Sakura Haruno, seorang siswi SMA yang menjalani kehidupan remaja normal pada umumnya. Memiliki kekasih, pergi ke tempat karaoke, melanggar aturan dan menangis karena cinta. Tapi semuanya berubah ketika teman kakaknya meminta dirinya untuk menjadi vokalis band mereka dan pertemuan tak direncanakannya dengan Sasuke Uchiha yang merubah kehidupan datarnya menjadi lebih 'gila' serta berbagai kejutan yang menanti mereka. Sanggupkah keduanya menjalani hari tanpa ada romansa yang tercipta?
Pair : SasuSaku slight GaaSaku
Rate : T
Naruto © Masashi Kishimoto
Just be mine © CbiellUchiha1
AU, Alur kecepetan, OOC, GaJe , (miss) typo? dan gangguan lainnya yg berefek samping.
.
.
.
Karena masih newbie, mohon bimbingannya senpai ^^. *kecup syariah
Happy Reading ...
.
.
.
"Masih sempat" dengan sedikit berlari-lari kecil, kedua kaki jenjang gadis itu melangkah memasuki gerbang salah satu sekolah elit di Tokyo yang bertuliskan Konoha Gakuen International School pada papan namanya. Tapi sebagian besar murid termasuk dirinya hanya menyebut nama sekolah elit itu dengan dua kata didepannya. Alasannya 'biarkan segala sesuatunya menjadi efektif'.
Gadis itu tersenyum sambil terus menapaki jalanan area sekolahnya sambil sesekali membalas sapaan beberapa teman sekelas dan calon adik kelasnya yang baru. Ya, pertengahan tahun ini, tepatnya bulan Juli adalah pergantian tahun ajaran baru dan beberapa sekolah menengah atas sudah membuka pendaftaran bagi calon murid yang akan melanjutkan pendidikan mereka. Tak terkecuali bagi Konoha Gakuen sendiri.
Bahkan musim panas bulan Juli tak menyurutkan semangat Sakura Haruno untuk datang lebih cepat dihari pertama semester baru ini. Gadis ini tersenyum mengingat ia sudah menginjak kelas 3 SMA dan menjadi kesempatan terakhir baginya untuk mengikuti acara MOS sebagai salah seorang panitia pelaksana.
Sakura melihat pintu ruangan OSIS sedikit terbuka. 'sepertinya sudah banyak yang datang' pikir gadis itu sambil melangkahkan kaki memasuki ruangan yang terlihat lebih besar dari kelasnya itu. Orang pertama yang dilihatnya adalah-
"Selamat pagi Gaara" sapa gadis itu pada seorang lelaki berambut sewarna darah dengan tatto 'Ai' dikeningnya. Lelaki dengan nametag 'Sabaku Gaara' yang sedang membaca beberapa lembar kertas dalam map biru ditangannya itu menoleh dan melontarkan sebuah balasan. Walau pelan, Sakura sempat mendengar ketua klub basket dan kekasihnya itu mengatakan 'morning' sambil tetap melanjutkan kegiatannya.
Gadis manis itu maklum karena Sabaku Gaara sudah lama tinggal dan bersekolah di Inggris dengan penduduk minoritas orang Jepang. Ketika pertama kali bertemu dan berbicara dengan Gaara, Sakura sedikit kaget karena pemuda itu mengajaknya bicara dengan bahasa inggris. Walau begitu, gadis itu tak canggung meladeni Gaara berbahasa inggris. Sakura harus bersyukur karena istri mendiang pamannya adalah wanita blasteran Jepang-Australia yang menguasai dua bahasa.
Oleh karena itu, Sakura yang sejak kelas satu SMP tinggal bersama Tsunade, bibinya – karena orangtuanya yang sibuk – selalu menyempatkan diri untuk belajar bahasa Internasional tersebut karena selalu bingung mengartikan bahasa Tsunade yang terkadang campur aduk dengan bahasa inggris. Berterima kasihlah pada bibinya itu karena sekarang dirumahnya sudah tercipta bahasa baru. Jeniss, Jepang-Ingriss. Haha ..
