Assassination Classroom © Matsui Yuusei. Universe yang dipakai dalam fanfiksi ini diambil dari drama Keizoku 2: SPEC (2010) yang disutradarai oleh Tsutsumi Yukihiko, Imai Natsuki, dan Kaneko Fuminori serta ditulis oleh Nishiogi Yumie. Tidak ada keuntungan material atau profit yang didapat dari penulisan fanfiksi ini.
WARNING: Crossover-AU (Fusion), slight gore and violence, murder theme, headcanon based, OOC may ensues, and slow update. Serius bakal lelet binggow updatenya. But you can say that I'm very serious in this project just look at how I used decent capitalization in disclaimer, warning and author notes.
A/N: Actually what am I doing with my life … oh well I love SPEC as much as I love Rio tho #LALU
Roda kehidupan terus berjalan. Kadang kau berada di atas, namun tidak ada yang menjamin kalau detik berikutnya kau tidak jatuh ke bawah.
Asano Gakushuu menghentakkan langkahnya di koridor sempit kantor pusat Kepolisian Tokyo dengan alis tertekuk tajam ke bawah dan mulut yang cemberut, meskipun dari depan tidak terlihat karena kardus berisi barang-barang yang dibawanya menghalangi sebagian besar wajahnya. Amarah dan kekesalan terlukis jelas di wajahnya, membuat wajah dua puluh empat tahun itu terlihat siap menerkam apapun yang ada di hadapannya—bahkan beberapa polisi dan investigator senior yang lewat di dekatnya pada saat itu beringsut mendekat pada tembok melihat aura kekerasan yang dipancarkan oleh Gakushuu.
Seandainya sang ayah tidak berbuat kekanakan dengan memecatnya dari Special Investigation Squad—biasa disingkat dengan SIS, salah satu tim investigator paling bergengsi di Jepang—tentu saja Gakushuu juga tidak akan bersikap kekanakan dengan melempar tantrum seperti ini. Ditambah lagi penyebab ayahnya mengeluarkan surat mutasi itu hanya karena argumen singkat mengenai kasus yang tengah ditangani oleh SIS (ayolah, kurang kekanakan apa, dia berargumen dengan anaknya sendiri) membuat Gakushuu semakin kesal dibuatnya.
Oh, belum cukup sampai di sini alasan kesalnya. Masih ada lagi.
Dengan satu tangan Gakushuu membuka lipatan surat mutasi yang sedari tadi ia genggam. Surat mutasi yang ingin sekali ia bakar, dan bagaimana tanda tangan Asano Gakuhou yang terbubuh dengan cantik di bagian kanan bawah berhasil mendegradasi derajatnya dari kapten skuad paling bergengsi di Kepolisian Tokyo menjadi anak buah di unit paling tidak penting sepanjang masa—Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural—membuat Gakushuu juga ingin membakar pemilik tanda tangan tersebut. Tidak bercanda. Sejak dulu hubungan ayah dan anak ini memang seperti anjing dan kucing, namun baru kali ini Gakushuu merasakan kemarahan yang begitu besar terhadap ayahnya.
Tentu saja karena bapak tua itu—panggilan 'sayang' Gakushuu terhadap Gakuhou—telah bermain-main dengan harga dirinya. Memutasi dirinya dari skuad paling bergengsi di Kepolisian Tokyo ke Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural adalah nasib yang lebih buruk dibanding dipecat.
Hei, Gakushuu tidak lulus dari departemen sains di Universitas Tokyo untuk bergumul dengan hal-hal mitos dan metafisika yang tidak jelas adanya; lagipula untuk apa kepolisian yang seharusnya bergerak dalam rasionalitas ini punya unit seperti itu?
Kembali Gakushuu meremas surat mutasinya dan melanjutkan melangkah … maksudnya, menghentak-hentakkan kaki di koridor sampai menuju ke lift yang akan membawanya ke kantor barunya.
Untuk menuju ke kantor Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural dibutuhkan perjuangan yang cukup berat. Lift umum tidak melewati lantai mezzanine sehingga Gakushuu harus menuruni tangga sampai basement level dua, setelah itu melewati lorong dan menaiki lift khusus yang berhenti tepat di kantor Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural. 'Lift khusus' yang dimaksud malah lebih mirip lift barang dibandingkan lift untuk orang. Bentuknya seperti kerangkeng warna merah dan Gakushuu bisa melihat kabel-kabel penyangga yang akan menarik lift ini ke atas atau ke bawah. Gakushuu yang sudah kesal semakin bersungut-sungut. Tidak bisakah Gakuhou memindahkannya ke unit yang kantornya sedikit normal?
