"THE GREAT BOOJAE" -Chap 1-
Author : Keekeuk (call me kee or Rukee)
Genre : Yaoi, Romance, family, Kolosal, Sosial, Budaya, Politik
Rate : PG-17
Summary : Jaejoong, seorang sekretaris kerajaan yang menjalin hubungan dengan Putra Mahkota. Apakah yang dilakukan Raja ketika melihat Putra Mahkota kerajaan tidur bersama sekretarisnya?
Disclaimer : ff abal yang menceritakan perjuangan hidup Kim Jaejoong di dalam kerajaan. Ff ini terinspirasi dari kegemaran author terhadap drama kolosal. Boy x boy. Don't like, don't read!
-THE GREAT BOOJAE-
Author POV
Angin musim semi mengalun di seluruh penjuru kerajaan. Menyapa semua insan yang berada di permukaannya. Pagi itu, seluruh perhatian istana tertuju pada pelataran selatan. Pelataran luas di belakang benteng pertahanan utama kerajaan. Bukan karena adanya serangan dari musuh ataupun sekutu. Namun karena adanya dua orang paling berpengaruh di penjuru negeri, dua orang yang di agungkan oleh rakyat, Raja dan Putra Mahkota. Ya, pasangan ayah dan anak ini sedang memantau latihan prajurit kerajaan. Kegiatan ini rutin mereka lakukan sekali dalam sebulan.
Sang Raja, pria bijak dengan balutan Hanbok berwarna hitam dengan ukiran dari benang emas menggunakan topi panglima tertinggi yang pernah ada. Disampingnya berjalan lelaki muda dengan Hanbok merah berukir benang perak dan topi panglima yang kedudukannya setingkat lebih rendah dari sang appa. Mereka duduk di pinggir lapangan, menyaksikan pertarungan palsu yang berlangsung di tengahnya.
"bagaimana menurutmu Putra Mahkota?"
Sang appa melirik sekilas pada penerusnya kelak. Sedikit ingin tahu dengan pemikiran anaknnya tentang pengetahuan kerajaan. Putra Mahkota menatap appa-nya penuh hormat. Bibir hatinya melengkungkan senyum indah.
"mereka hebat. Tapi bukan yang paling hebat"
"eoh?"
Raja menatap Jung Yunho. Alisnya mengkerut mencoba menebak pemikiran putranya kali ini. Tapi senyum dari mata musang itu tidak dapat memberinya jawaban.
"apa maksudmu Putra Mahkota? Apa kau pernah melihat yang lebih baik dari prajurit kita?"
Masih tersenyum. Melirik sekilas ke belakang. Di belakang tempat mereka duduk, terdapat iring-iringan Raja dan Putra Mahkota. Begitu matanya menangkap sesuatu yang di cari, senyumnya makin mengembang. Sang Raja cukup penasaran apa yang di lihat oleh anaknya, ikut memutar pandangannya. Tidak ada, tidak ada sesuatu yang menarik. Hanya ada beberapa dayang dan prajurit yang biasanya mengiringi mereka dan tentunya sekretaris pribadi mereka.
Putra Mahkota Jung Yunho kembali menatap sang appa. Appanya pun membalas tatapannya penuh Tanya.
"tidak, tidak ada prajurut yang lebih hebat dari prajurit kerajaan kita. Hanya saja, aku rasa sekretaris Kim juga bias melakukan gerakan-gerakan seperti tadi"
"benarkah?"
Raja terkejut karena anakknya yang tiba-tiba membicarakan sekretaris pribadinya. Raja menatap kilat ke arah sekretaris Kim. Sekretaris Kim serta dayang dan prajurit lainnya hanya menundukkan kepala begitu Raja melempar pandang ke arah mereka. Putra Mahkota tersenyum dan mengangguk.
"baiklah, bagaimana jika sekretaris Kim menunjukan kebolehannya melawan salah satu prajurit. Aku ingin lihat kemampuannya. Aku cukup penasaran, apa yang membuat calon Raja negeri kita memberikan pujian untuk sekretarisnya. Apa kau bersedia sekretaris Kim?"
