'Sedari kecil tuanku Kiba sudah lama mengasuhku. Bermain denganku dan menjadi kesayangannya melebihi teman setimnya. Aku cukup bahagia menjadi Partner Ninjanya, tapi apakah dia cukup bahagia hanya dengan memilikiku?'

SWAP!

Main Character: Kiba and Akamaru

Rated: T

Disclaimer by Masashi Kishimoto

Saat ini usia tuanku sudah hampir menginjak 27 tahun, tapi dia masih belum saja menikah. Dulu gigi taringnya yang mirip denganku adalah salah satu ciri khasnya selain tato taring di kedua pipinya, sekarang ia bahkan sudah tak dikenali lagi. Penampilannya sudah seperti Om-om bahkan terlalu tua untuk usianya yang masih 27 tahun, bau badannya yang bahkan lebih busuk dariku memberitahuku kalau dia belum memiliki pacar.

Siapa pula yang ingin memacari orang sepertinya?

Jangan kau samakan aku dengan perjaka sepertinya. Sekedar info aku bahkan sudah beberapa kali menghamili banyak gadis (anjing betina) di sekitar keluarga Inuzuka.

Tuanku Kiba, bukannya dia tidak berusaha mencari pasangan. Ia sangat berusaha malahan, melebihi usaha si Musang-Ah Naruto maksudku. Tubuhnya selalu bau kotoran karena sering bermain dan berlatih denganku, setiap hari Minggu jika dia tidak ada kerjaan tugasnya adalah membersihkan kandangku beserta kandang istri-istriku. Terkadang aku merasa kasihan dengannya, tapi di sisi hewanku justru sebaliknya. Aku membiarkannya mengurusiku seumur hidupnya, tanpa pasangan dan hanya akan memperhatikanku saja.

Banyak orang yang menyarankannya untuk ikut kencan buta, yah.. Memang kencan buta harus menutup mata? Mau dari segi manapun Tuanku itu justru kebalikannya dari harapan wanita. Wanita di kencan buta tersebut tak sampai hati menutup mata mereka untuk melihat Tuanku Kiba, tapi mereka malah menutup hidung mereka. Alhasil, Tuanku Kiba pun sakit hati. Salahnya sendiri kenapa datang ke acara sakral seperti kencan buta tapi tak mandi terlebih dahulu.

Dan kali ini sekarang, di tempat latihan tanpa Tuanku Kiba aku tengah menggantikan posisinya.

Teman sesama perjakanya Aburame Shino pun datang beberapa menit yang lalu, tanpa Hyuuga Hinata yang kini sudah pergi entah kemana.

"Kau datang Kiba", sapanya basa-basi. Terlihat gestur tubuhnya seperti biasa, ia berjalan kearahku sambil menaruh kedua tangannya di saku jaket tebalnya.

"Hinata tidak jadi datang, karena hal sama", lanjutnya.

Sepertinya ia ingin aku menanggapinya, tapi aku hanya diam.

Sebersit setelah itu, aku seperti melihat sebuah kilatan muncul di balik kacamata hitamnya. Ia menghela nafas.

"Kiba sepertinya terlalu shock soal kemarin, sampai menyuruhmu untuk menggantikannya", kata Aburame itu. Tidak diragukan lagi, aku ketahuan. Meskipun aku sudah menduganya.

"Jadi kau disini mau apa, Akamaru?", tanya si Aburame itu padaku. Tak bisa kujawab, maka aku meraih seranting pohon yang kebetulan tadi jatuh tepat di samping tubuhku. Tuanku Kiba itu banyak mengajariku hal-hal tidak penting, makanya aku bisa mengingat huruf-huruf yang biasanya digunakan manusia sebagai pengganti kata.

'GOUKON(Kencan Buta)'

"Dengan siapa?", balasnya begitu ia membaca tulisanku.

'SIAPAPUN YANG PENTING MAU DENGAN TUANKU'

"Yah, Siapa pun mau dengan Kiba. Asalkan dia tidak bau seperti kemarin", Jawabnya langsung. Sepertinya dia terus terang, itu artinya masalah Tuanku itu hanya baunya.

"Tidak sepertiku, begitu mendengar nama keluargaku saja mereka sudah merinding"

"Aku harap aku dapat menemukan seseorang yang sama seperti ibuku"

'AKU TIDAK MAU TAHU HAL ITU'

Tangan bunshinku meletakan ranting kecil itu ke sembarang arah, aku mengibaskan celana hitamku dan berdiri. Mataku yang tajam menatap ke sekeliling, kulihat ada sebuah toko buku disana kupikir itu dapat membantuku di kencan buta nanti.