Daripada kantor, ruangan ini lebih pantas disebut gudang. Ruangan kantor Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural yang kini dipijaknya cukup luas dengan satu-satunya sumber cahaya berupa sepuluh lampu neon yang dipasang di langit-langit, tanpa adanya akses ke sinar matahari langsung. Rak-rak dokumen bercampur dengan lemari-lemari besar dan rak penyimpanan barang. Tumpukan kardus-kardus yang tidak jelas tergeletak tepat di sebelah lift, mengisi seperdelapan luas ruangan ini. Mungkin satu-satunya hal yang bisa menjelaskan bahwa ini adalah kantor adalah keberadaan meja putih panjang dengan kursi-kursi, komputer dan papan nama berbentuk segitiga. Gakushuu tidak tahan untuk tidak mencibir—belum satu jam ia menginjakkan kaki di kantor barunya, ia sudah merindukan kantor lamanya yang nyaman.
"Oh, kita kedatangan tamu!"
Gakushuu terlonjak mendengar kedatangan suara yang tiba-tiba itu. Seorang pria berambut hitam dengan postur cukup tegap dan senyuman lembut di wajahnya tiba-tiba menyapa dari balik kardus-kardus yang tergeletak—Gakushuu tidak menyadari kehadiran pria itu. Ia mundur setengah langkah sementara sang pria—yang kini menjadi seniornya itu—berjalan mendekat dan memberikan hormat.
"Saya adalah kepala dari Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural. Panggil saja Koro-sensei. Ada yang bisa saya bantu?"
Detik itu juga, Gakushuu memutuskan untuk tidak langsung memercayai seseorang dengan nama Koro-sensei.
"… Asano Gakushuu, dari Special Investigation Squad," gumam Gakushuu tanpa memberi hormat; kedua tangannya masih sibuk memeluk kardus. "Tadinya."
Koro-sensei mengernyitkan dahi. "Tadinya?"
Dengan cemberut di mulut yang sepertinya akan menjadi permanen sebentar lagi, Gakushuu menyerahkan surat mutasi yang sudah diremas-remasnya. Koro-sensei menerima surat tersebut dengan dahi berkernyit, tampak bingung dan berpikir.
"Mulai hari ini saya akan bekerja di sini."
"Tunggu, ini tidak salah kan?" Koro-sensei bertanya ragu. "Kami belum mendapatkan surat pemberitahuan dari kepala kepolisian … atau sudah? Tunggu sebentar, ya. Nakamura-kun, Nakamura-kun? Apa kemarin kau menerima surat dari Nagisa-kun?"
Ah, Gakushuu akan bahagia sekali rasanya jika segala hal yang menyangkut mutasi ini ternyata hanya lelucon dari ayahnya yang kurang kerjaan.
(Ironi memang, ayahnya adalah kepala kepolisian yang tentu saja banyak kerjaan.)
"Surat? Ada."
Suara misterius terdengar dari dalam ruangan. Gakushuu mengikuti Koro-sensei yang berjalan masuk lebih dalam, dan saat itu ia baru menyadari keberadaan sebuah ruangan lain yang ada di seberang meja kerja. Ruangan tersebut tidak memiliki pintu, berlantai tatami ("Tatami di ruangan seperti ini?") dihiasi dengan kaligrafi gulung bertuliskan "Semangat Membara". Ada meja lebar lengkap dengan bantal duduk di tengahnya, serta akuarium dan lemari-lemari lainnya. Seorang gadis yang tampak muda, sepertinya sebaya dengan Gakushuu, sedang berkutat dengan kertas, tinta, dan kuas kaligrafi—berhasil menerbitkan kebingungan pada diri Gakushuu yang kesulitan menemukan korelasi antara tugas Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural dengan membuat kaligrafi.
"Kenapa kau tidak memberikannya padaku, Nakamura-kun …" Koro-sensei menghela napas. "Di mana suratnya sekarang?"
"Hm. Di mana kira-kira, ya—"
"Nakamura-kun, kau tidak menggunakan kertas itu untuk membuat kaligrafi kan?"
Gadis itu mendongak sambil menampilkan cengiran lebar. "Teehee."
Apa-apaan dengan teehee itu? Gakushuu berjengit. Memangnya dia anak sekolahan?
Koro-sensei kembali menghela napas, kedua tangannya berpindah ke pinggang.
"Nakamura-kun, aku sudah memberitahumu tentang fungsi box file di meja yang dilabeli dengan "PENTING" itu kan … bisa-bisanya aku jadi tidak tahu tentang ada personil yang dimutasi kemari."
"Koro-sensei, dunia ini sudah menderita dengan pemanasan global—"
"Tapi caranya bukan mendaur ulang surat penting yang bahkan belum dibaca oleh atasanmu ini."
