Pairing : Meanie

Genre : Romance and Drama.

Warning : Boys Love and Typo.

.

.

"Mingyu, ini kamarmu. Mulai sekarang, kamar ini jadi kamarmu. Kalau kau ingin sesuatu, jangan ragu-ragu katakan pada Imo."

Anak berusia enam tahun yang memiliki wajah tampan mengangguk. Matanya mengitari kamar barunya. Berwarna putih yang dipadukan dengan warna coklat. Tidak banyak barang di dalamnya. Hanya ranjang, lemari dan nakas kecil.

Ia tersenyum membalas senyuman manis wanita di depannya. Meski kamar yang ia tempati tidak sebesar kamarnya, tapi ia tidak merasakan ketakutan. Karena ia kira, ia akan tidur di pinggir jalan. Ternyata masih ada keluarga yang mau menampungnya.

"Imo akan keluar! Kau istirahatlah. Imo tahu kau pasti lelah."

Untuk kedua kalinya Mingyu mengangguk. Meski wanita itu tidak secantik ibunya, tapi ia percaya mereka sama-sama baik. Mingyu masih memperhatikan langkah bibinya yang akan mencapai pintu.

"Dasar anak yatim piatu merepotkan! Kalau bukan karena warisanmu, aku sudah membiarkanmu menjadi anak jalanan."

Mingyu kecil tertegun. Tubuhnya langsung menegang mendengar suara itu. Suara yang tidak diucapkan tapi bisa ia dengar dengan jelas. Anak berusia enam tahun itu meringkuk di kasurnya. Menutup telinganya karena masih mendengar kalimat yang serupa.

"Mingyu tidak mau dengar. Mingyu tidak mau dengar," racaunya sambil menutup matanya erat. Kedua tangannya menutup telinga. Menghalau semua suara yang masuk ke indera pendengarannya.

Sepertinya ia salah. Tidak ada wanita sebaik ibunya. Tidak ada yang benar-benar menginginkannya. Mereka semua sama seperti yang ia temui sebelumnya. Tidak ada yang menyayanginya. Hanya menginginkan harta yang ditinggalkan untuknya.

.

.

"Kenapa mereka mati tidak membawa anaknya? Merepotkan saja. Mereka pikir rumah ini tempat penitipan anak."

Mingyu mengurungkan niatnya yang akan menuruni tangga. Ia menyembunyikan badannya di balik dinding. Di bawah sana, bibinya tengah duduk manis sambil membaca majalah. Tapi ia masih bisa mendengar semua cacian untuknya dan kedua orang tuanya.

Ia semakin mundur melihat pamannya yang baru saja pulang bekerja. Laki-laki itu duduk di sofa bersebelahan dengan istrinya. Tampaknya, pamannya begitu kelelahan dengan wajah frustasi.

"Haah… kenapa mereka tidak ada yang merawat anak itu? Kenapa harus diserahkan ke rumah ini. Meski dia membawa harta yang cukup banyak, tapi mengurus anak di usia sekolah itu merepotkan. Ck, aku bisa gila kalau seperti ini."

Mingyu bisa melihat pamannya menutup matanya. Melepas jas yang membalut tubuhnya. Dan menyandarkan kepalanya pada sofa.

"Kenapa mereka semua jahat? Kenapa tidak ada yang menyayangi Mingyu? Kenapa tidak ada sebaik Appa dan Eomma?"

Mingyu kecil menghapus liquid bening di sudut matanya. Bukan kali ini saja ia mendengar semua kejujuran itu. Ia sudah mendengarnya sedari kecil. Semua orang ia temui, tidak ada yang benar-benar tulus. Mereka berpura-pura baik karena ayah dan ibunya memiliki harta berlimpah.

Tidak ingin mendengar lanjutan kalimat menyakitkan itu, Mingyu kembali masuk ke kamar. Mengabaikan tenggorokannya yang terasa kering.

.

.

Mingyu duduk di depan rumah dengan pandangan kosong. Ia kesepian. Selama tinggal di rumah sang bibi, ia sama sekali tidak memiliki teman. Jika ayah dan ibunya masih ada, ia tidak akan kesepian seperti saat ini. Meski ayahnya bekerja, tapi ibunya selalu menemaninya saat bermain.