Kakiku menapaki hal baru yang biasanya tak dapat terlihat di mata seekor hewan sepertiku, karena toko buku ini melarang hewan peliharaan sepertiku untuk masuk. Mereka pasti mengganggap binatang itu kotor dan bau untuk berada di tempat yang nyaman seperti toko buku, meskipun akhirnya aku setuju dengan argumen tidak mengenakanku itu. Tuanku, meskipun ia manusia. Mungkin ia tak pernah menginjakan kakinya di toko buku.

"Ini pertama kalinya kau kesini, Kiba"

"Ah, maaf maksudku Akamaru"

Tuhkan.

Tanganku meraih sebuah buku yang tampak menarik bagiku, di sampulnya terdapat makanan favoritku. Hampir saja aku menggigitnya, kalau saja aku bukan anjing tua. Aku menggenggamnya di pelukanku, lalu berjalan lagi kearah peralatan menulis.

Aburame Shino memperhatikanku dari belakang, aku sadar itu. Tapi aku biarkan. Mau berapa banyak pertanyaan yang akan di pikirkannya? Kau akan tahu semua itu takkan terjawab kalau kau tak bicara.

Tapi kemudian aku terdiam, aku nampak berfikir. Cukup keras untuk seekor anjing, sampai aku pun menoleh ke belakang dimana Shino masih setia berada di belakangku. Aku menatapnya cukup lama, sampai akhirnya ia mengangguk pelan.

"Akan kubayar", katanya. Lalu aku pun melanjutkan ekspedisiku mencari peralatan menulis.

-.-

Kini aku sudah selesai membeli modal kencanku nanti, tinggal mengubah penampilanku.

"Sebaiknya jangan lakukan itu, percuma saja", ucapan temannya Tuanku itu mampu menghentikan langkahku. Aku menoleh kearah Aburame Shino, sedikit bertanya.

"Wajahmu itu.. Sudah terkenal di acara Goukon kemarin, mereka pasti takkan memilihmu"

Segera saja aku membuka buku baruku itu dari plastiknya dan menulis sesuatu.

'MEMANG APA YANG TERJADI KEMARIN?'

Si Aburame itu nampak keberatan untuk memberi tahuku, namun akhirnya aku tahu ia memutuskan untuk menceritakannya.

"Kemarin.."

{FLASHBACK}

Di acara kencan buta.

'Kemana Kiba? Lama sekali', Shino membatin, ia kembali menyembunyikan arlojinya di balik saku jaket tebalnya.

'Apa aku masuk duluan saja? Tidak. Sepertinya itu keputusan bodoh'

"YO! SHINO! MAAF LAMA!", Sapa Kiba pada Shino sambil berlari menuju ke tempat Shino yang berada di depan pintu utama.

"Kau kemana saja-", belum sempat menyuarakan pertanyaannya, Shino sudah buru-buru menutup hidungnya.

"Kiba, hidungmu itu sakit atau apa? Kau tidak mencium bau badanmu sendiri? Kenapa kau kesini dengan bau tubuh seperti ini, kau membuat serangga-serangga yang ada di tubuhku mati suri"

"Eh?! A-Apa aku sebau itu? Aneh aku tidak mencium apa-apa", pernyataan Kiba justru membuat Shino semakin menjauh dari Kiba.

"Kau pasti bercanda..", Lirih Shino menatap teman setimnya itu.

"Astaga.. Bau busuk apa ini?!", Tiba-tiba seorang wanita yang baru saja melewati Kiba berteriak sambil menutup hidungnya. Hal itu pun diikuti oleh wanita yang lain, perlahan menutup hidung mereka satu-persatu.

Kiba yang merasa tidak mencium apapun entah kenapa merasa tersakiti, ia pun lari kembali menuju rumahnya.

{FLASHBACK OFF}

'APA ITU? PAYAH SEKALI'

"Daripada komentar soal itu, kau tidak curiga kenapa hidungnya tak dapat mencium bau apapun?",

Perkataan Shino ada benarnya, kenapa tiba-tiba Tuanku itu tidak dapat mencium bau apapun? Apakah itu sebabnya kenapa akhir-akhir ini tubuhnya bau seperti pembuangan sampah?

