Husband (Teacher) And Wife (Student)
By : Yuna Mikuzuki
Rated : M
Genre : Romance & Family
Summary : Sakura seorang pelajar berumur 16, sedangkan Sasuke seorang guru berumur 21. Mereka dijodohkan sejak kecil dan menikah, namun mereka jarang akur dalam rumah tangganya. Bagaimana rumah tangga mereka nanti?
Ini fic ke 4 q. dari suatu pengalaman yang kutonton, tapi aq pnjam chara naruto, ya! Ada yang OC, tapi g masalah, khand?
Enjoy reading!
"OEEEEEEE!"
Di malam hari, tanggal 28 Maret dari ruang persalinan terdengar suara tangisan bayi yang amat kencang. Hana Haruno menangis bahagia mendapati dirinya telah melahirkan anak pertamanya. Anaknya perempuan berambut pink seperti dirinya. Pipinya gembul merah, wajahnya persis dengan dirinya. Namun sayang untuk dia, suaminya tak bisa melihat anak pertamanya karena dia tewas dalam kecelakaan pesawat.
"Hah, hah, hah…."
"Selamat, anaknya perempuan," ucap suster yang ikut menangani persalinan tersebut. Tak dapat ditahan oleh Hana, kini ia mendekap anaknya yang masih rapuh, sudah tidak menangis lagi. Anaknya telah dimandikan dan diselimuti dengan selimut pink kecil.
"Selamat, Hana. Bayimu manis sekali," ucap seorang pria tua, namun masih sehat. "Terima kasih, Madara-sama," kata Hana sambil mengecup dahi anaknya yang masih tertidur. Matanya tertutup rapat dan hanya mengerang sedikit karena menerima kecupan dari ibunya.
"Jadi, siapa namanya?" tanya Madara.
"Sakura, Sakura Haruno."
"Hmm… nama yang bagus, cocok untuknya,"
16 tahun berlalu, Sakura tumbuh menjadi anak yang periang dan cerdas, meskipun sedikit bandel. Dia adalah ketua genk seluruh anak perempuan di sekolahnya. Dia tidak segan-segan menghajar seorang lelaki. Terserah siapapun lawannya.
"Sakura, ayo bangun!" panggil ibunya dari bawah. "Ngghh…" Sakura hanya mengerang dan mengucek matanya. Suara ibunya terdengar dari bawah. Dan Sakura langsung menuju pintu kamar mandi.
Selesai ritual dari kamar mandi, Sakura langsung memakai baju sailor-nya dan turun dari kamarnya. Dia menuju ruang makan dan segera melahap roti yang disiapkan oleh ibunya. Hana sedang menyiapan susu untuk anak tercinta. Selesai dibuatnya, langsung diberikan pada Sakura. Dan Sakura menerimanya setelah makan. "Sakura, jangan berbuat yang macam-macam lagi, ya. Ibu tidak mau dipanggil ke sekolah lagi kalau kamu nakal," nasihat Hana. Rupanya Sakura memang anak bandel.
"Tenang saja, Kaa-san! Aku janji tidak akan membuat masalah lagi," sahut Sakura sambil mengangkat tangannya kanannya dan membentuk tanda peace dengan jari telunjuk dengan tengahnya. Hana hanya menghela napas mendengar anaknya yang selalu bersemangat.
"Ya, sudah. Janji, lho. Lihat sudah jam setengah tujuh, berangat sana!" perintah Hana sambil membawa tas sekolah Sakura. "Ya, aku pergi dulu, ya!" kata Sakura sambil melambikan tangannya.
"Haaah… anakku itu, bagaimana jika Madara-sama tahu…." gumam Hana pelan sambil menaruh telapak tangannya di bwah pipi kanannya..
Tidak kurang dari setengah jam, Sakura sampai di sekolah. Sakura mendapat tatapan takut dan kagum dari para siswa-siswi di sekolahnya. Sakura 'kan terkenal nakalnya. Sakura berjalan biasa melewati koridor dan sampai di kelasnya, 1-4.
GREEEKK
"Selamat pagi!" salam Sakura riang. Sakura langsung masuk dan duduk di mejanya yang paling belakang pojok kanan dekat jendela. Ketiga sahabatnya, Ino, Hinata, dan Tenten lagsung menerjang Sakura dan memeluknya dari belakang. "Sakuraaa!" teriak Ino.
"Waa! Ino, jangan mengangetkanku!"
"Gomen, gomen. Oh, ya. Aku dengar katanya ada Guru baru menggantikan guru Kakashi. Dan dia masih mahasiswa! Katanya sih Guru Magang, tapi masih muda, lho!' beritahu Ino semangat. "Benarkah? Siapa namanya? Tumben-tumben ada Guru Magang di sekolah ini," kata Sakura.
TENG TENG TENG
Bel telah berbunyi, menandakan kelas akan dimulai. Semuanya duduk tepat pada tempat duduknya masing-masing. Dan seorang guru pun datang.
