"Baik! Semua buka halaman limapuluh lima. Kali ini kita akan melakukakn praktek conversation di depan kelas, dimulai darimu Sakura!"
"Neehh..! Apa?! Aku harus bicara apa? Aku tak bisa bahasa inggris sensei!"
Disclaimer: Naruto selamanya punya Masashi Kishimoto
Warning: OOC, gak jelas, dan banyak hal aneh lainnya.
Dont Like Dont Read
My Student Are My Wife
Chapter 1: Bad English Lessons
"Kau menyebalkan sensei!" Sakura mendengus kesal. "Kenapa kau selalu mempermalukanku di sekolah hah!?"
"Itu kulakukan karena," kata sasuke sambil mengambil sesuatu dari dalam tas-nya. "Lihat ini! Ini adalah nilai ulangan bahasa inggrismu yang di bawah rata-rata."
Secarik kertas putih yang di genggam oleh Sasuke segera di rebut oleh Sakura. Dengan tidak percaya dia menatap satu-satu jawaban yang di jawabnya ketika ulangan: Soal nomor satu salah, nomor dua salah, begitu pula soal nomor tiga, empat, lima, enam, semuanya salah. Dari nomor tujuh sampai sepuluh dia mendapat nilai setengah.
"Ya, kau dapat nilai dua puluh!" Ucap sasuke sambil melepas jas hitamnya. "Selamat ya!"
"Matamu!" dibarengi dengan pukulan keras di muka Sasuke, menyebabkan memar dipipinya.
"Baru setahun kita menikah namun rasanya sudah seperti bertahun-tahun saja ya Sakura." Ucap Sasuke sambil mengelus pipinya yang memar.
Perkataan Sasuke mengingatkan Sakura akan hubungan yang terjadi antara dirinya dan Sasuke, yang juga merupakan senseinya di sekolah. Mereka menikah disaat Sakura duduk di kelas dua SMA di musim dingin tahun lalu, pernikahan ini hanya sedikit orang yang tahu. Mungkin bisa dibilang hanya temannya Sasuke sajalah yang tahu, karena pernikahan ini ialah ...
"Rahasia ini mau sampai kapan akan bertahan sensei?" Ucap Sakura sambil menghembuskan nafas. "Aku takut kalau orang lain tahu selain Kakashi-sama dan Asuma-sama. Apalagi sikapmu di sekolah itu menunjukkan sikap protektiv padaku sen-"
"Itu bukan tindakan protektiv seorang suami terhadap istrinya," Ujar Sasuke sambil menaruh telunjuknya di mulut Sakura. "Itu adalah tugas seorang guru terhadap muridnya yang bodoh untuk membimbingnya hingga lulus dan menggapai cita-citanya. Aku tidak akan membiarkan muridku yang manis ini terus berada dalam jurang kebodohan, apa itu salah?"
"Ya—"
"Yasudah, kita akan membuat makan malam yang spesial untuk merayakan nilaimu ini." Pekik Sasuke lalu bergegas ke dapur. Dapurnya tidak besar, malah cenderung minimalis. Hanya terdapat kompor gas dan lemari kecil diatasnya, dan letaknya tepat didepan pintu masuk, ciri khas apartemen.
"Ya—"
"Ya Ampun! Aku lupa kalau stok bahan makanan sudah habis," Ujar Sasuke yang sekali lagi memotong pembicaraan Sakura tanpa memikirkan perasaanya. "Aku akan ke supermarket untuk membeli bahan makanan, mau ikut?"
"Ya!" Ucap Sakura tanpa ragu, dia mengatakannya dengan tegas seolah-olah tidak ingin di potong kembali ucapannya.
.
.
.
"Buka buku catatan kalian dan buat tugas percakapan sepuluh baris dalam bahasa inggris , kumpulkan tiga puluh menit dari sekarang atau kau tidak akan pulang sebelum penjaga sekolah menutup gerbang sekolah." Perintah Sasuke no sensei.
"Eleh apa-apan, Baru mulai sudah mengerjakan tugas!"
"Guru sial!"
Seisi kelas pun berubah menjadi ladang umpatan kasar, sebelum Sasuke mengambil penggaris besinya dan memukulnya keras-keras ke atas meja. Kelaspun kembali hening layaknya lembah yang damai.