Setelah semua panitia pelaksana MOS yang tergabung dalam OSIS berkumpul, meeting dimulai dengan Shikamaru yang menjabat ketua OSIS sebagai pemimpin rapat. Berbagai usulan pendapat, penolakan, protes dan sejenisnya berdengung diruangan khusus dewan murid tersebut. Walau begitu, rapat tetap berjalan lancar tanpa adanya tindakan anarkis(?)
Waktu pada jam dinding ruangan itu menunjukkan pukul 08.03 pagi yang menandakan rapat harus dibubarkan dan barisan upacara harus segera terbentuk. Dengan sekali perintah dari komandan upacara, calon siswa siswi Konoha gakuen membentuk barisan dengan sendirinya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Hiruzen Sarutobi sebagai kepala sekolah menaiki mimbar dan memberikan pidato singkatnya sebelum meresmikan pembukaan acara MOS yang berlangsung selama 3 hari berturut-turut.
Upacara selesai, calon siswa siswi salah satu dari 20 sekolah bergengsi di seantero Jepang itu dibagi dalam 8 kelompok gugus dan masing-masing gugus dipimpin 4 panitia pelaksana. Sakura berada digugus 4 bersama Ino, Kiba dan Neji sekaligus sebagai ketua gugus.
"Heh, Jidat" panggil Ino, gadis semampai dengan kulit mulus dan mahkota pirang panjangnya yang diikat bergaya ponytail tinggi dengan jepit hitam kecil tersampir dipinggir pelipisnya.
Sakura yang merasa sahabat sejak SMP-nya itu memanggil nama 'sayang' mereka menoleh dan membalas tanpa minat, "Apa pig?"
Ino hanya mendengus singkat. Belum sempat ia hendak berbicara lagi, Sakura memberi isyarat untuk diam dengan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir seraya menggendikan dagu kearah depan. Shikamaru sedang memberikan instruksi untuk peserta dan panitia MOS. Ino menurut. Ia tak mau mencari masalah dengan kekasihnya itu. 'Kemarin baru baikan' pikir Ino bijak.
"Heh, dia tampan ya ... "
"Iya ... ahh aku mau jadi kekasihnya "
"rambutnya juga lucu ..."
"... bla bla bla" gadis pirang itu selintas mendengar bisik-bisik dari dua orang gadis digugusnya. Dengan muka sedikit merona, keduanya menunjuk-nunjuk kecil kearah Shikamaru lalu tersenyum. Sakura hanya memutar bola matanya bosan dan samar membisikkan kalimat 'dasar bocah'sambil berjalan mendekati kedua gadis centil itu.
Sedetik kemudian terdengar suara mengaduh dari kedua gadis yang Sakura dekati tadi. Ino hanya bisa menahan tawa kala melihat kedua tangan sahabat bubble gum-nya itu bersarang indah dikedua pinggang siswi baru itu sambil tetap melayangkan senyum manisnya. Hanya beberapa detik, tapi Ino yakin cubitan Sakura tadi akan meninggalan efek jera pada kedua siswi tersebut.
"Isshh.. kau kejam, Jidat" bisik gadis bak Barbie itu pelan sekembalinya Sakura melaksanakan 'tugas'.
"Heh, begini-begini aku membantu menyelamatkan hubunganmu pig. Kau tidak khawatir apa jika nanti Shika-mu itu direbut bocah-bocah itu?" sewot Sakura.
"Iya, terima kasih jidat. Lain kali biar aku yang memberi pelajaran pada mereka" Ino nyengir sambil berlagak menaikkan kedua lengan bajunya. Sakura yang melihat sahabatnya itu hanya bisa tersenyum. Dasar .
.
.
.
