Everything? Everything

vmin fanfiction

.

.

Kim Taehyung melihat dunia melalui jendela kamarnya. Matanya menyelusuri setiap hal yang tertampang di kaca tersebut tanpa cela. Lalu gerakan matanya berhenti, dia melihatnya.

Melihat sekumpulan anak lelaki seusianya. Sekumpulan anak yang belum pernah dia hampiri. Sekumpulan anak yang asing namun familiar di matanya. Sekumpulan anak yang selalu menghiasi jendela kaca kamarnya.

Taehyung melemaskan bahu, matanya terus menatap mereka. Mereka yang sedang seru bermain basket. Gerakan belari dan melompat mendominasi permainan. Kulit coklat, keringat, maupun suara tawa tidak luput dari mata dan telinga Taehyung.

Taehyung menempelkan dahinya ke kaca, masih menatap mereka. Mereka yang terlihat, bebas.

Decitan pelan terdengar di kedua telinganya. Taehyung membalikan badan ke arah pintu yang terbuka. Kedua matanya membalas tatapan wanita paruh baya itu.

"Bangun tidur?" Tanya Mrs. Kim.

Taehyung mengangguk, "Tentu." Dia meringis, telinganya gatal mendengar tawa dari luar. Tawa kemenangan salah satu tim yang memenangkan permainan.

"Apa perlu ditutup?" Mrs. Kim menawarkan diri, sepertinya tidak hanya Taehyung yang mendengar tawa itu. Wanita itu menaruh beberapa pil di atas meja nakas.

Taehyung menggelengkan kepala, "Mom tidak perlu melakukannya."

"Kamu tahu bukan." Mrs. Kim berjalan mendekati Taehyung, "Kamu sakit." Dan menutup tirai jendela dibelakang anaknya.

Taehyung menghela nafas, "Aku tahu mom." Ucapan to the point khas ibunya cukup membuat hatinya mencelos. Tidak bisakah dia menjaga ucapan kepada anaknya sendiri astaga.

"Sayang." Mrs. Kim memeluknya. "Mom tidak berniat membicarakan itu, kamu pasti mengerti. Suatu hal yang tidak kamu hindari sejak awal, pasti akan membuatmu penasaran. Lalu –bagian terburuknya- kamu akan mendapati dirimu ingin mencoba hal itu." Jelas Mrs. Kim.

Taehyung membalas pelukan wanita disayanginya itu. "Tak perlu khawahtir mom, aku mengerti." Walaupun jujur Taehyung merasa berat hati mendengar ucapan ibunya, tapi setidaknya itu dilakukan demi kebaikan dirinya.

Mrs. Kim melepaskan pelukannya, dia mengambil catatan kesehatan harian untuk hari kemarin, meninjau singkat pengukuran yang dilakukan dokter pribadi anaknya dan menambahkan lembaran baru ke papan jepit itu. "Bagaimana kabarmu, jagoan?"

"Seharusnya mom menanyakan itu lima menit yang lalu." Respon Taehyung yang membuat Mrs. Kim menoleh lalu memukul dahinya pelan, sembari menggumamkan kata lupa.

Taehyung tertawa kecil melihat pantonim yang dilakukan ibunya, jujur itu sangat payah. "Aku selalu baik mom." Taehyung mengulurkan tangannya untuk dipasangkan sabuk pengukur tekanan darah.

Mrs. Kim menatap tumpukan kardus disamping pintu. "Berbelanja lagi?" Mrs. Kim meraih tangan anaknya, "Kamu ingin membuat ibumu ini bangkrut apa?"

"Astaga mom. Aku hanya menggunakan satu persen dari kekayaanmu." Bela Taehyung.

Mrs. Kim tertawa, matanya menutup dengan sempurna. "Mom hanya bercanda."

Taehyung mendengus. "Candaan mom tidak lucu. Aku seperti anak yang menguras habis uang kalian." Kesalnya.

"Memang benar-eh canda," Taehyung menatap ibunya tidak suka, dia tidak menyukai candaan irrasional ibunya. "Omong-omong apa yang kamu beli sekarang?" Tanya Mrs. Kim.

"Tenda."

"Tenda?" Mrs. Kim mengerutkan keningnya, "Bukankah kamu tidak akan pernah memakainya?" kedua matanya kembali menyoroti kardus berisikan tenda itu.

