Sooooo... this is another version of Forgive My Words! With another tragedies and dramas... Last night, I have this sudden idea to write this story. While I was thinking about the plot, I ended up crying and my mother asked with a rather strange face, "Why the hell are you crying?" And I just sunk to my bed =w=
Errr, so here comes the warnings...
OOC, AU, DRAMA, TYPO, SUICIDAL, A BIT SAD(?), GRAMMAR ERRORS, CONFUSING STRUCTURES, AND STRANGE PLOT.
I DO NOT OWN SEKAIICHI HATSUKOI.
If I did, Ritsu would be mine and mine only.
Kamu itu mengganggu!
Kalau saja kamu tak ada, aku takkan merasakan hal seperti ini!
Kau yang sudah bertunangan, tak seharusnya mengganggu kehidupanku lagi!
Aku tahu, sebenarnya kau tak mencintaiku kan? Kau hanya mempermainkanku kan? Pernyataan cintamu waktu itu bohong kan?
Sudahlah, aku tak mau menerima alasan apa pun lagi.
Aku sudah cukup tersiksa dengan semua ucapanmu, semua teriakanmu, semua penolakanmu atas cinta yang kuberikan!
Hal ini semua sudah tak ada gunanya! Apa pun yang aku lakukan... Kau pasti akan terus menolakku
Karena itu, lebih baik aku tak perlu melihatmu lagi...!
Pergi, tinggallah bersama tunanganmu tercinta itu, dan jangan pernah temui aku lagi...!
Atau kalau perlu, lebih baik...
"Lebih baik kau mati saja sekalian!" Takano berteriak, tanpa memikirkan apa yang baru saja ia katakan. Bagaimana pun juga, dia terlalu capek. Dia sudah capek ditolak, dia sudah capek terus menerus mengejar ngejar Ritsu tanpa hasil, dan dia sudah capek melihat Ritsu yang dekat dengan tunangannya itu. Ia berpikir, lebih baik kalau Ritsu tak ada sekalian, sehingga ia bisa hidup kembali seperti biasa, supaya dia tak merasakan sakit yang ada di hatinya. Tapi bagaimana pun juga, Takano tak bisa menolak kenyataan bahwa ia mencintai Ritsu, dan hanya dirinya seorang. Namun kali ini berbeda, hati Takano yang awalnya suka memiliki luka karena Ritsu, kali ini luka itu semakin dalam, sehingga ia tak bisa menahan emosinya. Ia melihat Ritsu-Ritsunya, memeluk sang tunangan-yaitu An-chan. Ritsu sudah berusaha menjelaskan bahwa hal itu hanya karena dia sedang sedih dan butuh dihibur. Tapi apakah sebuah pelukan adalah hiburan? Hati Takano sakit, sudah terlalu sakit. Sehingga tanpa ia sadari, ia mengatakan semua yang ada di pikirannya, tanpa memikirkan konsekuensinya.
Ritsu terdiam, membatu. Ia menatap ke arah lelaki yang lebih tua darinya itu dengan tampang shock dan dalam sekejap, raut wajahnya berubah sedih dan terluka. Takano yang akhirnya menyadari perkataannya tersebut melihat balik ke Ritsu dengan tampang yang sama shock-nya.
'Oh... Oh, tidak...'
Takano tahu, kalau sejak saat itu, dia sudah terkutuk. "Onodera..." Ia berjalan selangkah ke arah Ritsu, tapi terhenti ketika Ritsu berjalan mundur dua langkah. Hal ini pun sudah termasuk penolakan, dan lagi-lagi, Takano merasakan sakit di dadanya. Persetan dengan sakit di dada, saat ini dia mau menjelaskan soal perkataannya yang sungguh menyakitkan hati itu. "Onodera, aku..."
Bagaikan disambar oleh petir, Ritsu langsung melompat kaget dan berlari sekuat tenaga, menjauh dari Takano. "Hei, Onodera!" Ritsu berlari masuk ke apartemennya dan menguncinya dengan kecepatan kilat, supaya Takano-yang biasanya tahu tahu sudah ada di dalam-tak bisa masuk. Ia terduduk di sofa, terkejut ketika ia mendengar suara bel yang berbunyi dan ketukan pintu. Samar-samar ia bisa mendengar suara dari luar yang sudah jelas adalah Takano.