Deg.
Yang bersangkutan melebarkan matanya. Jawaban apa yang harus ia lontarkan untuk Raja-nya? Ia tidak mungkin menolak permintaan Raja. Tetapi prajurit yang kini berdiri di tengah lapang, cukup membuatnya bergidik. Tubuh kecil nya masih tenggelam di banding prajurit itu, meskipun beberapa otot nakal sudah muncul di beberapa bagian tubuhnya. Tetap saja, ia enggan menjemput kematian.
"ss-suatu kehormatan bagi hamba, yang mulia"
Kim Jaejoong, sekretaris pribadi Putra Mahkota, jawabannya yang bergetar sukses ditutupi dengan untaian kata-kata sopannya. Masih berpikir, Bagaimana bias pangerannya menyebutkan namanya secara tiba-tiba. Apa mungkin ini bentuk hukuman yang di berikan Putra Mahkota atas kelalaiannya pagi ini? Ya, sebagai seorang sekretaris kerajaan, terlebih orang yang selalu berada mengiringi yang mulia Putra Mahkota, Kim Jaejoong diharuskan memiliki kemampuan bela diri untuk melindungi Putra Mahkota. Namja cantik itu memang mahir bela diri, tetapi kedudukkannya tetaplah seorang sekretaris. Kemampuannya belum bias di bandingkan dengan seseorang yang jelas-jelas memang berjalan di bidang ini.
Perlahan, tapak Jaejoong mendekati lapangan panas tersebut. Tangannya yang hamper lepas control karena ingin menutup wajah cantiknya dari sengatan matahari, digerakkan untuk meraih tombak dari pimpinan prajurit.
TAP.
Tapaknya berhenti tepat di tengah lapangan, berhadapan dengan prajurit kebanggaan. Oh, matahari benar-benar menyengat. Ingin rasanya Jaejoong melempar Tombak itu dan berlari ke bawah pohon di sekitarnya.
Kedua petarung itu membungkuk kilat, penghormatan sebelum pertandingan dimulai, atau peringatan bahwa pertandingan mereka kali ini hanya sebuah drama belaka. Prajurit kebanggaan yang di kenal bernama Shindong itu memundurkan langkahnya. Bukan takut, hanya memberi jarak untuk pergerakannya. Kim Jaejoong mulai mengangkat tombaknya. Seketika desiran angin berhenti dari pergerakan. Burung yang berkicau mendadak menjadi bisu. Daun-daun tidak lagi menari. Semuanya seakan ingin menjadi saksi. Melihat namja cantik yang lemah lembut bersanding dengan prajurit gempal di tengah lapang.
Sekretaris Kim mencengkram erat tombaknya. Seerat sang Tuan mencengkram Hanbok merahnya. Melihat Jaejoong beriringan dengan Shindong, membuatnya sedikit meringis. Sedikit sesal hinggap di relungnya. Bagaimana bias ia membuat sekretaris Kim melawan prajurit itu? Awalnya dia tidak punya niat apa-apa. Hanya ingin memberitahu appa-nya kalau orang yang selama ini mendampinginya dapat di andalkan. Tapi sekarang, bias di pastikan Putra Mahkota mengkhawatirkan 'pendamping'nya. sangat!