GREEEKK
Mata para siswi membelalak. Gurunya tinggi, rambutnya hitam mencuat ke belakang, pakai kacamata, jas hitamnya pun rapi mengenakan dasi. Wajahnya pun, waow! "Namaku Sasuke Uchiha, Guru Magang yang akan menggantikan guru Kakashi. Kuharap kalian dapat menyimak pelajaranku dengan baik," ucapnya ringan.
Para siswi hampir pingsan. Wajah mereka memerah. gurunya ganteng sekali! Masih muda. Akhirnya Sasuke memulai pelajarannya. Belajar matematika. "Psst, psst, Sakura," bisik Ino sambil menutup mukanya dengan buku. "Ada apa. Ino?"
"Gurunya tampan, lho! Sasuke-sensei keren!" bisik Ino tersipu. Sakura hanya menghela napasnya dan kembali menyimak pelajaran yang diberikan Sasuke. Tiba-tiba ponsel Sakura bergetar, menandakan ada pesan masuk untuknya. Rupanya dari Ino. Sakura hanya sweatdropped melihat pesan yang ditulis Ino. Ino hanya menulis tentang guru baru itu, Sakura hanya menghela napas panjang, dan itu terdengar oleh Sasuke.
"Hei, yang pojok kanan belakang. Sedang apa?" tanya Sasuke dengan penekanan dalam pertanyaannya. Sakura tersentak kaget dan buru-buru menaruh ponselnya dalam kolong meja. Sasuke berjalan mendekati Sakura dan merogoh-rogoh kolong meja Sakura.
"Tu-tunggu! Sensei sedang apa?" tanya Sakura bingung. Sasuke tak menggubris dan tangannya mengenai ponsel Sakura. Sakura menelan ludah dan terkesiap ketika ponselnya dibuka.
"Apa ini?" tanya Sasuke sambil memegangi ponselnya ditunjukkan pada Sakura. Sakura hanya menundukan kepalanya ke bawah. Tak berani meilhat tatapan seram Senseinya. "Kutanya, apa ini?" ulang Sasuke marah. Sakura masih menunduk, namun menjawab, "po-ponsel…"
"Lalu, kenapa kau mainkan ponselmu saat pelajaran?" tanya Sasuke. Sakura ingin menangis, tapi masa' nangis di kelas? Saat pelajaran, pula. Sasuke menghela napas panjang dan menaruh ponselnya di atas meja Sakura. Sakura terkejut mendapati ponselnya kembali. Sakura melihat Sensei-nya berjalan menjauhinya. "Karena ini hari pertamaku, aku maafkan. Tapi kalau kau ulangi lagi, apalagi saat pelajaranku, ponselmu akan kusita," kata Sasuke sambil menulis lagi di papan tulis.
"Uuukh! Apaan, sih Guru baru itu! Padahal Cuma Guru magang, tapi sok-nya selangit!" dengus Sakura kesal sambil meminum susu kotaknya dengan sedotan kecil. Mereka berempat sedang menikmati waktu istirahatnya di atap. "Gomen, Sakura. Aku tidak menyangka bahwa indra pendengaran Sasuke-sensei tajam," kata Ino sambil tertawa kecil. "Ino, ini 'an salahmu. Untung tadi Sasuke-sensei tidak membaca pesanmu tadi!" gerutu Sakura menjadi-jadi. "Sa-Sakura-chan, sudahlah. Yang penting 'kan ponselmu tidak diambil, bukan," kata Hinata lembut. Sakura hanya menghela napas panjang dan membuang susu kotanya.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi," ucap Sakura.
Mereka bertiga hanya menangkat bahu mereka.
Sasuke melihat mereka turun dari atap. Namun Sasuke hanya melihat Ino, Hinata, dan Tenten yang keluar. Setelah beberapa menit, Sakura yang turun. Lalu Sasuke naik ke atap dan memeriksa atap sekolah. Ia menemukan sesuatu dan matanya membulat.
Keempat sahabat itu sdeang berbincang-bincang ria di dalam kelas. Sasuke membuka pintu kelasnya dengan kasar, dan langsung berjalan menuju Sakura. Sakura mendongak ke atas.
"Haruno, ikut ke ruang Kepala Sekolah," suruh Sasuke.
"Ke-kenapa? Aku tidak berbuat nakal atau onar."
"Ikut saja," Sasuke langsung menarik lengan Sakura dan keluar dari kelasnya.
TOK TOK TOK
"Ya, masuk."
Sasuke membuka pintu ruang Kepala Sekolah dan di sana sudah menunggu wanita cantik berambut pirang denga nama yang ada di meja kepala sekolah 'Tsunade'.
"Saya sudah membawa Sakura Haruno," kata Sasuke sambil mendorong Sakura menghadap Kepala Sekolah. "Maaf, ada apa, Bu Kepala Sekolah?"
Tsunade mengeluarkan sesuatu. Dan sesuatu itu…
"A-apa?"
TBC
Yup, bagaimana tntang fic ini? Apa kecepetan?
Well, seperti biasa, REVIEW!
