CHAPTER ONE:

SEHARI BERDEBAT TERUS

"Sakura, tunggu!" teriak Chun-Li-san sambil terus mengejarku.

Kuhentikan langkahku, begitu juga dengan Chun-Li-san, ia terlihat capek karena habis mengejarku.

"Kenapa, Chun-Li-san?" tanyaku.

"Hmph...aduh...capek tau! Kamu aku panggil-panggil dari tadi sambil lari-lari tapi kamunya nggak dengerin, kamu tuh kenapa sih!" kata Chun-Li-san sewot.

"Aduh ya maaf deh Chun-Li-san, abisnya nggak denger, anak-anak pada rame sorak-sorak dukungin timnya masing-masing," kataku sambil memberikan air mineralku pada Chun-Li-san. Langsung diteguknya air mineral itu sampai tandas. Yah...nggak masalah ntar kan bisa beli di kantin, kasihan Chun-Li-san.

"Makasih ya," katanya sambil memberikan botol bekas air mineral itu.

"Buang ajalah, kan udah abis, lagian kalo botol bekas air mineral dibuat untuk minuman lain kan nggak baik," kataku sambil menggandeng tangan Chun-Li-san.

"Iya ya, betul juga kamu," ia langsung melemparkan botol bekas itu ke tempat sampah.

"Emang ada apa sih dari tadi manggil aku terus?"

"Ngg...kamu udah baca Harian Asahi kemarin?"

"Belum, kemarin nggak baca apapun seharian, gara-garanya disuruh bantu ayah untuk nganterin pesanan sukiyaki ke orang-orang, sampe malam lagi!"

"Oh...gitu ya. Soalnya gini, kita bakalan rapat sepulang sekolah nanti, kamu jangan pulang dulu ya?"

Aku bingung dengan apa yang dikatakan Chun-Li-san, "Chun-Li-san nggak nyambung banget, apa hubungannya Harian Asahi dengan rapat?"

"Ada kok! Ehm...gini, kemarin ada salah satu berita di koran itu yang bikin aku terkejut, katanya...Juni, cewek yang berhasil kita bawa kabur dan kita pertemukan dengan ibunya itu ternyata belum sadar juga dari pengaruh Psycho. Kemarin Sabtu ibunya tewas di tangan Juni, dan dia pergi bersama orang aneh," jelas Chun-Li-san panjang lebar.

Aku terkejutnya bukan main mendengar berita itu, "Hah! Yang bener aja kamu, kayaknya kita baru seminggu yang lalu berhasil bawa kabur dia, nyadarin dia, terus mempertemukan dia dengan ibunya deh...masa' dia belum sadar juga? Bukannya kertas pengusir setan milik Chizuru kemarin sudah ditempelkan persis di dahinya?"

"Aku juga heran, gimana bisa hal itu terjadi? Padahal kertas pengusir setan itu sudah kutempelkan di dahinya. Baru kali ini ramuan Chizuru gagal total, padahal sebelumnya ramuan-ramuannya selalu berhasil," kata Chun-Li-san sambil bertopang dagu.

"Berarti serangan kita ke markas Shadow Breaker yang di Bangkok itu sia-sia...berarti kita harus rapat lagi dong? Baru refreshing kok sudah rapat lagi, capek..." keluhku.

"Iya, aku juga capek..." keluh Chun-Li-san juga.

"Aku ke kelas 2-C dulu ya? Aku ada perlu sama Ken-san, ntar aku balik ke sini kok, atau kalo Chun-Li-san lapar ya boleh ke kantin."

"Ok deh."

"Ken-san...lagi sibuk nih..." sapaku.

"Eh Sakura, tumben ke kelasku? Aku lagi baca Breaking Dawn nih," balas Ken-san.

"Emang nanti pulang skul langsung rapat ya? Katanya membicarakan berita yang di Harian Asahi kemarin," tanyaku.

"Iya, soalnya ini kasusnya berat banget, kayaknya harus melibatkan semua anggota U.S.H., makanya jangan pulang dulu," jawab Ken-san sambil membalik halaman berikutnya.

"Kayaknya nggak sampe' melibatkan semua anggota U.S.H deh Ken..." sahut Charlie.

"Ya jelas melibatkan lah! Gimana sih kamu itu!"

"Berarti anggota lama juga diikutkan?"

"Ya jelas lah Nasshu..."

"Aku heran banget, baru kali ini ramuan Chizuru gagal, padahal dia kan selalu berhasil," sahutku.

"Itu karena Psycho Powernya tambah kuat, jadinya ramuan Chizuru gagal. Setahuku yang bisa menghancurkan Psycho Power jika dilawan dengan Psycho Power juga," ujar Charlie.

"Siapa di antara anggota U.S.H. yang memilikinya? Nggak mungkin! Bahkan kita sudah kehilangan Ms. Rose, pembimbing U.S.H. satu-satunya. Ia meninggal setelah Bison mengambil Psycho Powernya dan membunuhnya," sahut Guy.

"Ehm...maaf, yang kemudian mayatnya dibuang di sekitar hutan tropis itu 'kan?" sahutku.

"Kan kemarin sudah dibawa pulang ke sini dan dimakamkan di Pemakaman Umum," jawab Ken-san.

Aku mengangguk mengerti,"Masa'? Oh... pantesan... kemarin aku lihat ada peti di helikopter, ternyata itu toh..."

"Nah betul kan apa kataku? Kamu sih nggak percaya! Padahal omonganku bener!" kata Guy.

"Kalo si pembohong besar yang bilang jelas aku nggak percaya lah! Kalo yang ngomong orangnya jujur sudah pasti aku percaya, betul kan Ken-san?"

"Dari tadi sama Ken mulu ngomongnya, ntar dilabrak Eliza baru tau rasa kamu! Jangan-jangan kamu suka ya?" ledek Charlie.

"Eh four eyes, jangan sembarangan bicara ya...sejak kapan aku suka Ken-san, hah? Kan aku sudah bilang kalo aku cuma suka sama Kyosuke!" balasku.

"Sakura, aku baru ingat nih! Kemarin Kyosuke cerita sama aku kalo dia suka sama kamu lho..." sahut Guy.

"Lagi-lagi si pembohong besar yang bilang, nggak percaya!" gerutuku.

"Sakura...yang dibilang Guy itu bener semua lho...sekarang Guy belajar jadi orang jujur," kata Ken-san.

"Hah? Plis deh, mau jadi jujur aja belajar, mending dia sendiri yang berusaha nggak jadi pembohong lagi!" kataku.

"Penyakit bohongnya nggak bisa diilangin, makanya dia harus belajar," sahut Charlie.

"Iya, dia kerjaannya nyontek si Terry mulu kalo ulangan, kalo nggak gitu buka buku diam-diam, itu bohong kan namanya?" tambah Ken.

"Eh udah ya aku nggak bisa lama-lama di sini, ntar deh diterusin saat rapat, ok?" kataku sambil segera keluar dari kelas yang penuh dengan cowok ganteng itu.

"Sorry ya Chun-Li-san kalo aku udah bikin kamu nunggu lama."

Chun-Li-san langsung sewot, "UUUH! Gimana sih kamu itu, katanya nggak bakalan lama, aku nunggu kamu selama satu jam nih!"

"Aduuh...plis dong dikit-dikit jangan sewot kenapa sih..." gerutuku.

"Emang tadi ngomongin apa aja sih kok selama itu?" tanya Chun-Li-san.

"Tentang berita yang di Harian Asahi kemarin itu," jawabku.

"Berarti ntar nggak jadi rapat kan?" tanya Chun-Li-san sambil memegang pundakku tiba-tiba dan memandangku dengan tatapan aneh. Aku gemetaran, "Hiii...Chun-Li-san pandangannya aneh banget...takut nih, biasa aja deh..."

"Oh ya, maaf. Ntar nggak jadi rapat ya berarti?" Chun-Li-san melepaskan pegangannya.

"Rapat tetep dijalankan lah..." jawabku sambil membenahi bandanaku yang lepas.

"Aduuuh...ntar salonku nggak buka-buka nih..." keluh Chun-Li-san.

"Paling-paling yang jaga ya si kembar," celetukku.

Chun-Li-san terbelalak, "Hah! Wah jangan, jangan! Mereka nggak tau cara potong rambut sesuai model dan cara perawatannya! Kalo mereka yang jaga salon bisa-bisa kacau!"