Sang gadis, Nakamura, mengganti seringainya dengan sebuah cemberut.
"Kertas sudah menjadi sobekan-sobekan, toh aku ingat isi surat itu—kata per kata," ujarnya sambil memutar-mutar kuas kaligrafi di tangannya. "Intinya, per tanggal 4 Maret tahun ini, kita akan kedatangan personil baru yang merupakan pindahan dari Special Investigation Squad, namanya Asano Gakushuu dengan nomor keanggotaan 1289—"
"Stop." Koro-sensei mengacungkan tangannya, membuat Nakamura berhenti melanjutkan kalimatnya dan berakhir dengan pose mulut terbuka. "Kau tidak mengada-ngada kan, Nakamura-kun?"
"Untuk apa aku mengada-ngada?"
"Baiklah, aku percaya," gumam Koro-sensei, lalu berbalik untuk menghadap Gakushuu yang baru saja menaruh barang-barangnya begitu saja di meja. "Kalau begitu, selamat datang di Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural, Asano-kun. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."
"Um." Gakushuu menunduk dengan reluktan. "Sama-sama."
"Dan dia …." Koro-sensei menunjuk ke arah Nakamura dengan tangannya. "Nakamura Rio-kun, satu-satunya bawahanku di unit ini. Semoga kalian bisa berteman dengan baik."
"Yo."
Gadis itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya duduk dan hanya melambaikan tangan seadanya setelah menaruh kuas. Bukan sikap yang ingin Gakushuu lihat dari seorang polisi yang menyambut anggota baru, sebetulnya. Gakushuu membalas sapaan tersebut dengan anggukan setengah hati—masih dengan cemberut yang dapat terlihat dengan jelas pada wajahnya. Koro-sensei menyadari hal itu, ekspresi Gakushuu yang keras dan tidak ikhlas; dimutasi dari Special Investigation Squad mungkin sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak Gakushuu. Maka dari itu, Koro-sensei menepuk bahu bawahan barunya itu lembut, berusaha untuk menenangkan.
"Bersantailah," nasihatnya. "Unit kami tidak punya terlalu banyak pekerjaan untuk diselesaikan, jadi kupikir kaubisa bersantai sejenak."
Gakushuu mengangguk, ragu. "Uhm. Baiklah."
"Karena anak baru ini belum kauberikan pekerjaan, bagaimana kalau aku yang memberikannya pekerjaan, Koro-sensei?"
Kalimat itu diucapkan dengan suara yang cukup keras untuk memantul di dinding-dinding ruangan tersembunyi ini. Sontak Gakushuu mengernyitkan alis dan menoleh ke arah suara itu datang—Nakamura Rio sedang menatap ke arahnya dengan serius, tangan kanan memegang kuas yang ujungnya diarahkan tepat ke arah Gakushuu.
"… Apa?"
"Pekerjaan apa, Nakamura-kun?"
Nakamura menatap mereka berdua dengan serius. "Belikan aku gyoza di warung dekat sini."
"HAH?" Gakushuu menatap Nakamura tidak percaya. "Membeli—makan—gyoza—"
Ekspresi serius Nakamura sama sekali tidak berubah. "Dua porsi digoreng, dua porsi direbus. Dengan ekstra bawang."
"Yang benar saja."
"Apakah aku terlihat bercanda?"
Sayangnya tidak, Nakamura terlihat seserius moderator seminar. Gakushuu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Tunggu apa lagi?"
Gakushuu berjengit dengan kasar. "Aku—yang benar saja, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu!"
"Oh, tentu saja kaubisa. Aku adalah seniormu di unit ini dan aku berharap kaubisa menghormati seniormu selayaknya," jelas Nakamura dengan senyum yang baru saja menggantikan ekspresi seriusnya. "Akan lebih baik kalau kau mentraktirku."
"Jangan bercanda!"
"Kau Asano, kan, putra Kepala Polisi Asano? Tidak mungkin kan kau tidak punya uang?" Nakamura berkata santai sambil mengernyitkan dahinya. "Jangan membuat seniormu ini menunggu begitu lama, Asano-kun, kalau aku mati kelaparan, kau yang akan repot!"
Putra Asano itu sudah kehilangan kata-kata untuk membalas. Tekanan darahnya sudah sampai ke ubun-ubun ketika ia berlalu sambil menggertakkan gigi.
Nakamura mendecih. "Temperamennya buruk sekali."
"Itu bukannya karena kau yang keterlaluan menindasnya, Nakamura-kun?" balik Koro-sensei sambil mengurut dada.