Aku menggelengkan kepala perlahan, mencoba memfokuskan tujuanku. Masalah bau Tuanku itu nanti saja, sekarang aku harus mengembalikan nama baiknya dulu. Langkah kakiku membawaku ke sebuah tempat dimana aroma parfum menyengat tercium ke seisi ruangan, aku berada tepat di acara Kencan Buta.

"Kalau begitu aku permisi, Akama-", Belum selesai lagi masalahnya, tangannya sudah terlanjur di tarik olehku. Tanpa berkata apapun, aku menarik tangan si wadah serangga itu agar mengikutiku.

Beberapa Menit Kemudian..

"Akamaru.. Aku sudah trauma dengan tempat seperti ini",

'AKU TIDAK PERDULI. KAU HARUS JADI JEMBATANKU BERTEMU DENGAN CALON ISTRI TUANKU'

"Jembatan? Maksudmu mungkin Cupid..", kata Shino membenarkan. Kepalanya nampak melihat sekeliling.

"Bagaimana caranya?", katanya lagi lirih.

Tangan Akamaru yang sekarang Bunshin dari Kiba itu menuliskan sesuatu lagi di buku yang di genggamnya.

'AKU TIDAK TAHU. KAU KAN MANUSIA. PERTEMUKAN SAJA AKU DENGAN SEORANG WANITA YANG SETIA, CANTIK, MANIS, DAN MENYAYANGI ANJING SAMA SEPERTI SAUDARANYA SENDIRI'

Shino menggeryitkan alis, "Kalau begitu datanglah ke Biro Jodoh, jangan ke Kencan Buta",

Merasa seperti mendengar sesuatu, Shino menoleh ke sumber suara. Ia melihat ada seorang pria yang berdiri tepat di depan meja penerima tamu, ialah yang bertugas untuk mengatur kelancaran acara Kencan Buta tersebut.

"Pertama daftarkan dirimu ke pria yang ada disana", ujar Shino bernada pelan hampir tidak terdengar. Tangannya menunjuk pria yang berdiri di depan meja penerima tamu.

Merasa masih kebingungan, Akamaru kembali menulis.

'BAGAIMANA?'

Shino merasa kalau hanya dijelaskan, Akamaru tidak akan mengerti. Hewan itu sebenarnya tak perlu perkataan, tapi latihan.

"Ikut aku", Akhirnya Shino pun menarik tangan Akamaru, menuntunnya kearah pria yang dimaksud.

Pria penyelenggara acara Goukon ini tampak sibuk melayani para tamunya yang akan mengikuti acara, tanpa sadar Shino sudah berdiri dibelakang punggungnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Permisi..", lirih Shino, ia menepuk pelan pundak pria yang bahkan lebih pendek darinya. Kepala pria itu menoleh memang, tapi bukan kearah Shino melainkan kearah Bunshin Kiba alias Akamaru.

Pria tersebut memang nampak terkejut, tapi kata-katanya sudah terlanjur dipotong oleh seorang wanita yang berada tepat dihadapannya.

"Astaga.. Bukankah dia Tuan yang membuat keributan kemarin dengan baunya itu?", ucapnya menggunakan nada bicara yang menyebalkan, ia mengejek tingkah laku Kiba kemarin.

Aku hampir kalap, kalau saja aku bukan anjing tua. Kurasakan rasa panas menjalari mataku, warnanya pasti memerah sekarang. Kuharap mereka tidak melihatnya.

"Benar, kami.. Maksudku Dia ingin mendaftar ulang", kata Shino membenarkan.

"Kalau begitu serah terimanya..", ucap wanita yang tadi sempat menghina Kiba, menggantikan posisi penyelenggara asli.

'Haa.. Uangku lagi', Batin Shino, ia merogoh kantung jaketnya dan mengambil dompetnya yang berisi uang. Ia keluarkan 5 lembar uang 100 yen, lalu ia berikan kepada wanita yang sudah menadahkan tangannya sedari tadi.

Wanita yang lainnya pun tiba dari arah meja tamu, ia mengenakan apron polos yang ia sematkan di lingkar pinggangnya.

"Tuan.. Inuzuka san, Silahkan duduk di meja nomor 23. Terima kasih", katanya sambil membungkuk singkat, lalu pergi lagi kearah meja-meja tamu.

Shino mengawali langkah, sampai akhirnya ia menemukan meja bernomor 23 dan duduk disana bersama Akamaru yang mengikuti di belakangnya

'SETELAH INI BAGAIMANA?', Tulis Akamaru di bukunya.