Aku kesal melihat tingkah laku Chun-Li-san, "Duuuuuh! Bisa nggak sih nggak lebay gitu? Biasa aja deh!"

Chun-Li-san terdiam.

"Lebay banget sih jadi orang! Bikin kesel aku aja," gerutuku.

"Maaf deh, janji deh aku nggak bakalan lebay lagi...aku akui aku memang lebay..." Kata Chun-Li-san. Aku cuek saja.

"iiih...kok dicuekin sih?"

"Abis kamu sih, lebay...jangan gitu dong, Ryu-san nggak suka sama cewek lebay lho, dia itu cowok bersahaja! Ingat-ingat itu kalo kamu masih suka sama Ryu-san."

"Iya, iya..."

"Nah gitu dong...ya udah yuk ayo ke kantin."

Sambil jalan ke kantin, aku menceritakan hal yang kubicarakan dengan anak-anak kelas 2-C tadi, "Aku tau kok penyebab kegagalan ramuan Chizuru itu. Tadi kita sempet bahas itu, dan memang Psycho hanya bisa dihancurkan dengan Psycho."

"Di sini mana ada yang punya kekuatan itu? Hanya Shadaloo dan Shadow Breaker yang memiliki itu, orang lain nggak ada yang punya kan?" tanya Chun-Li-san.

"Ada kok!" jawabku dengan yakin.

"Masa'? Siapa?"

"Athena...ya, Athena! Dia kan Psycho Soldier."

"Tapi mungkin aja beda kekuatannya."

"Dicoba aja, mungkin bisa."

"Hah! Yang bener aja kalian berdua! Dia kan sudah tambah kuat gara-gara dia ngambil Psycho milik Ms. Rose, mana mungkin aku bisa ngelawan!" kata Athena.

"Tapi kita butuh kamu, Athena...ramuan Chizuru udah gagal total nih! Kita hanya bisa minta tolong kamu, karena kamu satu-satunya yang memiliki Psycho itu. Tolong bantuannya ya?" pinta Chun-Li-san.

Athena terkejut, "Apa? Ramuan Chizuru gagal? Bagaimana bisa?"

"Karena Psycho kan hanya bisa dilawan dengan Psycho," kataku.

"Itu kata si Nash kan? Dasar sok, mentang-mentang anak paling brillian di sekolah jadi sok kayak gitu! Sudahlah, kita nanti ke rumah Chizuru saja jam 3 sore, kita minta penjelasan ke dia apa benar Psycho hanya bisa dilawan dengan Psycho. Dan asal kalian berdua tau aja ya, yang punya kekuatan itu nggak Cuma aku, tapi Kensou! Ok, sekarang aku mau ke kelas, sampai bertemu jam 3 sore nanti," ujar Athena sambil berlalu pergi.

Chun-Li-san kebingungan, "Gimana nih? Bisa-bisa salonku nggak buka deh...tapi nggakpapa, mending hari ini ditutup dulu aja, ini demi Juni."

"Kenapa nggak diserahkan ke Cammy aja?" tanyaku.

"Dia kan ikut rapat juga...pokoknya nggak bakalan aku serahin ke si kembar!" jawab Chun-Li-san.

"Chun-Li-san, kalo misalnya mereka berdua kamu ajarin ilmu-ilmunya, pasti mereka berdua bisa jaga salon dengan baik kok."

"Hmm...kamu bener juga. Tapi siapa yang mau jadi bahan percobaan? Aku? Bisa-bisa rambut buat hair extensionnya habis... Ya udah deh dicoba aja besok, soalnya si kembar sibuk bantu kakek ngurus restoran hari ini."

"Berarti si kembar bolos sekolah dong?"

"Nggak apa-apa kan? Mumpung nggak ada pelajaran."

Tak lama kemudian pesananku datang.

"Duh, lama banget sih pak, saya udah lapar dari tadi," gerutuku.

"Ya maaf...maklum, saya nggak punya pegawai satupun," kata bapak pemilik kantin itu.

"Kan biasanya ada istrinya bapak, sekarang ke mana pak?" tanya Chun-Li-san.

"Lagi ngasuh anak tetangga, Non, soalnya ortunya pergi ke Kyoto," jawab bapak itu.

"Oh...gitu ya," aku mengangguk mengerti.

"Silahkan dinikmati," kata bapak itu sambil pergi.

Karena sudah tak bisa ditahan lagi laparnya, aku segera menyantap ramen itu.

"Eh Chun-Li-san, ngurus anak tetangga itu merepotkan nggak sih?" tanyaku.

"Hmm... kalo aku sih tergantung anaknya nakal apa nggak, kalo nakal ya agak-agak merepotkan, kalo anaknya penurut dan baik tapi ada nakalnya dikit ya nggak masalah. Ngurus anak tetangga itu butuh kesabaran yang extra lho!" jawab Chun-Li-san sambil sms-an.

"Emang Chun-Li-san sendiri sudah sering ngurus anak tetangga?"

"Yang sering ngurusin anak kecil si Cammy, aku kan tiap hari jaga salon sama kak Fei-Long. Iya juga sih, dikit-dikit bantuin Cammy ngurusin anak kecil. Cammy itu suka banget sama anak kecil. Kalo misalnya dia ngurus anak tetangga ketika ortunya sedang pergi, dia mesti ke toko buat beli camilan dan makanan. Terus masalah ngurus anak yang masih bayi atau balita gitu pinter banget! Aku sampai iri."

"Emang Chun-Li-san sendiri nggak ramah ya sama anak kecil?"

"Siapa bilang? Asal kamu tau aja ya, anak-anak tetangga sebelahku jadi pinter kungfu gara-gara kuajari kok! Biasanya kalo Minggu kan salonku tutup, jadi aku gunakan waktu senggangku buat ngajarin anak-anak tetangga kungfu. Kan nggak enak kalo punya ilmu disimpan sendiri."

"Oh ya, kabarnya Fei-Long-san gimana? Sekarang jarang keliatan di sekitar sekolah. Biasanya kan dia jemput kamu sama Cammy pulang."

"Dia pulang ke Hong Kong mau ngelarin kuliah. Kalo kuliahnya udah kelar, dia bakal balik lagi ke sini bantuin kakek mengelola restoran."

"Ok, rapat dimulai! Ada yang nggak hadir hari ini?" kata Ken-san.

"Kayaknya si Hayato nggak hadir deh," sindirku.

"Heh, aku yang duluan datang ke sini!" kata Hayato membela diri.

"Kalian ini bercanda aja, waktunya serius!" bentak Ken-san.

"Nihil, Ken, semua pada masuk," kata Kyosuke.

"Terus Karin mana?" tanya Ken-san.

"Bukannya udah dikeluarkan gara-gara mengkhianati kita? Gimana sih kamu itu?" sahut Terry.

"Dia kumasukkan lagi," jawab Ken-san. Aku terkejut, "Yang bener aja Ken-san! Masa' pengkhianat masuk ke sini lagi! Bisa-bisa..."

"Dia kumasukkan ke sini lagi bukan berarti aku memasukkannya jadi anggota! Kalau dia kumasukkan jadi anggota organisasi ini lagi, mungkin aku sudah menyuruh Kyosuke mencatat namanya kemarin!" Potong Ken-san.

"Terus tujuannya apa?" tanya Charlie.

"Aku akan menyuruhnya menceritakan apa saja rencana orang-orang bejat itu untuk menghalangi kita supaya kita tidak bisa mengambil Juli dan Juni," jawab Ken-san.

Aku kurang setuju dengan apa yang dikatakan Ken-san, "Kenapa harus dengan Juli juga? Lagian kalau kita bawa dia kabur dari sana, bisa-bisa dia seperti Juni dan Cammy bisa diculik, bukannya ia bertugas menangkap Cammy yah?"

"Iya Ken, aku nggak setuju sama pendapatmu. Cammy udah nyaman hidup di sini. Emang kamu nggak suka Cammy jadi orang baik? Kamu mau dia jadi pembunuh berdarah dingin seperti dulu lagi?" tambah Chun-Li-san.

"Eits...jangan berpikiran kayak gitu dong... gampang, kan ada Chizuru," kata Ken-san dengan entengnya.