Dulu, pekerjaan-pekerjaan teknikal ini dikerjakan oleh seorang pesuruh yang siap siaga selama dua puluh empat jam tiap hari kerja. Makan siang yang beraneka ragam diantar sebelum jamnya ke ruang kantor Special Investigation Squad, demi meminimalisasi resiko serangan maag karena terlambat makan, dan tentu saja makanan-makanan tersebut bukan gyoza dengan ekstra bawang. Anggota Special Investigation Squad mendapat makanan dari katering terbaik yang ada di Tokyo, demi menunjang performa mereka sebagai tim penyelidik nomor satu di Jepang. Tentu saja tidak pernah ada seharipun dimana Gakushuu tiba-tiba disuruh untuk membeli makanan sendiri, sebelum hari ini datang.
Menunggu pesanan dua porsi gyoza rebus dan dua porsi gyoza goreng di kursi makan, Gakushuu mengetikkan nama kedua senior barunya itu dalam kotak pencarian website rahasia yang menampilkan database seluruh anggota kepolisian Tokyo. Dari caranya menekan-nekan layar sentuh dengan emosional, Gakushuu terlihat seperti sedang berusaha mematahkan ponsel merek terbaru itu—beruntunglah warung gyoza itu sedang sepi sehingga ia tidak harus berurusan dengan pandangan-pandangan penuh kebingungan.
TV yang digantung di salah satu sudut warung tengah menampilkan berita terkini ketika akhirnya Gakushuu berhasil mengakses database anggota Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural. Memang agak sulit untuk menembus keamanan website itu, setelah dimutasi ia tidak lagi punya hak untuk membuka database secara legal namun jangan remehkan determinasi Asano Gakushuu.
"Nakamura Rio …."
Benar perkiraan Gakushuu. Gadis itu seusia dengannya dan lulus summa cum laude dari Universitas Kyoto, departemen Sains. Fakta yang membuat Gakushuu mengernyitkan alis karena hei, seorang sarjana sains, dengan gelar summa cum laude pula, berakhir mengurusi kasus-kasus tidak terpecahkan di Kepolisian Tokyo? Dunia ini kadang suka bercanda.
"Wah, itu Nakamura-san, bukan?"
"HIII!"
Gakushuu tidak bisa menahan refleksnya untuk menjerit ketika dikagetkan oleh suara yang tiba-tiba muncul di dekat tengkuknya. Ia berbalik dan menemukan sosok pemuda, mungkin seusianya juga, berambut hitam yang memegang sebuah kantung plastik besar.
"Jangan sembarangan mengagetkan orang!" gerutu Gakushuu. "Aku bisa mati karena serangan jantung!"
"Waah, maaf, maafkan aku, barusan itu aku tidak bermaksud mengagetkan, kebetulan aku mengenali orang yang ada di layar ponselmu itu …." Pemuda itu mengangguk dengan sopan, tampaknya menyadari kesalahannya. "Jadi, kau mengenal Nakamura-san juga?"
"Harusnya itu yang jadi pertanyaanku. Kau mengenalinya?" balik Gakushuu.
"Tentu saja aku kenal. Dia adalah pelanggan setia warung gyoza ini. Dia sangat pintar, kalau aku tidak salah dengar IQ-nya sampai 200."
Gakushuu melongo. "Hah? Cewek bossy itu?"
"Begitulah, dan ia juga pernah bekerja di FBI selama satu tahun setelah lulus. Beberapa waktu yang lalu ia membawa teman Amerikanya untuk makan di sini."
Ketidakpercayaan semakin kentara di wajah Gakushuu. "FBI, katamu? Kau tidak mabuk kan?"
"Untuk apa aku memberikan informasi palsu." Senyum di wajah itu tampaknya sulit untuk menghilang. "Oh, omong-omong ini pesanannya."
Gakushuu masih sibuk mencerna informasi yang baru diterimanya ketika sang pemuda meletakkan kantung plastik berlogo "Isogai Gyoza" di meja.
"Selamat makaaaan!"
Pada kesempatan ini, Gakushuu baru menyadari bahwa Nakamura tidak memiliki tangan kiri.
Awalnya ia kira lengan blazer gadis itu terlalu panjang sampai menutupi tangan kirinya, namun setelah melihat bagaimana Nakamura membelah sumpit dengan satu tangan dan menggunakan lengan bawah tangan kirinya untuk menahan piring dan mangkuk saus, Gakushuu sadar bahwa tangan kirinya, mulai dari pergelangan tangan sampai ujung jari, tidak ada. Warna putih perban tampak tersembul dari lengan blazer-nya. Gakushuu berasumsi bahwa mungkin tangannya hilang akibat kecelakaan, dan bukan lahir tanpa tangan kiri.
