Inazuma Wielder: Sword of Revenge

Jiro POV

"Jiro! Waktunya berangkat!" teriak Zola.

Aku pun langsung mengangkat tas-ku dan mengambil langkahku.

Sebenarnya aku tidak mengharapkan hari ini akan tiba…

Hari ini adalah setahun setelah sebuah kenangan yang buruk…

Sangat buruk…

Kariya POV

"Ayo! Sudah hampir waktunya!" sahut Hitomiko-kantoku.

Aku pun senang sekali.

Ya…walaupun hanya empat murid yang ikut.

Hari ini adalah setahun setelah sebuah kenangan yang indah…

Sangat indah…

SuzuRyuuji presents

My first Indonesian Crossover Fic

A Crossover of animes: Inazuma Eleven x Blue Dragon

Inazuma Wielder: Sword of Revenge

Starring: Jiro, Kariya Masaki

Genre: Horror/Mystery with a bit of comedy and romance…maybe?

Disclaimer: All Inazuma Eleven and Blue Dragon characters are owned by their respective owners. I only own the plot.

Warning: A bit OOC, random

Note: If you don't like this, I have no problem. Whether you want to read or not, it's up to you since it's my first Indonesian crossover.

Arigatou gozaimasu~

Normal POV

"Wah…hampir sampai ya!" kata Bouquet dengan semangat.

"Iya nih…jadi nggak sabaran!" tambah Kluke.

Jiro hanya mendengus kesal dan melihat ke pemandangan di luar kereta kuda yang mereka naiki.

"Ngomong-ngomong, kita ini mau jalan-jalan ke mana sih?" tanya Marumaro sambil menyilangkan kedua tangan di belakang kepalanya.

"Kita akan ke sebuah villa di tengah hutan sana…" jawab Zola.

"H-hutan?" tanya Kluke dan Bouquet dengan khawatir.

"Tenang…ada Marumaro di sini!" sahut Marumaro yang dengan sukses mendapat benjolan di kepala-nya bekas pukulan Kluke.

"Cih…mereka tidak mengerti perasaanku. Rasanya aku tidak ingin ke sini…" pikir Jiro.

Mereka pun akhirnya tiba di villa itu setelah semua orang tertidur…kecuali Zola, tentunya.

Jiro pun tidak bisa memejamkan mata sepanjang perjalanan, entah apa yang ada di pikirannya…

"Bangunlah! Kita sudah sampai!" kata Zola yang dengan sukses membuat semuanya terbangun…kecuali Jiro karena dia memang bangun dari tadi.

Mereka pun memasuki villa itu dan menemukan kelompok satu lagi…yang tak lain dan tak bukan adalah para pemain Inazuma Eleven tadi.

"Sudah datang ya? Kira Hitomiko?" tanya Zola yang sebenarnya retoris.

"Iya…"

Entah siapa yang memlilih grup field trip Inazuma Eleven itu…tapi anggotanya adalah…Ulvida, Megane, Kariya, dan Aoi…yang jelas-jelas hampir nggak ada hubungannya.

"Wah…tempat-nya angker banget…" kata Ulvida sambil merinding.

Jelas saja…karena di dinding sana sini banyak bercak darah. Kayak tempat bekas pembunuhan saja…

.

.

.

"Ini…tempat yang dulu…" gumam Kariya sambil tersenyum.

"Kamar kalian akan digabung. Satu kamar terdiri dari dua orang. Pelatih Hitomiko akan membacakan daftar kamar-nya," sahut Zola sambil melangkah ke lantai atas.

"Baiklah. Kamar no.1 adalah Bouquet dan Ulvida. Kamar no.2 adalah Marumaro dan Megane. Kamar no.3 adalah Kluke dan Aoi. Kamar no.4 adalah Jiro dan Kariya. Jika kalian perlu bantuan, saya dan Zola ada di kamar no.5. Jelas, semuanya?"

"Jelas!" jawab mereka serempak.

Mereka pun kemudian diantar oleh Hitomiko ke kamar masing-masing.

Pertama, kita lihat dulu keadaan kamar no.1.

"Ah, namamu Bouquet ya? Yoroshiku," kata Ulvida.

"Iya. Kamu…Ulvida ya?" tanya Bouquet.

"Itu panggilan-ku. Nama asli-ku, Yagami Reina," jawab Ulvida sambil memperkenalkan diri.

"Oh…salam kenal, Yagami-san!" sahut Bouquet sambil tersenyum.

"Ngomong-ngomong, villa ini sepertinya kotor sekali ya?" tanya Ulvida.

"Iya…banyak jaring laba-laba di atas sana…" jawab Bouquet sambil melihat ke langit-langit.

"Di kamar ini tidak ada lampu ya? Rasanya gelap sekali…" kata Ulvida seraya membuka gorden kamar mereka.

Tapi…saat dia membuka-nya…

Dia melihat…

Sebuah sosok…berambut panjang…

Kulit-nya pucat…mata-nya merah…

Dan dari mata-nya itu…

Mengalir darah yang deras…

Seolah-olah darah itu…adalah air mata-nya…

Ulvida…yang melihat pemandangan menakutkan itu, langsung menutup gorden itu…

Secara refleks…

"Yagami-san, ada apa? Bukannya tadi kata-nya gelap? Kok gorden-nya ditutup lagi?" tanya Bouquet dengan polos-nya.