-THE GREAT BOOJAE-
Author POV
Kim Jaejoong, memperlebar langkah menyamai langkah besar dari putra mahkota Yunho. Hari menjelang siang, setelah pertarungan sengit yang harus berakhir karena kondisi putra mahkota yang kurang sehat, putra mahkota dan iring-iringannya pun kembali ke pavilion Jungseang. Jaejoong mendekap erat lengan hanbok birunya yang sekarang koyak. Menahan darah yang terus keluar akibat goresan tombak Shindong saat bertarung tadi. Sesekali ringisan kecil keluar dari bibir cherry nya. Perih. Tapi pria cantik ini tidak terlalu memikirkan lukanya. Pikirannya kini justru teralih pada putra mahkota-nya yang sedang dalam kondisi kurang sehat. Khawatir dengan keadaan sang putra mahkota. Terlebih saat putra mahkota Jung Yunho memerintahkan salah seorang dayang untuk memanggil tabib kerajaan ke pavilion pribadinya beberapa saat lalu. Sebagai orang yang selalu mengiringi Yunho, Jaejoong tahu persis kondisi kesehatan calon rajanya. Tadi pagi Jaejoong memang sempat khawatir Yunho akan terserang flu, hanya saja dia tidak berpikir kalau penyakitnya akan parah sampai harus memanggil tabib kerajaan. Bukankah kondisi putra mahkotanya masih baik-baik saja saat melihat latihan prajurit beberapa saat lalu.
"sekretaris Kim, masuklah"
Yunho memerintahkan Jaejoong untuk masuk ke pavilion nya. Tak lama kemudian jaejoong masuk dengan kepala tertunduk. Tangan kanannya masih mencengkram erat lengan kirinya. Berharap darah yang keluar berkurang sampai akhirnya tidak keluar lagi.
"yang mulia mencari saya?"
Tanya Jaejoong sopan dengan wajah tertunduk. Jung Yunho yang sejak tadi berdiri di depan singgahsana dalam pavilion pribadinya menghampiri Jaejoong. Menarik Jaejoong untuk duduk di depan singgahsananya. Dan ikut duduk di sampingnya.
"kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu? Lukamu parah? Aissh, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menerima tantangan dari Raja, eoh?"
Kim Jaejoong secara lancang menatap putra mahkotanya. Mata bulat indahnya semakin membesar melihat ekspresi tidak biasa yang ditunjukan Yunho padanya. Aneh, melihat putra mahkota berwajah kecil itu tampak khawatir dengan keadaannya. Bahkan suara bass yang keluar dari bibir hati itu terdengar bergetar dan dalam. Bagaimana bias seorang putra mahkota begitu mengkhawatirkan sekretaris pribadinya padahal dirinya sendiri dalam keadaan kurang sehat, bahkan sampai harus memanggil tabib kerajaan.
"yang mulia…. "
Ucap Jaejoong lirih, masih dengan wajah terkejutnya. Semakin terkejut ketika Yunho menarik lembut tangan kanan yang menutupi lukannya. Memegang bahu dan siku kiri pria cantik itu. Perlahan sesuatu yang dingin menyapu goresan lukannya. Jung Yunho, mendekatkan kepalanya ke lengan porcelain milik Jaejoong. Meniup lembut kulit mulus yang sedang terluka.
BLUSH.
"tenanglah Jae-ah, aku sudah memanggil tabib kerajaan. Tidak lama lagi mereka akan datang dan memeriksa lukamu"
Ucap Yunho di sela kegiatannya, mengabaikan reaksi aneh dari lawan bicaranya. Jaejoong memerah mendengar dan menerima perlakuan putra mahkota kepadanya.
"yang mulia…. Aku, ak-aku baik-baik saja. Yang mulia tidak perlu melakukan hal ini"
Jaejoong mencoba menjauhkan lengannya dari Yunho.
"yyaa! Bagaimana mungkin kau baik-baik saja? Kau tidak lihat kalau pakaianmu hampir berubah warna karena darahmu keluar terlalu banyak. Ya Tuhan, kemana para tabib itu? Kenapa mereka lama sekali"
Suara lantang penuh kepanikan Yunho benar-benar membuat Jaejoong tercengang. Yunho menarik kembali lengan Jaejoong dan memberikan tiupan-tiupan hangatnya lagi.
Sreeek.
"hamba menghadap yang mulia"
Seorang pria paruh baya dengan pakaian berwarna biru laut masuk ke dalam pavilion Jungseang.