Sebetulnya jika dilihat-lihat lagi, Nakamura adalah gadis yang cukup atraktif—seandainya ia ditempatkan di kantor yang lebih normal, ia pasti jadi gadis idaman banyak orang ditambah lagi dengan kualifikasinya sebagai mantan anggota FBI. Gakushuu bisa tahu bahwa ia memilih baju dan sepatunya dengan pertimbangan tertentu. Rambutnya lurus dan jatuh dengan indah, menandakan bahwa ia merawatnya dengan sangat baik. Mungkin satu-satunya hal yang tidak sering ia perhatikan adalah kuku jari tangan kanan, karena kuku-kuku tersebut tampak begitu polos seperti tidak pernah mendapatkan manikur. Gakushuu sempat berpikir jahat dengan menduga-duga apakah Nakamura akan mendapatkan diskon di salon kuku karena tangannya hanya satu—ia bisa saja mengucapkan perkataan ini keras-keras namun tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Nakamura padanya setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Jangan melihatku seperti itu, Gaku-chan. Sini, kau mau satu kan?"
Gakushuu mendelik. "Gaku-chan?"
Padahal Gakushuu ingat betapa beberapa jam yang lalu Nakamura masih memanggilnya Asano-kun.
"Sudah lama aku ingin memanggil anak bos dengan nama seperti itu. Kau mau gyoza ini, tidak? Enak sekali lho!"
"Tidak, terima kasih." Gakushuu menggeleng, jelas masih kesal dengan Gaku-chan.
"Kalian berdua, jangan bertengkar," keluh Koro-sensei dari balik layar komputer. "Anggota unit kita hanya sedikit, akan sulit kalau kalian tidak bekerjasama dengan baik."
"Sebaliknya, Koro-sensei, aku menawari Gaku-chan makan, tapi dia malah menanggapinya dengan galak—"
"Berhenti memanggilku Gaku-chan!"
"Permisi!"
Suara itu tinggi dan melengking dan datang dari arah lift, bersamaan dengan deru mesin yang biasanya terdengar apabila lift sedang beroperasi. Koro-sensei menoleh dengan antusias, kemudian langsung menghampiri ketika lift tersebut berhenti. Seorang polisi wanita dengan name tag bertuliskan "Yada Touka" tersemat di dadanya yang begitu, ehm, menyembul, keluar dari lift pertama kali diikuti oleh dua orang di belakangnya. Satu di antara mereka adalah seorang gadis mungil yang tampak familiar (entah perasaan Gakushuu saja atau pandangan gadis itu benar-benar tertuju pada dada Yada) dan satunya lagi adalah seorang pemuda dengan setelan kasual dan wristband hitam di tangan kanannya.
"Ah, Touka-chan!" seru Koro-sensei sumringah. "Lama sekali tidak berjumpa—"
"Kita baru kemarin bertemu, Koro-sensei, di lobi saat pulang kerja." Yada tersenyum lebar sekali. "Aku mengantarkan kepada kalian tamu-tamu ini. Mereka ingin minta tolong Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural."
"Maksudmu—kita punya klien?"
"KITA DAPAT KLIEN?" Nakamura memburu dari tempatnya makan gyoza, antusiasmenya membuat Gakushuu nyaris terlonjak dari kursinya. Di SIS dulu klien mengalir seperti air bah dan nyaris tidak terkontrol, namun di sini berbeda. Ia menghela napas. Rasanya ia merindukan skuad lamanya—siapa yang tidak rindu?
"Silakan duduk! Silakan duduk!" Dengan antusiasme seperti anak kecil yang diberikan balon, Nakamura membimbing kedua klien mereka ke ruangan dengan lantai tatami. Mata kedua klien tersebut tampak membulat, mungkin heran melihat keberadaan ruangan tatami dalam ruangan kantor yang lebih mirip gudang ini—namun mereka tidak mengatakan apa-apa. Nakamura duduk menghadapi dua klien tersebut, tampaknya tidak ada lagi yang bisa mendistraksi fokusnya saat ini. Koro-sensei datang menyusul setelah mengobrol sekilas dengan Yada, kemudian mengajak Gakushuu untuk ikut duduk di ruang tatami. Dengan enggan Gakushuu menyeret tubuhnya untuk mengikuti pertemuan itu.
"Namaku Sugino Tomohito." Pemuda kasual itu membuka percakapan. "Dan mungkin kalian mengenali gadis ini. Ia Yukimura Akari, aktris. Aku adalah manajernya."
"Doumo." Yukimura mengangguk pelan, wajahnya datar. Nakamura dan Koro-sensei membalas anggukan tersebut.