"Dasar, ketua macam apa kamu, selalu saja menggampangkan, jelas-jelas ramuan Chizuru gagal total dan Juni kembali ke organisasi biadab itu, masih saja menggampangkan!" bentak Millia sambil menggebrak meja.

"Iya nih, kalau nggak niat jadi ketua berhenti aja, mending aku yang jadi!" tambah Ky.

"Wah jangan kamu, Ky! Kamu kan sudah jadi ketua OSIS, bisa-bisa tugasmu tambah berat!" sergah Terry.

"Nggak apa-apa, aku suka banget jadi ketua," kata Ky dengan entengnya.

"Mending Terry yang dinaikkan jabatannya jadi ketua U.S.H., gimana?" usul Charlie.

"Sorry, aku nggak suka jadi ketua, mendingan kamu aja deh Nasshu, kamu kan tegas," tolak Terry dengan mentah-mentah.

Kyosuke mencoba menenangkan suasana, "Eits...tenang dulu kawan-kawan...kalau mau milih ketua baru yang bener dong, nggak kayak gini caranya! Mending pilih empat orang, terus kita voting, gimana?"

"Eh, tapi kalo pemilihan ketua U.S.H. bukannya harus melibatkan satu sekolah?" tanya Charlie.

"Waduh...repot bener nih kalo nggak ada Ms. Rose," celetukku.

"Iya, repot banget! Coba kalo Ms. Rose masih hidup, mungkin kita nggak bakalan kerepotan seperti ini," tambah Cammy.

"Eh, coba ya Ken kalo kamu itu tegas, mungkin U.S.H. nggak kacau balau kayak sekarang," kata Charlie.

"Kita mesti minta bantuan kak Leona!" Usulku.

"AAAAH! Rumit amat sih masalah ini, udah masalahnya Juni muncul lagi, ditambah U.S.H. terancam bubar! Huh..." keluh Ken-san.

"Itu karena ketidakbecusanmu dalam menjalankan tugasmu sebagai ketua," kata Millia.

"Gini aja deh, mendingan kita besok rapat lagi tapi dengan Leona-san, ada yang punya nomor hpnya Leona-san?" usul Hayato.

Semua menggeleng.

"Terus gimana dong? Masa' kita nggak rapat lagi? Bisa-bisa terancam hancur organisasi ini, dan citra sekolah kita bisa..." kata Hayato.

"Sebentar, Hayato! Besok lusa aja rapatnya, besok kan kita lomba dance, dan kita semua tampil dance, mana mungkin kita rapat? Kan udah capek abis ngedance," potong Ryu.

"Hmm...okelah kalo gitu. Kalo nggak ada yang punya nomor hpnya, siapa yang punya facebook atau friendster atau twitternya?"

Semua mengacungkan tangannya.

"Nah yang ini baru mengacungkan tangan semua...emang kalian sering komunikasi sama kakak-kakak kelas pakai 3 situs jejaring sosial itu?" tanya Hayato.

"Friendster kan sekarang udah nggak jaman...kalo facebook sih sering, tapi kalo twitter aku nggak tau," sahut Ky.

"Cuma si Nasshu yang punya twitter," tambah Terry.

"Tapi jarang kubuka, aku malas membukanya, lebih interesting ke facebook," kata Charlie.

"Memang temanmu berapa di facebook?" tanya Ky.

"Masih 4.000 teman," jawab Charlie.

"Waaah...banyak banget tuh...aku jadi iri." Kata Ky.

"Emang temen kamu berapa?" tanyaku.

"Masih 900 teman...menyebalkan, nggak ada yang confirm requestku..." jawab Ky.

"Kita senasib dong Ky, temanku masih 889 orang," ujar Ryu-san.

"Tau nih, kawan-kawan temennya udah ribuan," gerutu Ky.

"Sakura, temen kamu berapa di facebook?" tanya Ryu-san.

"Hampir dua ribuan, sekarang ini masih 1.980 orang," jawabku.

"Kamu tiap hari main facebook ya? Aku sering baca statusmu kalau aku sedang online," tanya Millia.

"Iya, sehabis belajar biasanya main internet di hp, abis malas ke warnet sih..." Jawabku.

"Berarti kamu kalau download ya di hp dong?" tanya Cammy.

"Ya nggak lah! Kalau aku sedang online di hp biasanya Cuma buka situs jejaring sosial aja, nggak pernah buka website lain," jawabku sambil melepas bandanaku.

"Tumben bandananya dilepas...emang memperjelek penampilanmu ya?" ledek kak Vanessa.

"Ih nggak kali...kepalaku kan capek kalau bandananya kupakai terus! Rambut kok warna merah, ketumpahan darah ya?" balasku.

"Ih, risih tau! Ngapain sih kamu hubung-hubungin warna rambutku sama barang kesukaan cowok memuakkan itu?" tanya kak Vanessa dengan culas. Cowok memuakkan yang dimaksud kak Vanessa adalah Vega, matador ganteng yang plin-plan yang sekarang menjadi tangan kanan Bison dan Sadler. Meskipun ganteng, tapi tak ada satupun fighters yang mau berteman dengannya, apalagi berpacaran. Yang mau berteman dengannya hanyalah Sagat dan Balrog, dua orang yang menurutku lebih memuakkan daripada Vega. Mengapa plin-plan? Karena siangnya dia jadi orang baik, tapi malamnya berubah jadi orang vomitus dan violent alias memuakkan dan keras, ia suka membunuh orang dengan sadis menggunakan cakar besinya. Yang membuat kak Vanessa sangat membenci Vega adalah karena ia adalah penyuka darah, setiap ada darah mengalir di cakar besinya sehabis bertarung atau membunuh orang, ia jilat darah itu, menjijikkan bukan? Sekali lagi kukatakan, siapapun takkan mau berpacaran dengannya, termasuk aku! Kan seorang cewek nggak suka sama cowok yang plin-plan, apalagi cowok ngeres kayak dia. Ia sangat tergila-gila pada perempuan yang cantik dan ia juga suka pada gambar-gambar yang membuat cewek-cewek muntah dan membuat hidung cowok-cowok mimisan itu.

"Idiih...gitu aja sewot. Maklumlah tante-tante zaman sekarang, sukanya sewot!" ledekku lagi.

"Eh berani banget kamu panggil aku dengan sebutan tua itu! Kamu itu cowok apa cewek sih, rambut kok cepak gitu!" balas kak Vanessa.

"Eh siapa bilang sebutan tante itu sebutan tua? Buktinya perempuan yang masih muda ya panggilannya tante. Eh terserah aku dong, rambutmu juga cepak gitu!" aku balik membalas.

"Tapi kan nggak super cepak kayak kamu!" kak Vanessa balik membalas pula.

"Lebih keren kalau super cepak tau!"

"Apa kerennya sih potongan model Lady Die itu!"

"Ya jelas keren lah! Dan itu bisa membuat seseorang menjadi lebih nyaman...daripada kakak, rambutnya cepet panjang, ntar capek ikat rambutnya kalau diikat-ikat terus!"

"Uh, kamu ini nakal!"

"Biarin, nakal kan boleh asal nggak keterlaluan dan nyusahin orang!"

"Heh, main ledek aja, niat rapat apa nggak sih!" gertak Kensou.

"Ketuanya aja nggak niat, ya udah kita juga nggak niat!" kata kak Vanessa.

"Nggak minta tolong Devil May Cry aja?" tanyaku.

"Buat apa, kan mereka sudah menyelesaikan tugas mereka yaitu membunuh Alan Rowell, perusuh yang hobi menciptakan para devil itu," jawab Kensou.

"Heh, gak nyambung tau! Kita kan nggak ikut dalam acara membunuh perusuh itu! Dasar gak nyambung, Mikir dulu kalo mau ngomong!" kata Kyosuke.

"Tapi tunggu, kalau nggak salah kemarin lusa aku baca Harian Asahi, katanya sih perusuh itu hidup lagi," ujar Hayato.

"Oh...yang beritanya Pencipta Devil Mengacau Lagi itu? Mana mungkin Alan hidup lagi, bukannya Dante sudah membunuhnya? Sudah kamu baca isinya belum?" tanya Kyosuke sambil membenahi kacamatanya.