"Kau tunggu seorang wanita kesini, dia akan duduk di meja yang sama dengan kita"

10 menit kemudian..

'TIDAK ADA YANG DUDUK DISINI, ABURAME'

"Pemakaian kanjimu salah. Kita tunggu beberapa saat lagi"

20 menit kemudian..

'APA PESANANNYA BELUM DATANG?'

"Kita bukan memesan wanita, kita sedang kencan buta, Akamaru"

40 menit kemudian...

'MEMBOSANKAN…'

"Apa staff itu tak mengatakan sesuatu?", Ucap Shino merasa curiga.

"Akamaru, aku ijin pergi sebentar", Ia pun berdiri dari duduknya, dan berjalan kearah penerima tamu.

Padahal hanya sejengkal lagi sampai akhirnya kaki panjangnya itu mencapai meja penerima tamu, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan bersembunyi. Tidak bisa dikatakan bersembunyi memang, karena dirinya hanya cukup berdiam di belakangan tanaman hias besar yang berada di Hotel tempat pelaksanaan Goukon tersebut.

"Silahkan duduk di meja 23 nona..", terdengar suara wanita yang tadi sempat menyuruhnya untuk duduk di meja 23. Shino memperhatikannya dari balik pohon hias besar yang tertutupi daun-daun.

Seorang wanita dengan tampilan yang mencolok, lipstick merah tebal dan make up yang menor, memangku tangannya didepan dada. "Astaga.. Dia kan pria bau kemarin! Apa ngga ada pilihan lain?"

"Maaf nona, Semua meja sudah penuh",

"Kalau begitu tidak usah. Permisi..", Wanita itu pun berbalik pulang.

Shino pun akhirnya berbalik arah menuju meja nomor 23, tempat dimana Akamaru berada.

"Akamaru, ayo kita pulang", Ajak Shino, dari balik kacamata hitamnya ia melihat Akamaru atau lebih tepatnya ia melihat sosok Kiba dengan tatapan kasihan.

'KENAPA?', Tulis Akamaru di bukunya.

"Akan kuberitahu nanti, ayo kita pulang", Shino langsung menarik lengan Akamaru yang sekarang berwujud Kiba untuk keluar dari acara kencan buta tersebut.

Begitu sampai diluar, Akamaru langsung membuka kembali bukunya dan menulis sesuatu.

'ADA APA?',

Sedikit menghela napas, Shino menjawab dengan nada berat. "Wanita-wanita disana enggan duduk denganmu karena masalah yang menimpa Kiba kemarin, makanya kita lama menunggu karena tidak ada yang mau duduk dengan kita",

Terlihat raut wajah Akamaru yang sedikit terkejut, dengan sedikit gemetar ia kembali menulis di bukunya.

'JADI DIANTARA SEMUA WANITA YANG ADA DISANA TIDAK ADA YANG MAU JADI ISTRI TUANKU?'

"Begitulah", Jawab Shino singkat.

Akamaru nampak sangat kecewa mendengarnya, berfikir 'Apa salah Tuannya?', lalu sedikit ia mendengar seseorang berbicara dibelakangnya.

"Katanya Uchiha Sasuke sudah pulang, lho!",

"Ah, Masa?! Kamu denger itu dimana?",

Akamaru kesal mendengarnya, tanpa memperdulikan Shino ia berlari kencang kearah rumahnya. Iris matanya yang tajam menitikkan air mata, berkat keegoisannya Tuannya itu tidak bisa menikah lebih cepat menyamai teman-teman ninjanya. Dirinya merasa egois, sekaligus merasa kasihan pada Tuannya. Ia pun mulai memikirkan hal-hal yang masih mustahil terjadi, berfikir kalau meneruskan generasi atau memiliki keturunan itu merupakan hal yang sangat penting. Namun Tuannya itu tak bisa melaksanakannya, ia takut Tuannya itu akan mati kesepian.

Di tengah kegalauannya, hidungnya mencium bau yang sangat wangi. Bau itu berasal dari dalam toko bunga, ia kenal benar toko milik siapa itu.

"Lho, Kiba? Tumben kau kesini", seorang gadis hadir menyambut kedatangan Akamaru yang dalam bunshin Kiba, Yamanaka Ino namanya.

"Mau beli bunga? Untuk siapa nih~", ucap gadis itu, nadanya sedikit menggoda. Namun entah karena tidak mengerti atau bagaimana, Akamaru tetap fokus mencium wewangian di sekitar toko tersebut. Merasa diabaikan, Ino mencari perhatian dengan menghadang Akamaru tepat dihadapannya.