"Kuharap kau belajar lebih giat lagi sakura." Gumam Sasuke dengan timbulnya senyuman kecil di bibirnya.
"Sial kau sensei!" Umpat Sakura sambil menekan-nekan pulpen-nya ke buku catatan hingga tembus ke halaman selanjutnya. "Apakah ini caramu untuk menekanku dalam bahasa inggris? Pintar sekali."
Sakura dikenal bodoh dalam bahasa inggris, nilainya selalu berada di bawah lima bahkan menyentuh angka empat pun susahnya tak karuan. Pernah suatu ketika sensei memberikannya contekan dalam bentuk buku yang diberikannya secara diam-diam, namun Sakura tetap mendapat nilai merah karena dia tidak paham arti bahasa inggris.
"Cukup, kumpulkan sekarang!" Ucap Sensei Sasuke yang mengakibatkan kepanikan seisi kelas karena belum selesai menyelesaikan tugas yang diberikan Sasuke.
"Hhh.." Geram Sakura panik dan marah maksimal. "Apa yang mesti kutulis? Aku bahkan belum menulis satu percakapan pun!"
"Tiga, dua, satu cukup! Selesai tak selesai kumpulkan didepan!" Tegas Sasuke dalam memberi perintah. Selanjutnya terjadilah apa itu yang dinamakan 'Tsunami Manusia' menyerbu meja Sasuke.
"Hah .." Gumam Sasuke kecil yang hanya didengar olehnya.
A: What is your name?
B: My name is naruto
A: My name is uzumaki, nice to meet you
B: What is your name?
A: My name is uzumaki, what is your name?
B: My name is naruto
A: Nice to meet you, what is your na ...
Seketika Sasuke pun blushing dengan kepala tertunduk keras ke arah meja. Tidak dia sangka kalau Naruto lebih bodoh daripada yang dia perkirakan.
"Hiya! Sensei kenapa?" Ucap gadis yang duduk tepat di depan meja guru.
"Hahaha, tidak kenapa-kenapa kok Ino!" Jawab Sasuke dengan panik dan muka memerah menahan tawa. Dia lanjutkan kembali memeriksa buku catatan milik muridnya. Dia heran karena jawabannya rata-rata aneh dan tidak masuk akal, seperti milik Uzumaki Naruto.
"Hmm, mereka belum terbiasa melakukan percakapan dalam bahasa inggris. Aku maklum karena selama ini mereka hanya mengerjakan soal yang hanya melengkapi jawaban soal-nya saja. Tapi aku heran kenapa Sakura mendapat nilai jelek dalam soal itu dimana lainnya mendapat nilai bagus ..."
Sakura: Sensei, kenapa kau menikahiku?
Sensei: Aku ingin menjagamu dengan seluruh jiwa ragaku
Sakura: Apakah itu benar? Atau kau hanya ingin bermain-main saja denganku?
Sensei: Bermain-main? Bagaimana aku bisa tahan bermain-main denganmu dalam waktu satu tahun. Bukankah itu sudah dapat menjadi suatu jawaban?
Sakura: Tapi kenapa? Bukankah kau tampan dan jadi idola wanita?
Sensei: Lalu kenapa memangnya kalau seorang yang tampan dan di idolai wanita untuk memilih jalannya dengan menikahi gadis bodoh sepertimu?
Sakura: Tapi, tapi itu kan ...
Sensei: Tapi itu memang kenyataanya dan aku sangat mencintaimu, aku akan melindungimu dengan segenap diriku dan mengubahmu menjadi wanita yang tangguh, pintar, dan cantik.
Sakura: Aku sangat men -
Kalimat selanjutnya hanyalah coretan tak berarti. Sasuke tertegun dan hany a tertunduk setelahnya selepas membaca buku catatan itu, buku catatan milik istrinya
'Ya ampun,' Ucap Sasuke dalam hati. 'Kau masih memikirkan yang kemarin ya? Apa kau masih meragukanku?'
"Semuanya sudah ku nilai, sekarang Ino tolong bagikan buku ini pada yang lainnya." Ucap Sasuke sensei yang di jawab 'Yosh' oleh Ino.
"Selagi Ino sedang membagikan buku kalian, aku tugaskan kalian PR dirumah yaitu menulis kembali tugas kalian dengan panjang dua puluh baris, jangan sampai ngawur lagi seperti kali ini. Paham?"