Taehyung mengikuti arah pandang ibunya. "Suatu hari aku akan memakainya." Ucapnya, "Aku penasaran bagaimana rasanya tidur di dalam tenda, menikmati angin alam, mencium bau hutan, dan menatap langit bertabur bintang." Tapi sepertinya options terakhir agak mustahil saat Taehyung mengingat berita televisi –yang ia tonton kemarin. Berita tentang langit Seoul yang sudah tidak terlihat bintang sejak 3 tahun terakhir.

Mrs. Kim tersenyum kecil mendengar jawaban anaknya, tangannya mulai memompa. "Tentu saja kamu bisa memakainya." Ucapan Mrs. Kim membuat Taehyung membulatkan matanya, dia terkejut.

Bibirnya tertarik keatas. "Benarkah mom?"

Tangan kanannya memompa pelan, mata sabit Mrs. Kim melihat dan mengukur tekanan darah Taehyung –yang ditunjukan oleh alat. Lalu, ia mengalihkan perhatiannya kepada sang anak tercinta. "Tentu,"

Taehyung tersenyum semakin lebar.

" –Di dalam rumah tentunya."

Dan senyuman itu perlahan memudar.

.

.

Taehyung memakan serealnya sembari melihat ibunya yang mondar-mandir dengan handphone ditelinganya. Mrs. Kim sedang berbicara –mungkin berseteru dengan seseorang dibalik android pintar itu, dan sepertinya seseorang itu sudah membuat ibunya gelisah.

Mrs. Kim menyadari tatapan anaknya, "Kau tidak bisa melakukan ini." Lalu membuang pandangan kearah post it yang menempel di kulkas.

Taehyung tertegun, matanya beralih kearah wajan yang memanas. Panggilan itu membuat ibunya tidak memperdulikan telur yang sedang dimasaknya, ini sepertinya masalah yang serius.

"Apa kau harus pergi? Maksudku, apa kau harus mengundurkan diri demi 'mendapat gaji besar' disana?" Mrs. Kim menahan teriakan keluar.

Telur itu sudah mengeluarkan asap.

"Kalau kau sayang dengan anakku, seharusnya kau tidak mengundurkan diri."

Telur itu sudah mengalami luka bakar stadium akhir.

Taehyung bergegas mematikan kompor sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Dia memandang sedih kearah wajan –telur itu tidak dapat dimakan.

"Anakku membutuhkanmu." Bahkan wanita itu tidak menyadari sang anak yang berdiri didekatnya. Mrs. Kim semakin lemas saat mendengar jawaban yang keluar dari handphone miliknya, lalu ia mematikan panggilan itu.

Mrs. Kim baru menyadari keberadaan anaknya, sorotan matanya sangat menyedihkan. Taehyung memeluk tubuh ibunya, berharap bisa menenangkan perasaan wanita itu.

"Aku bisa menjaga diri mom." Taehyung mengernyitkan dahinya setelah mendapati dirinya berbicara tidak jelas.

"Tidak bisa Taehyung-ah." Bagus, untung ibunya tidak menyadari itu.

"Bisa mom."

"Tidak bisa."

"Aku bisa mom." Taehyung mengepalkan tangannya kuat, rasanya dia ingin meninju sesuatu saat mendengar jawaban ibunya.

"Tidak. Kau membutuhkan mom, dad, dokter, dan perawat Jung –yang sekarang tidak bekerja lagi disini."

Taehyung terkejut sekaligus bersimpatik mendengar kabar mengejutkan itu, atau lebih tepatnya dia girang. Pemuda itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya."Benarkah?" Adios perawat Jung, haha.

"Iya sayang." Mrs. Kim menghirup nafas panjang, hidungnya mencium bau hangus. Dia menoleh kearah wajan, kearah telur yang sekarat itu.

"Astaga! Mom lupa." Mrs. Kim melepas pelukan dan bergegas membuang telur itu ketempat sampah. "Thanks sudah meringankan beban mom."

"Aku tidak akan menunggu sampai rumah ini terlalap api mom. And, your wellcome."

Taehyung kembali melanjutkan makannya dengan lahap. 'Lahap' dalam kamus Taehyung merupakan artian yang sangat luar biasa. Dia tidak menyangka saat mendengar berita pengunduran diri perawatnya itu bisa memunculkan kata 'lahap' di kamus sarapan paginya. Bisa membuat sereal sayuran yang sebelumnya berasa sampah, berubah secara ajaib menjadi enak.