"Jadi begini …." Sugino meletakkan kedua tangannya yang dikepal ke atas meja. "Apa kalian tahu peramal Hazama Kirara?"
"Ah, aku pernah membaca artikel tentangnya di internet!" sambar Nakamura tidak sabar. "Dia peramal yang sangat terkenal, bukan?"
"Um." Sugino mengangguk. "Yukimura-san biasa berkonsultasi dengannya, dan kemarin Yukimura-san mendapatkan ramalan yang tidak menyenangkan."
"Ramalan semacam?"
"… Dia bilang aku akan mati," jawab Yukimura pelan, dengan intonasi penuh ketakutan. "Di pesta ulang tahunku minggu depan."
"Yukimura-san akan mengadakan pesta ulang tahun minggu depan, dan ia bilang Yukimura-san akan mati di pesta tersebut. Ia tidak memberitahuku apa yang menjadi penyebab kematiannya, namun ia bilang, kami harus membayar 200 juta yen jika tidak ingin nyawa Yukimura-san melayang."
"Bukankah itu sudah jelas? Ini hanya modus operandi pemerasan," cibir Gakushuu dari tempatnya berada—ujung ruang tatami dimana ia duduk bersandar pada tembok sambil menghadapi forum dengan wajah meremehkan. "Peramal ini berniat untuk memerasmu. Ia mungkin sudah merencanakan pembunuhan sebelumnya dan uang darimu akan membuatnya menyimpan rencana tersebut. Bukankah itu sudah sangat jelas?"
Sugino mengangguk-angguk pelan. "Memang begitu, kami sendiri juga sempat beranggapan ini adalah pemerasan, tapi Hazama-san selalu memberikan ramalan yang tepat, sehingga sulit rasanya bagi kami untuk tidak mempercayai ramalannya yang ini …."
"Kau sudah pindah ke Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural tapi kau masih berpikir dengan konservatif seperti itu, Gaku-chan? Kerja saja jadi office boy."
Gakushuu mendelik tajam ke arah Nakamura sementara tiga orang lainnya memandang Nakamura tidak percaya. Yang dipandang hanya duduk santai sambil menyangga kepalanya dan menatap Gakushuu malas, sama sekali tidak gentar dengan delikan tajam dari Gakushuu. Koro-sensei menghela napas untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Jaga mulutmu." Gakushuu mengancam dengan geram.
"Kautahu, berapa persen kemampuan otak manusia yang dipakai dalam kegiatan sehari-harinya?"
Pertanyaan dari Nakamura barusan membuat Gakushuu terdiam sejenak. Pertanyaan mudah, tentu saja lulusan departemen Sains dari Universitas Tokyo bisa menjawabnya—namun untuk apa Nakamura menanyakan hal ini? Gakushuu mengerutkan alis.
"Sepuluh?"
"Setidaknya kaubisa pura-pura tidak tahu untuk memberikan kesan dramatis … oh well," Nakamura mengedikkan kepalanya. "Einstein, Darwin, Newton, dan semua nama-nama yang bisa kautemukan di buku teks perkuliahan, kita semua, seluruh umat manusia, hanya menggunakan maksimal sepuluh persen dari kemampuan otak kita. Menurutmu, ke mana perginya yang sembilan puluh persen lagi?"
"… Aku tidak menger—"
"Banyak sekali orang yang percaya bahwa sembilan puluh persen otak kita menyimpan kekuatan yang luar biasa," jelasnya, kini berhenti menyangga kepala dengan tangan dan duduk tegak. "Ketika seseorang menembus limitasi sepuluh persen tersebut, sisa sembilan puluh persennya akan termanifestasi dalam bentuk kekuatan super tertentu. Kekuatan tersebut biasa disebut dengan SPEC."
Keheningan yang dramatis menyeruak di dalam ruangan, semua orang seolah tidak berani untuk bergerak barang sedikitpun. Gakushuu mempertahankan ekspresi tidak percayanya.
"Kau lebih cocok jadi penulis cerita fiksi dibandingkan polisi," tawa Gakushuu pelan.
"Oh, kaubisa berkata begitu karena kau belum pernah bertemu dengan mereka kan, hm? Percayalah padaku, orang-orang dengan SPEC itu banyak yang mengerikan. Tidak semua, tentu saja, namun kekuatan yang mereka miliki sangat luar biasa."
Gakushuu sebetulnya ingin bicara lagi, namun ia memutuskan untuk menelan kata-katanya begitu menyadari bahwa Nakamura sudah kembali mengalihkan fokus pada dua kliennya.
"Saya percaya Hazama-san adalah seorang pemilik SPEC dan kemampuannya melihat masa depan itu asli," ujarnya dengan serius. "Kami mengambil kasus ini."