Seisi kelas menjawab 'Paham' berbarengan.
Pernyataan 'Jangan sampai ngawur lagi seperti ini' dapat ketahuan jawabnya dari raut muka para siswa yang hampir sebagian menunjukan muka masam, apalagi Naruto yang memiliki percakapan paling parah. Rata-rata mereka mendapat nilai D atas tugas tersebut.
"Hah?" Gumam sakura ketika membaca kalimat yang ditulis sensei dalam buku catatan-nya
'Kau kira aku bakal memberi nilai bagus untuk tulisanmu ini? Jika mau menulis drama besok lakukan di pelajaran kesenian! Bukan di pelajaran bahasa inggris!'
"DASAR GURU BODOH!"
Teriakan Sakura seakan-akan ada seekor singa yang mengaum, membuat seisi kelas hening.
"Hoi, kenapa dia?" Tanya Shikamaru.
"Entahlah, mungkin itu yang disebut PMS." Jawab Kiba yang duduk disebelahnya.
"Dan juga hari ini," Ucap Sasuke datar namun berwibawa tanpa memperdulikan Sakura yang sedang liar maksimal mencaci-nya. "Kalian akan pulang lebih awal dikarenakan dewan guru akan mengadakan rapat, harap kalian langsung pulang kerumah. Mengerti?"
Kali ini seisi kelas yang tadinya hening karena amukan Sakura mendadak meriah bak Festival musim panas. Pulang cepat dihari senin sudah lama di yakini oleh para siswa sebagai mitos.
"Hoi, kalian mau main ke rumahku tidak? Aku kemarin baru beli game ero yang berjudul 'Teacher Please Fuck Me!"
"Apa-apaan kau Naruto!" Teriak Sakura dengan nada maksimal setelah mendengar bisik-bisik tentang game ero yang di bicarakan dengan kelompoknya. Selepas itu yang ada Naruto dan kelompoknya meninggalkan kelas dengan lebam di seluruh muka.
"Kau ingin pulang Sakura?"
"I-Iya Ino, eh maksudku tidak!" Kikuk Sakura menjawab pertanyaan Ino. "Kau pulang saja terlebih dahulu."
"Oh baiklah," Jawab Ino. "Mungkin kau lelah sehabis menghajar mereka, kalau gitu aku duluan Sakura!"
"Hati-hati di jalan!"
"Oke!"
Ino hilang ditikungan lorong yang panjang itu, membelok ke kanan menuju gerbang sekolah dan pulang. Ino dan Sakura memiliki arah rumah yang sama, sehingga tidak aneh kalau mereka pulang sekolah bersama-sama.
"Kenapa kau belum pulang Sakura?" Ucap pemilik suara dingin itu, berjalan mendekat menuju Sakura yang tengah berdiri di depan mejanya.
"Aku—"
"..."
"Aku takut kehilanganmu sensei!" Ucap Sakura sambil terisak. "Apakah aku bisa menjadi yang terbaik bagimu? Aku merasa bahwa sikapmu selama setahun ini hanyalah bentuk simpati kepadaku saja karena orang tuaku dibunuh oleh Yakuza!"
"Kau salah," Ucap Sasuke sambil merangkul Sakura dari depan. "Jika aku hanya bersimpati kepadamu aku tidaklah perlu melakukan hal sejauh ini, sudah aku bilang bukan semalam? Bahwa aku ini mencintai-mu, men-cin-ta-i-mu. Tak peduli kau sebodoh apa, namun kau selalu tersenyum dan berusaha tegar dihadapan adikmu. Sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya dalam hidupku, dan kau itu juga merupakan harta paling berharga yang kumiliki satu-satunya."
"Sensei ...,"
Kecupan di kening Sakura menjadi pertanda akhir dari pertemuan kali ini,mereka berjalan keluar kelas dan berpisah di ujung lorong sekolah dengan tujuan masing-masing. pasangan muda yang bakal menghebohkan seisi sekolah jika pernikahan guru-murid ini sampai bocor di khalayak ramai.
"Maafkan aku Sakura, mulai dari sekarang kehidupan kita bakal dipenuhi petualangan yang menyebabkan terbunuhnya orang tuamu." Gumam Sasuke yang tidak akan pernah didengar oleh Sakura.