"Ah, setelah dipikir ulang…ternyata nggak gelap-gelap amat…" jawab Ulvida sambil tersenyum gugup.

Mana mungkin dia bilang kalau dia melihat sosok hantu yang sedang menangis darah…

Siapa yang akan percaya omong kosong itu…?

Mari kita beralih ke kamar no.2…

"Marumaro ya? Salam kenal," kata Megane Kakeru.

"Ah iya…salam kenal, Megane-san…" balas Marumaro.

"Kamu…shadow wielder ya?" tanya Megane yang sepertinya tau sekali hal-hal semacam ini.

"Begitulah. Kalo Megane-san apa?" tanya Marumaro balik.

"Aku adalah penyelamat tim Raimon dalam bermain sepak bola!" jawab Megane dengan bangga-nya.

Untungnya tidak ada Endou dkk untuk mendengar ucapan Megane tadi…mungkin dia sudah digebukin oleh Someoka.

"Gitu ya? Ah…aku mau istirahat dulu!" kata Marumaro sambil berbaring di ranjang.

CEPLAK

Ada bunyi saat Marumaro berbaring di kasur-nya.

"Marumaro, kamu…nosebleed?" tanya Megane yang melihat kolam darah di kasur Marumaro.

"Ng-nggak kok! Darah-nya menetes dari atas!" kata Marumaro sambil menunjuk langit-langit yang penuh darah.

"Lho…? Kok di atas sana bisa ada darah?" tanya Megane dengan ekspresi tidak percaya.

"Aku juga tidak tau! Tapi darah-nya terus menetes!" sahut Marumaro dengan panik.

"Tenang…untuk sementara, kau tidur saja di kasur yang satu lagi," kata Megane dengan tampang sok berani.

Sekarang kita akan ke kamar no.3…

"Jadi begitu…"

"Iya, Zola-san menyuruh kami ke sini untuk menguji nyali, tapi…kurang tau juga," kata Kluke.

"Entah apa yang dipikirkan Hitomiko-kantoku tentang tempat ini, tapi…tempat ini benar-benar ngeri," sahut Aoi sambil melihat kepala tengkorak di setiap sudut ruangan.

Dan mereka bukan hiasan, saudara-saudara…tapi asli…

…murni kepala tengkorak manusia…

"Iya juga ya…wah, apa isi lemari ini?" tanya Kluke yang memiliki rasa 'ingin tau' yang besar.

Kluke pun membuka lemari itu tanpa ragu, dan…

Apa yang keluar dari lemari itu…?

Vampir…? Bukan.

Kuntilanak…? Apalagi.

Pocong…? Lagi nulis buku dia…

Lalu apa dong…?

Yang ditemukan adalah…sebuah rangka manusia…

Ukurannya sama dengan ukuran tubuh Kluke dan Aoi, dan mungkin teman-teman yang lain…!

Tapi ada lagi yang lain…

Yaitu seperti roh…

"…siapa yang berani memanggil-ku…?" tanya roh itu.

"K-k…"

Suara teriakan terdengar di seluruh villa itu.

Jiro dan Kariya yang ada di kamar no.4 pun dengan refleks menghampiri asal suara teriakan tadi.

"Aoi-san, ada apa?" tanya Kariya.

"Kluke, daijoubu ka?" tanya Jiro.

Kluke sudah ditemukan menangis, sementara Aoi hanya shock melihat adegan tadi.

"Kluke, ada apa…?" tanya Jiro lagi sambil menghampiri Kluke.

Kariya pun ikut-ikutan masuk ke kamar itu.

Dilihat-nya rangka manusia asli…tapi tidak ada 'roh' yang tadi dilihat oleh Kluke dan Aoi.

"Hiks…S-Shu…" kata Kluke pelan.

"Shu…?" tanya Jiro dengan heran.

Kariya dan Aoi tidak mengerti apa yang dibicarakan, tapi mereka tetap menenangkan Kluke.

TENG TENG

Terdengar bunyi, seperti bunyi kentongan.

"Kluke-san, hapus air mata-mu. Sudah waktu-nya makan malam," sahut Kariya sambil menepuk pundak Kluke.

Untuk pergi ke ruang makan, tidaklah mudah…

Karena harus melewati lorong yang cukup panjang…

"Wah…lukisan-nya bagus juga…" pikir Aoi sambil melihat salah satu lukisan yang ada di lorong itu.

Tapi…

Melihat lukisan itu…dia teringat akan 'roh' yang tadi ia lihat di kamar…

Lutut-nya melemas…keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya…

Ia pun nyaris terjatuh…tapi…

"Aoi-san, ada apa?" tanya Kariya yang berhasil menangkap Aoi sebelum ia sempat menabrak lantai.

"Ng-nggak…" jawab Aoi singkat.