Langit hari ini begitu cerah. Si raja siang tak malu-malu menampakkan seluruh tubuhnya alih-alih bersembunyi dibalik baju hitam bernama mendung. Namun, kehangatan mentari tak terasa bagi pria dengan dandanan casual yang berjalan santai dari tempat duduknya dikelas business menuju Apron.
Pria itu hanya terus berjalan mengikuti kerumunan menuju Baggage claim area untuk mengambil kopernya. Ia menunggu dengan sabar sementara pegawai bagian compartement melaksanakan tugasnya menurunkan koper penumpang dan menyalurkannya melalui Baggage conveyor.
Tak lama, pemuda yang mengenakan skinny jeans hitam dan T-shirt putih bergambar tengkorak bersayap serta dibalut rompi jeans Levi's dengan hoodie yang menggantung itu mengambil koper biru tua miliknya dan menariknya menuju pintu keluar. Bandara hari ini ramai dan ia tidak suka keramaian. Apalagi ketika ia sampai pada bagian kedatangan luar negeri, puluhan pasang mata memperhatikannya. Ia risih, terlebih beberapa gadis terang-terangan mengajaknya berkenalan.
"Sasuke-channn ..."
Kakinya terus berjalan sampai satu suara membuat pemuda dengan model rambut unik ini memfokuskan penglihatannya lurus kedepan. Ia melihat pemuda lain yang memiliki wajah hampir sama dengannya namun dengan rambut hitam yang dikuncir rendah sedang melambaikan tangan dan terus meneriakkan namanya dengan embel-embel yang menurutnya menjijikkan.
"Selamat datang kembali ke Jepang, Sasuke-chann~" ucap pemuda itu lagi membuat pemuda bernama Sasuke itu memberinya deathglare singkat disela pelukan lembut (paksa) pemuda berkucir itu.
"Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu, Nii-san baka" protes Sasuke sambil melepas paksa tubuhnya dari pelukan maut Itachi, sang kakak yang bertugas menjemput adik yang dirindukannya itu.
"Ahh, kau makin imut saja Sasu-chann~"
Bletakkk !
"Awww .. ittai Sasuke" Itachi mengerang kesakitan ketika satu sentilan keras mendarat indah dikeningnya dan meninggalkan kenang-kenangan berwarna merah. Merahnya cukup jelas berhubung kulit pemuda 'ramai' tersebut terbilang putih.
"aku 'kan sudah bilang berhenti, kau saja yang tuli. Anggap saja itu oleh-oleh dariku" jawab Sasuke cuek sambil menutup bagasi mobil Porsche Cayenne hitam dan berjalan menuju bangku penumpang samping Itachi.
"Huh, kau tidak bisa bercanda Sasu" bela Itachi masih dengan rengekan manjanya dan satu tangan yang mengusap sayang keningnya. Itachi seperti adik Sasuke saja.
"Terserah"
Selama perjalanan hanya Itachi yang mendominasi percakapan dan Sasuke sesekali menjawab pertanyaan kakaknya itu. itupun jika Sasuke merasa pertanyaan kakaknya masih 'normal' dan dibatas wajar.
Geser kanan. Geser kiri.
Sasuke merasa ada yang aneh dan tak biasa dengan mobil yang dinaikinya bersama Itachi. Terasa berbeda. Kepalanya celingak-celinguk depan-belakang memperhatikan desain dan interior mobil bekerja hingga akhirnya –
"Kau mengganti mobilmu, Nii-san?"
"Hhehe .. otakmu sekarang tumpul ya Sasuke? Kita sudah setengah perjalanan dan kau baru menyadarinya. Aku ragu, apa kau memang benar-benar belajar selama di London?" ejek pemuda itu sambil melempar senyum manis ke wajah adik tercintanya.
" Dari mana kau mendapatkan mobil ini?" Sasuke mengabaikan ejekkan Itachi. Pemuda itu tertawa dan akan terus tertawa jika tak ia tak merasakan aura dingin disekitar Sasuke. 'Upss, bocah ayam ini' batin Itachi cepat.
