berubah menjadi kapal pecah dalam sekejap.

"Aominecchi, minat ke apartemenku-ssu?" tawar Kise sambil menoleh ke arahnya, menatapnya tepat di manik mata.

Itu lagi.

"Haahh, bentar gue pikirin deh. Nanti." Aomine mengusap wajahnya yang bermandikan peluh, lantas menatap langit. Melampiaskan rasa penatnya sehabis bermain basket bersama Kise kepada seekor burung kolibri yang melintas di atas mereka dengan kecepatan super.

"Aominecchi." Kise berujar, memanggil Aomine entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Dengan malas, Aomine menoleh dan menemukan tangan Kise yang sedang terulur ke arahnya dengan sesuatu berada dalam genggamannya. Aomine buru-buru menatapnya tak percaya.

"Nih, buatmu-ssu," ujar Kise pelan sambil menyerahkan sebuah wristband berwarna biru laut. Dia tahu saja selera Aomine yang memang kentara dari manik dan warna rambut alami pemuda itu.

"T-tapi.." Tapi gue belum bisa ngasih apa-apa buat lo, Kise. Walaupun cuma hadiah kecil sekalipun. Bibir Aomine terkatup rapat, kata-kata itu ditelannya kembali mentah-mentah di ujung lidah, tak jadi berujar. Ia tak enak menerima pemberian Kise padanya.

"Ambil saja-ssu, aku membelikannya untukmu. Dan aku juga punya satu, hehe," Kise mengangkat lengan kirinya, memperlihatkan wristband berwarna kuning cerah yang senada dengan manik juga rambut blonde miliknya. Aomine menatapnya. Sejak kapan Ia mengenakannya, heh?

"Yasudah, terimakasih." Aomine tersenyum kaku, lantas menggaruk tengkuknya salah tingkah. Kise terkikik geli.

"Ya, dan terimakasih juga untuk makanannya! Kau baik sekali membuatkanku makanan sebelum bermain bersama, Aominecchi!" Pemuda bersurai pirang itu berujar semangat, membuat Aomine tertegun sejenak atas apa yang telah dilakukannya. "Itu bukan apa-apa, gue cuman melakukan apa yang bisa gue lakukan buat lo. Yang tadi itu gak bisa dijadiin kenang-kenangan." Aomine berujar sedikit blak-blakan, Kise terdiam.

"Tapi itu hebat-ssu!"

"Kagak ah, lebay."

"Aku tidak lebay-ssu!"

"Lebay,"

"Hidoii! (Kejam!)"

Dan begitulah seterusnya sampai mereka berdua puas tertawa bersama. Untuk yang terakhir, mungkin hari ini tak begitu buruk.

.

Aomine berkata pada Kise bahwa Ia akan memikirkan tentang kunjungannya. Ya, dan itulah yang sedang dilakukannya saat ini. Memikirkan hal tersebut dengan keras dan sungguh-sungguh sampai kepalanya terasa pening. Setibanya di rumah, Aomine galau. Pasalnya, hari keberangkatan Kise sudah dekat, dan waktunya tidaklah sebanyak dulu lagi. Apa yang akan Ia berikan kepada Kise dalam waktu dekat ini? Apa yang bisa dijadikan kenang-kenangan untuknya?

Aomine pusing di buatnya.


To Be Continue


(Author's note) : Di ff ini, saya bingung mau mencantumkan AU untuk kepindahan Kise ke Nara. Setting latar, saya memilih saat mereka masih di Teikou dan menjalani segalanya dengan normal, namun saya hanya berniat menonjolkan AoKise friendship. Rencananya sih cuma 2 chapter. Terinspirasi dari kisah nyata.

(Author's bacot) : Hell yeah! Setelah sekian lamanya gw gak bikin ff friendship, sekalinya gw bikin, pasti inspirasinya dari kisah nyata. Oh yeah, ff ini di-dedicated buat seseorang nun jauh di sana. Yang kenal dengan sebagian plot-nya, so pasti dia noh yang ana dedikasikan. Sebenarnya ini hadiah untuk Kise di hari ulang tahunnya kemarin, tapi saya sempat buntu ide dan panik karena sesuatu hal dan lain-lain dengan fem titan saya. Dan darisitulah saya mendapat ide untuk mengetik alur ini.

Silahkan review-nya! Komentar dan kritik benar-benar diperlukan!

Ditunggu chapter berikutnya dalam waktu dekat!

Deeply Proud,

Double Kick