"Ck, Kau cari apa sih? Lama-lama ngeselin tau!", ucap Ino di hadapan Akamaru. Namun merasa mencium aroma lain yang lebih harum ketimbang yang ia cium sebelumnya, kepalanya pun mendekat kearah Ino. Hidung mancungnya itu mengendus aroma tubuh yang terkuar dari tubuh seorang gadis Yamanaka itu. Merasa ganjil, sontak gadis itu menjauh dari keberadaan Akamaru yang malah terus mendekatinya.

Dengan sekuat tenaga ia mendorong kepala Akamaru menggunakan telapak tangannya. "APA MAUMU SIH HENTAIII!?", Teriaknya kepada Akamaru, dan itu akhirnya membuatnya sadar. Ia pun mengambil pena yang tadi ia taruh di saku jaketnya dan ia baru sadar kalau ia telah kehilangan buku barunya itu dalam perjalanannya tadi berlari kesini. Maka ia pun menuliskannya di telapak tangannya, walaupun ia sedikit kesusahan akibat harus menahan rasa geli yang menghampiri telapak tangannya.

Setelah selesai, ia pun menunjukannya pada Ino. 'WANGIMU HARUM'

Dan tulisan itu berhasil membuat sang gadis Yamanaka itu memerah seketika. "A-Arigatou..", ucapnya gugup.

Akamaru pun kembali menulis, 'KALAU BISA, AKU MINTA, UNTUK KUBERIKAN PADA TUANKU'

Dan Ino seketika mematung membacanya, "Aka..maru?", ucapnya hati-hati.

"Guk! Guk!", Akamaru menjawab masih dengan bunshin Kiba.

Tiba-tiba saja dari arah pintu utama toko bunga Yamanaka, datanglah Shino dengan nafas terengah-engah. Tangan kanannya memegang sebuah buku catatan, buku itu adalah buku yang tadi sempat Akamaru hilangkan. Akamaru yang dalam wujud Kiba mengonggong senang kearah Shino, sementara Ino masih kebingungan karena bisa-bisanya ia sempat tergoda oleh seekor anjing.

Sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk tersenyum, langkah kakinya menuju ke belakang menuju gudang yang berisi banyak bahan-bahan mentah yang akan dibuat parfum oleh dirinya. Dari sekian banyaknya botol-botol parfum yang telah dibuatnya di gudang itu, ia mengambil satu botol besar yang berbentuk bulat transparan. Ia berjalan kearah bunshin Kiba, menepuk pundaknya dan memberikan botol itu pada Akamaru.

"Berikan ini pada Kiba, ya? Semoga sukses!", ucap Ino menyemangati, Akamaru menerimanya dengan senang hati. Ia melangkahkan kakinya menuju pojok ruangan, tempat Ino biasanya menghitung uang. Ia mengambil buku catatannya, merobek tengah kertasnya dan menulis sesuatu.

UNTUK TUANKU, KIBA.

TERIMA KASIH BANYAK KARENA SUDAH MERAWATKU. KAU ADALAH ORANG BAIK, WANITA YANG TIDAK MEMILIHMU ADALAH ORANG PALING BODOH SEDUNIA. MEREKA TERLALU BUTA UNTUK MELIHAT UCHIHA ITU, SAMPAI TAK DAPAT MELIHATMU. AKU HARAP KAU BAHAGIA DENGAN PILIHANKU,

SALAM AKAMARU.

Catatan EXCELWORD:

[Terkadang aku bingung menentukan sudut pandang mana yang cocok untuk kulanjutkan di seri ini, Oneshoot saja aku sudah kebingungan menentukannya. Awalnya aku membuat narasinya terlebih dahulu, lama kelamaan aku mulai berfikir "Mungkin lebih bagus kalau kubuat dulu dialognya", Jadi kubuat dialognya dulu lalu narasi belakangan. Akhirnya aku membuat sudut pandang baru, jadi terasa sekali seberapa amatirnya aku dalam menulis. Walaupun begitu, aku akan terus belajar. Terkadang aku malu pada orang-orang yang memiliki kreatifitas tinggi di umur mereka yang masih sangat belia, bertanya kapan aku akan seperti mereka. Sampai akhirnya aku terdampar disini dan bernostalgia pada masa-masa SMPku yang dulu sangat mencintai Fanfic. Aku buang semua cemburu, dan kubuang semua imajinasiku tentang Anime yang aku tahu. Disini]