"Ehemm .. ini hadiah ulang tahunku bulan lalu dari ayah dan ibu. Hanya kau yang belum" ucap pemuda itu cepat-cepat lalu nyengir setelah menetralisir aura hitam Sasuke. Walau pemuda dengan model rambut menyerupai bagian belakang ayam itu adiknya, Itachi bisa repot juga kalau Sasuke mengamuk. Apalagi ini hari pertama adik tercintanya itu menginjakkan kaki lagi di Jepang setelah 4 tahun berada di London.
"Hn. Besok saja" jawabnya singkat
"Ditunggu, Bos"
"Jangan lupa untukku juga" ucapnya lagi sambil meraih i-Phone 5s miliknya dan mengaktifkan kembali mode jaringan nya setelah sebelumnya berada pada mode pesawat.
"Pamrih. Tapi baiklah"
.
.
.
Hari berganti dengan cepat. Tak terasa MOS yang baru dilaksanakan Konoha Gakuen sudah memasuki hari ketiga. Siang nanti sebelum MOS dibubarkan tak resmi oleh pengurus OSIS, mereka harus tetap mengikuti upacara penutupan yang juga dipimpin kepala sekolah seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya.
Sakura mendapat tugas dari guru pembina OSIS, Kurenai Yuuhi untuk memanggil – lebih tepatnya mencari – ketua OSIS agar menghadap kepala sekolah untuk penyerahan laporan penyelenggaraan acara sebelum acara dibubarkan. Tapi setelah mencari dari lantai pertama hinga lantai tiga gedung sekolah, gadis pink ini tak menemukan ketua OSIS nanasnya. Biasanya Shikamaru mudah ditemukan karena pemuda itu tak terlalu suka berkeliaran.
Tak seperti biasanya, hari ini pemuda Nara itu tak berada dikantin bersama Neji dan yang lainnya. Tentu saja, ini adalah hari luar biasa. Oh Ayolah, hanya ada 1 orang yang berambut nanas disekolah ini dan itupun sudah sangat sulit mencarinya, belum lagi sekarang Shikamaru mempersulitnya dengan permainan petak umpet dadakannya.
"Ayo berpikir Saku, berpikir. dimana Shikamaru berada kira-kira? Bersama siapa dia? Siapa? .. Siapa?... eh!" bola lampu itu menyala, tampaknya Sakura mengingat sesuatu. Gadis musim semi itu langsung saja putar arah dari kantin menuju taman belakang sekolah yang ia yakini terdapat keberadaan mereka.
Benar saja tebakan Sakura. Tak jauh dari tempatnya berdiri, gadis itu melihat sahabat blondie-nya sedang duduk dibangku taman menghadap pemuda itu dan sesekali tersenyum membuang muka menyembunyikan rona wajahnya. Sakura semakin jengkel kala pemuda nanas itu tak sengaja bertemu pandang dengannya, namun seperti mengacuhkan keberadaan Sakura disana.
Oke. Sakura boleh saja jengkel kali ini. Ia disuruh mencari Shikamaru dan memulainya dengan berkeliling Konoha gakuen dengan luas 2 kali taman kota itu, ia berlari naik turun tangga dari lantai satu hingga tiga dengan berbagai tatapan yang dihujani padanya, memeriksa sisi demi sisi perpustakaan sekolah yang tak kalah luasnya, belum lagi ia tak sempat makan siang, dan ketika menemukan orangnya Sakura tak dianggap ada! What the hell?
Kakinya pegal, tapi rasa jengkelnya lebih besar ketimbang lelahnya. Dasar nanas sialan.