Di lorong itu, terdengar suatu suara…seperti suara hembusan angin…

Tapi berbeda…

…suara itu…

seperti suara orang…

Bouquet yang ketakutan pun mencoba untuk mendekati Jiro.

Ya…kalo dia mendekati Marumaro, kalian bisa tau sendiri apa yang akan terjadi.

Di lorong itu, tidak ada lampu…hanya cahaya lilin.

Beberapa menit kemudian…angin berhembus kencang.

Yang menyebabkan lilin pun mati, dan suasanya menjadi gelap gulita.

"Wah…lilin-nya mati…" kata Megane dengan kecewa.

"Gimana kita mau sampai ke ruang makan itu kalo begini?" tanya Marumaro dengan khawatir.

Kariya POV

Wah…gelap banget nih…

Ng…?

Rasanya dari tadi ada yang memegang tangan-ku dengan gemetar.

Untung aku bawa senter…

Oh, Aoi-san.

Tangannya dingin…sepertinya dia kedinginan.

Untung aku pakai jaket…

Jaket-nya bisa untuk dua orang sih…tapi…

Ah ya sudah lah…apa juga masalahnya membantu orang?

Normal POV

Aoi akhrnya pakai jaket bareng Kariya, sementara Ulvida hanya mengharapkan Hiroto ada di sana.

Lalu…bagaimana dengan Kluke dan Bouquet?

"Wah…Jiro populer ya…" ejek Kariya sambil mengarahkan senter-nya ke arah Jiro.

Ya…rupanya Kluke dan Bouquet sama-sama memeluk Jiro karena ketakutan.

"Cerewet ah," kata Jiro dengan wajah memerah.

"Oh, rupanya kalian di sini," sahut Zola dengan senter-nya.
"Ayo cepat, nanti makanannya keburu dingin," tambahnya.

Dengan bimbingan Zola, mereka akhirnya sampai juga di ruang makannya.

Tapi…siapa yang menduga bahwa si vampire keren akan ada di sana…?

"Hiroto!" sahut Ulvida yang terkejut dengan keberadaan sosok vampire dengan rambut berwarna merah seperti darah.

"Ah, panggil saja Gran," jawab vampire (sok) keren itu.

"Ya sudah lah…lapar nih!" sahut Marumaro.

"Ya sudah…makanan ada di meja sebelah sana," jawab Hitomiko.

Hiroto dengan asyik meminum darah ular yang sudah ada di gelas-nya.

Ya…namanya juga vampire…maklumi saja (walaupun Ulvida dkk illfeel melihatnya sampai kehilangan nafsu makan).

Setelah makan malam yang…kurang membangkitkan selera, mereka kembali ke kamar masing-masing (dengan senternya Kariya).

Sekarang, mari kita lihat keadaan di kamar no.4…

"Jiro, kamu belum mau tidur?" tanya Kariya.

"Nanti saja deh. Aku jalan-jalan dulu sebentar," jawab Jiro sambil membuka pintu keluar.

"Baik…hati-hati ya."

Jiro POV

Ah, aku tidak puas.

Kenapa aku harus berada di tempat ini?

Tempat yang penuh kebencian…

Kekejaman…

Kekejian…

Tunggu!

Itu suara…langkah kaki…?

Seseorang menuju ke sini…!

Oh, dia. Kukira siapa…

"Ada apa?Untuk apa kau keluar malam-malam begini…?" tanyaku.

"Di mana pedang itu?" tanya orang itu.

"Pedang 'itu'? Pedang apa…?" tanyaku lagi.

Aku tidak mengerti maksudnya.

"Jangan pura-pura tidak tahu!" sahut orang itu.

Normal POV

Tuk tuk tuk!

"Masuk!" sahut Kariya sambil beranjak dari tempat tidur-nya.
"Hai…ng…Kariya. Jiro mana?" tanya Kluke sambil membuka pintu kamar Kariya.

"Lho? Tadi malam katanya dia mau jalan-jalan…aku sudah tidur duluan," jawab Kariya.

Keheningan sempat melanda tempat itu.

"Minna…gawat!" seru Aoi.

"Ada apa…Aoi-san?" tanya Kluke.

"Jiro…Jiro…"

Beberapa waktu kemudian…

"Tidak salah lagi…ini bekas tulang-tulang Jiro," sahut Zola.

"Tidak mungkin…" gumam Kluke sambil menangis.

"Tapi kenapa dia bisa dalam keadaan begini?" tanya Kariya dengan kebingungan.

"Aoi-chan yang menemukannya," sahut Megane.

"Dilihat dari kondisi-nya…dia dibunuh. Dan karena kemarin tidak ada tulang-tulang ini…berarti…

.

.

.

Dia dibunuh oleh salah satu dari kita," tambahnya.

"Kamu nggak usah sok tau, Megane!" sahut Kluke yang sudah terlalu kesal.

"Megane ada benarnya."

"Eh?"

"Pelaku-nya adalah salah satu di antara kalian," kata Hitomiko.

"Pertanyaannya cuma satu, kantoku.

Siapa…?" tanya Ulvida yang sekali lagi, sukses membuat keheningan dan kepundungan.