"kenapa lama sekali? Cepat obati luka sekretaris Kim"
Masih dengan suara yang lantang, Yunho memerintahkan tabib kerajaan. Yunho berdiri dari tempatnya duduk, dan duduk di singgahsananya. Memberikan ruang agar tabib mudah mengobati Jaejoong. Tabib kerajaan terkejut mendengar perintah yang di dapat. Tugas seorang tabib kerajaan adalah bertanggung jawab atas kesehatan keluarga kerajaan. Yah, keluarga kerajaan. Bukan sekretaris kerajaan seperti Jaejoong. Hanya keluarga kerajaan yang bias di layani oleh tabib kerajaan. Selebihnya akan di layani oleh perawat dari biro kesehatan.
Jaejoong tidak kalah terkejutnya dari tabib tersebut. Mengedipkan matanya beberapa kali. Mencoba mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"yang mulia, aku, ak-aku tidak perlu diobati oleh tabib"
Ucap Jaejoong gugup.
"yang mulia, hamba datang untuk memeriksa kesehatan yang mulia. Biarkan saya memeriksa kondisi yang mulia. Dan biarkan sekretaris Kim diobati oleh perawat dari biro kesehatan"
Tabib kerajaan membuka kain ikat yang membungkus peralatannya.
"tidak. Aku memanggilmu ke tempat ini untuk mengobati lukanya. Kau tidak perlu khawatir dengan kondisiku, aku benar-benar dalam keadaan yang baik. Lakukan saja apa yang aku perintahkan"
Tabib kerajaan memandang Jaejoong sekilas, bingung apa yang harus dilakukan.
"kenapa diam saja? Ini perintah. Apa kau menolak perintahku tabib kerajaan?"
Tabib kerajaan menelan ludahnya dan mendekat ke arah Jaejoong, lalu mulai membersihkan luka di lengan kirinya. Yunho, mata musangnya terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh tabib nya. Tatapannya tak pernah jauh dari kulit mulus yang terluka itu. Sedangkan Jaejoong lagi-lagi dengan lancang melirikkan matanya, memperhatikan sikap aneh dari orang yang selama ini di dampinginya. Pertanyaan demi pertanyaan hinggap dalam pikirannya. Bukankah sebelumnya putra mahkota mengatakan kalau dirinya kurang sehat, sampai-sampai pertarungannya dengan Shindong harus di hentikan. Dan Jaejoong yakin sekali mendengar putra mahkotanya memerintahkan seorang dayang memanggil tabib kerajaan untuk memeriksa kesehatannya, bukan malah mengobati lengan terluka sekretarisnya. Apa…. Putra mahkota sengaja melakukan ini? Apa dia berpura-pura sakit untuk menghentikan pertarungan Jaejoong dengan Shindong? Tapi, Jaejoong merasa dia bukanlah orang yang pastas berharap di perlakukan seperti itu oleh calon rajanya.
-THE GREAT BOOJAE-
Jaejoong POV.
Aku dan putra mahkota berjalan beriringan di taman belakang pavilion Jungseang. Dayang pengiring putra mahkota berdiri menunggu kami di pinggir taman. Seperti malam sebelumnya, putra mahkota melakukan kegiatan rutinnya berjalan-jalan dan memandang bintang dari taman belakang. Dan seperti biasa pula aku menemaninya mengitari taman ini sampai rasa kantuknya tiba. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan yang mulia. Dia hanya ingin aku yang menemaninya mengitari taman ini. Aku tahu betul kalau yang mulia Jung Yunho ini tidak terlalu terbuka dengan orang lain. Dia tidak suka jika hal-hal pribadinya di ketahui oleh orang lain. Mungkin karena aku adalah sekretaris pribadinya seumur hidup, dia merasa tidak terbebani jika memberitahuku sedikit tentang pribadinya. Yah, semua penghuni kerajaan menyadari kemisteriusan sikap putra mahkota. Namun begitu, putra mahkota tetap tahu posisinya dan tanggung jawabnya sebagai calon raja untuk selalu bijaksana dan ramah kepada rakyatnya.