"Cuma setengahnya saja, habis saat sedang enak-enaknya baca, ibuku menyuruhku mengurus adikku sih...karena ibuku pergi ke Sydney selama 4 hari. So, aku nggak bisa baca koran soalnya aku takut korannya disobek adikku. Aku sebel, kenapa adikku nggak sekalian diajak juga, huuh...sebetulnya sih ingin bolos, tapi karena kamu SMS aku kalau ada rapat, ya sudah aku memutuskan untuk menitipkan adikku di rumahnya pak Hideo aja," jawab Hayato dengan cemberut.

"Hah, Pak Hideo? Memang dia sedang libur? Dia kan harusnya masuk kerja," tanyaku heran.

"Hahaha, kamu ini...istrinya kali yang jagain...ngapain Pak Hideonya..." jawab Hayato diselingi tertawa.

"Ibu, aku berangkat ya!" pamitku pada ibu yang sedang sibuk mengurus Tsukushi.

"Mau ke mana, Nak?" tanya ibu.

"Mau ke rumahnya Chizuru," jawabku sambil mengeluarkan dan membunyikan motorku.

"Ngapain, Ibu sudah..." Kata-kata ibu kupotong, "Bukan itu tujuannya, bu, tapi ternyata masalah kemarin belum selesai, ibu baca Harian Asahi kemarin nggak?"

"Sudah, memang kenapa?"

"Ibu baca yang...kalau tidak salah beritanya seorang gadis membunuh ibunya sendiri dan pergi bersama pria aneh, kalau tidak salah gadis itu seusia denganku dan rambutnya mirip Rei Ayanami, tokoh kartun yang disukai Tsukushi itu lho bu! Cuma rambut gadis itu pirang."

"Hmm...oh ya, ibu baca, kalau tidak salah nama gadis itu Juni kan?"

Aku mematikan motorku dan kembali masuk ke rumah karena ibu ingin tahu berita itu.

"Iya, ibu betul. Padahal kemarin Chun-Li-san sudah menempelkan kertas pengusir setan milik Chizuru di dahinya, tapi gagal, terus kata Nasshu Psycho hanya bisa dilawan dengan Psycho. Nah, untuk kejelasannya, aku, Athena, dan Chun-Li-san harus pergi ke Chizuru." Aku segera bangkit dari tempat dudukku.

"Aku berangkat dulu bu," pamitku.

"Iya nak, hati-hati ya!" kata ibu.

"Tapi jangan lupa, jam 5 kamu harus pulang, karena ibu akan pergi ke stasiun untuk jemput ayah. Ingat, Tsukushi sakit!" tambah ibu.

Tanpa babibu lagi, aku langsung membunyikan motorku dan pergi.

Saat di perjalanan, tiba-tiba hpku berdering, ada telepon dari nomor yang tidak kuketahui.

"Halo?"

"Ini aku Athena, bener ini nomornya Sakura?"

"Iya, kamu ganti nomor lagi?"

"Nggak, ini telepon umum yang kupakai. Maaf ya aku hari ini pergi ke Hongkong, mau ke rumah kakekku yang di sana, dan aku menginap di rumahnya selama 2 minggu, jadi yang ke sana kamu sama Chun-Li aja."

"Nggakpapa, iya deh, ntar kalau udah jelas aku kasih tau hasilnya."

"Tapi kan aku di luar Jepang, mana bisa?"

"Kamu di sana online nggak?"

"Ngg...lihat-lihat dulu aja deh..."

"Oh...gini, nanti habis ke Chizuru aku mau ke internet cafe, nanti hasilnya kutulis di Wallmu, ok?"

"Hmm...ok deh. Udah dulu ya, aku udah nyampe bandara nih, Bye."

"Bye."

Setelah mematikan hpku, aku langsung jalan lagi.

Ketika sudah dekat dengan rumah Chizuru, tiba-tiba mesin motorku berhenti.

"Sial! Pake acara mogok lagi, uuh...lupa isi bensin kali ya? Untung aja udah deket rumahnya Chizuru, kalo jauh gimana!"

Aku membawa motorku sambil berjalan. Setelah kuparkirkan di depan rumahnya dan kukunci motornya dengan pengunci praktis pemberian Charlie, aku langsung mengetuk pintu. Tak satupun yang membukakan pintunya. Kuketuk sekali lagi, tak dibuka lagi. Aku heran, ke mana sih orang ini, biasanya sore-sore begini kan melayani pasien. Kuintip lewat jendela rumahnya, aku terkejut, tiba-tiba ada darah mengalir ke arah pintu depan yang kuketuk tadi. Aku segera membuka pintunya dan mencari sumber aliran darah itu. Aku terkejut, Chizuru tewas mengenaskan dengan kepalanya bersimbah darah. Aku segera menelepon Chun-Li-san.

"Halo?"

"Chun-Li-san, ini aku Sakura."

"Oh...ya ada apa?"

"Kita sudah terlambat, sebaiknya kamu segera ke sini!"

"Terlambat bagaimana?"

"Chizuru tewas, kita nggak akan bisa mendapatkan petunjuknya."

"Apa! Yang benar saja kamu! Mana mungkin..."

"Ini benar! Cepat kamu segera ke sini!"

"Baik, aku akan segera ke sana!"

"Oke, kutunggu ya! Bye!"

"Bye!"

Aku bingung dengan kejadian ini, mau minta tolong orang satu kampung sepertinya tidak mungkin. Tak ada satu pun orang yang pernah berbicara dengan Chizuru karena Chizuru sendiri jarang keluar rumah dan berkomunikasi dengan tetangganya. Aku yakin, pasti pembunuhnya Vega.

"SRIING..." tiba-tiba aku mendengar suara aneh. Kucari sumber suara itu.

Suara dari mana ya? Tanyaku dalam hati.

"Akhirnya kamu datang juga, Sakura." Tiba-tiba aku mendengar suara Vega.

"Kalau iya emang kenapa?" tanyaku dengan sinis.

"Kamu tahu, siapa yang membunuh orang ini?"

"Aku tahu, kau kan pelakunya?"

"Lihat tanda di tangan orang yang mati itu."

Aku memegang tangan kiri Chizuru, dan ternyata benar, ada tanda V di lengannya.

"Benar kan apa kataku?" tanya Vega.

Aku sangat geram sekali.

"Grrr...!"

"Kenapa? Marah ya?"

"Kuhajar kau, pria hidung belang! HADOU-KEN!" aku langsung menyerangnya.

"Oh ya! BARCELONA TERROR!" balas Vega.

Pertarungan kali ini tak dapat kuhindari lagi.

"Sekarang katakan, di mana seniormu Ryu itu!" tanya Vega sambil menyerangku.

"Aku tak akan memberitahukan di mana dia berada, pria brengsek! Harusnya kau yang beritahu di mana Kei!" jawabku sambil menghindar dan membalas serangannya dengan Hadou-Ken lagi.

"Tenang saja, dia aman."

"Aman katamu! Buktinya dia tersiksa! Kau jadikan dia sebagai Geisha dan menyalahgunakannya kan! Aku takkan memaafkanmu bila ada apa-apa dengannya, berani sekali kau mempekerjakan gadis-gadis remaja!"

"Hahaha...di sini memang banyak gadis-gadis cantik! Tak salah bila aku mempekerjakan mereka sebagai Geisha dan pembunuh!"

"Kurang ajar! Kau ingin menjatuhkan negaraku!"

"Tuan Sadler sangat ingin menguasai negara ini, kau mengerti?"

"Takkan kubiarkan kau menguasai Jepang! Negara ini anti dengan yang namanya Crime Organizations!"

"Oh ya!"

Aku sudah tak tahan mendengar nada bicaranya yang membuat para cewek gampang terhipnotis dan mau ikut dengannya itu. Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerangnya dengan Shouou-Ken.

Sialnya, dia berhasil menghindari seranganku.

"Menyerahlah Sakura...lebih baik kau juga menjadi Geisha seperti sahabatmu itu! Ilmu bela diri karanganmu itu tak ada apa-apanya dibandingkan ilmu bela diri yang lainnya!"

Kali ini aku benar-benar marah, tak kupedulikan yang ada di sekitarku, aku langsung menyerangnya dengan membabi buta, "SHINKUU...HADOU-KEN!"

"AAAARGGHHH...!" akhirnya Vega jatuh juga! Kutambah dengan jurus super andalanku, "HIYAKESHITA!"