"Onodera...? Kau baik-baik saja?" Terdengar jelas kalau Takano khawatir. Tapi Ritsu yang sudah terlalu larut akan perkataan Takano barusan, membuat dirinya tak menyadari nada khawatir yang dikeluarkan oleh Takano. Malahan, ia berteriak, "PERGI! JANGAN GANGGU AKU!"
Di luar, nafas Takano terhenti sejenak. Lagi-lagi, ia ditolak, ia diusir. Tapi ia ingin menjelaskan semuanya, menjelaskan pada Ritsu kalau saat mengatakan hal-hal kejam itu, Takano tidak berfikir, supaya Ritsu tidak menganggap serius perkataannya itu. "Onodera... Aku ingin menjelaskan-"
Ritsu menutup telinganya dengan bantal yang ia letakkan di sofa, sekali lagi berteriak, "TIDAK! PERGI, PERGI DARI SINI!"
"Onodera...Biarkan aku menjelaskan..."
Takano terus melanjutkan perkataannya, tanpa mengetahui bahwa Ritsu yang menutup telinganya dengan bantal, sama sekali tak mendengar apa yang dikatakannya.
"Onodera... Apa kau mendengarkanku...?"
Hening.
"Onodera...?"
Tak ada jawaban.
Takano menghela nafasnya. Ia tak tahu apa yang terjadi di dalam, entah Ritsu yang masuk ke kamarnya dan sengaja tidur sehingga tak dengar, pura-pura tidak mendengar atau dia mendengarkan tapi diam saja. Dengan perasaan gelisah, ia berjalan masuk ke apartemennya.
'Apa yang telah kulakukan..?'
Dia melepaskan bantalnya, menghela nafasnya dengan berat, ketika menyadari bahwa Takano sudah pergi.
"Tinggallah bersama tunanganmu itu dan jangan temui aku lagi, atau kalau perlu, lebih baik kau mati saja sekalian...!"
Ritsu dapat merasakan air kembali bergelinang di matanya. "..." Ia mengambil handphonenya, memencet tombol demi tombol, sampai menemukan nama kontak yang ia inginkan. Ia memencet tombol hijau dan menempelkan handphone itu di telinganya.
"...Halo, Okaa-san?... Aku... Ada permintaan..." Ia berkata pelan, mencoba untuk menahan tangis, supaya ibunya tidak khawatir. "...Besok... Bisa tolong bawa barang-barangku kembali ke rumah...?"
Ritsu sudah memutuskan.
Ia akan mengabulkan permintaan Takano.
Seluruh permintaan Takano.
Keesokan harinya, sampai siang hari pun, Ritsu sama sekali tak datang ke kantor. Sampai akhirnya Isaka datang dengan raut wajah yang... bisa dibilang, kesal...? Entahlah, ia terlihat kesal, sedih dan terdapat mimik kecewa juga. Entah ada apa, tak ada satupun yang tahu.
Isaka berhenti tepat di depan meja Takano, menyerahkan secarik kertas. "Kemarin malam, Onodera Ritsu mengundurkan diri dari Marukawa".
Semua orang di ruangan itu tersentak kaget, bahkan Mino yang selalu tersenyum dengan mata tertutup itu, kali ini matanya melotot dan dia terlihat benar-benar kaget.
Kisa adalah orang pertama yang berkata, "...Kenapa? Padahal kemarin dia masih ada di sini, dia masih bekerja! Apa yang terjadi, Isaka-san?"
Isaka hanya menatap ke arah Takano dengan tatapan yang menyalahkan. Kisa memperhatikan hal itu, dan bertanya dengan nada yang terbilang kurang cocok dengan dirinya yang biasanya ia gunakan saat berada di kantor, "Takano-san... Apa yang terjadi pada Ricchan?" Semua orang yang ada di ruangan langsung melihat ke arah Takano. Terutama Kisa, Mino dan Hatori yang tahu kalau Takano tetanggaan dengan Ritsu, mereka menatap Takano dengan tajam. Dan untuk pertama kali dalam hidup para pekerja di Marukawa Shoten, terutama di Emerald, mereka mendengar Takano berbicara gagap.
"...Ka-Kami ada sedikit masalah..."
Kisa yang memang terbilang sahabat Ritsu di Marukawa, menyipitkan matanya, "Masalah seperti apa?". Kisa menggeram, dan itu cukup mengejutkan Takano.
"...Kami..." Dia ragu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia berkata dengan jujur. "Kami bertengkar..."