Aku dan yang mulia Yunho berhenti di pinggir kolam ikan. Yang mulia Yunho memandang hamparan bintang yang memayungi kami. Memang jika di lihat dari tempat ini, bintang-bintang akan terlihat sangat indah. Aku hanya menundukkan kepalaku. Meskipun aku selalu berada di samping yang mulia, tapi tidak pernah sekalipun aku berani menatapnya secara langsung. Kecuali disaat tertentu ketika aku tidak menyadari perbuatan lancangku itu.
"Bagaimana keadaanmu, Jae?"
Yang mulia yunho menatapku sekilas, lalu kembali menatap bintang. Aku masih terdiam. Tersadar akan sesuatu begitu yang mulia memanggilku 'Jae', bukan sekretaris Kim. Jika diingat-ingat, yang mulia Jung Yunho selalu memanggilku Jae jika tidak ada orang lain diantara kami. Tapi, aku tidak bias mengingat sejak kapan itu terjadi.
"hamba sudah lebih baik yang mulia. Joesonghamnida jika hamba membuat yang mulai khawatir"
"jae…"
Yang mulia memanggilku lagi. Kali ini suaranya terdengar sangat berat. Aku juga bias merasakan kalau saat ini yang mulia sedang menatapku. Sekilas dia melirik lengan hanbok orange ku yang tadi pagi terluka. Aku sudah menggantinya beberapa saat yang lalu.
"n-ne, yang mulia…"
Ucapku lirih dan ragu. Aku mulai risih dengan tatapannya. Sepertinya jarak kami terlalu dekat. Aku takut yang mulia menyadari wajah memalukanku ketika gugup. Semoga gelapnya malam dapat menutupi wajah merahku ini.
"berhentilah memanggilku yang mulia dan menyebut dirimu sebagai hamba"
Deg.
Aku langsung menoleh kepada yang mulia. Mata besarku pasti teerlihat sangat memalukan jika semakin membesar seperti ini. Jujur saja aku terkejut mendengar permintaan atau perintah ini dari yang mulia. Aku memang sering menerima perintah-perintah aneh dari putra mahkota. Tapi kali ini, apa aku tetap harus memenuhi perintahnya? Ah, Kim Jaejoong, berani sekali kau menatap langsung pangeranmu. Aku langsung menundukkan keplaku kembali. Meratapi kembali kebodohanku dan mencerna perkataan yang baru saja terlontar dari pangeran Yunho.
"yang mulia…"
Lagi-lagi suara lirihku keluar, bermaksud bertanya makna dari perkataannya. Entahlah, aku merasa tidak punya cukup tenaga jika sedang berbincang berdua dengan yang mulia Yunho.
"Yunho. Panggil aku Yunho jika tidak ada orang lain diantara kita"
Suara bass-nya terdengar tegas, sama seperti ketika dia memutuskan suatu hal yang penting dan memerintahkan pejabat-pejabatnya. Aku masih berpikir keras. Apa maksud yang mulia menyuruhku melakukan hal ini? Ini bukanlah sesuatu yang wajar dilakukan oleh seorang sekretaris kepada pangerannya kan?
"ta-tapi yang mulia…"
"… apa kau membantah? Kau menolak perintahku?"
"b-bukan, bukan seperti itu yang mulia. Hanya saja, aku benar-benar tidak bias melakukan hal itu. Aku tidak mungkin melakukan hal lancang seperti itu"
"tapi ini perintah"
Aku semakin menenggelamkan kepalaku. Yang mulia Yunho masih terus menatapku tanpa henti. Apa yang harus kulakukan? Menolak perintah dari Tuanku lalu dihukum olehnya atau menerima dan membiarkan kepala pengadilan memberikan hukuman untukku karena bersikap tidak sopan kepada putra mahkota? Ah, keduanya pilihan yang benar-benar sulit untukku.