Vega terlempar keluar. Aku juga ikut keluar, tapi...Alhasil, rumah itu bobrok akibat amukanku. Tapi, tetap Vega yang salah karena ia sudah membuat ulah duluan. Aku segera mencari jenazah Chizuru di bongkahan-bongkahan bangunan yang sudah hancur itu. Tak peduli capek, haus, lapar yang menerpaku, aku tetap mencari jenazah Chizuru. Setelah lama aku mencari, aku belum menemukannya juga.

"Kau mencari apa di sana?"

Aku menoleh ke belakang, ternyata Maki-san.

"Maki-san?"

"Ya, ini aku. Sedang apa kamu di sini?"

"Aku sedang mencari adikmu. Ia tewas dengan tanda V di tangannya."

Maki terkejut mendengar perkataanku, "Apa! Siapa yang membunuhnya!"

"Vegalah pelakunya!" jawabku sambil menuding Vega.

Maki memandang Vega dengan tatapan tajam. Tanpa banyak bicara, Maki langsung mencopot topeng Vega dan menamparnya.

"Itulah balasan bagi yang kurang ajar!" kata Maki-san.

"Ugh...berani kau menampar wajah tampanku..." gerutu Vega.

"Lebih baik kau pergi saja, dasar memuakkan!" usirku sambil melemparkan kayu ke arahnya.

"Baik...tapi tunggu saja pembalasanku..." kata Vega sambil pergi.

"Maki-san...aku minta maaf atas semua ini, rumahmu telah hancur karena aku juga sebenarnya," kataku dengan takut-takut.

Maki-san mengelus rambutku, "Nggak apa-apa, asalkan kamu sudah mengusir dia."

"Tapi setelah ini Maki-san mau tinggal di mana lagi?" tanyaku.

"Buat apa kamu pikirkan, kan aku masih punya tempat tinggal di Hokkaido," jawab Maki-san sambil tersenyum.

"Lho, kok tempatnya hancur! Ada apa ini!" sahut Chun-Li-san.

"Biasa, laki-laki brengsek itu pengacaunya," kataku.

"Vega maksudmu?"

"Siapa lagi?"

"Terus gimana dong?"

"Sudah, batalkan saja! Kita ke sini lagi saja lain hari."

"Charlie kok belum datang?"

Hah, Charlie? Aku bingung dengan pertanyaan itu, "Sejak kapan kita mengajaknya?"

"Kamu nggak lihat Charlie dilabrak Athena saat masuk ruang rapat tadi?"

"Lihat sih... tapi aku nggak tahu dia ngelabrak Charlie karena apa."

"Itu karena katanya Charlie sok banget jadi orang, makanya Athena nyuruh dia ke sini."

"Sudah, ayo pulang!" ajakku.

"Nggak, kamu aja yang pulang!" tolak Chun-Li-san.

"Baiklah..." kataku sambil membunyikan motorku. Lagi-lagi tidak berbunyi.

"Aduuh...ini motor nggak bunyi-bunyi sih!" gerutuku.

"Kenapa?" tanya Maki-san.

"Tau nih, motor baru nggak bunyi-bunyi," jawabku sambil membuka bagasi.

"Sini, aku boleh lihat?" tanya Maki-san.

"Apa bisa membenarkan dengan sihir?" aku balik bertanya.

"Ya nggak, aku carikan bengkel di sini," jawab Maki-san.

"Iya, tapi sebentar aku lihat isi bensinnya dulu," kataku. Setelah kulihat, bensinnya masih penuh, yah kurasa motornya yang rusak memang.

"Berarti ada yang rusak, orang bensinnya masih penuh."

"Nah...ya sudah kamu tunggu di sini, aku akan bawa motormu ke bengkel."

"Tapi bengkelnya nggak jauh dari sini kan?"

"Nggak...cuma dari dua rumah di sebelah kanannya tempat ini."

"Ya udahlah..."

Sambil menunggu motorku, aku buka facebook di hp. Kutulis kejadian hari ini di statusku. Setelah itu, aku membuka facebook milik Athena dan menulis apa yang terjadi di Wallnya. Semoga ia tidak marah atas kejadian ini, karena jika aku gagal, biasanya ia marah.

"Heh, main facebook aja!" Chun-Li-san mengagetkan aku.

"Ih, Chun-Li-san bikin kaget aja nih! Sambil nunggu motor diperbaiki di bengkel, daripada nggak ngapa-ngapain hayo?" kataku.

"Kamu suka banget sih begituan, aku aja jarang ngurus meski temenku udah 2000 lebih."

"Kamu kan sering ngurus salon, mana sempat main facebook!"

"Kalo salonku tutup aku juga jarang menyentuhnya, ngerti?"

"Nggak."

"Huh!"

"Mendingan buka aja sekarang, sambil nunggu Maki-san."

"Nah, itu si Nash akhirnya datang."

Aku mengalihkan pandanganku, ternyata benar, pacarnya si Cammy itu datang.

"Chizurunya mana?" tanya Charlie.

"Hei, kita datangnya terlambat, Chizuru udah tewas," Chun-Li langsung cerocos.

"Hah! Yang bener aja kamu!" Charlie terkejut.

"Iya, tanya aja ke Sakura, orang dia yang datang duluan ke sini," kata Chun-Li-san.

"Emang bener, lihat nih telapak sepatuku, ada darahnya kan?" sahutku sambil melepas sepatuku dan memperlihatkannya ke Charlie.

Charlie membetulkan kacamatanya sambil melihat telapak sepatuku dengan detail, "Iya, ada darahnya, siapa yang bunuh?"

"Biasa, pengacau Barcelona itu," jawab Chun-Li-san.

"Vega? Wah, wah...kurang ajar bener itu orang ya, nggak tanggung jawab lagi!" kata Charlie.

"Plis deh, Vega aja tanggung jawab, nggak bakalan! Mana ada penjahat yang mau tanggung jawab atas perbuatannya? Paling-paling kalo disuruh polisi aja!" celetukku.

"Terus, kok...tempatnya bisa ancur gini?" tanya Charlie sambil memegang puing-puing bangunan itu.

"Aku kan udah bilang, gara-gara si Vega!" kataku.

"Maaf ya menunggu lama..." akhirnya Maki-san datang juga.

"Ok, makasih ya Maki-san, ini uangnya," kataku sambil menyerahkan uang 50 yen ke Maki-san.

"Ya."

"Kawan-kawan, aku pergi dulu," kataku sambil membunyikan sepeda motorku.

Saat sudah jalan, tiba-tiba Chun-Li-san mencegatku sehingga aku harus mengerem sepeda motorku secara mendadak.

"Dasar, bikin kaget aja, mau cari mati, hah!" bentakku.

"Nggak, nggak, jangan emosi mulu kenapa sih!" Chun-Li-san balas membentakku.

Aku mencoba menenangkan diri, aku nggak mau bikin suasana tambah panas.

"Baiklah, aku nggak emosi, ada apa sih?" tanyaku.

"Kulihat tadi kamu menulis sesuatu di wallnya Athena, memang kamu menulis apa?" Chun-Li-san balik bertanya.

"Ng...aku bilang kalo Chizuru tewas," jawabku.

"Terus kamu bilang ke dia kalau kamu nggak jadi tanya? Ngawur banget kamu, bisa-bisa kamu dimarahi!" tanya Chun-Li-san dengan sewot.

"Aku memang bilang gitu, tapi aku bilang kalau kamu yang tanya," Jawabku dengan santai.

"Heh, orang kamu yang disuruh Athena datang ke sini juga, harusnya kamu yang bertanya, kok malah aku! Kamu tadi kan yang bicarakan hal itu di kelas 2-C!" bentak Chun-Li-san.

"Bukannya si Charlie yang disuruh tanya? Kan dia tadi yang dilabrak Athena, bukan aku kok," balasku dengan sabar.

"Tapi kamu ingat nggak apa yang dikatakan Athena sewaktu di kantin tadi siang? Kita harus kemari!" ia tetap marah.

"Ng...iya, aku ingat," aku tetap menjawab dengan sabar.

"Kalo ingat ya udah jangan pulang dulu!" ia merebut helmku.

"Tapi percuma aja, right now Athena nggak datang ke sini, dia ke Hongkong kok!" kesabaranku sudah habis, aku terpaksa marah.

"Meskipun she's not here right now, we keep ask to Maki, understood!"

"Tapi maaf, Tsukushi sakit hari ini, aku harus segera pulang!"