Kepalanya mengadah ke langit. Menatap langit biru dengan kepulan awan. Ia ingin ke atas sana. Bertemu dengan ayah dan ibunya di surga. Karena ia yakin, di surga sana, ia tidak akan mendengar suara-suara itu.

Lamunan Mingyu buyar saat beberapa anak laki-laki berjalan ke arahnya. Alisnya saling bertaut. Ia sama sekali belum pernah mengenal wajah-wajah asing itu.

"Ayo bermain bersama kami!" ucap salah satu anak yang berdiri di tengah-tengah. Sedang tiga anak lainnya hanya tersenyum dan mengangguk.

Mingyu tersenyum. Akhirnya ia memiliki teman. Akhirnya ia tidak kesepian lagi. Namun senyum itu pudar saat mendengar suara-suara yang hampir sama.

"Pasti mainannya sangat banyak."

"Kata Eomma, dia anak orang kaya. Pasti semua mainannya bagus."

"Kalau dia benar-benar kaya, aku akan meminta satu mainan darinya."

"Kalian semua pergi!" bentaknya. Keempat anak itu tersentak. Perlahan, mereka memundurkan langkah mereka. Dan langsung berlari melihat wajah marah yang Mingyu tunjukkan.

Saat keempat anak-anak itu sudah tidak terlihat, Mingyu kembali terduduk dengan menundukkan kepalanya. Ia kira, ia tidak akan kesepian lagi. Ia pikir, ia bisa memiliki teman. Tapi sepertinya tidak. Sepertinya tidak akan ada yang berubah.

"Kenapa semua orang jahat? Kenapa semua orang tidak ada yang benar-benar ingin berteman dengan Mingyu?"

Ia selalu bertanya kenapa dan kenapa. Tapi tidak ada yang menjawab. Bahkan ayah dan ibunya. Saat ia bertanya kenapa semua yang mendekatinya tidak ada yang baik, ibunya hanya bisa tersenyum sedih dan memeluknya.

Ia ingin seperti anak-anak lainnya. Hidup sederhana tapi dikelilingi kebahagiaan. Tidak seperti hidupnya. Setiap hari, ia harus mendengar suara-suara mengerikan tentangnya. Membuatnya semakin yakin tidak ada orang baik di dunia.

Mingyu memutuskan jalan-jalan tidak jauh dari rumah. Duduk sendiri membuatnya semakin merindukan kehadiran ayah dan ibunya. Andai bisa, Mingyu ingin ikut. Ia tidak ingin tinggal di dunia yang dipenuhi dengan kepalsuan. Berisikan orang-orang serakah yang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.

"Sepertinya itu anak Tuan Kim yang mereka bicarakan. Kasihan sekali."

"Apa dia benar-benar sekaya itu? Apa orang tuanya benar-benar mewariskan seluruh hartanya pada anak sekecil itu? Pasti yang mengasuhnya akan bahagia sekali. Bisa merasakan harta anak kecil itu."

"Sayang sekali kaya raya tapi yatim piatu."

"Kenapa dia tidak mati saja dengan ayah dan ibunya?"

"Dia pasti merepotkan. Tapi untungnya orang tuanya meninggalkan banyak warisan. Kalau tidak, anak itu pasti akan menjadi pengemis di jalanan."

Mingyu berlari. Ia tidak kuat mendengar semua kalimat yang tertuju untuknya. Tiada hari tanpa kalimat menyakitkan. Yang ia butuhkan hanya ketenangan. Ia tidak peduli dengan hartanya. Ia ingin ayah dan ibunya kembali.

Kalau pun tidak bisa kembali, Mingyu kecil berharap semua hartanya bisa membuatnya tidak mendengar semua itu lagi. Ia lelah selalu mendengar kalimat yang tidak ingin ia dengar.

"Kenapa Mingyu bisa mendengar suara hati mereka? Kenapa Mingyu bisa mendengar semua yang tidak mereka ucapkan? Eomma, Appa, mereka jahat. Mereka menakutkan. Mingyu tidak mau dengar lagi."

Ia menangis sambil meringkuk di ujung gang. Semua tempat terasa mengerikan untuknya. Tidak ada tempat yang membuatnya merasa tenang. Ia benci karena berbeda dari anak-anak yang lainnya. Membuatnya selalu merasa takut setiap bertemu semua orang.