"jae…"
Suara pria musang disampingku kali ini terdengar lembut. Akupun memusatkan perhatianku untuk mendengarkan perkataannya lebih lanjut.
"…aku sudah lama mengenalmu. Begitu juga kau. Kita sudah saling mengenal sejak lama. Dan hanya kau yang mengenalku sangat baik. Aku ingin…. Kau menjadi temanku. Setelah pangeran Changmin meninggalkan istana bersama selir Shim, aku benar-benar kesepian. Jadilah temanku, hanya kau yang selalu di dekatku"
Yang mulia Yunho kembali mentap langit. Perlahan aku menolehkan kepalaku dan menatapnya diam-diam. Ekspresinya kali ini berubah. Wajahnya menunjukkan kesedihan, kesepian dan kesabaran yang dalam. Mungkin, dia merindukan pangeran Changmin.
Pangeran Shim Changmin adalah anak Raja dari selir Shim, itu berarti pangeran Changmin adalah adik dari yang mulia Yunho. Ketika kecil, pangeran Yunho dan pangeran Changmin sering menghabiskan waktu bermain bersama. Sampai tiba dimana yang mulia Yunho dinobatkan sebagai Putra Mahkota di usia 8 tahun. Setelah penobatan pangeran Yunho sebagai penerus Raja, pangeran Changmin dan selir Shim keluar dari istana dan di pindahkan ke tempat peristirahatan keluarga kerajaan yang terletak di pinggir pantai. Hal ini terjadi bukan karena konspirasi yang terjadi dalam politik kerajaan. Tetapi memang inilah yang menjadi peraturan dalam istana. Tidak boleh ada dua pangeran yang berdiam di dalam istana. Maka dari itu pangeran Changmin keluar dari istana saat berusia 5 tahun. Meskipun tidak tinggal di istana, statusnya sebagai putra raja masih melekat dan membuatnya dapat merasakan pelayanan khusus layaknya seorang pangeran.
Aku masih menatap yang mulia. Mencoba merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pangeranku itu. Aku tahu persis bahwa putra mahkota kesepian. Sangat. Orang yang selama ini ada disampingnya hanya dayang-dayang yang berusia jauh diatasnya. Orang-orang yang tidak mungkin dianggapnya teman karena perbedaan usia yang jauh. Hanya aku, orang yang memiliki usia tidak terlalu jauh dengan yang mulia, ah tidak, bahkan usia kami sama. Usiaku hanya lebih cepat beberapa hari dari yang mulia. Mungkin inilah yang membuat putra mahkota Jung Yunho 'melamarku' untuk menjadi temannya.
"yang mulia…"
Tanpa sadar mulutku memanggilnya. Yang mulia Yunho menoleh dan tersenyum padaku. Ya Tuhan, kenapa aku merasa udara menjadi dingin dan membuatku susah benapas. Tapi bagaimana bisa ketika tubuhku merasa beku karena dingin, wajahku justru terasa sangat hangat. Entahlah, semua itu kurasakan saat aku melihat senyumnya itu.
"kumohon"
Deg.
Apa itu barusan? Apa yang mulia Yunho kembali memohon padaku? Tidak mungkin. Aku pasti salah mendengar. Tidak mungkin hal seperti ini membuat seorang putra mahkota memohon kepada sekretarisnya. Aku rasa aku hampir gila. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
"panggil aku Yunho"
Seakan mengerti kebimbanganku. Yang mulia Yunho mengulangi perintahnya. Suaranya terdengar seperti seorang terdakwah yang memohon ampunan kepada hakim pengadilan. Aku benar-benar tidak bias membiarkannya seperti ini. Ayolah Kim Jaejoong, kenapa kau membiarkan seorang calon Raja memohon padamu? Memposisikan dirinya seperti tersangka yang memohon ampun kepadamu. Ini tidak boleh terjadi. Tapi perintah yang mulia juga tidak boleh terjadi. Ya Tuhan, lindungi aku.
"….. Yunho"