"Alasan! Ada-ada aja alasanmu itu!"

"Heh, aku nggak banyak alasan! Emang kenyataannya gitu kok! Kalo nggak percaya ya sudah! Awas saja kalau penyakitnya Tsukushi tambah parah, kamu yang kusalahkan!"

"Eh, eh...mulai emosi ya!"

"Kamu kan yang duluan!"

Aku merebut helmku dari tangan Chun-Li-san.

"Kamu bersikeras mau pulang?" tanya Chun-Li-san dengan nada tinggi.

"Ya iya lah! Orang Tsukushi sedang sakit," jawabku ketus.

"Ya sudahlah biarkan saja dia pulang, daripada sakitnya si Tsukushi tambah parah," sahut Charlie.

Chun-Li-san memandang Charlie.

"Kita berdua saja yang tanya," katanya lagi.

"Hmm...baiklah...Nash benar, kamu pulang saja, daripada sakit adikmu tambah parah. Sorry ya?" Akhirnya Chun-Li-san sadar juga.

"Thanks a lot kalau kamu udah sadar betul," gumamku.

"Aku pulang," teriakku sambil membuka pintu.

"Eh, anak ibu sudah pulang, gimana nak?" tanya ibu.

"Gagal bu, Chizuru tewas," jawabku sambil menunduk.

"Lho!" ibu terkejut.

"Biasa bu, gara-gara pangeran brengsek itu," kataku.

"Yang selalu menggodamu sepulang sekolah itu?" tanya ibu.

"Huh, tidak menggoda saja, berbuat kurang ajar saja sering, aku sampai kesal dibuatnya. Nih buktinya, aku babak belur setiap hari," jawabku sambil membuka jaketku dan menunjukkan bekas-bekas luka gara-gara sering bertarung.

"Nak, kamu itu anak perempuan, masa' setiap hari kerjaannya berkelahi? Ntar nggak ada cowok yang deketin kamu lho..." ibu menceramahiku.

"Bu, ibu tau sendiri kan sifat Sakura gimana? Tomboy, suka main tarung, mainnya sama cowok mulu meski temen cewekku banyak. Gini-gini ingin jadi pelindung perempuan Bu! Apa ibu nggak tau jaman sekarang? Banyak cowok yang sering berbuat kurang ajar sama cewek, dan cowok nganggap cewek itu lemah! Ibu pikir aku mau diam saja dikata-katai seperti itu? Tidak! Meski beladiriku ini Cuma beladiri karangan, tapi beladiriku ini nggak sembarangan. Aku bertarung tidak untuk main-main, tapi di dalam jiwa seorang petarung itu sendiri ada jiwa kesatria! Aku ingin buktikan bahwa kaum Hawa itu tidak lemah seperti yang dikatakan para kaum Adam itu!" aku balik menceramahi ibu.

"Tapi nak, ibu dengar dari Kei kamu sering berkelahi dengan Karin, apa benar itu?"

"Karin lagi...Karin lagi...dia itu anak sombong bu! Mentang-mentang belajar karate, terus nantang aku berkelahi. Mentang-mentang anak orang kaya raya, dia bisa menindas orang yang kurang darinya, padahal orangtuanya sangat dermawan dan baik hati. Terus cara bertarungnya? Hah...persis banci! Dia itu sering jadi buah bibir anak-anak satu sekolah, yang katanya pelitlah, yang katanya lebaylah, yang katanya sombonglah, sok jual mahallah...ah, banyak deh! Aku nggak bisa nyebutin satu-satu. Anak-anak satu sekolah membenci dia, dan dia pengkhianat negara ini, masa' dia bantu Shadow Breaker buat culik gadis-gadis Jepang! Emang nggak takut citra keluarganya jelek? Beuh..."

"Sakura, kamu jangan berkata seperti itu..."

"Bu, Sakura ini bicara tentang fakta, bukan desas-desus lagi!"

Ibu beranjak dari sofa, "Ibu mau masak buat makan malam ya, tolong kamu jaga Tsukushi."

"Ya," sahutku sambil beranjak dari sofa juga. Aku menuju kamar Tsukushi, kubuka pintunya, kulihat ia sudah tertidur pulas. Aku masuk ke kamarnya dan duduk di sampingnya. Dalam hati aku menyesal jarang memperhatikan adikku karena sibuk rapat dan prku banyak, seharusnya setelah belajar atau mengerjakan PR, aku online sambil menemani Tsukushi belajar, tidak online sendirian di kamar. Kutunggui dia dengan menonton berita di TV, sebentar-sebentar kusentuh dahinya untuk mengecek apa dia panas atau tidak. Tiba-tiba bel rumahku berbunyi, segera kumatikan Tvnya dan aku segera keluar dari kamarnya.

"Iya, tunggu sebentar!" sahutku sambil lari tergopoh-gopoh.

"Eh Kyosuke, tumben kamu ke sini?" ternyata Kyosuke yang sedang berkunjung ke rumahku.

"Iya aku pingin main aja, aku kan anaknya suka bosan di rumah, jadinya aku main ke rumah kamu aja," jawab Kyosuke.

"Ya udah, masuk yuk!" ajakku.

"Makasih..." balasnya dengan senyum manisnya. Kami berdua duduk di sofa.

"Kamu keliatanya tadi terburu-buru, ada apa sih?" tanya Kyosuke.

"Maaf ya, aku tadi terlalu asyik jaga Tsukushi, dia sakit soalnya," jawabku dengan malu-malu.

"Oh ya, mau kubuatkan teh hijau?" tawarku.

"Nggak usah repot-repot," tolak Kyosuke.

"Aku ikut temenin Tsukushi ya?" tawar Kyosuke.

"Iya, boleh," jawabku dengan mengangguk. Aku dan Kyosuke beranjak dari sofa menuju ke kamar Tsukushi. Saat kubuka pintunya, kulihat Tsukushi sudah bangun.

"Halo Tsukushi..." sapa Kyosuke.

"Hai kak Kyosuke..." balas Tsukushi dengan suara lemah, ia tersenyum.

"Sakit apa, dik?" tanya Kyosuke.

"Typhus kak...aku nggak masuk selama satu minggu," jawabnya masih dengan suara lemah.

"Oh ya, dia sudah makan?" tanya Kyosuke padaku. Aku terkejut, "Aduh, lupa! Sekarang sudah jam 5 ya? Aduh...Tsukushi, kamu makan biskuit yang kakak belikan itu tadi dulu ya? Kakak akan buatkan kamu bubur."

Aku segera keluar dari kamar. Betapa bodohnya aku, kenapa aku mengabaikan jadwal makan Tsukushi! Aku lari tergopoh-gopoh ke dapur. Kucari bubur kesukaan Tsukushi, sialnya tidak ada, yang ada hanya mie instan rasa ayam bawang.

"Sakura, kamu cari apa nak?" tanya ibu.

"Bu, bubur kesukaan Tsukushi kok nggak ada sih?" aku balik bertanya.

"Wah, yang rasa ikan tuna itu ya? Sudah ibu makan..." jawab ibu.

"Aduh ibu...masa' aku harus buatkan mie instan rasa ayam bawang untuk Tsukushi? Kan dia nggak suka...ibu ini gimana sih!" kataku sewot.

"Kamu sih nggak ngingetin ibu...coba kalo diingetin, ibu ya nggak makan...ya sudah nak buatkan itu saja."

Aduh...ibuku ini, sudah tahu Tsukushi anti sama makanan begituan kok malah disuruh buatin...ya sudahlah apa boleh buat, daripada nanti ayah marah karena Tsukushi belum makan.

"Ibu saja yang buatkan, kamu jaga Tsukushi saja," tawar ibu.

"Ya udah deh, kalo udah selesai panggil aku ya, aku aja yang bawa ke kamar," pesanku.

"Ntar ibu aja yang antarkan!" sahut ibu.

"Kyosuke, maaf ya kelamaan..." kataku sambil membuka pintu kamar.

"Nggak apa-apa. Tadi ada apa sih kok ribut?" tanya Kyosuke sambil membenahi kacamatanya.

"Soalnya bubur kesukaan Tsukushi dimakan ibu, jadinya..." aku menghentikan kata-kataku, takut kalau Tsukushi nggak nafsu makan.

"Kak, memang hanya ada mie instan rasa ayam bawang itu?" sahut Tsukushi.