Bahkan ia tahu siapa saja yang ingin melenyapkannya. Ia tahu orang-orang yang ingin membunuhnya demi mengambil semua harta yang ia punya.

.

.

11 Tahun Kemudian.

Seorang pemuda tampan berjalan di koridor sekolah. Matanya menatap lurus ke depan. Kaki jenjang yang dibalut seragam sekolah berwarna khaki melangkah dengan mantap. Tidak ada senyuman. Hanya wajah dingin yang ia tampilkan.

Di koridor yang ramai itu ia tidak mendengar riuhnya suara siswa. Headphone yang terpasang di telinganya menghalau semua suara. Hanya musik dengan volume keras yang ia dengar.

Saat sampai di kelasnya, ia langsung menuju tempat duduknya. Bangku paling belakang tepat di sebelah jendela. Matanya memperhatikan keadaan kelas. Semua siswa begitu ricuh dengan kegiatan masing-masing. Tapi ia tidak akan mendengar suara-suara itu. Headphone berwarna hitam miliknya sudah menjadi sahabatnya bertahun-tahun. Sahabat yang menolongnya dari semua suara menyakitkan.

Pandangannya tertuju pada bangku paling belakang. Bangku yang tidak jauh dengan pintu masuk kedua. Di sudut sana, seorang siswa hanya diam menunduk. Entah apa yang siswa itu lakukan. Mereka tidak pernah bertegur sapa. Bahkan siswa itu sama sekali tidak pernah melihatnya. Yang ia tahu, Jeon Wonwoo teman sekelasnya adalah siswa yang sangat pendiam.

Headphone yang sudah nyaman di telinganya terpaksa ia lepas. Guru yang memasuki kelas membuatnya mau tidak mau melepas kenyamanannya. Dan dahinya langsung berkerut mendengar semua suara teman sekelasnya. Suara yang mungkin hanya ia yang dengar.

Siswa ber-name tag Kim Mingyu itu menghela nafas lega. Bel istirahat seolah menjadi penyelamatnya. Ia tidak lagi mendengar semua keluhan, gerutuan dan makian yang sebenarnya mereka simpan dalam hati.

Di dunia ini, Mingyu tidak pernah merasakan kenyamanan dan ketenangan. Semua hal sangat mengganggu dan menyiksanya. Kemampuan aneh yang ia miliki membuatnya menutup diri. Menjaga jarak dari semua yang ingin mendekatinya. Karena ia tahu, tidak ada yang pernah tulus berteman dengannya.

"Kim Mingyu!"

Mingyu melepas headphone di telinganya. Gerakan bibir gadis di depannya membuatnya tahu gadis itu ingin berbicara denganya.

"Bisa ikut aku sebentar?" tanyanya.

"Bagaimana kalau dia tidak mau. Bagaimana ini? Aku gugup sekali."

Mingyu tersenyum. Meski bukan kali ini mendengar suara gugup seperti wanita itu, tapi masih terasa lucu untuknya.

"Kemana?" tanya Mingyu.

Gadis cantik itu berjalan lebih dulu. Diikuti Mingyu di belakangnya. Saat akan melangkah ke pintu, Mingyu menoleh sekilas ke arah Wonwoo. Siswa pendiam itu tengah tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di meja.

Mingyu mencoba mengabaikan semua suara saat berjalan di koridor. Dan saat langkah gadis itu terhenti, Mingyu ikut menghentikan langkahnya. Ternyata siswa cantik itu sengaja membawanya ke taman sekolah yang cukup sepi.

"Mingyu… s-sebenarnya… sebenarnya… a-aku menyukaimu. Kumohon jadilah kekasihku."

Siswi berambut lurus itu menunduk. Ia mengigit bibirnya untuk mengalihkan kegugupan. Dan lagi-lagi Mingyu tersenyum.

"Apakah saatnya aku membuka hati? Mungkin saja dia berbeda dengan gadis-gadis sebelumnya yang hanya ingin memanfaatkanku," batin Mingyu.

"Baiklah! Aku mau menjadi kekasihmu."