Perawat Jung merupakan perawat yang dipekerjakan ibunya untuk merawat Taehyung sejak 7 tahun yang lalu, dan Taehyung tidak menyukainya. Perawat Jung sangat menyebalkan, dia tegas dan sangat mengekang kehidupannya. Semua peaturan kejam –menurut Taehyung harus dia taati demi mendapat persetujuan bermain laptop darinya.

Bagi seorang remaja seperti Taehyung, ancaman keras dengan memakai laptop sangatlah menyiksanya –disaat hanya itulah kebebasan yang dia dapat dari orang tuannya.

Taehyung menderita berbagai penyakit. Diantara penyakit-penyakit lain yang bersarang ditubuhnya, penyakit miocardium –peredangan jantung lah yang menjadi penyebab utama dirinya dipenjara. Keluarganya baru mengetahui penyakit itu saat dia berumur 15 tahun, lebih tepatnya saat dia sedang bermain di pertandingan basket perdananya.

Waktu itu Taehyung pingsan saat ingin mencetak three point untuk team nya. Mata yang seharusnya fokus perlahan mulai kabur, lalu semuanya gelap.

Orang tua Taehyung sangat sedih saat mendengar kondisi jantung anaknya yang lemah. Virus itu sudah menggerogoti jantung anak mereka sedari kecil. Sayangnya mereka, temasuk Taehyung sendiri, baru mengetahui hal itu setelah virus sudah berkembang hampir sempurna di jantung Taehyung.

Sejak itu, Taehyung selalu mendapati dirinya mudah tidak sadarkan diri.

Melihat kondisi anak mereka yang terus menerus masuk keluar rumah sakit, kedua orang tua Taehyung pun mulai mengambil tindakan. Mereka mulai membatasi penggerakan sang anak. Dari melarangnya bermain basket dan melakukan segala bentuk penggerakan fisik.

Seminggu kemudian, orang tua Taehyung memutuskan melanjutkan pendidikan anaknya dirumah –homeschooling.

Dan selanjutnya, mereka melarang Taehyung untuk keluar dari rumah.

Namanya juga remaja, Taehyung pasti pernah menerapkan pikiran 'peraturan dibuat untuk dilanggar' pada otaknya. Seperti motto itu, suatu hari Taehyung melarikan diri untuk memenuhi ajakan temannya bermain basket.

Mendapat ajakan itu tentu membuat Taehyung senang, dia sangat merindukan bermain basket bersama temannya.

Taehyung tersenyum lebar, dia berjalan dengan santai. Dia melangkah keluar rumah dengan penuh suka cita, tidak lupa menghitung langkah demi langkah yang dia ambil. Hitungan ke 26 baru muncul dibenaknya, namun rasa sakit mendadak menyerang dirinya.

Taehyung terjatuh, rasanya seperti ada yang menusuk jantungnya berulang-ulang kali. Mulutnya terbuka, berusaha meneriakan sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. Dan seiring jantungnya tecabik-cabik, Taehyung pun mulai tak sadarkan diri.

Dia terbangun dan mendapati tubuhnya tertacap banyak peralatan rumah sakit. Orang tuanya tersenyum lebar sembari memanggil nama Taehyung berulangkali. Terlihat air mata –dan mungkin ingus telah mengering diwajah keduanya. Taehyung menatap keduanya.

Bukankah aku hanya pingsan selama beberapa menit?

Dokter mematahkan prasangkanya, dia sudah koma selama 2 minggu. Sang sleeping beauty tidak percaya mendengarnya, dia merasa semua terasa baik-baik saja pada hari itu. Badannya bugar, sudah makan, minum obat, dan hey, dia juga tidak belari!

Sorotan kesedihan bercampur kelegaan kedua orang tuanya menghantui otak Taehyung. Dia tidak menyangka, dalam keadaan baik sebaiknya seorang Kim Taehyung tetap dapat membuatnya tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama.

Malam itu, disaat semua orang sudah mulai tertidur, Taehyung menangis meratapi keadaannya. Tangisan pertama sejak ia mengetahui penyakitnya beberapa bulan yang lalu. Setelah itu keadaannya semakin parah, sampai hari ini.

"Tenang." Mrs. Kim memecahkan cangkang telur dan memasak kembali. Taehyung memusatkan perhatian ke arah ibunya.

"Mom akan mendapat penggantinya." Lanjutnya dengan senyum.

Nafsu makan Taehyung turun seketika.

Sial.

tbc

terima kasih sudah membaca ff pertamaku T_T

ilysm, i love yoongi so much, canda kok hehehe

RnR?