"I...iya dik..." jawabku dengan berat.

"Ya sudahlah nggak apa-apa kak, lebih baik makan seadanya," kata Tsukushi. Aku bernapas lega.

"Tsukushi nggak suka mie instan?" tanya Kyosuke pada Tsukushi.

"Iya kak...sejak sakit demam berdarah, jadi anti sama makanan seperti itu," jawab Tsukushi.

"Oh ya, ngomong-ngomong kamu sudah ke Chizuru tadi?" tanya Kyosuke, ia mulai serius.

"Kita ke teras saja yuk? Aku juga berpikiran begitu, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting. Gimana kalau kita bicarakan ini di teras?" tawarku.

"Tapi kamu kan tidak boleh meninggalkan Tsukushi begitu saja, di sini saja bicaranya." Rupanya Kyosuke masih ingin menjaga Tsukushi.

"Baiklah..." aku menyetujuinya, aku juga tidak mau meninggalkan Tsukushi, aku teringat pada janjiku bahwa aku harus meluangkan waktuku untuk Tsukushi.

"Kamu tadi sudah ke Chizuru?" Kyosuke mengulang pertanyaan pertamanya.

"Aku terlambat, dia tewas..." jawabku.

"Apa, Chizuru tewas!" Kyosuke terkejut mendengar jawabanku.

"Ya," jawabku singkat.

"Siapa yang membunuhnya?"

"Siapa lagi kalau bukan Vega?"

"Hah? Bukannya ia masih mendekam di penjara?"

"Apa kau tak membaca berita tentang Juni di koran Harian Asahi kemarin? Juni pergi bersama Vega setelah ia membunuh ibunya!"

"Jadi, orang aneh yang disebut di koran itu...Vega!"

"Tepat sekali!"

"Bagaimana bisa ia melarikan diri! Dia kan penjaranya di Muang Thai!"

"Mungkin Sadlerlah yang membebaskannya."

"Pantas saja, kukira misi minggu kemarin sudah selesai, ternyata belum. Memang kalau yang jadi ketuanya itu Ken nggak enak! Udah nggak tegas, suka gampangin masalah lagi!"

"Bagaimana ini, apa kita harus pasang pengumuman lagi seperti dulu untuk pemilihan ketua baru?"

"Aku juga bingung, ini sih harus minta bantuan kak Leona namanya."

"Ok, itu dipikirkan nanti. Sekarang balik ke yang tadi saja. Saat aku mau mengeluarkan hpku untuk menelepon ambulans, tiba-tiba Vega muncul di belakangku. Asal kamu tahu saja, aku sangat geram melihat wajahnya yang tampan itu, dia pikir aku bakal jatuh cinta apa setelah lihat wajahnya? Nggak bakalan! Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerang Vega, akhirnya kami bertarung. Aku tambah geram ketika ia menghina gaya bertarungku dan ia menyuruhku ikut dengannya, huh!" tanpa sadar aku memukul meja. "Tsukushi, kamu kaget ya? Maafkan kakak ya?"

"Nggak apa-apa kak, aku sudah tahu kalau kakak dalam keadaan emosi," kata Tsukushi.

"Nah, karena perkataan Vega membuatku sakit hati, akhirnya aku mengamuk dan kukeluarkan Hiyakeshita-ku. Sisi jahatku juga kembali muncul. Vega terpental keluar dan...alhasil, rumah itu hancur akibat amukanku, tapi tetap Vega yang salah, dia yang sudah membuat ulah duluan, betul kan?" aku menghela napas sebentar.

"Apa kamu nggak tahu, hampir semua gadis di sini menyebutnya dengan Pangeran. Memang dia tampan dan keren, tapi sifatnya? Ia nggak punya rasa perikemanusiaan sama sekali, hatinya jahat, suka rebut pacar orang lagi! Hinata pun kagum dengannya, aduh...aduh..." sela Kyosuke sambil membenahi kacamatanya.

Aku terkejut. "Hah! Terus, apa teman-teman kita di sekolah juga terpengaruh?"

"Aku bersyukur kawan-kawan kita tidak terpengaruh sama sekali," kata Kyosuke dengan tenang.

"Maaf ya Tsukushi kalau nunggu lama..." ibu datang sambil membawa mangkuk berisi mie instan.

"Katanya ibu mau jemput ayah di stasiun, tidak jadi bu?" tanyaku.

"Nggak jadi, katanya sudah pulang sama temannya," jawab ibu.

"Ini pacarmu ya?" tanya ibu tiba-tiba.

"Ibu ini, dia ini kawanku bu!" jawabku sambil menahan malu.

"Halah...jangan bohong, buktinya kalian berpegangan tangan gitu, apa itu bukan pacaran namanya?" ibu melihat tanganku di atas tangan Kyosuke. Aku cepat-cepat melepaskan tanganku.

"Kalau ngobrol di teras aja sana, ibu aja yang nemenin Tsukushi," ujar ibu.

"Ok deh, yuk Kyosuke, kita ke teras," ajakku sambil beranjak dari kasur.

"Ya, ayo." Kyosuke juga beranjak dari kasur.

Saat aku dan Kyosuke keluar dari kamar Tsukushi, aku langsung minta maaf ke Kyosuke. "Eh, yang tadi maaf ya, aku tiba-tiba pegang tanganmu."

"Nggak apa-apa kok." Kyosuke memperlihatkan senyum manisnya lagi.

"Hmm...kita terusin yang tadi yuk! Sampai mana kita tadi?"

"Tentang Vega kan?"

"Oh ya!"

"Oh ya, lupa nih! Aku mau tanya, kamu sudah beritahu Ryu bahwa nanti jam 11 malam dia harus waspada?"

"Waspada untuk apa?"

"Karena pas jam segitu dia bakalan ngincer Ryu. Bukannya aku udah sms kamu kemarin?"

Aku nggak ngerti dengan apa yang dikatakan Kyosuke. Tahu maksudnya memang iya, tapi sepertinya aku kemarin nggak terima sms sama sekali.

"Yang bener aja, kayaknya aku kemarin nggak terima sms sama sekali deh..."

"Hpmu trouble lagi?"

"Nggak, hpku baik-baik aja kok! Kamu sms aku jam berapa sih?"

"Kira-kira aku sms kamu kemarin jam 8."

"O...hpku kemarin aku matikan soalnya kemarin ada rapat keluarga, jadi hpku harus off, kalau tidak ayahku bisa marah."

"Terus gimana saat kamu nyalakan hpmu lagi, smsku masuk nggak?"

"Hehe...maaf, smsmu nyampenya malam, saat aku udah tidur. Saking marahnya aku gara-gara terganggu suara hp bunyi, akhirnya smsmu terpaksa kubuang..."

"Aduuuh...itu penting banget tau, kenapa kamu buang?"

"Iya maaf...lagian kamu juga salah, harusnya kamu kan sms ke Ken-san, bukan ke aku!"

"Dia sulit dihubungi, kamu tau sendiri kan?"

"Ya dia memang kadang sulit dihubungi, tapi kalo misalnya siang-siang gitu dia bisa dihubungi kok. Oh ya, mumpung sore hari, dia masih bisa dihubungi kok, kamu hubungi dia sekarang aja."

"Kamu aja yang ngomong..."

"Lho, gimana sih?"

"Pulsaku tinggal sedikit, bisa dibuat sms sih, tapi ingin menghemat nih!"

"Ya ampun Kyosuke...ya udah aku hubungi lewat telepon rumah aja deh, percuma sms, nggak bakalan dibalas." Aku berdiri dan masuk ke rumah. Kuangkat gagang telepon dan kupencet nomor rumah Ken-san.

"Halo..."

"Halo, bisa bicara dengan Ken?"

"Ya, ini saya sendiri."

"Eh Ken-san, ini aku Sakura."

"Sakura yang mana ya?"

"Aduuuh...pake bercanda lagi, Sakura Ganbaru tau!"

"Iya, iya, maaf...ada apa sih kok telepon?"

"Tolong ingatkan Ryu-san kalo jam 11 malam dia harus waspada soalnya Vega bakal nangkap dia."

"Waduh...dia udah berangkat ke Kyoto, mana dia nggak bawa hp lagi..."

"Hah, ke Kyoto? Ngapain?"

"Cari Shun, katanya dia sekarang di Rumah Sakit Jiwa di sana."