"Kami di sini maksudnya kau?" cibir Gakushuu.
"Tidak ada yang mengajakmu." balas Nakamura nyinyir.
"Kalian berdua." Tampaknya Koro-sensei sudah cukup kehilangan banyak kesabaran menghadapi dua bawahannya ini. "Kalian berdua, tangani kasus ini bersama."
"Apa—"
"Jangan permalukan aku di depan klien!" seru Koro-sensei tegas. "Kalian berdua akan menangani kasus ini, ini perintah!"
Nakamura dan Gakushuu berdecih kompak. Keduanya berpandangan dalam satu momen singkat, dan keduanya semakin menebarkan aura permusuhan setelah itu.
"Lihat lihat, itu Asano yang dimutasi dari SIS ke Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural, kan?"
Mereka bodoh kalau mereka menyangka Gakushuu tidak mendengar hal tersebut. Sejak awal menerima surat mutasi, Gakushuu sudah tahu bahwa ia akan mendengarkan perbincangan seperti ini ketika ia melewati investigator lain di koridor kantor. Dari kapten skuad paling bergengsi ke unit tidak jelas dan kini berpartner gadis bertangan satu, bisa dinilai degradasi yang cukup signifikan. Sungguh sasaran empuk untuk dijadikan gosip internal. Gakushuu berusaha menyabarkan dirinya mendengar gosip-gosip yang lewat, namun pertahanan dirinya buyar ketika di hadapannya muncul anggota skuadnya dulu—Araki Teppei.
"Whoa, lama sekali tidak berjumpa, Asano-san! Bagaimana, sudah cukup betah bekerja di gudang?"
Haruskah ia berteriak seperti itu, batin Gakushuu gemas.
"Berisik sekali, Araki." gerutu Gakushuu gemas. Ia berusaha berjalan cepat mengikuti tempo Nakamura agar bisa melewati Araki dengan cepat, namun ternyata orang itu malah berjalan mengikutinya—sesuatu yang berada dalam daftar terakhir hal yang ingin orang lain lakukan padanya hari ini.
"Seorang Asano bisa dimutasi ke Unit Penyelidikan Kasus Tidak Terpecahkan dan Penyelidikan Kasus Supernatural … apakah kau berpikir ini bisa dicatat di buku rekor nasional, Gakushuu-kun? Atau rekor dunia?"
Gakushuu menyadari betul nada mencemooh yang ditambahkan Araki ketika pria itu menyebutkan namanya. Gakushuu berusaha menutup telinga, namun hatinya sudah keburu panas.
"Jangan menginjakkan kaki di kantor kami dengan membawa debu dari kantormu ya, Asano-san!"
Baru saja Gakushuu membalikkan tubuhnya untuk menghadapi Araki, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tidak disangka-sangka. Nakamura, dengan tangan kanannya, memukul wajah Araki dengan cukup keras dan cepat sampai darah mengalir dari hidungnya. Ekspresi Nakamura saat memukul begitu datar seolah ia hanya sedang berjalan santai. Gakushuu melongo di tempatnya.
"Berisik sekali. Seperti anak sekolahan saja." gerutunya.
Gakushuu terpaku, tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya seperti tersengat arus listrik; ia begitu terpana dengan apa yang baru saja ia lihat.
"…"
"Kenapa kau diam? Ayo jalan!" seru Nakamura. "Aku tidak tahu dimana kau memarkir mobilmu!"
Gakushuu tersadar dari keterpanaannya, kemudian—untuk kali ini, dengan hati yang terasa lebih ringan—mengikuti perintah Nakamura.
Mobil Gakushuu berhenti di depan sebuah rumah bergaya tradisional Jepang. Menurut alamat yang diberikan Sugino, rumah ini adalah tempat tinggal Hazama Kirara sang peramal.
Antrian orang-orang yang ingin diramal mengular panjang—mulai dari anak sekolahan (yang mungkin ingin diramal urusan asmara atau akademik) sampai pejabat tinggi negara. Gakushuu mengenali beberapa orang yang hadir di sana sebagai kolega ayahnya, dan beberapa diantaranya malah menyapa Gakushuu. Dari obrolan singkat yang terjadi di antara Gakushuu dan kolega-kolega ayahnya itu, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa ternyata reputasi peramal ini cukup baik dan bisa diasumsikan bahwa ramalan Hazama tepat sasaran.