"Heh, nanas! Kau pikir aku tak lelah apa mencarimu keliling sekolah? Tak masalah kalau sekolahnya kecil, kau sendiri tau kan berapa luasnya. Seluruh siswa menatap padaku dengan pandangan kalau aku ini aneh. Baru saja aku menemukanmu, sambutanmu baik sekali ternyata. Setidaknya kau bertanya kenapa aku bisa ada disini" bentak Sakura menggebu-gebu. Nafasnya tak beraturan. Tubuhnya sangat letih, belum lagi tadi pagi ia tak sarapan saking semangatnya kembali sekolah sampai akhirnya –
BRUKK !
"Kyaaaa ... jidattt bangunnn!" Ino menjerit panik dengan tak elitnya melihat Sakura ambruk didepan matanya. Untung saja Shikamaru dengan reflek segera menangkap lengan Sakura. Dengan anggukan kepala Ino pemuda itu menyelipkan tangan kirinya kebawah lipatan lutut Sakura dan mengangkatnya segera membawanya ke ruang kesehatan yang berada tak jauh dari taman belakang sekolah.
Gaara yang baru saja keluar dari ruang kesehatan setelah mengambil sebuah inhaler baru dibuat terkejut ketika Ino membuka pintu ruangan itu dengan panik. Tak lama disusul Shikamaru yang menggendong seorang gadis berambut merah muda dan membaringkannya ke atas kasur.
Gaara yang menyadari itu adalah Sakura tiba-tiba juga terlihat panik. Dilihatnya muka Sakura yang pucat dan bibirnya yang kering. Ino dengan cepat berlari keluar ruangan, dan tak berapa lama kembali dengan Shizune sensei yang diketahui adalah penanggung jawab bidang kesehatan sekaligus perawat handal yang direkrut Konoha gakuen.
Shikamaru menatap Gaara yang juga balik menatapnya dengan tatapan kenapa-bisa-begini kearah ketua OSIS itu. Shikamaru juga memberikan tatapan nanti-aku-jelaskan sebagai jawaban kepada Gaara yang disudahi dengan interupsi Shizune setelah memeriksa keadaan Sakura.
"Ehem, nona Haruno hanya kelelahan dan sedikit disebabkan oleh dehidrasi ringan, sepertinya ia juga belum makan. Jika ia sadar nanti kalian perlu memberinya asupan nutrisi dengan segera. Sebotol isotonik juga baik untuk mengurangi dehidrasi-nya. Nah, kalau begitu harus ada yang menjaganya disini. Itu lebih baik" setelah menyudahi kalimat terakhir, wanita dengan rambut hitam seleher itu melangkah pergi dan menghilang dibalik debamam pintu.
"Nah, sekarang jelaskan padaku" Shikamaru yang mengerti maksud Gaara mulai menjelaskan kronologinya. Pemuda bertato itu hanya mendengarkan tanpa berniat menyela ataupun bertanya. Ketika akhirnya ia mengerti, kepalanya hanya mengangguk sebagai jawaban dan mempersilakan Shikamaru pergi menjalankan tugasnya sementara ia tinggal bersama Ino.
"Ino" panggil Gaara ketika dilihatnya Ino hanya berdiri dan memandangi Sakura. Gadis itu menoleh tanpa suara.
"pergilah. Biar aku saja yang menemani Sakura" titahnya membuat sahabat Sakura itu mengggeleng menolak perintah Gaara.
"Tak apa. Biar aku saja. Aku akan menghubungimu jika Sakura sudah siuman nanti"
"Benar?" tanya gadis itu ragu.
"Hm" sahutan ambigu pemuda itu hanya ditanggapi Ino dengan anggukan dan melangkah pergi meninggalkan pasangan itu. Ia bisa percayakan Sakura pada Gaara, pikirnya.
Sementara itu, pemuda dengan eyeliner pekat itu memandangi sosok kekasihnya yang terlelap dengan pandangan sayu. "kau kenapa, sayang?" bisiknya. Terkadang hanya didepan Sakura-lah Gaara terlihat rapuh. Dan hari ini ia menampakkan kelemahannya.
.
.
.