"Lho, anak seusia Shun udah kena penyakit jiwa!"

"Sakura, usia berapapun kayaknya bisa kena gangguan jiwa deh..."

"Kok bisa kena sih?"

"Katanya sih gara-gara brain-washed dan dia disuntik narkotika."

"Hah! Gila, siapa sih yang tega banget aniaya dia!"

"Siapa lagi kalo bukan Sadler? Asal kamu tahu aja ya, banyak sekali orang yang diculik dan kebanyakan dari mereka kena gangguan jiwa semua karena itu."

"Ya Tuhan...kasihan...semoga Ryu-san nggak kena, aku takut banget."

"Iya, aku juga khawatir."

"Ok deh, udah dulu ya, Bye."

"Bye."

Kuletakkan gagang teleponku ke tempatnya semula. Aku kembali ke teras dengan deg-degan banget, gimana mau tenang, orang Ryu-san lagi perjalanan jauh begitu, nggak bawa hp lagi, bisa-bisa Vega dengan mudah menangkap Ryu-san, dan bisa-bisa ia diperlakukan seperti Shun.

"Kamu kenapa sih keliatan tegang banget? Santai aja lho..." tanya Kyosuke sambil membersihkan kacamatanya.

"Gimana mau santai, udah terlambat kita, Ryu-san sedang ke Kyoto sekarang," jawabku sambil berusaha menenangkan diri.

"Hah! Wah, bahayanya di sana tuh..."

"Maksudnya?"

"Sekarang ini Vega di sana."

Jawaban Kyosuke membuatku terkejut, "Apa! Waduuuh...ini sih udah bahaya besar namanya! Kamu tau dari mana?"
"Dari Batsu, dia sekarang tinggal di sana, ini smsnya barusan datang."

"Batsu? Sepertinya aku pernah mengenalnya...dia dulu kawanku di sekolah dasar. Yang temennya Hinata itu kan?"

"Iya. Memangnya Hinata itu apamu?"

"Saudaraku. Memang kamu dulu sekelas sama dia?"

"Nggak, kita lain kelas, cuma kita sering ketemu karena aku, Batsu, dan Hinata satu tim dalam pertandingan Rival Schools."

"Oh...eh ya, tim dari SMA Pacific itu hebat ya?"

"Hmm...gimana ya? Kawan-kawanku di sekolahku dulu bilang kalo tim kita yang paling hebat di Rival Schools dan kata mereka anak SMA Pacific itu cara bertarungnya persis kera sama kanguru."

"SMA Pacific itu yang timnya Tiffany itu kan?"

"Kok tahu?"

"Iya, aku punya fbnya. Hampir tiap hari aku chat sama dia."

"Oh gitu..."

"Oh ya kata Tiffany kamu itu hebat, pinter, cakep, dan baik lhoo..."

"Ah, bisa aja...biasa aja kok, jadi malu nih, hehe..."

Setelah lama kami berbincang-bincang, aku melihat jam dinding, jam setengah enam, kenapa ayahku belum pulang? Biasanya jam segini udah pulang.

"Kenapa?" tanya Kyosuke.

"Udah hampir malam gini ayahku belum pulang sama sekali," jawabku.

"Memang ayahmu ke mana?"

"Ke Nagoya, katanya ada bisnis di sana. Seharusnya pukul 5 sore ia sudah sampai di rumah."
"Bukannya jarak Tokyo ke Nagoya itu jauh? Ya jelas lama lah..."
"Iya aku ngerti, tapi kemarin sebelum berangkat ia bilang kalau dia akan sampai di rumah pukul 5 sore."
"Memangnya ayahmu pulang hari ini?"

"Katanya begitu, tadi siang aku baru saja berbicara dengannya."
"Mungkin masih di perjalanan, ya sudah kamu tunggu aja."

Kami berhenti sebentar. Kuminum teh hijauku yang sudah dingin karena terlalu lama kubiarkan ngobrol dengan Kyosuke.
"Oh ya, besok gimana Dance Competitionnya? Di mana tempatnya?" tanyaku.

"Katanya sih di domenya sekolah kita, dan besok katanya Ky dan Nash kita harus sudah di sana jam 6, karena kita latihan dance sebentar," jawab Kyosuke sambil mengelap kacamatanya. Jam 6 pagi? Ya ampun, aku nggak bisa bangun pagi nih! Biasanya aku bangunnya jam segitu, tapi mau gimana lagi...ya udahlah dicoba aja.

"Ng...besok kamu dancenya pake baju apa?" tanyaku.

"Nggak tau, ini pun aku masih belum cari kostum yang pantas, gimana dengan kamu?" jawab Kyosuke.

"Sama, aku juga bingung, hehe..."

"Pastinya kamu kan yang agak kecowok-cowokan, bukannya kamu tomboy?"

"Iya aku tau, tapi masalahnya aku nggak punya topi baret nih...kan harus pakai topi baret."

"Tenang aja, aku punya banyak kok! Kan aku anaknya suka traveling pake topi itu."

"Warna kesukaanku ada nggak?"

"Biru? Tapi bajumu warna apa dulu, yang matching dong, daripada ntar diejek Karin kalo nggak matching."

"Hmm...sekarang aku juga lagi mikir nih...ya udah besok pagi aja ya kamu bawa ke sekolah."

"Eh kamu nggak pake jaket yang biasa kamu pake buat hang out sama kawan-kawan itu aja?"

Hmm...kurasa Kyosuke benar, kenapa aku tak memakai jaket itu saja? Untuk atasannya aku pakai kaos putih dan aku pakai jaket biruku untuk atasannya, dan bawahannya adalah celana trainingku yang biru juga, ah kenapa nggak terpikirkan sebelumnya sih?

"Oh ya kamu benar, kenapa aku nggak pake baju itu aja? Lagian pasangannya banyak, makasih ya udah ngingetin..." ujarku.

"Ok deh sama-sama...eh udah nggak kerasa aku lama di sini, aku pulang dulu ya, besok pagi aku bawakan topinya," kata Kyosuke sambil berdiri.

"Ok...jangan lupa ya, besok aku tunggu topinya loh!" sahutku sambil masuk ke dalam rumah. Kututup pintu rumah dan aku masuk ke kamar untuk menjaga Tsukushi kembali. Saat kubuka pintu kamarnya, dia sudah tertidur pulas, dan kulihat ibu masih ada di samping menjaga Tsukushi sambil nonton TV.

"Belum ngantuk bu?" tanyaku sambil duduk di samping ibu.

"Belum ngantuk kok nak..." jawab ibu.

"Ayah kok belum pulang ya bu?" aku mulai bertanya tentang ayah, karena kalau tidak menanyakan keadaan ayah aku tak bisa tenang sama sekali.

"Sebentar lagi mau sampai katanya, sudah dekat kok," jawab ibu sambil memindah channel TV.

"Oh ya nak, Kyosuke mana? Kamu nggak sama dia?" tanya ibu.

"Barusan pulang ini tadi bu," jawabku sambil menyandarkan kepalaku di pundak ibu.

"Kamu ngantuk nak? Ya sudah tidur sana," kata ibu.

Aku berdiri dengan agak malas, "Ibu, hari ini aku ingin tidur menemani Tsukushi..."

"Oh ya nak, bukannya besok kamu ada lomba dance besok? Katanya jam 6 kamu harus di sana..."

"Lho? Kok ibu tahu?"

"Ya iya lah...saat kamu ngobrol sama Kyosuke, ibu lagi baca koran di dalam...ya sudah kamu sekarang tidur sana, besok jam 5 pagi ibu bangunkan."

Aku pergi mengambil futon, bantal dan guling, serta selimut dengan langkah terseok-seok saking ngantuknya, dan karena udah nggak tahan capek, aku segera menggelar futon di samping kasurku, memang aku lebih suka tidur dengan futon ketimbang dengan kasur empuk, karena tidur dengan kasur empuk bisa bikin punggungku sakit. Aku benar-benar capek setelah dari pagi sampai sore aku terlalu banyak beraktivitas, ditambah seharian aku berdebat terus dengan Chun-Li-san, dengan kak Vanessa, dan saat rapat tadi, ditambah lagi Kyosuke main ke rumahku, terlalu lama berbincang-bincang sampai jam setengah delapan. Ah... Have a nice dream untuk semua kawan-kawanku, hanya itu yang bisa kuucapkan.