Mata gadis itu langsung membola. Ia menganga menatap Mingyu yang lebih tinggi darinya. Ia mengerjapkan matanya berlang kali karena masih terlalu terkejut.

"Kau… kau menerimaku?" tanyanya.

"Iya," jawab Mingyu singkat.

"Jadi kita sudah resmi?" tanyanya lagi.

"Iya kalau itu yang kau mau." Gadis itu tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ia jadi salah tingkah.

"K-Kalau begitu, aku ke kelas dulu. Aku akan menghubungimu nanti."

Siswi yang berbeda kelas dengannya itu berlari kecil. Meninggalkan Mingyu dengan menunduk malu-malu. Kedua tangan gadis itu terkepal di sisi tubuhnya. Guna mengurangi rasa gugup yang menjalar.

"Yes… aku berhasil. Aku berhasil mendapatkan Mingyu. Mereka pasti iri denganku. Aku harus meminta hadiahku. Aku sudah memenangkan taruhan ini. Akhirnya aku bisa mendapatkan siswa tertampan di sekolah."

"Seonrim-ssi." Seketika gadis itu berbalik. Menghadap Mingyu masih dengan senyum manisnya.

"Aku tidak sungguh-sungguh dengan kalimatku. Karena kau bukan tipeku."

Setelahnya, Mingyu langsung pergi. Meninggalkan sang gadis dengan wajah shocknya. Tanpa gadis itu tahu, Mingyu menggertakkan giginya. Ia kesal karena menjadi bahan taruhan.

"Seharusnya aku tahu semuanya sama saja. Seharusnya tahu tidak akan ada yang benar-benar mencintaiku. Mereka semua sama."

Mingyu berjalan ke lokernya. Headphone di lehernya belum ia pasang. Sengaja menulikan telinganya dari semua suara. Seperti biasa, lokernya selalu saja berisi barang-barang aneh. Namun kali ini ada yang berbeda. Kotak bekal berwarna biru berada di tumpukan kertas dan kotak kado lainnya.

"Itu Mingyu. Dia tampan sekali."

"Sial! Buku tugasku tertinggal."

"Aku ingin membolos saja."

"Mingyu kira-kira sudah punya kekasih tidak ya? Tapi tidak mungkin dia masih sendiri. Orang setampan dan sekaya dia pasti sudah ada yang memiliki."

"Mingyu itu sangat sempurna. Tapi aku yakin dia pasti playboy."

"Ck, jerawat sialan membuat wajahku jelek."

"Ugh… aku masih lapar. Tapi mereka akan mengataiku rakus kalau makan lagi."

"Mingyu akan menyukai bekal itu tidak ya? Aku tidak bisa memasak, jadi tidak bisa membuatkan makanan yang enak untuknya. Meski tanganku sudah berulang kali terluka karena belajar memasak, tapi aku masih tidak bisa memasak. Andai saja aku tahu makanan kesukaan Mingyu dan pandai memasak. Pasti aku akan membawakannya setiap hari untuk Mingyu."

"Wanita sialan. Dia menggoda kekasihku. Dasar wajah plastik."

Mingyu langsung menolehkan kepalanya. Untuk pertama kalinya, Mingyu ingin tahu siapa pemilik suara hati itu. Matanya menatap sekeliling. Tapi ia tidak bisa menemukannya. Karena terlalu banyak siswa di ruang loker ini.

"Semoga Mingyu mau memakannya. Semoga makananku bisa membuat Mingyu tersenyum."

"Sial, aku tidak bisa menemukannya," batin Mingyu geram.

Ia menunduk. Menatap kotak bekal di tangannya. Hatinya menghangat mengingat suara hati itu. Untuk pertama kalinya semenjak orang tuanya meninggal, Mingyu merasakan perasaan asing.

"Dia benar-benar tulus. Tangannya sampai sering terluka karenaku. Tapi siapa dia?"

.

.

TBC

FF ini tercipta karena ingat seorang guru di SMA waktu itu. Beliau tahu masalah tanpa siswanya ngomong. Bahkan beliau tahu semua yang dilamunkan siswa saat jam pelajaran. Beliau tahu siapa yang kerjakan tugas dan tidak. Siapa yang mencontek dan kerjakan sendiri. Guru yang paling ditakuti. Gak ada siswa yang berani natap matanya.