"Sasoriii" merasa ada yang memanggil namanya, pemuda berambut merah pendek dan berwajah baby face itu menoleh. Tampak Itachi berlari-lari kecil kearahnya.
"Saori" ucap pemuda itu sambil nyengir dan sedikit 'ngos-ngosan.
"Sasorii !" ucap pemuda itu membetulkan panggilan temannya.
"Hehehee, maaf. Tadi lidah ku sedikit kelu memanggil namamu menjadi nama bibi didepan kompleks sana" ujarnya membela diri
"Lidahmu selalu kelu jika memanggil namaku. Lalu yang pertama kenapa bisa lancar?" tanya pemuda itu jutek.
"Itukan testing. Kalau kupanggil Saori aku tahu kau tak akan menoleh. Hehe"
Itachi melihat siku-siku kecil di kening Sasori dan makin lama siku-siku itu makin jelas. Itachi yang tahu artinya itu bersiap melarikan diri ketika tangan Sasori mencengkram belakang kerah bajunya dan menghadapkan tubuhnya melihat pemuda itu sampai –
BLETAKK – satu sentilan keras kembali melayang dikeningnya tepat ditempat Sasuke melakukan hal yang sama padanya 3 hari lalu.
"Ugh~" Itachi hanya meringis sambil kembali mengusap bekas sentilan Sasori untuk mengurangi rasa sakitnya. Panas sekali, pikirnya.
"Nah, ada apa kau memanggilku?" tanya Sasori.
"Kau ini. begini, adikku sudah kembali dari Inggris dan dia bersedia menempati posisi sebagai gitaris dan Sasuke juga sudah mengonfirmasikan temannya sebagai drummer. Jadi kita hanya perlu mencari posisi vokalis-nya. Nah, apa kau punya referensi?" jelas Itachi panjang lebar yang didengarkan Sasori dengan sesekali menganggukkan kepalanya mengerti.
"Aku tidak yakin dia akan mau, tapi biar kucoba tanyakan dulu" mendengar itu rasa penasaran Itachi bangkit. Ia menatap Sasori intens seolah bertanya siapa pada pemuda itu. Sasori yang mengerti hanya memutar bola matanya bosan. Sejak kapan Uchiha menjadi kepo begini, pikirnya asal.
"Adikku" jawabnya singkat.
"Benarkah? Apa adikmu cantik? Apa dia sudah punya kekasih? Dia kuliah dimana?" rentetan pertanyaan Itachi membuat Sasori serasa ingin mengunci mulut sulung Uchiha itu dengan kunci Inggris agar temannya itu tak berisik lagi, tapi diurungkan niatnya itu setelah membayangkan apa yang terjadi pada hidupnya jika Fugaku murka. Glekk
"Ish, kau ini kepo sekali sih. Seperti bukan Uchiha saja" sindir Sasori sambil melengos pergi meninggalkan Itachi yang melohok tak elitnya.
"Hei SAORIII, tunggu akuuu"
.
.
.
To be continued ...^^
Author's bacot area :
Bah, pendekkah? ... gomen kalo jelek minna ..
Okey cukup basa nasinya *eh, basabasi maksudnya* ... Biel balik lagi dengan fic abal nan gaje satu ini. setelah beberapa kali terbentur saat melanjutkan BILY *alhamdulillah selesai juga* biel putuskan untuk menerawang sejenak dan mendapati satu ide terselip yang mulai sedikit berkarat disudut kanan otak paling bawah*ditimpuk*dan Biel putuskan untuk mewujudkannya dan tadaaa ... jadilah Just be Mine *senyum nista author:On*
kalo ada kritik, saran dan perbaikan silahkan boleh disampaikan melalui kotak review yang tersedia *mancing-mancing * agar kita saling mengenal dengan baik dan mana tau jodoh ,, wuakakakaka #dibacok .. dan satu kata buat yang udah baca dan bersedia kasih review *bungkukhormat* TERIMA KASIHHHH .. muaahhh muaahhh