Nakamura berhasil menyerobot antrian dengan alasan pekerjaan dan sama sekali tidak merasa bersalah untuk itu, dan itu memang hal yang patut dilakukan mengingat ini adalah urusan investigasi. Mereka dibawa ke dalam suatu ruangan yang gelap dimana di situ hanya ada Hazama seorang beserta dengan peralatan ramalannya. Kedua polisi ini duduk menghadap sang peramal dipisahkan sebuah meja kecil tempat berbagai barang diletakkan, seperti kertas dan bola kristal. Mata sang peramal yang tampak sayu mengamati kedua klien barunya ini dengan penuh penilaian.
"Jadi," ia memulai. "Apa yang ingin kautanyakan padaku?"
"Yukimura Akari-san datang padaku dan ia bilang, ia akan mati ketika pesta ulang tahunnya nanti," jawab Nakamura antusias. "Apakah itu benar?"
Hazama mendengus. "Tentu saja. Ramalanku seratus persen akurat. Ia akan dibunuh pada hari pesta ulang tahunnya."
"Kalau begitu, kenapa kau menyuruhnya membayar 200 juta yen?" tanya Gakushuu cepat, membuat Nakamura mendelik ke arahnya. "Bukankah itu pemerasan?"
Mata sayu Hazama mendelik tajam ke arah Gakushuu.
"Itu hanya tuntutan prosedural," gumam Hazama.
"Kau penipu," tukas Gakushuu.
"Bisa tolong ramalkan aku dan orang ini?" Nakamura akhirnya berusaha mengendalikan situasi ini dengan memberikan permintaan—meskipun Gakushuu yang terkejut tampak tidak akan menyukainya. "Tidak usah jauh-jauh, tolong ramalkan apa yang akan kami lakukan jam sembilan malam ini."
"Huh." Kembali Hazama mendengus. "Kelewat gampang."
Hazama menggunakan bola kristal sebagai medium meramal. Nakamura dan Gakushuu menatap bingung pada gumpalan asap dalam bola kristal sementara Hazama mengangguk-angguk mengerti, dan menuliskan hasil ramalannya ke dalam dua lembar kertas yang dituliskan ke dalam dua lembar amplop.
"Ini milikmu, dan ini milikmu."
Nakamura menerima amplopnya dengan wajah cerah sementara Gakushuu menyambarnya dengan tidak suka—oh, ia sudah berniat tidak ingin menerimanya, namun tatapan Nakamura begitu tajam seperti pisau dan sungguh, baru kali ini ia takluk pada orang selain ayahnya yang mencoba memerintahnya. Ia mendengus keras dan Nakamura tersenyum puas.
Pada pukul sembilan malam, ada dua hal penting yang terjadi di cerita ini:
1) Asano Gakushuu menggrebek kediaman Hazama Kirara dan menahannya sebagai tersangka kasus pemerasan, dengan surat perintah penahanan yang ia ambil dari laci Koro-sensei lengkap dengan stempel yang juga diambilnya diam-diam dari laci tersebut. Hazama menanggapi penahanannya dengan dingin, mengatakan bahwa ia sudah tahu Gakushuu akan melakukan hal ini. Hanya saja, karena Gakushuu sudah membuang amplop berisi ramalannya entah di mana, ia tidak bisa mengonfirmasi kebenaran ramalan tersebut—lagipula mungkin saja Hazama hanya berakting, betul kan?
Gakushuu menebak bahwa Nakamura tidak akan menyenangi hal ini, bagaimanapun juga ia hanyalah gadis yang kelewat obsesif dengan hal-hal supernatural, tapi hei, dia juga polisi.
2) Nakamura Rio sedang berada di sebuah kamar. Gakuran yang tergantung di balik pintunya terlihat berdebu, begitu pula dengan buku-buku di rak. Tembok salemnya tampak usang seolah meminta untuk dicat ulang. Gadis itu tengah duduk di atas kasur sambil menimbang-nimbang amplop di tangannya, menebak-nebak apa isinya sebelum pukul sembilan malam datang. Alarm ponselnya yang berbunyi menandakan bahwa ini saatnya membuka amplop—dan sebelum alarm tersebut selesai berdering Nakamura buru-buru menarik keluar kertas berisi ramalan tersebut.
"Pukul sembilan malam, kau sedang berada di kamar seseorang yang sangat berarti bagimu."
Mata gadis itu membulat.
"Whoa," gumamnya. "Ramalan yang tepat sekali."
tbc
Note: Khusus chapter ini, saya potong kasusnya jadi 2 chapter, sementara untuk chapter-chapter lain bakal 1 chapter untuk 1 kasus. Gapapa sih ini biar ngebait aja. ((NGEBAIT))
Beberapa kasus akan saya ambil langsung dari drama Keizoku 2: SPEC dengan berbagai penyesuaian, tapi tentu saja saya akan coba bikin kasus sendiri ho re!