Melihat tatapan yang diberikan Hatori, Mino dan terutama Kisa, Takano tahu kalau mereka belum puas akan apa yang dikatakannya, jadi ia menjelaskan.
"...Yahh... Kami... berbicara... lebih tepatnya, berteriak satu sama lain... Dan... setelah itu... Dia lari dariku".
"Apa yang kau katakan padanya?" Kisa kembali menggeram, kali ini geramannya lebih keras. Terlihat jelas kalau dia merasa kesal.
Takano tidak menjawab, dan Kisa menggebrak mejanya.
"Ugh, sudahlah! Aku sudah kehilangan niatku bekerja", dia menatap tajam ke arah Takano, "aku takkan datang ke sini kecuali Ricchan kembali", lalu ia mengambil tasnya dan berjalan keluar, diikuti oleh Hatori dan Mino.
Isaka yang masih berdiri di sana, menghela nafasnya, "Takano, selesaikan masalahmu. Khusus untuk hari ini, Emerald akan kuliburkan".
Oh tidak...
Takano buru-buru memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dan berjalan cepat menghampiri Ritsu. "Onodera!"
Ritsu terbelalak, ia menoleh untuk melihat Takano yang memasang tampang agak kesal. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak datang kerja?"
Ritsu mencoba untuk menjauh dari Takano. "B-Bukankah aku sudah mengundurkan diri? Apakah Isaka-san tidak memberitahukannya padamu?"
Takano mendecak, "Kenapa kau keluar segala hah? Jangan pergi seenaknya begitu! Kau itu-"
"Bukankah Takano-san yang menginginkannya?" Takano terdiam seketika. Baru saja, Ritsu berteriak padanya. "Bukankah Takano-san yang ingin aku pergi? Kau yang bilang itu kemarin! Kau ingin aku pergi kan? Kau ingin aku menghilang kan? Aku akan mengabulkan semuanya. Semuanya...!"
Lalu Takano melihat hal yang ia harap tak pernah akan ia lihat di sepanjang hidupnya.
Air mata mengalir dari kedua iris emerald milik Ritsu, poni menutupi wajahnya yang memerah.
Ia menangis, Ritsu menangis, dan ini karena Takano.
"...Aku pernah melarikan diri darimu... dan kemudian 10 tahun kemudian aku kembali..." Bisik Ritsu, tapi cukup keras untuk Takano dengar.
"Tapi kali ini, karena kaulah yang menginginkannya, aku akan pergi. Dan untuk kali ini..."
Saat Ritsu mengatakan kata-katanya kemudian, Takano merasa seluruh dunianya hancur seketika.
"Kali ini aku takkan pernah kembali lagi"
Dan Ritsu berbalik, "aku pun akan mengabulkan permintaanmu yg kedua..." dan ia berlari menjauhi Takano.
Takano berdiri membatu. Permintaan kedua? Seingat Takano, ia hanya mengatakan pada Ritsu untuk pergi, apalagi yang ia katakan?
...
"Oh..."
Kalau tidak, lebih baik...
"Oh, tidak..."
Lebih baik, kau mati saja sekalian!
Takano segera masuk ke dalam mobilnya dan mengejar Ritsu. Ia menyusuri jalan sambil menoleh ke kiri, kadang ke kanan, mencoba mencari Ritsu. Sampai ia melihat sosok Ritsu memasuki sebuah sekolah, sekolah yang kelewat familiar bagi Takano. Ya, yang tak lain dan tak bukan adalah SMA di mana dulu Takano dan Ritsu bersekolah. Takano buru-buru memarkirkan mobilnya dan berlari mencari Ritsu. "Onodera...? Onodera, hei, Onodera!" Ia berteriak-teriak, berlari mengitari sekolah, mencari Ritsu di segala tempat. Tapi tak ada hasil. Sampai saat ia melewati lapangan belakang, ia mendengar teriakan anak-anak perempuan, dan ia terbelalak.
Yang ia lihat adalah...
Sosok Ritsu...
Yang melompat turun...
Jatuh dari atap gedung sekolah.
TO BE CONTINUED~~
Eaaa~ Cliffhanger. Bunuh aku karena sudah membuat cliffhanger XD
Bagaimana menurut kalian? Ini fic SiH pertamaku yg menggunakan Bahasa Indonesia. Semoga kalian suka~
Review please. Butuh saran juga yaaaa...
See you again, Hinamori Leyka
